
Mata tidur Rea terbuka. Tepat, di saat Gema tengah memandangi wajahnya. Mata sayu mereka saling bertemu sejenak, saling memandangi penuh arti. " kau sudah bangun ? ", tanya Gema terkesiap. " Kau mau minum ? ", tanyanya lagi, seraya menjangkau segelas air yang di letakkan di seberang tubuh Rea.
Saat itu, Rea hanya diam. Matanya telah terbuka lebar, tapi dia tak bergeming, ketika tubuh Gema membumbung di hadapannya. Bahkan tak menolak ketika lelaki itu menyergahkan gelas berisi air ke mulutnya. " Kau lapar ? ", tanyanya lagi. " atau kau mau sesuatu ? ".
Rea masih diam. Segala kalimat, seperti menggumpal di ujung lidahnya. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan, apa yang terjadi?, dan kenapa mereka berdua berada di dalam ruang yang penuh aroma pembersih. Sungguh, ia tengah menahan diri untuk tidak muntah saat itu, kalau saja aroma tubuh Gema tidak merasuk ke dalam rongga hidungnya, menghalau aroma desinfektan yang tidak ia sukai semenjak dia terbangun. Padahal itu bukan aroma pembersih, tapi aroma dari ruangan rumah sakit. Ciri khas dari bangunan itu, dimana pun tempatnya, bahkan di rumah sakit pelosok mana pun tidak ada yang berbeda. Aroma rumah sakit tetap sama, bau obat dan kertas yang menumpuk.
Rea tahu, tapi hari ini dia mulai tidak menyukainya. Aroma itu begitu menyenangat, berpuluh-puluh kali mengenyengat dari biasanya, membuat kepalanya langsung pusing dan mual bersamaan, ketika matanya terbuka.
Dan ia menemukan Gema di hadapannya, seseorang yang secara pikiran egoisnya tidak ingin ia lihat. Tapi, secara nalurinya itu bertentangan. Bahkan saat ini, perasaan itu melewati batas. Menenggelamkan perasaan egoisnya, bahwa dia tak ingin dekat dengan lelaki itu.
Tapi aroma tubuh Gema terlalu menakjubkan, membuatnya terpaku dan memberi kesejukan di tengah kepalanya yang pusing.
Ada banyak kalimat yang bertentangan di ujung lidahnya. Seperti dia ingin menjawab ketus pertanyaan lelaki itu, tapi di sisi lain, dia juga ingin menjawab dengan lembut. Dan mengutarakan semua keinginannya. Bahkan ingin bermanja dalam pelukan lelaki itu. Tapi saat ini, dia masih mampu mengontrol perasaan itu, akal sehatnya belum musnah sepenuhnya. " aku akan meminta pelayan rumah sakit menyiapkan makanan untukmu ? ", kata Gema lagi, padahal ia tak menjawab satu pun pertanyaanya.
Tubuh Gema bergerak menjauh untuk sampai pada gagang telepon yang berada di sudut ruangan. Dan Rea, seperti kehilangan keseimbangan. Aroma desinfektan, kembali merasuk ke dalam rongga hidungnya.
Berhasil membuat langkah Gema terhenti, dan berputar cepat ke arahnya.
Rea melihat sekilas tatapan cemas lelaki itu, ketika isi dalam perutnya berhamburan di atas sprei rumah sakit. " apa yang terjadi ?, apa yang kau rasakan Rea ? ", pekiknya khawatir.
Rea tak memikirkan apapun, kecuali menahan malu. Dia benci, kenapa tiba-tiba dia begitu jorok, sampai tidak bisa menahan mulutnya untuk memuntahkan sisa makanan yang di berikan Maria tadi siang.
Gema menyeka mulutnya dengan begitu lembut, dengan lembaran tissue yang dia ambil dengan begitu cepat. " kau masih ingin muntah ?, Muntahkan saja ", katanya dengan tangan yang bersidekap, bersiap untuk menampung muntahan berikutnya. " Tidak apa-apa. muntahkan saja Rea ", katanya lagi, menatapnya dengan penuh prihatin, dan terdengar sedikit memaksa. Lelaki itu pasti tahu, bahwa dia malu saat itu.
