
Sepasang bola mata berwarna abu-abu gelap kini tengah mengercap berusaha untuk terbuka.
sinar matahari sore berhasil menganggu alam mimpinya , " akhirnya aku bisa tertidur " gumamnya serak dengan seutas senyum di bibirnya ,
setelah hampir dua hari ia tidak bisa tertidur dengan nyenyak dan siang tadi tiba-tiba saja ia bisa tertidur tanpa di rencanakan dan terbangun saat sinar senja mulai berakhir.
Tok tok tok
" Gema apa kau di dalam ? " tanya dari balik pintu.
" Emmm.. " balasnya sambil berusaha menggerakkan tubuhnya untuk bangun dari tempat tidur.
" Apa Mami boleh masuk ? "
" Ya Mam , masuklah " jawabnya yang kini telah duduk di sisi tempat tidurnya yang empuk dan seiring dengan pintu kamar yang terbuka.
" Kau tidur ? " tanya Elba mendekat dan Gema menganggukkan kepala , " tiba-tiba saja aku tertidur " jelasnya sedikit tertawa.
" Kau terdengar seperti orang yang begitu kelelahan "
" Hemm.. akhir-akhir ini aku memang sedang kelelahan dengan pikiranku mam , tapi hari ini semuanya seperti kembali normal " jelasnya.
Elba bergerak menuju kursi yang berada di hadapan meja computer di kamar tidur anaknya , lalu memposisikan dirinya disana.
" Apa ada sesuatu Mam ? " tanya Gema yang menyadari tingkah tidak biasa ibunya.
" Tadi pagi Mami sudah melihat tentang beritamu bersama Rea.... " kata Elba terhenti membuat Gema terdiam sesaat , " emmm.. apa Mami ingin bertanya apa berita itu benar ? " tanyanya dan Elba mengangguk pelan dengan menatap lamat pada putranya.
" Itu benar Mam " jawab Gema begitu yakin.
" Hari ini memang aku ingin mengatakan kepada Mami dan Ayah kalau aku dan Rea ingin pernikahan itu terjadi minggu depan " lanjutnya.
Mata Elba membesar seketika , " nak jangan bercanda ? "
Mendengar itu bibir Gema sedikit melengkung , " kami tidak bercanda Mam " jelasnya singkat.
" Bagaimana bisa itu terjadi begitu cepat nak ? , menyiapkan sebuah pernikahan bukan hal yang mudah "
" Tapi kami menginginkan pernikahan ini cepat terjadi Mam dan jangan mempersulitnya hanya karena sebuah hal yang sebenarnya bisa di hindari " ujarnya sambil tersenyum ada Ibunya ,
" kau harus jelaskan pada Mami kenapa kau menyetujui pernikahan ini , Mami tahu ini semua desakan dari Ayahmu bukan.. ? "
Gema terdiam sejenak sebelum kembali menjelaskan alasannya , " mungkin alasannya karena Gema ingin menyenangkan hati Ayah " katanya singkat.
" Selama ini aku sudah begitu banyak membuatnya kecewa Mam " tambahnya dengan kembali tersenyum.
" Lalu bagaimana dengan Dia ? " potong Elba dan Gema paham siapa yang kini tengah di maksud oleh Ibunya itu ,
" tentu ini sangat sulit untuknya dan dia begitu marah padaku , tapi ntah mengapa kali ini aku tidak ingin memihak padanya Mam "
" Kenapa ? , apa kau tidak lagi mencintainya "
" Tidak Mam aku masih sangat mencintainya , tapi akhirnya aku juga sedikit menyadari jika sampai kapan pun Ayah tidak akan pernah menerimanya di keluarga ini "
" Apa kau sedang membiarkannya pergi ? "
__ADS_1
" Jika itu yang terbaik maka tidak apa-apa mam ,kini aku juga tidak bisa menjanjikan apapun untuknya " kata Gema seraya menghela nafas.
Kini Elba telah terdiam dengan menatap prihatin pada putranya , " Lalu bagaimana Rea , kenapa dia bisa menyetujui pernikahan ini ? "
" Ntahlah , aku tidak tahu pasti alasannya mam tapi dia juga alasan aku menyetujui pernikahan ini " sahut Gema begitu saja ,
mata Elba kembali membesar , " apa kau telah jatuh cinta padanya ? "
" Ceh " decih Gema tertawa.
" Jatuh cinta sepertinya tidak mungkin tapi lebih tepatnya mungkin aku sedikit menyukainya Mam "
" Dia wanita yang luar biasa" tambahnya.
" Menyukai dan mencintai itu hanya suatu hal yang sedikit berbeda Gema "
" Tidak dalam ini sungguh mereka memiliki pengertian yang jauh berbeda Mam, lebih tepatnya ini hanya sebuah perasaan kagum " katanya menjelaskan , namun ia tidak sadar selama menjelaskan tentang perasaannya pada Rea garis lengkung di bibirnya tidak pernah berakhir.
Kini bibir Elba ikut tersenyum melihat tingkah lelaki muda di hadapannya , bersama kepala yang ikut mengangguk pelan " Katakan pada Rea Mami ingin bertemu dengannya ? " pintanya dan itu membuat Gema sedikit tersentak.
