
Rea menghela nafas panjang setelah panggilan video Devita berakhir. Wajahnya kini merona tak terkendali, untung saja panggilan itu cepat di hentikan sebelum Devita menyadari warna di pipinya.
" Aaaahhhhh... " pekiknya kesal, dengan kembali menenggelamkan seluruh tubuhnya di balik selimut , berharap lelaki yang masih tertidur lelap di dekatnya tidak terbangun oleh suara teriakannya, " menyebalkan " umpatnya lagi. mengingat kembali kalimat-kalimat godaan Devita, membuatnya tak berhenti merasa malu. Terlebih karena apa yang di katakan perempuan itu memang baru saja benar terjadi. Dan bersamaan sekilas adegan demi adegan yang terjadi tadi malam kembali muncul ke dalam pikirannya, " aku benar-benar akan gila " pekiknya, yang kini lupa jika seseorang akan terbangun oleh suaranya.
" Ada apa ? " tanya suara parau dari arah sampingnya.
Rea tersentak. Namun tak berusaha untuk cepat menjawab pertanyaan itu.
" Ada apa ? " ulang lelaki itu lagi.
" Emmm, tiii..ti .. dak Gema " sahutnya terbata-bata, " maaf, lanjutkan saja tidurmu " katanya lagi. Namun dengan tetap membiarkan dirinya berada di balik semua.
Sesaat suasana menghening, dan Rea perlahan mulai membuka selimutnya.
Deg
Jantungnya berdebar, saat pandangannya bertemu mata yang kini terbuka lebar tengah menatap ke arahnya, " ka..kau tidak tidur ? " tanyanya semakin gugup, matanya coklatnya membulat sempurna.
Gema tidak menjawab, ia hanya terus menatap dirinya, lalu kemudian tersenyum. Sampai Rea kembali menenggelamkan dirinya ke dalam selimut, " bagaimana ini ?, bagaimana aku bisa bangun kalau dia tidak tidur lagi " gumamnya prustasi.
" Apa kau lapar ? " tanya suara parau itu lagi.
" huh ?, emm tidak Gema. Aku masih mengantuk dan ingin tidur sebentar saja " balasnya dengan jantung yang tidak berhenti berdebar.
Sejenak ia kembali memekik tertahan, saat kembali menemukan tubuh telanjangnya, " sepertinya sepanjang hari aku akan terus disini " gumamnya begitu kesal. Dan bersamaan perutnya berbunyi oleh cacing-cacing yang mulai protes untuk di beri makan.
" Sial " pekiknya dengan wajah yang kembali memerah, dan berharap Gema tidak mendengarnya.
" Kau lapar Rea, ayo bangun " seru lelaki itu, sambil bergerak untuk menyibak selimut yang menutupi mereka, dan Rea dengan cepat memegang erat lembaran kain tebal itu. Mempertahankan dirinya di bawa sana, meski peluh kini mulai hadir di dahinya.
Namun ia menjadi penasaran ketika suasana kembali menghening. Padahal ia tahu jelas kalau saat ini Gema sudah bangun dari pembaringannya. Dan perlahan ia kembali membuka sedikit selimut, mengeluarkan sepasang mata dan setengah batang hidungnya, " ada apa ? " katanya berbalik bertanya pada Gema yang ternyata kini tengah duduk.
Lelaki itu gelagapan menarik selimut dan menutup cepat sebagian tubuhnya, " tidak.. " sahutnya tersenyum kaku, " emm.. aku hanya tengah mencari dimana pakaianku " jelasnya.
Mendengar itu wajah Rea kembali merona dan tidak bisa berkata apapun, karena ia sendiri sejak pagi sudah prutasi mencari pakaiannya sendiri.
__ADS_1
" Ah terserahlah " pekik Gema yang tiba-tiba beranjak dari tempat tidur, tanpa peduli dengan kondisi tubuhnya saat ini.
" Astaga Gema " teriak Rea histeris dengan langsung menutup matanya dengan selimut.
Lelaki itu hanya tersenyum, dan dengan santai ia melakukan apa yang ingin ia lakukan, tanpa peduli dengan teriakan Rea. Ya memang mau gimana lagi, karena tidak mungkin sepanjang hari ia akan berada di balik selimut.
" Kenapa Rea ?, bukankah kita sudah saling mengetahui semuanya " katanya sengaja, sambil menahan diri untuk tidak tertawa, " kau bahkan sudah menyentuhnya tadi malam " sambungnya lagi.
" Diam Gema " teriak Rea dari balik selimut.
" Tidak, tidak kau bahkan melakukan lebih dari itu. Jadi kenapa sekarang kau harus malu " lanjutnya tanpa ampun.
" Kau... " pekik Rea yang tanpa sadar kini menyibak selimutnya.
Matanya tertegun sejenak menatap tubuh Gema yang sudah terbelit handuk. Dan kini lelaki itu tengah berjalan ke arahnya.
" Bangunlah sayang " pintanya sambil menyodorkan selembar kimono, " kita harus makan, energi kita sudah terkuras habis karena tadi malam " sambungnya dengan tersenyum menggoda, dan itu berhasil membuat pipi Rea kembali merona.
