
Jam Weeker di atas nakas berbunyi. Membuat pemiliknya mengerang karena lupa mematikannya tadi malam, " padahal hari ini aku ingin bangun lebih siang " ucapnya dengan suara serak.
Berulang kali Rea mencoba memejamkan kembali matanya. tapi yang terjadi ia tak kunjung kembali tertidur. tubuhnya menggeliat di sepanjang lebar tempat tidurnya. Lalu memaksakan diri untuk membuka matanya karena memang tidak mungkin lagi ia kembali tertidur.
" Sepertinya menyenangkan menikmati kopi hangat di pinggir kolam " katanya sambil beranjak bangun dari tempat tidurnya yang empuk.
Setelah mencuci muka dan dengan masih menggunakan baju tidurnya Rea keluar dari dalam kamar tidur, " Nona.. " sapa Rose sedikit terkejut.
Jam masih menunjukkan pukul setengah Tujuh pagi dan di jam seperti itu tidak biasanya wanita cantik itu keluar dari kamar, " anda tidak berangkat ke kantor hari ini ? " tanyanya dengan alis yang saling bertautan.
Rea menggelengkan kepala, seraya melihat ke segala sudut ruang rumahnya, " kami belum menyiapkan sarapan untuk anda " kata Rose kembali melapor.
" Hemm.., buatkan aku teh hangat Rose, dan antarkan minuman itu ke taman belakang " jelas Rea, lalu kemudian berlalu menuju tempat dimana ia maksud.
Beberapa menit telah berlalu setelah ia bersandar di kursi santai di sisi kolam renang rumahnya, " minuman anda nona " ujar Rose seraya meletakan secangkir teh hangat dan sepiring biskuit ke atas meja di sampingnya.
Rose masih belum beranjak dan tetap berdiri sambil memegang nampan di tangannya.
" Mulai hari ini aku sudah mengambil cuti kerja " jelas Rea lebih dulu.
Ia sangat tahu wanita paruh baya yang masih berdiri di dekatnya. Pasti sedang ingin tahu kenapa ia tidak berangkat kerja hari ini.
Rose tersenyum mendengar Rea menjawab pertanyaan, yang belum sempat di lontarkan olehnya, " Nona apa yang harus kami lakukan ? " tanyanya hati-hati.
" Aku sudah mengatakan. Kau cukup menyiapkan pakaian untukmu di hari pernikahanku nanti. Dan jadi lah tamu disana " jelas Rea.
" Apa aku sungguh tidak akan melakukan apapun untuk persiapan di hari pernikahan anda nanti Nona ? "
" Terimakasih Rose. Dan jangan khawatir semua persiapan sudah hampir selesai. Keluarga Gema telah mengurus semuanya dan aku hanya tinggal menyelesaikan beberapa sisanya saja ".
" Lalu seperti yang aku bilang jangan melakukan apapun di hari pernikahanku. Kau datang sebagai kerabat ku bukan sebagai kepala pelayan disana " lanjut Rea sedikit tertawa. Dan Rose hanya tersenyum singkat.
" Saya permisi Nona. Katakan jika anda membutuhkan sesuatu " ucap Rose. setelah Rea mengangguk, ia pun kemudian pergi.
Handphone yang di letakkan di atas meja tiba-tiba berdering.
Dengan cepat Rea melihat siapa yang telah menganggu waktu santainya saat ini.
" Maria " serunya dengan dahi yang sedikit berkerut saat melihat nama kontak perempuan itu berada di layar handphonenya.
" Ya Maria " jawabnya pada telepon yang baru saja tersambung.
" Nona. Apa anda sudah memberitahu Tuan kalau kita akan bertemu dengan perancang cincin anda pukul sembilan nanti " tanya Maria dari balik telepon.
" Astaga Maria untung kau mengingatkan aku. Hampir saja aku lupa " sahut Rea yang menjadi panik.
" Aku akan tiba di rumah anda pukul delapan Nona ".
" Emm tunggu Maria "
" Ya Nona ? "
" Sebaiknya kita bertemu langsung di Four Seasons. Karena aku masih harus menunggu kabar Gema ".
" Baiklah kalau begitu Nona ".
" Hemm terimakasih Maria "
__ADS_1
" Anda begitu sungkan. Baiklah sampai bertemu di Four Seasons Nona " pamit Maria lalu menutup sambungan teleponnya.
" Ah, aku terlalu bersantai " gerutu Rea yang langsung bangun dari senderannya yang nyaman dan merubah posisinya dengan duduk dengan benar.
Dengan cepat ia mencari kontak Gema di dalam handphonenya.
" Apa dia sudah bangun ya ? " gumamnya ragu.
" Tapi aku harus menelponnya " lanjutnya sambil terus melanjutkan niat awalnya untuk menghubungi lelaki yang sebentar lagi akan menjadi calon suaminya itu.
Tuutttt
Tuuuttt
Tuuutt
Suara sambungan telepon terus berbunyi. Tapi, belum juga kunjung ada jawaban, " apa dia masih tidur " gumamnya. Namun tanpa berniat mengakhiri panggilannya.
