
Rea menarik nafas begitu dalam sebelum kembali bicara, " ya Bella " jawabnya dengan nada yang teratur, meski jantungnya saat ini berdebar tak menentu.
Ntah kenapa sekarang ini menjadi hal yang asing untuk berbicara pada perempuan yang menjadi kekasih suaminya itu. Dan ia sendiri tak mengerti kenapa perasaannya begitu aneh saat ini.
" Maaf aku menggangu waktu istirahatmu Rea " ucap lemah dari seberang telepon.
Rea tak bergeming. Namun, tetap menunggu apa yang selanjutnya ingin di katakan oleh perempuan itu.
Terdengar helaan nafas yang cukup berat dari seberang, " aku hanya ingin berbicara sebentar dengan calon istri dari kekasihku " sambung Bella.
Deg
Rea menelan ludahnya.
" Kau nampak begitu serius Bella " ujarnya dengan sedikit menghela nafas.
" Apa yang ingin kau bicarakan padaku "
Bella berdecih, " bukan aku yang nampak serius, Tapi kau yang sepertinya tidak lagi bersahabat denganku Rea ".
Rea tertegun sesaat, " bukankah kita memang tidak sedekat itu Bella " balasnya, ia menarik dan menghela nafas lebih cepat dari sebelumnya. Ntah kenapa dadanya terasa panas saat ini.
" Benarkah ?. padahal selama ini, aku sudah menganggap kau temanku dan sekarang kita akan menjadi rival bukan ? "
" Rival ? " ulang Rea dengan dahi yang berkerut dengan sempurna. Lalu ia tertawa, " bagaimana bisa kau berpikir seperti Bella ".
" Apa yang membuat kau ingin bersaing denganku ? " tanyanya dengan nada bicara yang santai. Namun, penuh tekanan, " aku tidak akan menjadi sainganmu Bella " tambahnya.
" Kau tentu tahu apa yang terjadi antara kekasihmu dan aku. Dan kau tidak perlu khawatir tentang itu"
" Tapi saat ini aku meragukannya Rea " potong Bella.
" Kekasihku tidak lagi seperti dulu " sambungnya begitu serius.
Rea terdiam.
" Saat ini dia tidak menghubungiku seperti dulu ".
" Ceh " decih Rea, " apa kau seorang gadis remaja Bella, yang harus terus bertukar pesan dengan kekasihmu. Kau tahu pernikahan kami begitu mendadak dan kami begitu sibuk ".
" Aku rasa itu alasan kenapa dia tidak menghubungimu sesering kemaren ".
" Sesungguhnya itu yang aku benci Rea " ucap lantang Bella tiba tiba, " aku benci ketika menyadari bahwa kekasihku tengah sibuk menyiapkan pernikahannya dengan wanita lain ".
" Apa saat ini kau ingin marah denganku huh ? " balas Rea, yang ntah mengapa ia tidak ingin mengalah saat ini. Meski ia tahu, tempatnya tidak berhak untuk protes di saat orang lain terluka oleh keberadaannya.
Suasana menghening sesaat dengan Bella yang kini terdiam di balik telepon.
__ADS_1
" Jangan membuatku menjadi musuhmu kalau kau ingin tenang Bella " ucap Rea melemah, " semakin kau berpikir kalau aku sainganmu, maka aku yakin saat itu kau akan merasa kalah denganku "
" Rea ! " bentak Bella.
" Aku berbicara apa adanya Bella. Mulai dari sekarang buang jauh jauh pikiran itu darimu kalau kau tidak ingin terluka. Meski semua orang tahu kau kekasih Gema Antunio tapi saat ini aku calon istrinya. Kedudukan ku di atasmu Bella ".
" Ceh, aku tidak menyangka ternyata kau perempuan yang jahat Rea ? "
" Aku atau Kau yang jahat Bella " ucap Rea tegas, " aku rasa saat ini kau sedang menyesal, karena menyadari bahwa kekasihmu akan menjadi milik orang lain ".
" Maksudmu ? "
" Aku tahu saat kita bertemu di tokoh kue. Saat itu kau tengah berbohong pada Gema. dan aku tahu Bella, di antara teman-temanmu saat itu, ada seseorang yang menjadi selingkuhanmu "
" Jaga bicaramu ! " teriak Bella dari seberang telepon.
" Kenapa kau menjadi marah, jika memang perkataanku tidak benar "
" Kau benar benar licik Rea ".
" Ceh. Kau begitu lucu. Harusnya aku yang mengatakan itu padamu ".
" Sekarang kau merasa seperti pemenang karena memiliki senjata, tapi kau harus ingat Rea. Gema begitu mencintaiku dan selamanya begitu "
Mendengar itu Rea justru semakin tertawa, " saat ini kau terdengar seperti tidak percaya diri Bella. Dan emmm.., apa kau pikir perasaan Gema akan tetap sama, jika dia tahu seperti apa tingkah lakumu di belakangnya hemm..? "
" Apa sekarang kau sedang mengancamku ?. Kau tidak punya bukti Rea ".
Dan suasana kembali menghening, oleh Bella yang kini terdiam dari balik telepon.
" Astaga ada apa dengan aku ini " seru Rea untuk dirinya sendiri, " sepertinya aku begitu lelah, sampai aku menjadi begitu serius " lanjutnya dengan sedikit tertawa.
