KITA Hanya MENIKAH

KITA Hanya MENIKAH
Have a Nice Day ya Rea


__ADS_3

Rea duduk di antara Frans dan Elba , senyumnya hambar karena rasa gugup yang begitu luar biasa di dalam dirinya bahkan membuatnya sulit untuk berbicara.


Elba menarik tangannya dan menyentuhnya dengan begitu lembut , " nak.. " panggilnya pelan.


" Ya bibi "


" Jadi darimana kita harus memulai semuanya ? " tanya Elba tersenyum.


" emmm.. aku juga sebenarnya tidak paham apa saja yang harus di siapkan oleh sepasang pengantin " jawabnya tersenyum hambar , berbeda dengan Frans dan Elba yang begitu bersemangat, " kalau begitu serahkan semuanya pada ibu mertuamu , yang harus kalian lakukan hanya memilih baju pengantin dan cincin pernikahan " kata Frans dengan senyum yang tidak pudar dari bibirnya.


" Itu sangat merepotkan jadi tidak mungkin aku menyerahkan semuanya pada bibi " kata Rea sambil menggelengkan kepalanya , " kenapa tidak mungkin , aku calon ibu mertuamu dan peranku sangat penting untuk turut andil dalam pernikahan kalian .. " kata Elba menyanggah membuat Rea kemudian terdiam , " jangan sungkan nak , kami bukan lagi orang lain untukmu " sambung Elba begitu lembut.


" Aku hanya menyiapkan yang seharusnya dan pilihannya ada padamu , atau kau bisa mengatakan seperti apa rencana pernikahanmu biar bibi.... "


" Rea akan setuju apa pun yang sudah bibi siapkan " kata Rea memotong , " apapun.. " sambungnya lagi dengan menatap serius namun penuh keteduhan.


" Kau yakin ? " tanya Elba.


" Tentu , waktu sangat singkat jadi tidak ada waktu lagi untuk aku bertingkah dan aku percaya pilihan nyonya Antonio tidak mungkin mengecewakan " jelasnya tertawa.


" Baiklah tapi bibi akan tetap terus menghubungimu untuk bertanya apa kau setuju atau tidak dengan pilihanku nanti "


" Itu tidak sulit di bandingkan aku harus mengurusnya sendiri " kata Rea dengan tersenyum. Namun, kemudian senyumnya perlahan memudar saat matanya menatap pada wajah dua manusia paruh baya yang terlihat begitu bahagia saat ini. Hatinya terenyuh saat menyadari kebahagiaan mereka di alaskan oleh sebuah kenyataan yang palsu.


" Hei kenapa kau menjadi termenung " seru Elba membuyarkan lamunannya , " kau sudah makan nak? "


" Sudah bibi "


" Emm tapi tidak ada salahnya kalau kau kembali makan bukan ? " kata Elba tertawa sambil bangun dari kursi dan menarik tangan Rea , " ayo , bibi sudah menyiapkan makan malam yang enak " katanya sedikit memaksa dan Rea tidak punya pilihan selain menurut dan ikut berjalan menuju meja makan di dalam kediaman keluarga Antonio.


Elba terus menatap pada suaminya yang kini tengah menikmati makan malamnya dengan wajah semuringah," Makanlah dengan benar sayang , Kau terus tersenyum sejak tadi " katanya dengan tersenyum , dan itu membuat Rea dan Gema ikut melihat ke arah Frans.


" Aku terlalu senang malam ini, bahkan sampai aku tidak sadar jika bibirku terus tersenyum" kata Frans dengan senyum yang belum berakhir dari bibirnya.


Mata Rea menatap ke arah Gema. Namun, lelaki itu tidak melihat padanya dan justru ikut tersenyum , " apa yang ada di dalam pikirannya, apa tidak sedikitkah dia merasa bersalah" gumamnya di dalam batin.


" Bahkan aku tidak pernah melihat kau sebahagia ini meski saat itu kau sedang memenangkan sebuah proyek " ujar Elba ikut tersenyum, lalu melihat ke arah Rea yang tengah menikmati makanannya.


" Rasanya aku begitu tidak sabar menanti pekan depan " seru Frans begitu bahagia setelah menyelesaikan suapan terakhir di mulutnya , " kau terlihat lebih bersemangat dari kedua orang yang akan menikah pada hari itu sayang" ujar Elba tertawa.


Sementara Rea dan Gema kini saling bertatapan penuh arti, " jadi Rea... " ucap Frans tiba-tiba membuat perempuan itu sedikit tersentak , " Ya Paman ".


" Beritahu Bibimu apapun yang kau inginkan di hari pernikahan kalian nanti, jangan sungkan dan jangan melewatkan apapun yang ingin kau harapkan di hari itu" kata Frans dengan lebih tegas.


" Aku tidak pernah punya khayalan untuk sebuah pernikahan Paman, jadi apapun yang sudah di siapkan oleh bibi aku tidak akan pernah protes" sahut Rea dengan ujung bibir yang sedikit melengkung.