" Berbalik " pinta Rea ketus. Tapi Gema seperti tak peduli dengan ucapannya, dengan tetap menatap, bahkan dengan bibir yang tersenyum ke arahnya, " berbaaaliiikkk Gema " ulangnya lagi. Lelaki itu tertawa, dan baru lah ia memutar tubuhnya, " padahal aku sudah melihat semuanya " katanya tertawa.
****
Rea baru saja selesai dari mandinya, dan menemukan ranjang tempat tidurnya yang masih berantakan dan ruangan yang tampak sunyi, " kemana dia ? " gumamnya, menyadari tidak ada Gema di ruangan itu.
bergerak ia menuju balkon, dan disana ia juga tidak menemukan keberadaan lelaki itu.
" Apa dia pergi ?, tapi kenapa dia tidak pamit " katanya terus mencercah sambil bergerak menuju letak pakaiannya.
Sudah hampir satu jam berlalu, dan Gema belum juga kembali.
Rea kini tidak bisa lagi duduk dengan tenang, hatinya gundah memikirkan kemana lelaki itu pergi, tidak ada yang bisa ia lakukan selain menunggu. Karena untuk menghubunginya juga tidak bisa, lelaki itu meninggalkan handphonenya bersama dia disana.
Telepon di atas nakas berdering. Dengan lunglai Rea melangkah menuju benda itu, " ya.. " jawabnya lemah.
" Nyonya !, Tuan meminta anda untuk datang ke restoran " ucap seseorang dari balik telepon. Rea terkesiap sesaat, " saya ? " katanya memastikan.
__ADS_1
" Ya Nona, Suami anda menunggu anda disini "
" Emm ya, katakan aku sedang menuju kesana. Terimakasih " balas Rea, lalu meletakkan kembali gagang telepon ke tempatnya.
Alisnya kini bertaut, " kenapa tidak bilang saja kalau dia ingin pergi makan " gumamnya, " apa segitu laparnya sampai tidak bisa menunggu " sambungnya dengan sedikit kesal, dengan tanpa sadar menghentakan kakinya ke lantai, lalu kemudian beranjak menuju tempat dimana Gema memintanya datang.
Dari kejauhan pandangannya sudah menemukan keberadaan Gema, yang kini tengah duduk di salah satu meja di dalam restoran, " selamat siang Nyonya " sapa pelayan menyambut kehadirannya, " silahkan " katanya lagi, mengarahkan dirinya ke meja Gema.
" Kau sudah datang ? " seru Lelaki itu, dengan langsung beranjak dari tempat duduknya.
" Hemm.. " jawab Rea seadanya, sambil terus berjalan menuju kursi di hadapan tempat duduk lelaki itu.
" Biar aku saja " kata Gema pada pelayan yang ingin membukakan kursi untuk Rea.
" Silahkan " ucapnya tersenyum manis pada Rea, dengan ikut tersenyum Rea duduk di kursi yang sudah di bukakan untuknya, " Terimakasih " ucapnya. Dan bersamaan Gema menyodorkan sebuket mawar merah padanya.
" Ini " kata lelaki itu dengan tersenyum, sementara dirinya kini tertegun, menatap hampir tak berkedip pada kuntuman bungan mawar, " ini untukku ? " tanyanya dengan wajah tak percaya.
" Bukankah tadi malam aku sudah berjanji akan memberikannya " ucap Gema, dan sejenak pikiran Rea mengulas kembali, apa ada kalimat itu terucap tadi malam. Namun yang masuk ke dalam pikirannya justru hal-hal yang membuat bulu tubuhnya bergidik dan merasa geli bersamaan.
" Sepertinya aku tidak ingat apapun " katanya tersenyum hambar.
" Benarkah kau tidak mengingat apapun tentang tadi malam ?.. " tanya Gema menggantung " Hemm.. " sahut Rea mengangguk sambil terus menatap bunga mawar di hadapannya.
" Termasuk apa yang terjadi di antara kita.... " katanya kembali, dengan begitu pelan.
Mendengar itu membuat Rea seketika terbatuk , dengan pupil mata yang membesar. Di teguknya cepat segelas air yang berada di dekatnya, " bisakah kau tidak membahas hal itu sekarang " katanya dengan wajah yang sudah memerah.
Gema kembali terkekeh, " kau masih saja malu " ujarnya yang kemudian tersenyum.
" Kau suka ? " tanyanya lagi, membuat Rea kembali mengangkat wajahnya, " apa lagi ? " ketus perempuan itu.
" Bunganya "
Rea terdiam sejenak, wajah kesalnya kini memudar, berganti dengan bibir yang melengkung dengan begitu manis, " sangat suka " jawabnya lemah. Namun terdengar sangat jelas di telinga Gema. Membuatnya ikut tersenyum dengan hati yang begitu senang.
__ADS_1
Bagaimana tidak pengorbanannya menyusuri jalanan Bali dengan berjalan kaki, akhirnya tidak sia-sia.