
Sepasang mata mengercap, menerima silau matahari pagi.
garis bibirnya melengkung. Setelah merasakan tidur yang begitu nyenyak dan perlahan bola mata coklat itu terbuka.
" Aaaahhh " serunya sembari merenggangkan otot-otot yang terasa kaku, " sepertinya tidurku begitu nyenyak tadi malam " ucapnya dengan bibir yang tersenyum. Namun sekejap senyum itu memudar berganti dengan mata yang membesar.
Ia menelan paksa ludahnya, seraya menuruni pandangan matanya ke arah tubuhnya yang masih terbaring.
Deg
Jantungnya berdebar tak menentu tak kalah ia menemukan sebuah tangan melingkar pada pinggangnya, " shiitt " umpatnya. Dengan cepat ia menyibak selimut yang menutupi tubuhnya.
Ia tertegun sesaat, saat melihat tubuhnya masih terbalut dengan utuh kain transparan yang ia kenakan tadi malam. Walau selama memastikan hal itu, ia harus menahan setengah mati rasa geli karena tubuhnya yang begitu terbuka.
Di tengah pandangannya ia tersentak, oleh tangan yang tiba-tiba menarik rapat tubuhnya pada dada bidang di punggungnya.
Mata Rea terpejam sesaat dengan nafas yang tertahan. Tubuh yang saling bersentuhan membuat jantungnya berdegub begitu kencang, " astaga bagaimana ini " pekiknya di dalam hati.
Dan jantungnya semakin berpacu saat tubuh di sisinya kembali bergerak. Cepat cepat Rea kembali memejamkan matanya, dengan sebisa mungkin membuat jantungnya kembali berdetak dengan normal.
" Astaga " seru Gema terkejut, sambil menarik tangannya dari tubuh wanita yang ia peluk begitu erat.
" Untung saja dia tidak bangun lebih dulu " sambungnya. Sesaat pandangannya terpaku, menatap pada tubuh yang masih terpejam di sisinya. Ia sungguh masih tidak menyangka jika wanita itu kini telah resmi menjadi istrinya, Nyonya Muda Antonio.
" Aku kira semuanya hanya mimpi " gumamnya sedikit tertawa, ketika mengingat apa yang sudah terjadi kemarin. Ia masih belum bisa percaya bahwa dirinya telah mengikrarkan janji suci pernikahan.
" Dia pasti begitu lelah " katanya lagi, sambil menarik selimut dan merapatkannya di tubuh Rea.
Meski matahari telah bersinar terang. Namun, Gema tidak berniat mengganggu tidur wanita yang sudah resmi menjadi istrinya saat ini. Ia biarkan wanita itu terus berada dalam mimpinya. Meski kini tangannya mulai bergerak untuk mengibas anak rambut yang bermain di wajah tertidur istrinya.
" Ku akui kau wanita yang begitu cantik Rea " ucapnya pelan.
Deg
Tanpa ia ketahui ada jantung yang berdebar oleh ucapannya itu.
Setelah menatap cukup lama tubuh Rea, kini Gema beranjak dari tempat tidur, " shitt " umpatnya ketika menyadari tubuhnya yang kini hanya terbalut sebuah celana pendek.
Cepat cepat ia bergerak menuju gagang telepon.
" Hallo " sapanya pada telepon yang sudah tersambung.
" Selamat pagi Mr. Antonio, ada yang bisa kami bantu " balas dari seberang telepon.
" Hemm.. " Serunya menjeda sesaat, " bisakah bantu saya untuk menyiapkan pakaian santai hari ini. Kami datang tanpa membawa selesai pakaian kemari " jelasnya, ada rasa malu disana.
" Oh tentu Tuan. Bahkan kami sudah menyiapkannya, hanya saja kami tidak ingin mengganggu tidur anda dan menunggu anda menghubungi kami " balas pelayan hotel.
__ADS_1
Gema menarik nafas, " ternyata memang semuanya sudah di rencanakan ayah " pekiknya di dalam batin.
" Baiklah, terimakasih. emmm, bisakah di antar ke kamarku sekarang "
" Tentu Tuan "
" Dengan pakaian istriku juga " tambahnya.
" Tentu, kami sudah menyiapkan keduanya Tuan, untuk anda dan juga Nyonya ".
" Baguslah kalau begitu, tolong cepat antar kemari "
" Baik Tuan, secepatnya kami akan datang. Apa ada lagi yang bisa kami bantu ? "
" Saat ini cukup itu saja "
" Baik Tuan. Kami akan seger datang " balas pelayan hotel, lalu Gema menutup sambungan telepon.
Ia menghela nafas kasar, merutuki perbuatan ayahnya, " idemu memang luar biasa ayah " pekiknya begitu kesal.
Dan bersamaan pintu berbunyi, dengan cepat ia berjalan ke arah pintu lalu menghimpit tubuhnya pada pintu yang ia buka. tanpa ia sadari, saat ini ia tidak ingin ada orang lain yang melihat tubuh istrinya yang tengah tertidur, meski tubuh itu telah tertutup rapat oleh selimut.
" Kami sudah menyiapkan semua pakaian Tuan dan Nyonya disini " ucap pelayan sambil menyodorkan koper besar pada Gema.
" Semua ? "
" Maria " ulang Gema dengan dahi yang sedikit berkerut, " oh ya " serunya setelah menyadari siapa Maria.
" Baik terimakasih " ucapnya lagi.
