
" Jangan sungkan untuk menghubungi Mami, jika kau membutuhkan sesuatu " kata Elba, ketika memeluk tubuh menantunya sebelum dia pergi.
Rea mengangguk, tersenyum, " Mami juga ". balasnya.
Frans tidak sabar ingin bergantian pada istrinya. Langsung menyambar tubuh Rea, ketika pelukan istrinya sudah berakhir, " Ayah ", kata Rea tertawa, tapi hatinya menghangat saat itu, " kau sepertinya sangat merindukan aku".
" Lebih dari pada putraku sendiri " sahut Frans. Dan Gema menoleh saat itu, tapi ia tidak tersinggung sama sekali, justru tersenyum.
" Aku juga sudah menjadi putrimu Paman ", balas Rea tak mau kalah, lalu kembali tertawa saat Frans menarik diri dari pelukan mereka dan menatap tajam padanya.
" Maaf, aku masih belum terbiasa, perubahannya terlalu cepat " katanya memberi alasan.
Frans berdelik, lalu kembali memeluk, " Ayah. Aku akan menghukummu kalau sekali lagi kau memanggilku Paman ", sergahnya. Rea menyetujui, walau masih terus tertawa. Ia senang, begitu senang karena ada seseorang yang kini bisa di panggil Ayah olehnya. Sebuah kata yang tidak pernah terucap begitu lama dari bibirnya.
" Aku benar-benar merasa malu " ujar Frans. Semua orang menatap padanya termasuk Rea.
" Seharusnya aku membawa menantuku ke dalam rumah, bukan mengantar anakku ke rumahnya " katanya menjelaskan. Rea langsung tergelak mendengar itu, " aku tahu ini rencanamu, agar aku ingin juga tinggal di rumahmu kan ayah " sergah Rea. bergantian Frans yang tergelak.Ia lupa kalau perempuan di hadapannya terlalu mengenal dirinya. Ketika perempuan itu resmi menjadi menantunya ,dia lupa kalau perempuan itu juga rival bisnisnya.
" Tapi tidak apa-apa Gema disini ? " tanya Frans, kali ini dia serius.
" Dia suamiku Ayah " sahur Rea, bibirnya tersenyum indah, tanpa dia sadari. Menoleh sebentar pada lelaki itu, padangan mereka saling bertemu sejenak, " sementara kami disini dulu " katanya melanjutkan. Elba mengangguk setuju, begitu pun Frans.
" Bertingkah baiklah. Ingat kau tinggal di rumah istrimu. Kami tidak akan membukakan pintu jika kau datang membawa koper " kata Frans saat memeluk tubuh putra satu-satunya sebelum pergi.
Gema hanya tersenyum kecut, berbeda dengan Rea yang tertawa mendengar itu, seperti guyonan baginya. Tapi tidak bagi Gema yang sudah berpikir jauh saat itu.
" Kami pulang " pamit Elba sekali lagi. Rea mengangguk, tangannya ringan melambai dan terus tersenyum sampai mobil yang membawa kedua orang tua suaminya menghilang dari halaman rumahnya.
" Kau juga sudah mau pulang Dev ? " tanya Rea tersentak. Ia baru saja memutar tubuhnya untuk kembali ke dalam rumah, dan menemukan Devita sudah berada di pintu, " ya, kau lihat dia sudah tertidur " tunjuk Devita pada putrinya yang berada di dalam gendongan Real.
Rea mencium pipi bulat Rania dan mengelus rambut pirangnya, " padahal aku masih kangen dengannya ", katanya lesu.
" Kalau besok kau belum bekerja, kami berdua akan kemari lagi atau kau saja yang kerumahku ".
Rea menghela, " besok aku sudah bekerja " sahutnya, sambil terus menatap wajah tertidur Rania.
" Secepat itu ? " kata Devita tak percaya.
__ADS_1
" Cepat ", ulang Rea, "Sudah satu minggu aku tidak bekerja Dev. Ini cutiku paling lama ".
" Tapi kau baru saja pulang Rea. Besok lusa saja kau baru bekerja " titah Devita.
" Kau selalu saja ingin mengatur ", protes Rea, " Besok meeting pertengahan tahun, aku tidak mungkin tidak hadir. Ini sudah tertunda karena pernikahanku kemarin " katanya menjelaskan.
Devita mengalah, alasan sahabatnya itu terlalu sangat tepat untuk tetap kembali bekerja.