Frans mengangguk-anggukan kepalanya" Kau memang perempuan yang sempurna untuk menjadi menantuku " katanya memuji Rea , dan dia pun tersipu, " anda selalu saja berlebihan Paman " katanya seperti menolak ucapan itu. Namun, berbeda dengan reaksi pipinya yang sudah memerah.


Kini Gema yang berbalik terdiam. Bibirnya tak kuasa tersenyum untuk pujian Frans yang di lontarkan pada Rea dan seketika ia menyadari sampai kapan pun wanita yang menjadi kekasihnya saat ini, tidak akan pernah bisa di terima oleh Ayahnya.


" Paman, Bibi. Maaf aku sudah sangat mengantuk, apa tidak apa-apa aku pamit pulang sekarang " kata Rea dengan begitu sopan dan tentu saja dua manusia paruh baya di dekatnya segera mengangguk," tentu nak , seharusnya kau memang sudah beristirahat sejak tadi"


" Maafkan Bibi karena memintamu datang kemari " ucap Elba menyesal.


" Kenapa harus meminta maaf Bibi, memang sudah seharusnya kita bertemu. Hanya saja aku menjadi mengantuk setelah makan malam ini" kata Rea tertawa. Lalu ia melihat pada Gema," Apa tidak keberatan kau mengantarku pulang ? " tanyanya begitu sungkan.


" Tentu tidak, bagaimana mungkin calon suamimu keberatan mengantarmu pulang. iya kan Gema ? " timpal Frans dan Gema hanya bisa mengangguk dengan tersenyum kaku. " Ayo " ajaknya pada Rea dan berjalan lebih dulu.


Sementara Rea masih berpamitan dan memeluk bergantian pada ke dua orang tuanya, " jangan sungkan untuk menghubungi bibi kapan saja " ucap Elba di dalam pelukan mereka dan Rea mengangguk.


" Aku pulang Paman, Bibi. Sampai bertemu " pamitnya lagi lalu kemudian berjalan menyusul langkah Gema yang sudah pergi lebih dulu.


~


Mobil Gema baru saja tiba di halaman rumah Rea.

__ADS_1


Meski ada banyak pertanyaan di dalam otak Rea. Namun, ia memilih diam meski berulang kali mencuri pandang pada Gema yang selama di dalam perjalanan terus diam.


" Kau tidak mampir dulu ? " tanyanya sedikit ragu.


" Tidak, ini sudah terlalu larut. Sampai bertemu besok " ucap Gema dengan sedikit senyum di bibirnya, " baiklah sampai bertemu" balasnya dengan ikut tersenyum lalu keluar dari dalam mobil.


" Rea " panggil Gema tiba-tiba, dan Rea dengan cepat memutar tubuhnya untuk kembali melihat ke arah lelaki itu " Emmm ya... "


" Selamat malam dan selamat tidur " ucap Gema tersenyum, lalu tanpa kata-kata lagi ia kembali melajukan mobilnya meninggalkan Rea yang masih terdiam dan nampak linglung, " apa-apaan dia " gerutunya sedikit kesal. Namun tanpa ia sadari pipi telah memerah dengan bibir yang tersipu.


" Nona.. " panggil Rose dari balik pintu. Rea yang masih menatap pada punggung mobil Gema menjadi tersentak , " kau mengejutkan aku Rose" katanya sedikit kesal, lalu berjalan menuju wanita paruh baya itu.


" Kau belum tidur ? " tanyanya sambil berjalan.


" Tentu aku tidak akan tidur sampai anda pulang Nona " sahut Rose.


Rea terdiam lalu menghentikan langkahnya , " Terimakasih, aku sudah kembali dan sekarang tidurlah" ucapnya begitu lembut dengan senyum teduh di bibirnya.


" Apa aku tidak perlu menyiapkan malam untuk anda ? "


" Tidak usah Rose. Kau tahu malam ini aku sudah dua kali makan malam dan perutku seperti ingin meledak " katanya menggerutu, namun dengan bibir yang merekah.


" Kenapa bisa begitu nona...? " tanya Rose sedikit heran. Bukan pada makan malam yang terjadi dua kali tapi pada mimik wajah Rea yang tak biasa.


" Aku sudah makan malam di rumah Devita, lalu Gema mengajakku ke rumahnya dan aku makan lagi disana. Karena tak enak menolak "


" Kenapa tak enak menolak ? "


" Tentu karena ada Bibi dan Paman. Rasanya aku begitu sungkan untuk menolak ajakan mereka "jelasnya dengan wajah menyesal, Namun bibirnya terus tersenyum.


" Tapi anda terlihat begitu bahagia malam ini " celetuk Rose tiba-tiba dan Rea menghentikan seketika ekspresi di wajahnya saat ini. Ia terdiam, namun tidak mencoba protes dengan ucapan kepala pelayan di rumahnya.


" Selamat tidur Rose " ucapnya seraya berjalan pergi menuju kamar tidurnya. Sementara Rose masih terdiam dan menatapnya dengan tersenyum, " sepertinya anda sedang jatuh cinta nona " gumam Rose, lalu pergi setelah Rea menghilang dari pandangannya.


~


Tidurnya begitu nyenyak tadi malam, sampai ia tidak merasakan memiliki mimpi apapun dan matanya terbuka sebelum jam weeker di kamarnya berdering.