" Silahkan hubungi kami , jika anda kembali membutuhkan sesuatu Tuan " ucap pelayan dan Gema mengangguk " Ya, tentu " balasnya.
" Terimakasih " ucapnya lagi, sebelum menutup kembali pintu kamarnya.
Rea yang masih terbaring di atas tempat tidur, kini menjadi dilema. Antara ingin tetap berpura-pura memejamkan mata atau bangun dengan menahan rasa malu, dan pilihan yang kedua adalah hal yang paling sulit ia lakukan saat ini. Namun hal itu harus ia lakukan, karena tak mungkin ia terus berada di tempat tidur itu apalagi menghindari laki-laki yang kini telah resmi menjadi suaminya.
Perlahan ia membuka matanya, lalu menarik tubuhnya untuk duduk di sisi tempat tidur, dengan selimut yang terus melekat di tubuhnya.
" Kau sudah bangun ? " tanya Gema sedikit tersentak.
" Hemmm... " balasnya, dengan berpura-pura bahwa ia benar-benar baru saja ia bangun dari tidurnya.
Sesaat keadaan menjadi canggung. Bagaimana tidak suasana pagi yang tidak biasa baru saja terjadi antara dua manusia.
Diam-diam Gema menarik nafas, " mandilah " pintanya pada Rea.
Sementara di tempatnya, Rea hanya mengangguk lemah. Pikirannya prustasi, memikirkan bagaimana dia akan keluar dari dalam balutan selimut tanpa memperlihatkan keadaan tubuhnya.
__ADS_1
" Pelayan sudah menyiapkan pakaian untuk kita " ucap Gema memberitahu,karena ia pikir diam perempuan itu adalah memikirkan tentang pakaiannya, " aku tidak tahu kau akan suka atau tidak, tapi mereka bilang semua pakaian itu sudah dia siapkan oleh asistenmu, jadi sepertinya itu sesuai seleramu " katanya lagi.
dan Rea kembali mengangguk lemah, saat ini pikirannya tidak pada ucapan Gema.
" Apa kau sakit ? " tanya Gema mendekat.
" Tidak Gema, aku baik baik saja " sahutnya tersenyum hambar.
" Kau yakin ? " ucap Gema kembali bertanya, " tapi wajahmu terlihat pucat Rea ".
" Tidak aku baik baik saja, sungguh " sahutnya lagi. Rasanya begitu sulit untuk mengutarakan apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.
Rea memejamkan matanya sesaat, tidak ada pilihan saat ini, selain ia bangun dengan keadaannya atau tetap berada di tempat tidur sepanjang hari, tapi sepertinya itu tidak mungkin.
Dengan rasa malu yang tersisa, ia membuka balutan selimut pada tubuhnya.
" Cepat atau lambat dia juga akan melihat tubuhku " ucapnya di dalam hati. Lalu beranjak dari tempat tidur, dengan keadaan tubuhnya yang begitu seksi. Namun, Rea tak punya pilihan selain memperlihatkannnya.
" Apa pakaiannya ada di koper ini ? " tanyanya pada Gema, tanpa berani melihat pada lelaki itu.
Glek
Gema menelan paksa ludahnya, saat mendapati tubuh setengah telanjang Rea kini terpampang di hadapannya.
" Gem apa pakaiannya disini ? " ulang Rea.
Gema tersentak dari pandangannya, " emm ya " sahutnya begitu malu, menyadari Rea mendapati dirinya tengah memandang ke arahnya.
" Kau atau aku yang dulu mandi ? " tanyanya kembali, sambil membuka koper di hadapannya.
" Kau saja " balas Gema, lalu ia berjalan mendekat, " Mandilah " pintanya lalu membawa koper itu ke atas tempat tidur.
" Oke " jawab Rea, lalu dengan cepat ia berjalan menuju kamar mandi dengan wajah yang tidak ia sadari kini telah memerah, " dasar bodoh. Harusnya tadi aku memintanya keluar sebentar " ucapnya merutuki dirinya sendiri.
Matanya terpejam sesaat, setelah melihat kembali dirinya di hadapan cermin, " musnah sudah harga dirimu Rea. Kenapa aku menjadi begitu tidak tahu malu sih " cercah penuh penyesalan.
Sementara Gema kini menarik nafas begitu dalam, setelah pintu kamar mandi tertutup.
" Aku tidak tahu lagi, apa yang akan aku lakukan kalau satu menit saja dia masih disini " pekiknya sambil melihat pada pintu yang tertutup.
" Tapi.., kenapa dia menjadi begitu berani. Apa saat ini dia tengah menantangku huh " gumamnya, bersama pikirannya yang menerka pada pikiran Rea.
" Ya sepertinya dia tengah menantangku. Apa Mungkin dia berpikir aku tidak normal karena tadi malam aku tidak menyentuhnya " sambungnya lagi.
" Baiklah. Kau tunggu saja waktunya Rea, akan ku buat kau tidak bisa bangun dari tempat tidur " ucapnya dengan senyum penuh arti, tentunya dengan kesimpulan yang ia buat sendiri. Sedangkan perempuan yang berada di dalam kamar mandi, kini tengah merutuki kebodohannya tanpa henti.
Meski ia sadar, bahwa yang ia lakukan bukanlah sesuatu yang sangat merugikan, mengingat bahwa saat ini, tubuhnya bukan lagi miliknya sendiri.
__ADS_1