" Kau Gem, apa besok kau juga sudah mulai bekerja ? " tanya Devita. Lelaki itu menggeleng di sela percakapannya bersama Real, " besok hari terakhirku cuti " katanya memberitahu.
Mata Real berbinar mendengar itu, " besok juga hari libur kerjaku. Bagaimana kalau kita pergi memancing di danau di ujung kota " ajaknya pada Gema. Lelaki itu terdiam sejenak berpikir, " pukul berapa ? ".
" Sebelum senja kita berangkat "
Gema menoleh pada Rea, " jam berapa kau selesai meeting besok ? " tanyanya.
" Huh ! " sahut Rea yang belum mengerti.
" Suamimu bertanya jam berapa kau selesai meeting Rea. Dia ingin menjemputmu pulang " cercah Devita menjelaskan. Rea sudah mengerti saat itu, tapi tidak pada situasinya. Percakapan itu masih sedikit aneh untuk ia cerna, " Jangan khawatir aku bisa pulang sendiri" katanya tersenyum kaku, " emm maksudnya, aku pasti akan pulang bersama Maria " katanya meralat kembali saat melihat semua orang melemparkan tatapan tak setuju, terlebih Devita.
Gema masih menatapnya, dan ia tahu. Hanya saja Rea tak cukup mengerti dengan maksud tatapannya.
" Aku akan menghubungi besok " ujar Real sembari menepuk pundaknya.
" Bye Rea, bye Gem " seru Devita dari dalam mobil.
" Bye " balas Rea melambaikan tangan. Sedangkan Gema hanya tersenyum dengan anggukan.
" Kabari aku jika kau tidak sibuk " pekik Devita, sebelum mobil yang di bawa oleh Real, bergerak meninggalkan halaman rumah itu. Rea mengangguk.
" Ayo masuk " ajaknya pada Gema. Lelaki itu lalu mengikuti langkahnya.
" Rose apa ini ? " seru Rea, ketika dirinya sudah kembali ke dalam ruang keluarga.Gema membaringkan tubuhnya di sofa, tapi matanya ikut memperhatikan pada benda yang sedang di selidiki oleh Rea.
" Oh itu foto " sahut Rose yang baru saja datang, " Ayah mertua anda tadi membawanya ", katanya lebih menjelaskan.
" Foto ? " ulang Rea, ia tidak sabar untuk membuka bungkusan besar di hadapannya ketika mendengar itu. Dan Gema beranjak dari pembaringannya, lalu mendekat.
__ADS_1
" Astaga " pekik Rea terperanga setelah berhasil sedikit meloloskan bungkusan. Ia melihat dirinya dengan gaun putih pernikahannya, serta bunga baby breath yang dia pegang di dalam genggaman. Dia duduk seorang diri saat itu, dengan mata yang terlihat sedikit sembab.
Ia kemudian tersenyum memperhatikan gambar dirinya sendiri. Matanya coklatnya terlihat berkilau di gambar itu, tapi sinarnya sedikit redup oleh garis di bawah mata yang menggembung. Sekilas ia teringat, kejadian yang membuatnya menangis hari itu. Tepat sebelum foto itu di ambil.
Ia menarik pelan nafasnya, lalu meminta Gema membantunya untuk memindahkan figura pertama dengan gambar dirinya sendiri.
" Rose, letakkan ini dinding kamarku. Di atas tempat tidurku " katanya memperjelas dan Rose mengangguk.
Ia kemudian memandang pada Gema yang sedang mengamati foto selanjutnya, foto mereka berdua. Lelaki itu memeluk pinggang rampingnya di sana. Senyum mereka berdua mengembang, bahkan nyaris terlihat seperti tertawa dan bunga Baby breath terangkat ke udara oleh tangannya sendiri, " menggemaskan bukan ? " katanya pada Gema. Lelaki itu terkesiap sesaat, lalu kemudian mengangguk, " aku jadi bingung ? " gumam Rea, " apa sebaiknya foto ini saja yang berada di dinding kamar kita ".
Gema benar-benar menoleh padanya saat itu. Ntah apa yang membuatnya begitu terkejut dari ucapan Rea, " menurutmu aku harus meletakan foto kita ini dimana ? " katanya meminta saran. Dan Gema hanya mengangkat bahu, ia sendiri merasa tak cukup punya kuasa untuk menjawab. Rumah itu bukan rumahnya, atau rumah mereka berdua.
