KITA Hanya MENIKAH

KITA Hanya MENIKAH
Suami Tidak Berguna


__ADS_3

" Gema " panggil Rea berseru. Lelaki itu masih di dalam kamar mandi, dengan suara percikan air. Dan Rea harus sedikit berteriak demi suaranya bisa di dengar, " Gema, kau masih lama ? " tanyanya lagi. Ia baru saja beranjak dari hadapan cermin, setelah merias wajahnya dengan begitu cantik dan menata rambut panjangnya di ikat seperti ekor kuda.


Ia bergegas kesana-kemari, memasangkan anting mutiara di telinganya, lalu menambatkan kemeja biru metalik serta rok berwarna hitam yang tergantung di pahanya.


Dirinya benar-benar di buru waktu saat ini, ntah apa yang membuat tidurnya begitu nyaman sampai dia begitu terlambat.


Padahal, ia merindukan menatap kuntum bunga mawar yang di tetesi air embun, serta menikmati cahaya matahari pagi, sebelum Rose menghidangkan cookies gandum hangat kesukaannya.


" Kau memanggilku ? " tanya Gema, ia mendongak dari cela pintu kamar mandi.


Rea mengangguk, " aku sudah terlambat Gem. Boleh aku turun lebih dulu ke meja makan ", katanya, sambil mengenakan mantel bulu domba Australia.


" Hemmm, aku akan segera menyusul ", kata Gema membalas, lalu menutup kembali pintu kamar mandi.


" Jangan lama ", teriak Rea, sembari keluar dari ruang kamar tidurnya, lebih tepatnya kamar tidur mereka.


" Siapkan high heels Lv berwarna hitam. Jangan terlalu tinggi, hari ini saya banyak perjalanan ", pintanya pada pelayan, yang berjalan mengiringi langkahnya keluar dari kamar tidur.


" Selamat pagi Nona ", sapa Rose, ketika dirinya baru saja sampai di meja makan.


" Pagi bibi " balasnya tersenyum. Rose terhenyak sejenak sesaat, ia sungguh belum terbiasa dengan panggilan barunya itu," sepertinya anda terlambat", katanya pada Rea,sambil meletakan piring keramik dari italia di hadapan perempuan itu. Lalu kemudian meletakan roti bakar margarin hangat di atasnya. Di susul satu pelayan yang meletakan kopi espresso di sisi hidangan roti.


Rea mengangguk, " aku baru tahu kalau tidur di ruang keluarga, ternyata sangat nyaman ", katanya tersenyum, dan Rose menahan senyum mendengar itu. Sepanjang pagi, wanita paruh baya itu tak berhenti bolak balik dari ambang pintu besar ruang keluarga, memastikan tidur sepasang manusia yang saling berpelukan hangat, tidak terganggu.


" Ah, aku merindukan roti ini ", ucap Rea senang, sembari menghirup aroma dari enaknya margarin yang terbakar di roti gandum. Dan selang beberapa detik, satu pelayan kembali datang dengan membawa segelas susu kedelai.


" Aku kira kau melupakan ini ", katanya tersenyum pada Rose, tapi sementara, ia tetap membiarkan segelas susu itu menganggur. Dirinya lebih memilih, menyesap kopi espresso hangat yang di letakan di sisi kanannya, " aku butuh banyak tenaga hari ini ", gumamnya. ******* bibirnya sendiri, untuk membersihkan garis putih dari noda busa espresso di setiap pinggir bibirnya.


" Anda ingin, saya menyiapkan salad ? " tanya Rose. Rea langsung menggelengkan kepalanya, " aku tidak punya banyak waktu lagi ", ucapnya, sambil melihat ke arah alroji di tangannya, lalu melihat ke ambang pintu, " kenapa Maria belum juga datang ", katanya bergumam dan Rose masih mendengar kalimat itu, " sebentar lagi dia pasti akan sampai ", katanya menimpali gumaman Rea. Dan saat itu Gema datang bergabung.


" Kau sudah selesai ? " tanya Rea menyapa. Lelaki itu duduk di kursi utama di meja makan, dimana seorang pelayan telah membukakan untuknya. Dan di tempat itu adalah singgah sana Rea di meja makan.


Sebelum Gema datang, Rose sedikit terkejut, ketika melihat Rea memilih duduk di sisi kanan kursi utama, tapi setelahnya wanita paruh baya itu langsung mengerti.


" Bukankah ini tempat dudukmu ?", ucap Gema, sebelum menjawab pertanyaan Rea, " aku bukan lagi kepala keluarga di rumah ini ", sahut Rea tersenyum. Dan Gema memandangnya sejenak.