" Jangan khawatir. Aku tidak akan melakukan hal serendah itu Bella " ucapnya kembali melemah, " oleh sebab itu jangan mengusikku dan jangan membuatku sebagai sainganmu, karena aku tidak akan pernah menjadi sainganmu Bella " sambungnya, lalu ia terdiam sesaat.
" Kau tahu kami hanya menikah. Selamanya dia milikmu " ucapnya lagi dengan nada bicara yang kembali teratur.
" Tapi aku tidak yakin Rea "
" Maksudmu ? "
" Ntahlah. Aku sudah tidak seyakin itu dengan perasaan Gema saat ini ".
" Apa sekarang kau sudah kalah sebelum berperang ? " tanya Rea dengan tertawa, " tidak akan ada yang berubah dari kekasihmu Bella. Dia tidak mungkin mencintaiku "
" Justru kau salah, Hati laki-laki begitu lemah Rea. Gema akan sulit menghindar untuk tidak jatuh cinta padamu. Jadi kau yang tidak boleh jatuh cinta padanya "
Deg
__ADS_1
Jantung Rea berdegub kencang oleh ucapan Bella.
" Kenapa harus aku yang tidak boleh jatuh cinta ? "
" Karena saat perempuan jatuh cinta. Dia akan memberikan sepenuh perhatiannya pada laki laki yang di cintainya dan laki laki tidak mungkin bisa menolak hal itu Rea. Terlebih karena aku tahu bagaimana Gema ".
" Ini terdengar seperti semua tanggung jawabku "
" Ya kau yang harus menjaga hatimu Rea.. "
" Bagaima... "
" Aku mohon Rea " potong Bella, " tolong jangan jatuh cinta dengan kekasihku " tambahnya begitu serius. Bahkan ia terdengar sangat memohon.
" Saat kau jatuh cinta maka saat itu aku akan kehilangan dia " sambungnya lagi.
Rea terhenyak sesaat. Bahkan ia merasa dadanya seperti sesak saat ini.
" aku mohon padamu Rea. Gema satu satunya yang aku miliki di dunia ini ".
Rea menarik dalam nafasnya, " Ya baiklah. Dan sepertinya itu juga tidak mungkin. Aku tidak mungkin jatuh cinta Bella ".
" Pegang janjimu Rea " ucap Bella.
" Hemm.., sampai saat ini aku tidak pernah mengingkari janjiku " Balasnya lantang. Namun, jauh di hatinya ia sendiri ragu dengan ucapannya sendiri, " maaf Bella aku harus menutup teleponmu. Aku harus istirahat sekarang "
" Ya ya. Terimakasih karena telah mau berjanji padaku Rea dan Emm.. selamat untuk pernikahan kalian ".
" Apa kau yakin mengucapkan itu ? " seru Rea dengan sedikit terkekeh.
" Sebenarnya tidak. Aku hanya sedang menguatkan diri sendiri saat ini "balas Bella yang terdengar ikut tertawa dari seberang telepon.
" Kalau begitu jangan lakukan itu. Jangan lakukan suatu jika itu hanya akan menyakitimu "ucap Rea serius. Sementara Bella kembali terdiam.
" Baiklah sampai bertemu Bella "
" Hemm.. Rea. Tapi boleh aku menyimpan nomor teleponmu, aku rasa aku akan membutuhkannya untuk menanyakan Ge...".
" Tidak Bella. Jangan simpan nomor teleponku hanya untuk urusanmu dengan Gema. Sungguh aku tidak ingin berada dalam keadaan itu. Jangan libatkan aku dalam urusan kalian, begitu pun sebaliknya "
" Aku serius mengatakan ini. Aku tidak akan berbesar hati untuk di repotkan. Dalam hal ini tolong kita berbagi tugas, urus urusanmu sendiri sebagai kekasih seorang laki laki yang beristri dan aku akan mengurus urusanku sendiri sebagai istri dan seseorang laki laki yang mempunyai kekasih. Jangan mencampuri keduanya Bella, karena itu akan membuatnya semakin rumit " ucapnya begitu tegas.
" Maaf aku harus menutup teleponmu. Sampai bertemu lagi " tutupnya pada sambung telepon tanpa menunggu untuk Bella kembali bicara.
Setelah telepon berakhir kini Rea terdiam sejenak. Memejamkan mata dan berulang kali menarik dan menghembuskan nafasnya, " ceh " decihnya tertawa, " ingat kau tidak boleh jatuh cinta dengan Gema " cercahnya.
" Itu terdengar begitu lucu dan mana mungkin terjadi. Sekali pun kau tidak memberi peringatan itu, aku pun tidak mungkin jatuh cinta dengan kekasihmu Bella " gumamnya berbicara sendiri. Namun, tanpa sadar ia kembali menarik nafas begitu dalam.
__ADS_1
" Ya itu tidak mungkin terjadi. Aku tidak mungkin mencintai Gema " ulangnya tertawa hambar.
Kini ia beranjak dari pembaringannya, " kenapa aku merasa begitu gerah " serunya dan perlahan kakinya bergerak menuju kamar mandi di dalam ruangan tidurnya, " aku harus berendam. Mungkin dengan begitu perasaanku akan baik baik saja " ucapnya lirih dan tanpa menyadari ucapannya.