KITA Hanya MENIKAH

KITA Hanya MENIKAH
Kebetulan


__ADS_3

Rea masih terdiam sambil menatap layar handphonenya dengan panggilan telepon yang baru saja di tolak , suasana hatinya menjadi berubah seiring penolakan oleh panggilan telepon itu , " ah mungkin dia sedang berbicara serius dengan kekasihnya " gumamnya dengan tetap berpikir baik.


Kemudian ia letakkan kembali benda pipih di tangannya ke atas nakas , dan melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan hampir pukul tujuh malam , " sembari menunggu dia datang sebaiknya aku menyelesaikan pekerjaanku" katanya lagi , lalu berjalan menuju meja kerja yang berada di dalam kamar.


Tok tok tok " pintu kamar itu tiba-tiba berbunyi , membuat Rea menunda pekerjaannya dan menunggu siapa yang berada di balik pintu.


" Nona " panggil lembut dari balik pintu yang terbuka.


" Oh kau Rose, ada apa ? "


" Makan malam sudah siap Nona "


" Oh ya terimakasih , tapi Gema belum datang jadi biarkan saja dulu semuanya di meja makan "


" Baik nona , apa ada lagi yang anda inginkan "


" Tidak Rose , terimakasih " sahut Rea , lalu wanita paruh baya itu meninggalkan ruang tidurnya.


" Aku kira dia telah datang " gumamnya bersama raut wajah kecewa yang tidak ia sadari.


Sudah hampir dua jam Rea berkutat dengan pekerjaan hingga membuatnya lupa dengan seseorang yang ia tunggu , namun akhirnya ia menyadari hal itu ketika matanya menatap pada jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam , " apa dia tidak akan datang " gumamnya lalu beranjak dari meja kerja menuju nakas dimana ia meletakan benda pipih miliknya.


Tanpa menuggu ia kembali mencoba menghubungi nomor telepon Gema dan kali ini panggilannya tidak lagi di tolak melainkan nomor itu tidak lagi aktif untuk di hubungi , " apa sekarang dia mencoba untuk menghindariku " ucapnya.


" Kau bisa mengatakan tidak mau Gema , kenapa membuat aku seperti terlihat memaksamu " sambungnya dengan terbawa emosi , dan tanpa ia sadari di dalam hatinya sedikit tersirat kekecewaan pada lelaki itu , ada begitu banyak pertanyaan di kepalanya tentang kenapa bisa ia tidak datang dan membatalkan begitu saja janji mereka.


Pertanyaan-pertanyaan itu benar-benar memenuhi isi kepalanya , membuatnya semakin kecewa meski perasaan itu terus mencoba ia tepis.


Tok tok tok " pintu kamar kembali berbunyi dengan ketukan dan kali ini ia benar-benar tidak lagi berpikir bahwa yang datang adalah Gema dan benar saja pintu itu terbuka oleh Rose , " nona ini sudah hampir larut dan anda belum makan sedikit pun " ucapnya , membuat Rea sedikit menghela nafas.


" Aku akan turun sebentar lagi " ucapnya singkat.


Rea terdiam sesaat melamunkan segala yang ada di isi kepalanya , ia tidak menapik jika kini suasana hatinya telah di buat kacau oleh ketidak hadiran Gema malam ini.


dan Kembali ia bergerak untuk mengakhiri pekerjaannya lalu keluar dari kamar tidur untuk menyantap makan malam yang mungkin sudah dingin oleh udara malam.


~


Sementara di rumah keluarga Antonio seorang pemuda nampak begitu gelisah dalam diamnya ,


berulang kali ia mencoba memejamkan mata , namun pikirannya tidak membiarkan hal itu.