" Untuk apa Mam , kenapa Mami ingin bertemu dengannya ? " tanyanya begitu detail.
" Kenapa kau menjadi panik , bukankah sangat wajar seorang ibu ingin bertemu dengan calon menantunya " kata Elba tertawa ,sementara Gema telah terdiam dengan pipi yang sedikit bersemu.
" Mami tentu harus menanyakan padanya pernikahan seperti apa yang dia inginkan "
" Ya tanyakan langsung itu padanya Mam "
" Itu sebabnya Mami ingin bertemu dengannya "
" Ya nanti akan aku sampaikan itu padanya "
" Kenapa harus sekarang Mam , dia pasti juga sedang sibuk "
" Lalu kapan lagi kau akan mengatakannya , sementara pernikahan itu akan terjadi minggu depan "
" Semua harus cepat di persiapkan Gema " tambah Elba dengan nada yang meninggi.
" Astaga " ucap Gema yang tiba-tiba tersadar lalu segera beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju kamar mandi , " ada apa denganmu ? " tanya Elba bingung dengan tingkah putranya.
" Aku lupa kalau aku sudah berjanji pada Rea untuk menjemputnya " teriak Gema dari dalam kamar mandi.
Elba kembali tersenyum dari tempat duduknya , " dia memang masih seperti anak kecil , bahkan untuk membedakan perasaannya saja dia tidak bisa " gumamnya dengan menggelengkan pelan kepalanya.
" Baiklah mami turun , jangan lupa sampaikan pesan mami padanya "
" Siap mam " balas Gema , lalu Elba meninggalkan ruang kamar tidur itu dengan bibir yang terus melengkung.
~
" Ada apa ? " tanya Devita yang menjadi begitu penasaran dengan tingkah sahabatnya , perempuan itu terus memeriksa benda pipihnya sejak tadi , " apa ada yang kau tunggu ? " tanyanya lagi.
" Emmm... tidak , hanya saja aku sudah ingin pulang " jelas Rea.
" Kenapa begitu cepat ingin pulang , makan malam lah disini ? "
__ADS_1
" Emmm.. tapi aku... "
" Ayolah Rea , kau sudah lama tidak kemari " rengek Devita sambil memeluk lengan kecil miliknya , " atau kau masih marah padaku gara-gara hal tadi ? " katanya lagi dan Rea terlihat menarik nafasnya , " jangan bicara bodoh " umpatnya sedikit kesal.
" Kalau tidak marah berarti kau harus tetap disini dan kita makan malam bersama " ujar Devita.
" Aku sungguh merindukanmu " sambugnnya dengan begitu lirih dan itu berhasil membuat Rea melemah.
" Kau memang pintar merayu " katanya sedikit tertawa.
" Jadi kau tidak jadi pulang ? "
" Bagaimana bisa aku pulang kalau lenganku kau pegang seperti ini " protes Rea dan Devita tertawa begitu lebar , " kau sangat cantik " ucapnya sambil mendaratkan ciuman di pipi wanita itu.
" Ceh , menggelikan "
" Aku akan meminta pelayan memasak makanan kesukaanmu " kata Devita yang kini sudah melepaskan rengkuhan tangannya pada Rea dan lalu berjalan menuju dapur.
" Ya , kau memang pintar menyogok " balas Rea tertawa dan perempuan itu hanya memeletkan lidahnya sambil terus berjalan menuju dapur.
" Apa aku harus menelponnya ? " gumam Rea dengan kembali melihat pada benda pipih di tangannya.
Drrrttt drrrtttt " tiba-tiba saja benda itu berdering.
" Dia menelpon di waktu yang tepat " ucapnya saat melihat nama kontak yang berada di layar handphonennya , ia bahkan tidak menyadari jika kini bibirnya telah melengkung dengan sempurna.
" Hallo " jawabnya pada panggilan telepon.
" Hai ,apa kau masih di rumah devita ? "
" Ya Gema "
" Aku baru ingin pergi menjemputmu "
" Emm... sebaiknya tidak perlu Gem , aku masih ingin tetap disini "
" Devita memintaku untuk makan malam disini " tambahnya.
" Tapi kau tidak menginap disana bukan ? "
" Tentu tidak , aku pasti pulang " balasnya tertawa
" Lalu kenapa kau menolak keinginanku untuk menjemputmu "
" Emmm .. aku bukan menolak Gema , hanya saja aku belum akan pulang sekarang"
" ya tidak masalah , aku akan tetap kesana untuk menjemputmu "
" Tapi kau akan menunggu , aku sungguh masih ingin lama disini "
" Memangnya kenapa kalau aku menunggu ? , disana aku bisa mengobrol bersama Real atau bermain bersama Raina "
" Ya ya baiklah kalau begitu terserah padamu "
" Good , aku akan pergi sekarang "
__ADS_1
" Ya , berhati-hatilah di perjalananmu "
" Siap Calon istriku , aku tutup teleponnya dan sampai bertemu disana " tutup Gema begitu saja , sementara disini sudah ada sepasang pipi yang telah bersemu merah ulah ucapannya , " kenapa pipiku menjadi menghangat " gumamnya Rea pelan sambil menyentuh bergantian pada wajahnya.