Maria datang saat itu, " sepertinya aku datang tepat waktu ", ujar perempuan itu tersenyum. Sementara Rea berdelik ke arahnya.


" Bibi, siapkan satu hidangan lagi untuk Maria " seru Rea pada Rose. Tapi Maria langsung menggelengkan kepala, " tidak terimakasih ", katanya menolak, " enam menit lagi, kita sungguh harus sudah berangkat ", sambungnya, sambil melihat pada alroji di tangannya, memastikan hitungan waktunya tidak salah.


Mata Rea membesar, " sial, kenapa kau tidak mengatakannya dari tadi ", pekiknya bergegas, ia menyesap kopi espressonya dengan terburu, menelan cepat-cepat roti gandum yang berada di mulutnya.


" Maaf, karena telah mengganggu pagi anda Tuan ", ucap Maria pada Gema. Lelaki itu tersenyum sekilas ke arahnya dengan sedikit menggeleng, lalu kembali memperhatikan istrinya yang bergerak tergesa-gesa, " pelan-pelan Rea ", katanya memberitahu. Perempuan itu hanya tersenyum, " aku sudah terlambat ", katanya membalas.


" Terimakasih ", ucapnya pada pelayan yang baru saja datang dengan membawakan sepatu permintaannya. Dirinya menggeleng, ketika pelayan bergerak untuk memasangkan alas kaki itu di telapak kakinya, " biar aku saja yang melakukannya ", katanya tersenyum.

__ADS_1


" Tuan apa anda tidak suka ?, Saya bisa meminta pelayan memasak lagi untuk anda ", ucap Rose tiba-tiba pada Gema, lelaki itu tersentam sejenak. Beberapa detik, ia belum mengerti dengan apa yang sedang di bicarakan wanita paruh baya itu, " tidak, tidak perlu Rose. ini cukup ", balasnya.


" Anda bisa mengatakan pada kami, Tuan. Menu sarapan apa saja yang anda suka ", kata Rose lagi, dan Gema menggeleng.


" Ya Gem, katakan makanan apa yang suka. Biar Rose bisa menyiapkannya untukmu ", kata Rea menimpali, setelah selesai memasangkan heels berwarna hitam di kakimya.


" Tidak ada yang khusus, Apa saja " kata Gema menyahut.


" Ayo Maria " ajak Rea, sambil bergerak menggapai tas jinjingnya. Gema terlihat ikut panik saat itu, " kau sudah akan pergi ? ", tanyanya sambil ikut bergegas dari tempat duduknya.


" Hemm, lanjutkan saja sarapanmu "


Beberapa detik mereka saling bertatapan. Sorot mata mereka saling melemparkan tatapan kebingungan. Ini pertama kalinya mereka menjalani pagi, seperti hal normal di lakukan sepasang suami istri. Mungkin, seperti itu di pikiran Rea saat ini, " aku pergi dulu ", kata Rea berpamitan. Ia hanya tersenyum sejenak, lalu kemudian berlalu, di susul oleh Maria.


Sekali lagi dirinya menoleh ke belakang, sebelum bayangannya menghilang dari balik tembok besar.


Gema masih berdiri. Dirinya terdiam kebingungan saat ini.


" Astaga, Nona melupakan susunya ", ucap Rose, yang berhasil membuat dirinya terkesiap, " ini susunya ? " tanyanya pada Rose, dan wanita itu mengangguk.


Tanpa bertanya lagi, ia langsung membawa gelas berisi air putih itu berjalan mengikuti langkah kaki Rea.


" Bukankan itu suara Tuan ", ucap Maria memberitahu pada Rea, dan samar suara orang memanggil nama Rea memang terdengar.


" Gema ", kata Rea menghentikan langkahnya.


" Kau melupakan ini " ucap Gema, menunjukkan segelas susu yang belum tersentuh di tangannya. Maria tersenyum melihat adegan itu, begitu pun Rea. dan tanpa berkata, ia mengambil gelas itu, dan menyesap hampir setengah isinya, " terimakasih ", ucapnya, sambil mengembalikan gelas itu, lalu bersiap untuk kembali bergerak cepat menuju mobil.


" Tunggu Rea ", kata Gema, sambil menarik tangannya. Perempuan itu menunda lagi langkahnya, dan memandang penasaran.


" Emmm, jam berapa kau pulang ? " tanyanya canggung. Rea mengangkat bahu, " belum tahu Gema, ada apa ? ".


