
*Di apartement Bella
Bella berjalan cepat menuju pintu apartemennya saat bel benda itu berbunyi , " kau sudah datang " ucapnya begitu bahagia saat melihat bahwa yang di balik pintu adalah seseorang yang ia tunggu.
" Masuklah " pintanya sembari membuka lebar pintu apartementnya.
Baru saja Gema melangkah masuk tiba-tiba sebuah pelukan telah merengkuh tubuhnya dari belakang , " Bella " panggilnya pelan , namun tak berusaha untuk melepas kedua tangan yang kini melingkar di tubuhnya , " please seperti ini sebentar " ucap Bella dan tidak lama suara isak tangis mulai terdengar dari belakang tubuhnya.
" Bella... " panggilnya lagi.
" Jangan menangis , aku mohon " pintanya , namun perempuan itu seperti tidak mendengar ucapannya ,bahkan kini punggungnya mulai sedikit terasa basah oleh air mata Bella.
" Aku mencintaimu Gema , saat ini aku benar-benar menyadari kalau aku sungguh mencintaimu " ucap Bella begitu lirih , " maafkan aku , aku tahu selama ini aku memiliki banyak kesalahan padamu tapi... "
" Aku sungguh tidak ingin hubungan kita berakhir seperti ini " lanjutnya dengan kembali menangis.
" Please jangan menangis atau aku akan pergi " ucap Gema tegas meski tidak bisa di pungkiri perasaannya kini terenyuh oleh isak tangis kekasihnya.
Bella melepas pelukannya lalu berjalan menuju dinding kaca di dalam apartemennya , sejenak ia terdiam sambil menatap pada gemerlap malam kota London dan air matanya kembali menetes , " aku sungguh sangat terluka berada di posisi ini Gema " katanya lemah.
" Aku memang bukan kekasih yang baik tapi kau tidak bisa memperlakukan aku seperti ini "
" Aku memiliki perasaan yang seharusnya juga kau pikirkan ,bukankah aku ini kekasihmu ? " lanjutnya dengan kembali terisak , sementara Gema kini telah terdiam tanpa bisa mengucap sepatah kata pun , " aku tahu tempatku memang tidak akan pernah di lihat oleh keluargamu , kasta kita berbeda tapi kita sama-sama memiliki perasaan Gema , seharusnya orang tua bisa memikirkan saja sedikit perasaanku "
" Sedikit saja.. " katanya begitu pelan dengan tangisan yang tersendat pilu , ia menyeka air matanya yang terus menetes.
" Aku tidak bisa melakukan apapun Bella , sekali pun kau menangis seperti ini aku tidak bisa mengubah apapun , pernikahan ini akan tetap terjadi "
" Maafkan aku .. " tambah Gema.
" Aku memang tidak sedang memaksa kau menghentikan pernikahan ini Gema , sungguh.. " ucapnya menatap pada Gema.
" Menghentikan pernikahan ini tidak akan membuat keluargamu tetap menerimaku... " lanjutnya terhenti untuk menghela nafas mengurangi dada yang terasa begitu sesak dan ia kembali menangis , " aku hanya menyesali diriku sendiri Gema , seandainya saja.... "
__ADS_1
" Aku mohon berhenti menangis " ucap Gema yang kini telah merengkuh tubuh Bella ke dalam pelukannya , " maafkan aku karena tidak bisa melakukan apapun untukmu , maafkan aku "
" Tidak apa jika saat ini kau ingin menyerah Bella " lanjutnya dengan bersungguh-sungguh.
" Lalu bagaimana jika aku tidak ingin melakukannya " potong Bella sembari menarik dirinya dari dalam rengkuhan Gema , " aku tidak akan menyerah Gema " tambahnya begitu serius.
" Aku masih ingin memperjuangkan perasaanku , bukankah kau sendiri yang mengatakan pernikahan kalian hanya sebuah kontrak dan itu berarti akan berakhir "
" Aku akan menunggu, aku akan sabar menunggu sampai pernikahan itu terjadi Gema " ucapnya tak main-main , " aku sungguh akan menunggu " tambahnya dan menatap lamat pada bola mata Gema.
" Tapi selama itu kita tak akan memiliki banyak waktu untuk bertemu , apa kau sanggup ? " tanya Gema dan Bella mengangguk , " bahkan kita tidak bisa terlihat bersama di hadapan umum , itu berarti aku tidak akan lagi menemanimu belanja atau sekedar untuk makan siang Bella , apa kau juga sanggup untuk itu hemm.. "
Lalu Bella terdiam sejenak kemudian menarik nafas , " selama aku tahu kau masih mencintaiku , selama itu aku akan tetap bertahan Gema " ucapnya bersungguh-sungguh , lalu kembali memeluk tubuh Gema yang masih berdiri di hadapannya , " aku sungguh menyesali apa yang telah aku lakukan selama ini dan aku akan memperbaiki semuanya Gema " ucapnya di dalam pelukan.
" Kalau begitu bertahanlah sampai pernikahan ini berakhir " ucap Gema dengan membalas pelukannya , " hemmm.. aku akan sabar sampai waktu itu " katanya begitu yakin dan tersenyum sambil memperat pelukannya.