Bahkan ia kembali mencoba saat tidak ada jawaban dari telepon pertamanya.
" Hallo " jawab tiba-tiba dari seberang telepon, membuat Rea tersentak karena sedikit terkejut.
" Calon istri, ada apa kau menelponku sepagi ini ? " sambung dari seberang. Mendengar itu Rea menjadi terbatuk- batuk.
" Hei ada apa denganmu ?, Ayo cepat minum " seru Gema menjadi panik. Namun, juga dengan menahan diri untuk tidak tertawa.
Rea yang masih terbatuk, dengan cepat menyambar kopi yang baru saja di berikan oleh kepala pelayan rumahnya, " Shiitt " umpatnya kesal, karena ternyata teh itu masih sangat panas untuk ia minum dan itu cukup membuat lidahnya terasa perih.
" Hei ada apa ? " tanya Gema lagi.
" Harusnya aku bertanya seperti itu ? " tanya baliknya.
" Iya harusnya aku yang bertanya ada apa denganmu ? "
" Memangnya ada apa denganku ? " kata Gema kembali bertanya.
" Kenapa kau memanggilku dengan seperti itu ?"
" Seperti apa ? "
" Emmm.. Calon istri " balas Rea sedikit pelan.
" Memangnya apa yang salah dari ucapanku ?. Kau memang calon istriku. Lalu salahnya dimana ? "
Rea terdiam sesaat dengan ikut berpikir. Dan ia memang tidak menemukan kesalahan lelaki itu. Justru yang kini salah adalah pikirannya dan perasaannya yang tiba-tiba menjadi tak biasa saat Gema memanggil dirinya dengan seperti itu. Namun, tentunya itu bukan suatu hal yang bisa ia sadari saat ini.
" Rea salahku dimana ? " ulang Gema.
" Rea.. "
" Tidak kau tidak salah apa-apa. Tapi jangan lagi memanggilku dengan seperti itu "
" Memangnya kenapa ?, apa kau tidak suka ? "
" Bukan tidak suka. Hanya saja aku merasa sedikit aneh saat mendengarnya " jelasnya begitu polos dan itu justru membuat Gema menjadi terkekeh dari seberang telepon.
" Calon istri " ulang Gema dengan sengaja. Bahkan ia menekankan setiap katanya.
__ADS_1
" Gema... " Teriak Rea.
" Calon istri tidak boleh seperti itu dengan calon suami " balas Gema dengan terkekeh.
" Gema hentikan "
" Tidak. Aku tidak mau calon istri ".
" Gema please " mohon Rea.
" Tidak mau calon istri "
" Kau benar-benar sudah gila " kata Rea menggerutu.
" Ada apa calon istri menelponku ? "
" Gema tolong hentikan ini. Jangan memanggilku seperti itu "
" Aku tidak mau. Sekarang katakan kenapa calon istri menelponku "
" Astaga. Ini kau yang gila atau aku yang akan menjadi gila " gumam Rea. Membuat Gema setengah mati menahan tawanya.
" Calon istri katakan. kenapa kau menelpon ? " tanya nya lagi.
Sesaat Rea menghela nafasnya. Sebelum menjelaskan alasannya menghubungi laki-laki itu pagi ini.
" Maafkan aku. Aku lupa memberitahumu kalau pukul sembilan nanti kita harus bertemu dengan perancang cincin pernikahan kita "
" Maafkan aku Gema. Aku benar-benar lupa untuk memberitahumu tadi malam. Kau pasti sudah punya jadwal hari ini " ucapnya dengan cemas.
" It's okay sayang. Aku tinggal menunda pekerjaanku ".
" Emmm.., tapi aku ada pertemuan pukul delapan nanti yang tidak bisa aku tinggalkan dan tidak tahu jam berapa akan selesai. Jadi apa kau tidak apa-apa pergi dulu dan aku akan menyusul nanti "
" Tidak apa-apa Gema. Baiklah sampai bertemu disana nanti ".
" Kau yakin tidak apa-apa kalau pergi sendiri ? " tanya Gema memastikan.
" Emmm.., Aku akan pergi bersama Maria, karena dia yang mengatur pertemuan ini ".
" Oh syukurlah kalau ada yang menemanimu " ucap Gema begitu legah. Dan helaan nafasnya sampai terasa dari tempat Rea.
" Baiklah aku harus pergi sekarang. Sampai bertemu di sana calon istri ".
" Kau benar-benar yaa " geram Rea yang kembali kesal karena panggilan Gema untuknya.
Gema kembali terkekeh, " jangan cemberut di pagi hari. itu akan sedikit mengurangi kecantikanmu ".
" Ceh " decih Rea.
" Baiklah sampai bertemu nanti Gema ".
" Ya calon istri. Jangan lupakan sarapanmu " ucap Gema begitu lembut dan itu berhasil membuat hati Rea menghangat sesaat.
" Ya kau juga Gema "
" Dan hati-hati " sambungnya pelan. Lalu tanpa permisi ia menutup panggilannya.
__ADS_1
" Kenapa jantungku menjadi berdebar seperti ini " gumamnya sesaat setelah telepon bersama Gema baru saja berakhir.