KITA Hanya MENIKAH

KITA Hanya MENIKAH
Mengganggu Rea


__ADS_3

Piring baru saja kosong dengan Gema yang sudah tersandar di sisi kursi, " makanan disini sangat enak " katanya tersenyum pada Rea. Sementara perempuan itu hanya membalasnya hanya terdiam dengan sesekali mencuri pandang pada lelaki di hadapannya.


" Apa kau kenyang Rea ? " tanyanya dan Rea mengangguk singkat.


" Benarkah ?, tapi aku merasa kau lebih sering menyuapiku dari pada ke dirimu sendiri "


" Melihat kamu makan saja aku sudah kenyang " sahut Rea membuat Gema langsung terkekeh, " kau seperti sedang menyindir " katanya tertawa.


" Tapi sungguh makanan disini enak sekali. Entah karena makanannya atau karena kau yang menyuapi " sambungnya dengan begitu santai. Namun pandangannya tetap menunggu pada reaksi Rea, meski kini terlihat wanita itu hanya tersenyum dingin.


" Aku belum menjadi istrimu tapi kau sudah mencoba untuk merepotkan aku " ucap Rea ketus.


Baru saja Gema ingin kembali bicara tiba-tiba benda pipih di atas meja berdering, membuat sang pemilik segera melihat siapa yang kini mencoba menghubunginya, " Bibi " kata Rea pada Gema, dengan wajah yang kini berubah menjadi sedikit panik.


" Kenapa kau terlihat seperti ketakutan " ujar Gema tersenyum dan tanpa ijin mengambil benda pipih di tangan perempuan itu, " ya Mam " jawabnya pada telepon yang baru saja tersambung oleh ulahnya.


" Ini Gema mam " lanjutnya dan tanpa rasa bersalah dengan sang pemilik handphone yang kini menatapnya dengan begitu kesal.


" Kenapa handphone Rea bersamamu huh ? " tanya Elba dengan meninggikan nada bicaranya, " memangnya kenapa kalau handphonenya bersamaku mam, aku calon suaminya " jawabnya begitu enteng.


Sementara Rea sudah membesarkan matanya karena begitu terkejut oleh tingkah lelaki di hadapannya.


" Kau ini, walau dia calon istrimu tapi kau tidak boleh sembarangan menjawab panggilannya tanpa ijin " seru Elba memarahi putranya.


" Aku hanya bercanda Mam. aku langsung menjawab teleponmu karena dia nampak terkejut saat kau menelponnya "


Mata Rea semakin membesar dan berdelik pada lelaki di hadapannya, " bibi bukan seperti itu " teriaknya.


" Sepertinya dia belum terbiasa mendapat telepon dari kamu Mam " lanjut Gema, tanpa peduli dengan wanita di hadapannya yang siap kapan saja mengamuk.


" Wajar dia seperti itu. Lalu apa urusannya denganmu huh ? "


Gema berdecih, " Mam kau tak membelaku ? "


" Tidak. Sekarang berikan handphonenya pada Rea ? " pinta Elba dengan begitu galak.


" Baiklah " sahut Gema dengan wajah sedih yang ia buat-buat. Namun sebelum memberikan benda itu dia masih sempat mengaktifkan speaker luar hape Rea.


" Mami ingin bicara denganmu " ucapnya pada Rea sambil menyodorkan benda pipih di tangannya.


" Ya bibi. Ini Rea " ucap Rea


" Hai nak. sedang dimana kalian ? " tanya Elba begitu lembut. sangat jauh berbeda pada saat berbicara pada putranya sendiri.


" emmm.. , kami sedang berada di kantorku bibi. Ada apa ? "


" Di kantor ?, terus ada perlu apa anak nakal itu datang ke kantormu ? "


" Hai Mam. memangnya salah aku menghampiri calon istriku ? " timpal Gema begitu kesal.


" Ya. Mami yakin kau hanya datang untuk mengganggunya ! "


" Mam kenapa sekarang kau menjadi begitu tidak adil huh. Apa semenjak ada menantu kau sudah membuang putramu ? " seru Gema berlebihan. Namun, itu berhasil membuat Rea tertawa tanpa dia sendiri sadari dan momen itu tertangkap oleh pandangan Gema, " kau sangat manis ketika tersenyum " ucapnya tanpa sadar.


Mendengar kalimat itu tentu membuat Rea memudarkan sekejap senyumnya dan berganti dengan pipi yang merona karena begitu malu.

__ADS_1


" Gema apa kau sedang menggoda Rea ? " teriak Elba dari balik telepon dan itu berhasil menyadarkan putranya yang kini tengah terpaku menatap wanita di hadapannya, " ya mam ".