" Makan malam lah disini , aku akan memasak makanan kesukaanmu " pintanya sembari melepas pelukannya.
Gema kembali terdiam dengan perasaan yang dilema , lalu melihat pada alroji yang melingkar di tangannya , " maafkan aku tapi aku harus pergi Bella "
" Tidak Bella aku tetap harus pergi sekarang , bahkan saat ini mungkin aku sudah terlambat " sahut Gema yang terlihat buru-buru mengakhiri percakapan mereka , " maaf aku harus pergi sekarang " ucapnya sambil mengecup puncak kepala Bella.
" Apa-apa ini karena Rea ? " tanya Bella tiba-tiba dan itu berhasil membuat Gema menghentikan langkahnya.
" Aku sudah berjanji padanya " jawabnya singkat , dan Bella kita terpejam sesaat hatinya terasa begitu sakit saat menyadari dirinya bukan lagi seseorang yang penting untuk laki-laki di hadapannya , " dan Kelak akan seperti ini Bella , aku tidak akan bisa terus mengutamakanmu dan aku harap kau benar-benar bertahan " ucap Gema lalu kemudian benar-benar pergi meninggalkan Bella yang kini masih terdiam di tempatnya.
Tes
Air mata Bella kembali terjatuh , " apa sesakit ini balasan yang harus aku terima " gumamnya lirih bersama dada yang mulai kembali terasa sesak.
~
Gema kini melajukan mobilnya dengan begitu cepat menuju tempat tinggal Devita , " aku harap aku tidak terlambat " ucapnya dengan panik.
__ADS_1
Mobilnya kini telah berhenti di halaman rumah Real dan Devita , dan tanpa menunggu ia segera keluar dari dalam mobil dan berjalan begitu cepat menuju pintu utama di rumah itu , " silahkan masuk tuan " ucap pelayan sambil membukakan pintu untuknya.
" Tuan dan Nyonya sedang berada di ruang keluarga " jelas pelayan dan Gema segera berlalu menuju ruangan itu.
" Aaahh syukurlah aku kira aku sudah terlambat " ucapnya tersenyum sambil mengatur nafasnya yang mulai tersengal karena terus berlari , namun garis bibirnya langsung memudar tak kalah melihat dua wanita di hadapannya kini sedang menangis , " apa yang terjadi ? " tanyanya begitu panik dan segera mendekat.
" Kau datang ? " tanya Real sambil menahan senyuman.
" Jangan khawatir itu hanya drama mereka berdua " sambungnya , sementara Gema masih terdiam dengan terus melihat pada dua wanita di hadapannya.
" Kenapa dia harus datang di saat seperti ini " gerutu Rea , sambil menyeka sisa air mata di pipinya.
" Rea apa yang terjadi ? , Kenapa kau menangis ? " tanya Gema yang tidak bisa menyembunyikan kepanikannya.
" Dia menangis karena begitu bahagia akan menikah denganmu Gema " balas Devita tertawa sambil melepas pelukannya bersama Rea.
" apa itu benar ? "
" Tentu Gema aku tidak akan berbohong, Rea hanya menangis ketika dia bahagia " jelas Devita , sementara Rea telah tertunduk tanpa berani mengangkat wajahnya , " kau membuatku ingin menarik ucapanku sendiri Dev " gumamnya begitu kesal.
" Ayo " pinta tiba-tiba dengan sebuah tangan yang terulur di hadapannya , Rea terdiam sejenak dan perlahan mengangkat wajahnya , " ayo kita pulang " ajak Gema begitu lembut .
Wajah Rea memerah seketika karena begitu malu saat lelaki di hadapannya kini melihat wajahnya yang masih di penuhi oleh sisa air mata , " ayo " ulang Gema dengan tetap terus mengulurkan tangannya.
Dan pada akhirnya perlahan tangan Rea mulai bergerak menyambut uluran tangan di hadapannya , " tunggu sebentar , aku harus mencuci wajahku " pintanya dan gema mengangguk.
" Aku akan menunggu " balasnya begitu lembut , lalu tersenyum saat menyadari begitu menggemaskannya saat melihat seorang Rea dalam keadaan seperti ini.
" Aku tidak menyangka kalau wajahnya begitu lucu saat menangis " gumamnya dengan masih tersenyum dan tanpa menyadari jika sejak tadi sepasang suami istri terus mengamati tingkah mereka berdua , " apa kau melihat sudah ada cinta di antara mereka ? " tanya Devita pada suaminya dan laki-laki itu mengangguk , " Sepertinya begitu tetapi mereka belum menyadarinya "
" Yah kau benar , aku juga melihatnya seperti itu "
" Baguslah semua terlihat menjadi sangat mudah , sekarang tugasku hanya bagaimana bisa membuat mereka menyadari perasaannya masing-masing "
__ADS_1
" Jangan mencampuri urusan orang lain sayang " protes Real dan Devita dengan cepat menggelengkan kepalanya , " semua ini terjadi karena doaku Real , jadi aku harus terlibat sampai akhir " ucapnya begitu yakin .