" Tidak, aku hanya bertanya ".


Rea terdiam sesaat, menatap ke arahnya, " apa rencanamu hari ini ", katanya bertanya.


" Aku.... "


" Nona kita harus berangkat sekarang ", seru Maria dari ambang pintu mobil. Ia sungguh menyesali melakukan itu, tapi mereka benar-benar sudah terlambat.


" Aku pergi dulu Gema ", kata Rea kembali bergegas, menarik tangannya dari genggaman Gema.


" Aku tidak punya rencana apa-apa", kata Gema melanjutkan kalimatnya. Ia masih berdiri, dan memandang ke arah mobil yang sudah melaju, membawa Rea di dalamnya, " aku seperti suami yang tidak berguna ", katanya tertawa. Ia kembali masuk ke dalam rumah, dengan memandangi gelas dengan isi yang sudah berkurang, " setidaknya pagi ini, aku berguna dalam hal ini ", gumamnya lagu, suasana hatinya senang saat mengatakan kalimat itu.


Pertama kalinya, selama berada di rumah Rea Gema memang handphonenya.

__ADS_1


Setelah menyelesaikan sarapannya, ia kembali ke kamar tidur Rea. Dirinya tidak bisa menyebut ruangan itu, kamar tidur mereka berdua.


Ia terpaku saat menatap benda pipihnya yang di penuhi pesan dan beberapa panggilan yang tidak terjawab, dan ia menelan ludah saat itu.


" Dia pasti marah ", gumamnya sambil menghela kecil. Dan bersamaan benda itu berdering, dan berhasil membuatnya terkejut, " untung saja ", ucapnya, setelah melihat nama Real disana.


" Ya Real ".


" Kau masih berniat untuk pergi memancing ", kata lelaki itu tidak sabar.


" Ya, tapi kau siapkan segalanya ".


" Baiklah. Datang ke rumahku sebelum senja " pintanya dan Gema menyanggupi sebelum mengakhiri panggilan itu.


Gema terbangun tepat tiga puluh menit sebelum jam makan siang. Ia tidak sadar telah tertidur dengan handphone yang masih berada di tangannya. Lalu membuka benda itu, dan menemukan pesan-pesan yang tergantung tanpa balasan darinya.


" Kau mengambaikan pesanku ? " sebuah pesan yang baru saja masuk, tepat di halaman layar yang sedang terbuka.


Gema menarik nafas setelah membaca pesan itu, dan beberapa detik kemudian handphonenya berdering.


Ia terdiam sejenak, memandangi layar handphonenya, walau setengah ragu, tapi akhirnya ia memilih untuk menjawab panggilan itu, " ya Bella ", sapanya, ia sudah menyiapkan dirinya, jika perempuan itu akan memakinya saat itu.


" Kau sudah pulang ? " tanya lemah perempuan itu, dan itu membuatnya bingung, " ya.. " jawabnya menggantung, " aku tiba disini tadi malam ", katanya melanjutkan. Suara menghening sejenak.


" kau sakit ? " tanyanya penasaran setelah mendengar nada bicara perempuan itu. Ini seperti bukan hal yang ia perkirakan saat menjawab panggilannya.


" Hmmmm, sudah beberapa hari aku hanya diam di apartemen "


" Kau sudah makan ?, atau sudah ke rumah sakit ? " tanya Gema beruntun, " aku akan meminta dokter kesana sekaran juga ", sambungnya lagi.


" Jangan Gema. Aku tidak butuh itu ". kata Bella menolak, dan beberapa detik suasana kembali menghening, " kau punya waktu Gem ? ", kata Bella lagi. dan Gema belum menjawab saat itu.


" Aku butuh kau disini ", sambungnya.


" Kau tidak bisa ? " tanyanya lagi, setelah kembali tidak ada jawaban dari lelaki itu, " hanya sebentar saja ", pintanya, bahkan nyaris terdengar memohon.


" Ya. Tapi tidak sekarang ".


" Kenapa ? "


" Emmm, baiklah. Yang penting kau datang kemari " sambung Bella.


" Setelah makan siang ", ucap Gema.


" Kenapa tidak makan siang disini saja ".

__ADS_1


" Setelah makan siang aku akan langsung pergi kesana ", kata Gema mengulang. Nadanya terdengar tegas saat itu.


" Baiklah ", sahut Bella lemah, lalu telepon itu ia akhiri. dan Gema masih terpaku dengan handphone yang masih berada di genggamannya.


__ADS_2