Tapi sebenarnya perasaan itu, tak cukup bisa membendung rasa mual di perutnya, jika saja saat itu juga dia ingin kembali muntah. Dia tak akan mampu menahan mulutnya untuk tidak terbuka hanya karena malu. Rasa mual itu menghilang dalam sekejap saat tubuh Gema kembali berada di dekatnya. Aroma desinfektan tak lagi menyengat, bahkan menghilang. Seolah kalah oleh aroma tubuh lelaki itu. Aroma maskulin yang begitu menyejukkan, dan dia sukai. Dan hari ini pertama kalinya, dia menyadari aroma tubuh lelaki itu. " aku sudah baik-baik saja ", katanya mulai bersuara.
" Kau yakin ? "
__ADS_1
" Hemmm ", Rea mengangguk. Dan dia tak berani memandang pada wajah Gema. " Dimana Rose ? ".
" Aku meminta dia pulang ", sahut Gema. Tak sadar, Rea bergerak melihat wajah lelaki itu. Mata mereka kembali bertemu sejenak. Dan keduanya saling menelan ludah. Tubuhnya masing-masing, seperti merasa tersengat listrik tegangan kecil. Tak membuat terbakar, tapi menghasilkan getaran. Getaran yang tak biasa, getaran yang baru mereka sadari, bahwa saling menatap, bukan sesuatu hal yang sama lagi seperti dulu.
Sejenak ruangan menghening. Mereka saling mengalihkan padangan, ketika menyadari mereka cukup lama saling menatap.
Denting jarum jam terdengar lebih jelas saat itu, begitu pun suara detak jantung yang Rea rasakan. Organ itu, kembali bekerja tidak normal, bahkan nyaris berlebihan. Berdebar tak menentu, dan berdetak tak tentu arah. Lebih cepat, dari suara denting jarum jam, yang berbunyi ke detik selanjutnya.
Rea, benci pada dirinya sendiri. Pada dirinya yang tidak bisa mengatur perasaannya. mengatur detak jantungnya. Tapi saat itu, dia juga menyukai, ketika mata mereka saling bertatapan. Dan perutnya tiba-tiba bergetar. Wajahnya merah padam, saat bagian tengah dari tubuhnya itu, mengeluarkan bunyi yang memalukan. Beruntungnya saat itu, mereka tidak lagi saling bertatapan
" Kau lapar ", kata lelaki itu bicara. Dan Rea tak menyahut. Dia bersikeras menyembunyikan wajah yang memerah, dan merutuki cacing-cacing di perutnya. " sebentar, aku akan menelpon petugas rumah sakit ", kata Gema ingin beranjak.
Saat itu, Rea cukup cepat tersadar dengan kondisinya. Tidak ada pilihan lain. " jangan kemana-mana. " teriaknya spontan "
" Aku hanya sebentar ".
Rea menggeleng. " tidak, tetaplah disini ", katanya bersikeras. Wajahnya memohon dan Gema hampir tersenyum saat melihat wajahnya . " jangan kemana-mana ", katanya sekali lagi.
" Tapi kau lapar Rea ".
" Tidak. Itu hanya suara perutku yang kembung "
" Mungkin aku sedikit masuk angin ", katanya memberi alasan.
" Itu suara cacing kelaparan bukan kedinginan Rea ", kata Gema menyela ucapannya, dengan mengulum bibirnya untuk tak tertawa. Rea tak bergeming, dan wajahnya semakin memerah. " kau harus makan ", kata Gema kembali ingin beranjak, menuju letak gagang telepon yang tak jauh. " aku tidak lapar ", kata Rea bersikeras, dengan tangan yang memegang semakin erat. " kau mungkin tidak, tapi anak kita, iya ", ucap Gema.
Pegangan tangan Rea merenggang seketika. Matanya menatap tak berkedip. Kalimat yang baru saja di ucapkan Gema, seperti suara petir yang menggelegar. Mengejutkan dan membuatnya tak percaya. " ulang sekali lagi Gema ", pintanya.