__ADS_1


Di hela nafasnya dengan begitu dalam untuk mengurangi segala pikirannya tapi justru membuat hatinya menjadi semakin tak menentu , di satu sisi ia gelisah memikirkan kekasihnya dan di satu sisi lagi ia merasa begitu bersalah karena telah membatalkan janji tanpa memberi kabar terlebih dahulu pada Rea , " apa dia menungguku " gumamnya sambil melihat ke arah jam dinding ,


sekilas perasaan untuk menemui perempuan itu kembali muncul , namun kegundahan memikirkan tentang kekasihnya tak mengalahkan rasa bersalahnya pada Rea.


" Maafkan aku Rea , aku butuh waktu untuk berpikir " ucapnya lemah , lalu perlahan kembali menutup matanya untuk terbawa ke alam mimpi dimana ia bisa melupakan sementara permasalahannya.


~


Alarm di atas nakas kembali bekerja pagi ini untuk membangunkan pemiliknya yang baru tertidur lelap beberapa jam yang lalu.


Rea yang memang tidak nyenyak dalam tidurnya segera terbangun saat jam weeker itu mulai berdering , sesaat ia menghela nafas sebelum membuka matanya yang terpejam.


Tidak ada gairah baginya untuk memulai hari ini , ntah apa yang sebenarnya terjadi tapi janji yang di batalkan tadi malam benar-benar membuat semangatnya menghilang.


Perlahan ia bangun dari kasur empuknya , mematikan alarm yang masih berbunyi lalu terdiam di tepian tempat tidur dengan kaki yang menjuntai dan pandangan yang menatap satu arah pada jendela yang masih di tutupi oleh hordeng-hordeng besar.


" Ceh " bibirnya dengan senyum yang tersungging , " kenapa aku menjadi seperti ini " lanjutnya menyadari keadaanya sepagi ini.


" Jika pernikahan ini memang tidak terjadi ,yang di rugikan adalah dia bukan aku " katanya sedikit emosi , lalu segera beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh kepalanya yang kini tengah di penuhi dengan pikiran-pikiran yang membuatnya menjadi kacau sepagi ini.


" Morning Nona Muda " kata Maria menyapa bersama senyum khasnya menyambut wanita yang kini tengah menuruni anak tangga.


" Morning " balas Rea pelan dengan sedikit tersenyum.


" Meeting tahunan bersama colega-colega besar " jelas Maria , mendengar itu begitu saja langkah kakinya berhenti " termasuk Paman Frans ? "


" itu pasti Nona , mana mungkin beliau tidak ada di tengah meeting besar itu "


" Ya kau benar " balasnya tersenyum hambar , lalu kembali melanjutkan langkahnya.


" Makanlah bersamaku Maria " ajaknya sambil membenarkan posisi duduknya.


" Terimakasih Nona , tapi aku sudah sarapan sebelum datang kemari "


" Please " pintanya dengan tatapan memohon.


" Aku sedang tidak ingin menikmati sarapan ini sendiri " tambahnya pelan , Maria yang awalnya ingin tertawa menjadi terhenyak saat menatap sendu wajah bossnya itu , wajah yang jarang sekali ia lihat bahkan mungkin nyaris tidak pernah selama ia bekerja padanya.


" Apa anda sakit Nona ? , aku bisa mewakilkan anda di meeting pagi ini " ucapnya menjadi khawatir, namun wanita itu segera menggelengkan kepalanya , " aku baik-baik saja " katanya pelan tanpa melengkingkan suaranya seperti biasa ia lakukan.


Maria hanya mengangguk ,namun matanya belum lepas menatap pada Rea yang kini tengah menyantap makanannya dengan tidak bergairah ,

__ADS_1


dan itu membuat pandangannya kembali beralih pada Rose yang sedang berdiri di sisi meja makan, meleparkan tatapan penuh tanya tentang sikap Rea pada wanita paruh baya itu.


Rose yang menyadari arti tatapan Maria hanya menanggapinya dengan tersenyum tipis sambil sedikit mengangkat kedua bahunya.