Drrrrttt drrrttt


Handphone di atas nakas bergetar oleh sebuah panggilan masuk.


Rea yang masih setengah bernyawa sedikit tersentak, namun perlahan ia bergerak untuk melihat siapa yang sudah menghubunginya sepagi ini.


" Devita " gumamnya sambil menarik nafas.


" Emm... " jawabnya pada telepon.


" Kau baru bangun ? " tanya dari seberang.


" Emmm.. " sahutnya lagi.


" Hei Nyonya muda Antonio bangunlah " teriak Devita. Mendengar itu mata Rea terbuka lebar, " apa yang kau katakan tadi ? " katanya sembari bangun dari tidurnya dan duduk di sisi tempat tidur, " kau terkejut aku memanggilmu Nyonya muda Antonio " ujar Devita begitu santai, bahkan terdengar jelas saat ini ia tengah menahan tawanya.


" Jangan melakukan hal gila sepagi ini Dev "


" Apa yang gila, apa yang aku ucapkan itu benar. Bukankah sebentar lagi kau akan menjadi Nyonya mudah Antonio"


" Hentikan Dev "


" Tidak, mulai sekarang kau harus siap saat aku memanggilmu seperti itu"


" Jangan gila "


" Kau yang jangan gila "

__ADS_1


Rea menarik nafasnya, " ada apa kau menelponku sepagi ini ? " tanyanya karena tak ingin lagi berdebat dengan wanita di dalam panggilan teleponnya itu , " emmm ya , apa yang bisa aku lakukan hari ini untuk membantumu ? ".


" Membantu ? " katanya mengulang.


" Ya apa yang harus aku bantu untuk persiapan pernikahanmu yang mendadak ini huh " kata Devita dengan sedikit berteriak dan itu membuat Rea harus sedikit menjauhkan handphone dari telinganya , " bisakah kau sedikit santai , bahkan nyawaku belum terkumpul tapi sudah harus mendengar kau berteriak " ucapnya pelan, membuat Devita tertawa dari balik telepon.


" Aku belum bisa memikirkan apapun saat ini , tapi jika aku membutuhkan bantuan kau orang pertama yang akan aku hubungi " lanjutnya.


" Itu harus "


" Bangunlah sekarang, kau tidak punya waktu untuk bersantai Rea "


" Kenapa jadi kau merasa paling repot "


" Bukan aku, tapi kau dan Gema yang mempunyai rencana menikah seperti orang gila , bagaimana mungkin kalian merencanakan pernikahan dengan waktu yang begini singkat "kata Devita menggerutu.


" Kau benar-benar seperti ibu-ibu yang menggerutu di pagi hari "


" Kau yang membuatnya, cepatlah bangun dan telepon aku segera untuk hal apapun yang kau butuhkan "


" Emmm.. "


" Bangun sekarang Rea.. "


" Iya Devita, kenapa kau menjadi sangat menyebalkan " katanya yang mulai terbawa emosi , Devita yang terdengar tertawa di seberang telepon langsung menutup panggilannya.


" Ceh , dia benar-benar hanya ingin merusak pagiku " gerutunya.


Drrrttt drrrtttt " handphone yang masih berada di tangannya kembali berdering , " apa lagi Devita ? " teriaknya sambil menjawab panggilan telepon.


" Selamat pagi " ucap lembut dengan suara yang sedikit parau.


Dengan cepat Rea melihat ke layar handphonenya ," shiiitt " umpatnya pelan saat mengetahui yang menghubunginya saat ini bukanlah Devita melainkan Gema.


" Pagi , maaf aku kira Devita lagi yang menelponku " ucapnya begitu malu.


" Hemmm.. tidak apa-apa "


" Ada apa ? "


" Apa harus ada apa-apa dulu untukku menelpon calon istriku sepagi ini " balas Gema , membuat Rea terdiam seketika , " sepertinya kau mimpi buruk tadi malam " ucapnya. sementara Gema langsung tertawa dari balik telepon," Aku hanya ingin memastikan kalau kau sudah bangun " katanya begitu lembut.


" Ya aku sudah bangun "


" Emm.. kalau begitu aku tutup teleponnya "


" Hanya begini ? " tanya Rea yang tidak paham dengan tingkah Gema pagi ini , " emmm aku hanya ingin memastikan kalau calon istriku baik-baik saja pagi ini ".


" Sepertinya sebelum tidur kau telah salah meminum obat Gema "


" Memangnya kenapa ?, Apa ada yang salah ? "


" Tidak tidak "


" Baiklah aku tutup teleponnya ya Rea "


" Ya Gema "


" Have a nice day ya Rea "


" Ya , You too " balas Rea yang semakin linglung oleh tingkahnya.


" Bye " ucap Gema sebelum akhirnya panggilan itu benar-benar berakhir , " ada apa dengannya? "


" Apa dia sedang mendalami aktingnya sebagai calon suami ? " katanya menggerutu dengan sambil menatap pada layar handphone dengan panggilam telepon yang baru saja berakhir.

__ADS_1


__ADS_2