
" Astaga " sesal Kris. Saat melihat tidak ada lagi cela di tubuhnya yang tidak basah oleh air hujan. Untung saja tas jinjing miliknya bisa terselamatkan karena jaket yang di pinjamkan oleh Nevada padanya.
Dengan cepat ia menaiki anak tangga yang menghubung pada flat sederhana yang menjadi tempatnya berteduh bersama keluarga kecilnya. Langkahnya semakin cepat saat telinganya mendengar pekikan suara tangis dari dalam tempat tinggalnya, " Rea.. " panggilnya cemas, sambil tergesa-gesa membuka pintu.
Benar saja putri kecilnya kini tengah duduk sendiri di dalam ruang gelap. Hanya sedikit cahaya yang menerangi, " Rea.. " panggilnya lemah sambil berjalan menghampiri putri kecilnya.
" Cup cup cup, Ibu sudah disini " ucapnya begitu lembut. Seraya merengkuh erat tubuh kecil putrinya. " Berenti menangis. Ibu sudah disini " katanya lagi. Dengan berulang kali mencium wajah putri kecilnya.
Di dalam gelap Kris berusaha bergerak mencari kontak lampu. Lalu menghidupkannya untuk menerangi ruang kecil tempatnya beristirahat.
Dadanya sesak saat menemukan laki-laki yang tengah tertidur dengan nyaman di atas tempat tidurnya, " benar-benar tidak punya perasaan " gumamnya sambil berulang kali menarik nafasnya untuk tidak terbawa amarah. Hari sudah sangat malam jika ia harus memulai pertengkaran malam ini. Dan ia sudah lelah untuk hal itu.
Di bawanya putri kecilnya menuju kamar mandi. Karena Kris sudah membuat putrinya basah oleh pelukannya.
Ia membiarkan Rea kecil bermain dalam ember besar yang di penuhi air sabun. Sementara dia menyelesaikan mandinya lebih dulu.
" Nak. Apa Rea lapar ? " tanyanya begitu lembut. Lalu gadis kecil itu mengangguk, " Rea lapar Ibu " sahutnya pelan.
" Kalau begitu berhenti main airnya dan bantu ibu masak di dapur. Oke " ucap pada putri kecilnya dan Rea kecil mengangguk.
Hati Kris menghangat saat melihat senyum putri kecilnya. Rasa emosi dan tubuh yang lelah. Seolah sirna ketika ia melihat putri kecilnya tersenyum.
Setelah selesai menggunakan pakaian dan memasangkannya pada putrinya. Kris dengan cepat berjalan menuju dapur kecilnya yang menyekat di antara kamar mandi dan ruang tidurnya, " Rea tunggu sebentar ya " ucap pada putrinya.
Kris hanya menemukan beberapa butir telur di dalam lemari pendingin. Tidak ada lagi yang tersisa yang bisa ia santap selain itu, " Rea suka omlet ? " tanyanya dan putri kecil itu mengangguk.
__ADS_1
" Kau benar benar bayi yang pengertian " serunya tersenyum. Lalu dengan bersemangat ia mengambil beberapa telur itu untuk di pecahkan.
Rea kecil tersenyum saat menghirup aroma enak dari telor yang berada di dalam penggorengan, " Ibu Rea sangat lapar " keluhnya begitu lucu. Membuat Kris tersenyum dari balik dinding dapurnya.
" Selesai " ucap Kris sambil membawa piring di tangannya. Beruntung masih ada nasi yang tersisa yang bisa ia makan bersama putrinya malam ini. dan itu pun harus ia bagi untuk lelaki yang masih tertidur dengan pulas.
" Rea makan ini dulu malam ini ya. Besok pulang kerja Ibu akan membelikan Rea makanan yang enak " ucapnya dan Rea kecil hanya mengangguk dengan tersenyum.
" Aku sudah bangun ? " tanyanya pada Laki-laki yang kini telah duduk di sisi tempat tidur.
" Kenapa tidak membangun kan aku saat makan ?, Aku juga lapar " ucap ketus lekaki itu.
" Tidurmu begitu pulas. Kalau begitu makanlah. Aku sudah menyisahkan untukmu " ucap Kris dengan masih berusaha untuk tetap tenang.
" Hanya omlet. Apa kau tidak bisa memasak makanan yang lebih enak dari ini Kris " bentak dari arah Dapur.
" Aku bosan makan, makanan seperti ini Kris " keluh Robi.
Kris menarik nafas dengan sangat dalam, " kalau begitu bekerja lah jika kau ingin makan makanan yang enak. Mampuku hanya sebatas ini " balas Kris lantang. Ia tidak lagi bisa untuk berlemah lembut dengan keadaan yang terus menyakitkan hatinya.