__ADS_1
" Anak kita. " kata Gema mengulang, suaranya pelan tapi berhasil membuat tubuh Rea bergetar. " jangan bercanda Gema ! "
" aku tidak bercanda "
" Kau hamil Rea. " katanya menambahkan, membalas tatapan tak berkedip Rea padanya. Perempuan itu tak lagi bersuara, hanya terpaku dengan muka yang masih tak percaya. " Dewi itu, benar-benar mengabulkan doamu waktu itu. " katanya lagi. Rea sempat kembali menatapnya saat itu, tapi tanpa berkata-kata. Dia masih terlihat begitu linglung, dengan tangan yang bergerak perlahan mendekati perutnya, menyentuh bagian itu dengan memejamkan mata. Ia ingin merasakan kehadiran janin yang belum berbentuk di bagian tubuhnya itu. Janin yang belum memiliki detak jantung. Janin yang belum memiliki Ruh, tapi mampu membuat tubuhnya terasa berbeda, tubuhnya yang tak lagi terasa biasa seperti sedia kalah. Kehadiran janin itu benar-benar merubah keadaan. Seperti saat ini. Kehadirannya mampu membuat seorang Rea menangis di hadapan orang lain.
Air matanya mengalir tanpa bisa di tahan, dan dia tak lagi peduli pada kehadiran Gema yang akan melihat tangisannya.
Dia terlalu bahagia, dan dia terbawa emosi dengan hadiah terindah yang Tuhan berikan begitu cepat padanya.
"Hei, kau baik-baik saja ?" tanya Gema cemas. Rea mengangguk dengan mata yang masih ia pejamkan, dan air mata yang mengalir, "aku terlalu bahagia Gema" ungkapnya, "aku akan menjadi seorang Ibu" katanya lagi, dan saat itu dia membuka matanya. Dan mata mereka kembali bertemu.
Jantung Gema berdegub kencang, saat mendapati matanya yang memerah. Dan ia tak menunggu meminta ijin untuk memeluk tubuh perempuan itu. Mendekapnya dengan begitu hangat. "kita akan menjadi orang tua Rea" katanya begitu bahagia.
Tangan Rea membalas pelukan itu. Dan mendekap tak kalah hangat. Kebahagiaan Gema, dapat ia rasakan saat itu. Hati mereka saling menghangat, saling bersyukur atas apa yang Tuhan berikan pada keluarga kecil mereka. Hadiah yang begitu indah yang mereka dapatkan. Keinginan yang memang begitu Rea inginkan.
Kebahagiaan yang memang seharusnya terjadi di antara sepasang suami istri, seharusnya. Tapi saat ini, keadaan itu memang sedang terjadi. Kebahagiaan itu membumbung, hingga membuat mereka saling lupa dengan apa yang sudah tertulis. Dengan apa yang akan terjadi, setelah adanya kelahiran dalam keluarga kecil mereka.
Mereka tidak lagi mengingat hal itu. Yang terjadi hanya pelukan hangat yang begitu erat. Dan Rea kembali menangis disana, di dalam pelukan Gema. " aku tidak akan pernah menyia-nyiakan anak kita, Gema. Aku tidak akan pernah membiarkan dia sendiri. Tidak akan pernah ! " ucapnya tersendat-sendat. Dan Gema semakin memperat pelukannya, mencium puncak kepalanya berulang kali. " kita akan menjaganya bersama " ucapnya dengan lembut. Dan tangis Rea, semakin menjadi-jadi saat itu.
Hello semuanya😊
Maaf karena kemarin hiatusnya kelamaan hihihi, rencana cuma tiga hari. Tapi setelah lebaran author malah drop banget, kebanyakan makan rendang kali ya😬😄 terus kebentur sama kerjaan di real life. Jadi jam nulisnya di pake buat istirahat. Maafin ya gaes🙏 janji deh habis ini ga bakal hiatus lama lagi✌️
Mohon untuk tetap dukungannya untuk semua novel aku yang masih on going. Kalau ga ngerepotin Vote nya juga ya, biar level novel ga anjlok, dan aku tetap semangat nulis🤗
sekali lagi terimakasih atas dukungannya. Dan semoga kalian selalu sehat dimana pun😇❤️
__ADS_1