Merasa tidak menemukan apa-apa Maria kembali melihat sekilas pada Rea lalu mencoba menikmati makanan di hadapannya meski sebenarnya ia sudah begitu kenyang.


~


Sepanjang perjalanan menuju tempat meeting tidak pernah sedikit pun Rea mengeluarkan suara , matanya terus menatap keluar jendela mobil.


Pikirannya benar-benar di buat kacau oleh ketidak hadiran Gema tadi malam , meski ia terus berusaha mengabaikan pikirannya itu namun usahanya tak pernah berhasil menepis kekecewaannya.


" Kita sudah sampai Nona " ucap Maria ketika mobil yang membawa mereka berhenti.


Rea tersentak dari lamunannya dan menyadari jika kini ia harus benar-benar menghilangkan isi dalam pikirannya untuk memulai semua pekerjaanya hari ini.


Pintu mobil sudah terbuka oleh Maria dan mempersilahkan wanita bermata coklat itu untuk keluar ,


dan sebelum masuk ke dalam gedung yang menjadi tempat meeting besar pagi ini , Rea masih menyempatkan diri untuk membenarkan pakaian yang ia gunakan , menurunkan rok span yang sedikit tertarik ke atas pangkal paha lalu menyelipkan beberapa bagian rambut ke belakang telinganya , selebihnya ia biarkan rambut hitam mengkilapnya itu tergerai.


" Anda benar-benar cantik Nona " puji Maria yang berhasil membuat bibir seksi milik Rea sedikit tertarik ke atas , " aku tahu itu " katanya begitu percaya diri lalu mulai berjalan menuju pintu Lobby.


" Rea " panggil seseorang membuat pemilik nama langsung menghentikan langkah kakinya , namun dengan sedikit berat hati untuk melihat ke arah seseorang yang kini tengah memanggilnya.


" Paman Frans " bisik Maria.


Rea tersenyum kecut , lalu sedikit menarik nafas sebelum akhirnya memutar tubuhnya , " Hai pa... man " balasnya dengan senyum yang langsung memudar saat pandangannya tidak hanya mendapati Frans disana tapi juga Gema.


" Bagaimana kabarmu nak ? " ucap Frans mendekat lalu mengecup puncak kepala Rea tanpa Ragu.


" Ba ba..ik paman , ya seperti yang kau lihat " katanya menjadi gagap , tanpa berani melihat pada tubuh seseorang yang masih berdiri di belakang punggung lelaki paruh baya itu.


" Saya kira anda membawa asisten baru Tuan ternyata tuan Gema " ucap Maria menyela dengan tersenyum dan itu membuat Rea dengan terpaksa melihat ke arah laki-laki itu yang kini tengah tertunduk.


" Paman sengaja membawa dia ke meeting ini , supaya nanti dia sudah siap untuk melanjutkan perusahaan dan pantas menjadi pendampingmu " bisik Frans pada Rea yang justru berhasil membuat perempuan itu terbatuk-batuk seketika.


" Minumlah " ucap seseorang sambil menyodorkan sebotol air mineral kehadapannya dan masih dengan terbatuk Rea mengambil botol air itu tanpa ragu dan segera meminumnya tanpa peduli dengan sikap dingin yang baru saja terjadi di antara mereka , " Terimakasih " ucapnya.


" Seperti sebuah skenario , seolah Gema membawa botol air minum ini karena tahu kau akan terbatuk " ucap Frans dengan tersenyum dan menatap pada Rea dan Gema bergantian.


" Ini hanya kebetulan ayah dan jangan menggodanya " kata Gema serius.

__ADS_1


" Ya memang seperti itu , selalu menjadi kebetulan untuk sepasang manusia yang akan berjodoh " ucap Frans dengan terus tersenyum dan tanpa pamit berjalan lebih dulu meninggalkan dua orang yang masih terdiam untuk mencerna ucapannya.


" Ayo Maria " ajaknya lagi untuk benar-benar meninggalkan dua manusia itu berdua.


__ADS_2