Rea kemudian tersenyum, " Rose letakan ini di dinding seberang tangga " pintanya lagi. Rose terkejut saat itu, " Nona bukankah disana ada lukisan kesukaan anda ? " katanya mengingatkan sebuah lukisan jalan kecil di kota London, yang selalu perempuan itu pandangi ketika pulang ke rumah setelah menyelesaikan harinya yang sulit.
ia akan selalu berada beberapa menit di hadapan lukisan itu sebelum kembali berjalan menuju kamarnya, selalu seperti itu ketika dia lelah.
Rea mengangguk, sambil terus memandangi foto dirinya dan Gema, " apa foto pernikahanku tidak layak untuk di tukar dengan lukisan itu Rose " katanya tertawa kecil. Rose masih terkesiap, lalu kemudian mengangguk, " tentu, memandangi foto ini akan jauh membuat anda lebih tenang " ucap Rose tanpa sadar. Rea terdiam sesaat, menatap sejenak pada wanita paruh baya itu. Dan Gema mengamati percakapan di antara keduanya dan wajah Rea yang langsung berubah oleh kata-kata Rose, ia menyadari itu.
Rea kembali tersenyum ketika melihat foto selanjutnya, foto mereka berdua bersama keluarga kecil Devita, lalu kemudian foto bersama Frans dan Elba, dan selanjutnya foto Rea yang di apit oleh Maria dan Rose, dan ia tertawa ketika melihat itu, dan bersamaan hatinya menghangat. Dua orang yang luar biasa di hidupnya, " foto-foto ini sebaiknya di letakkan di ruang keluarga " katanya memberi tahu Rose. Sementara Gema sudah bergerak mengeluarkan tiga figura besar itu dari dalam bungkusan.
" Asataga , kenapa ada fotoku juga " pekik Gema, saat menemukan fotonya berdiri sendiri, juga ada di antara semua figura.
" Memangnya kenapa ? " balas Rea menatap sedikit sini. Mendapati tatapan itu, Gema tak bisa melanjutkan kata-katanya. Ia hanya berpikir foto dirinya tidak pantas berada disana, tapi nyatanya, Rea berhasil memantak pikiran itu.
" Rose tolong letakan foto suamiku... " katanya menggantung untuk berpikir sejenak. Sementara Gema langsung menoleh padanya saat itu. Ini kedua kalinya di dalam rumah ini, perempuan itu menyebut kata Suami
untuknya.
" Apa sebaiknya foto ini yang menggantikan letak lukisan itu " kata Rose menggodanya. Rea tertawa, " letakkan di dinding setelahnya, dinding sebelum pintu kamar kami " katanya memberitahu. Dan Gema kembali terkesiap mendengar itu.
Sementara Rose tersenyum, " Sepertinya anda ingin membuat foto tuan seperti gambar dewa Krisna", katanya menyeletuk. Mata Rea berdelik, ia mengerti maksud wanita paruh baya itu, " kau tidak harus meletakan lilin dan kue besar di sana Rose " katanya tertawa, sambil melirik pada Gema yang sudah tersenyum.
Rea tidak sabar untuk melihat gambar dari figura terakhir, meminta Gema melepas cepat kain pembungkus yang masih menyangkut di benda besar itu. Dan setelah melihatnya, ia terdiam, bahkan nyaris mematung. Matanya membesar melihat gambar di hadapannya.
Rose dan Gema dengan cepat melihat ke arah figura, saat menyadari wajah perempuan itu.
" Oh Tuhan " seru Rose, matanya ikut membesar.
__ADS_1
Dahi Gema berkerut, dia bingung dengan situasi di hadapannya, di pandanginya kembali foto besar itu. Tidak ada yang aneh, disana ada mereka berdua, Frans dan Elba, dan seseorang yang berdiri di samping Rea. Saat itu Gema langsung melihat ke arah Rea, dan menemukan mata perempuan itu tengah menatap tepat pada wanita paruh baya yang berada di sampingnya di dalam gambar. Dahinya kembali berkerut dan saat itu dia menjadi semakin bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi di antara Rea dan wanita paruh baya itu. Wanita yang ia tahu, adalah Nyonya besar keluarga Brookstein. Dan Gema menyadari kejadian di hari pernikahannya, dimana perempuan itu tiba-tiba pergi, tepat saat berhadapan dengan wanita paruh baya itu juga.
Mata Gema menatap bergantian pada Rea dan gambar Nyonya Brookstein, dan ia terdiam sejenak, saat menyadari ia menemukan mata coklat yang sama disana.