" Apa katamu ? " teriak lelaki itu mendekat.
" Bekerja Robi. Kau bisa makan apa saja saat kau punya uang. Jangan bertingkah jika kau hanya tinggal menikmati dari hasil keringat istrimu " balas Kris semakin emosi. Ia lupa bahwa kini ada sepasang mata yang tengah menatap ketakutan.
" Ceh. Menggelikan " umpat lelaki di hadapannya, " berani beraninya kau menyombongkan diri di depanku ".
__ADS_1
" Aku tidak menyombongkan diri Robi. Tapi aku punya batas sabar. Kau harusnya malu sebagai laki-laki kau hanya berada di tempat tidur. Sementara istrimu kesana kemari mencari uang untukmu makan " ucap Kris tanpa ampun. Sementara Robi hanya menyunggingkan senyumnya, " Jika aku punya uang nanti, akan aku tinggal kau Kriss " bentaknya tanpa perasaan.
Lalu berjalan menuju letak tas Kris.
" Apa yang ingin kau lakukan ? " teriak Kris saat melihat Rob mulai membongkar isi dalam tasnya, " Aku butuh uang untuk makan, malam ini " sahut lelaki itu dan terus berusaha mencari dimana Kris menyimpan uangnya.
" Ternyata kau punya banyak uang Kris " ucap Rob tersenyum. Saat dirinya menemukan beberapa lembar uang kertas di dalam tas Kris, " Jangan di ambil Rob. Itu uang orang lain yang harus aku kembali kan besok " pinta Kris memohon. Namun, bukannya mengerti Rob malah tetap mengambil uang itu, bahkan tanpa menyisahkan selembar pun.
" Rob. Aku mohon jangan ambil uang itu. Aku harus mengembalikannya besok ".
" Itu urusanmu Kris. Malam ini aku ingin makan, makanan yang enak. Dan aku ingin sedikit bersantai setelah sepanjang hari menjaga Rea " ucapnya tanpa ingin di cegah. Sesaat padangannya teralih pada salah satu benda yang berada di dalam tas Kris, " Kau punya uang untuk membeli barang seperti ini, tapi mengeluh tak punya uang untuk makan. Menggelikan "
Kris hanya bisa menarik nafas untuk kalimat makian Rob untuknya. Ia tidak bisa membela diri untuk mengatakan jika seseorang laki-laki telah memberikan dia uang dan memintanya untuk membeli pemerah bibir. Kris tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya.
" Dasar wanita murahan. Apa kau membeli barang ini untuk menggoda pengunjung di dalam kafe huh" teriak Rob tanpa perasaan, " Ceh, ternyata kau perempuan yang licik yang tidak kalah murahan dengan wanita penggoda yang berada di pinggir jalan ".
" Hentikan Rob " Teriak Kris. Ia tidak lagi peduli jika orang lain akan mendengar teriakannya, " Kau memang benar benar lelaki yang tidak tahu malu. Beraninya kau menuduh istrimu yang tidak, tidak sementara dia bekerja keras untuk memberimu makan " ucapnya semakin emosi.
" Jangan membela diri Kris. Sejak kapan kau ingin membeli barang seperti ini huh. dan untuk apa kau punya benda seperti ini jika bukan untuk menggoda laki-laki kaya yang datang ke kafe mu ".
" Aku ingin lihat. Lelaki seperti apa yang telah tergoda dengan wanita murahan sepertimu " sambung Rob tanpa ampun. Dengan sebuah senyum yang membuat hati Kris semakin perih.
Setelah mengucapkan kalimat yang menyakitkan lelaki itu pergi meninggalkan Kris dan Rea kecil. Dengan membawa uang Kris tanpa menyisahkan sedikit pun.
Mata Kris terpejam dengan air mata yang mengalir. Hatinya hancur setiap kali membayangkan kalimat menyakitkan yang baru saja ia terima dari lelaki yang menjadi suaminya, " Aku ingin bahagia tuhan " ucap Kris lemah dengan air mata yang terus berlinang.
__ADS_1
Tiba-tiba pelukan kecil mendekap tubuhnya, " Ibu jangan nangis. Kalau ibu nangis Rea juga akan nangis " ucap putrinya dengan menatap sendu padanya. Bukannya berhenti justru Kris semakin mengerang oleh perkataan putrinya dan memeluk tubuh kecil itu dengan begitu erat, " Ibu sayang Rea. Ibu mencintai Rea lebih dari apapun. Rea alasan ibu menjadi kuat. Saat Rea besar nanti, Rea harus ingat kalau ibu sangat menyayangi Rea " ucapnya dengan air mata yang terus berurai dari pipinya.
" Rea juga sayang ibu " ucap Rea kecil. Yang kini telah ikut menangis di dalam dekapan ibunya.