" Pulanglah ke kantormu. Jangan mengganggu Rea disana "


" Aku tidak mengganggunya mam " sahut Gema tidak terima.


" Dia hanya tidak mengatakannya padamu ! " ucap Elba.


Gema kembali menatap pada Rea, " sayang apa kau terganggu dengan kedatanganku ? " tanyanya begitu santai. berbeda dengan Rea yang terlihat kembali terkejut dan perlahan menggelengkan kepalanya.


" Sayang katakan tidak. Jadi Mami mendengar kalau aku tidak menganggumu " pintanya.


" Tidak bibi. Gema tidak menggangguku " ucap Rea menurut.


" Mami dengar kata menantumu ? "


" Ceh, kau mendesaknya dengan seperti itu mana bisa dia berkata jujur "


" Tidak bibi dia sungguh tidak mengangguku. dan dia kemari untuk melihat contoh model cincin pernikahan kami nanti " kata Rea menjelaskan dengan begitu hati-hati.


" Padahal aku sendiri tidak tahu kenapa tiba-tiba datang kemari " gumam Gema pelan dan tersenyum tanpa sadar pada Rea yang kini tengah membela dia di hadapan ibunya.


" Emmm baguslah. Bibi khawatir dia menganggumu "


" Tidak bibi "


" emm.. Bibi hanya ingin mengatakan kalau bibi sudah menemukan beberapa Wedding Organizer yang sangat bagus di kota ini. Nanti bibi akan kirimkan contoh dekorasi mereka kepadamu. Lalu kau pilih dan beri tahu pada Bibi " jelas Elba.


" Bibi... " panggil Rea begitu lembut.


" Bibi saja yang memilihkannya. Aku pasti akan setuju " lanjutnya dengan masih begitu lembut.


" Kau yakin ? "


" Tentu aku sangat yakin dengan pilihan calon mertuaku " katanya tertawa, di ikuti Elba yang terkekeh di balik telepon, " kau memang perempuan yang manis " puji Elba padanya.


" Juga sangat cantik Mam " kata Gema menimpali.


" Apa kau sedang menguping obrolan kami huh ? " seru Elba yang kembali berteriak di balik telepon.


" Aku bukan menguping tapi aku tidak tuli mam " kata Gema membela diri dan lagi-lagi perseteruan ibu dan anak itu berhasil membuat garis bibir Rea kembali melengkung.


" Nak apa kau sudah makan siang ? " tanya Elba pada Rea.


" Sudah mam. bahkan baru saja kami makan berdua dengan dia menyuapiku " kata Gema kembali menimpali dan mengatakannya dengan begitu enteng. Sementara Rea terlihat semakin syok karena ucapannya.


" Jika sudah selesai pulanglah ke kantormu. Kau benar-benar merepotkan Rea. Memangnya ada apa dengan tanganmu ?, sampai tidak bisa lagi makan sendiri huh ".


" Mam apa kau tidak pernah mudah huh ? " tanya Gema dengan tertawa.


" Ceh. Menggelikan " balas Elba dari balik telepon.


" Baiklah Rea, Bibi akan menutup teleponnya "


" Baik bibi "

__ADS_1


" Telepon bibi jika kau membutuhkan sesuatu "


" Hemm..,terimakasih bibi "


" Baiklah sampai bertemu lagi nak " pamit Elba, lalu benar mengakhiri panggilannya.


" Ceh, dia benar-benar begitu lembut padamu " ucap Gema menggerutu. dan itu kembali membuat Rea tersenyum, " dia juga lembut padamu ".


" Ya itu kemarin sebelum dia memiliki menantu, ntah kenapa hari ini dia menjadi begitu galak "


" Kau terlalu berlebihan Gema "


" Tidak. tidak dia benar-benar memihak pada menantunya sekarang ".


" Masih calon menantu " potong Rea meralat ucapannya.


" Hanya tinggal beberapa hari kau benar jadi menantu di keluarga kami. Jadi kenapa harus membantahnya ? "


" Aku tidak membantah. Aku hanya sedang membenarkan "


" Apa kau tidak ingin di sebut sebagai menantu di keluargaku karena perjanjian pernikahan kita hemm.. ? " tanya Gema yang berhasil membuat mimik wajah Rea berubah seketika, " jangan berandai-andai Gema. perjanjian pernikahan ini urusannya hanya ada pada aku dan kau. Bukan pada keluarga" ucapnya marah.


" Kau jangan khawatir. Aku akan benar-benar menjadi menantu yang baik selama pernikahan kita " sambungnya dengan begitu tegas.


Gema tidak kembali bicara. Ia hanya menatap lamat pada wajah Rea yang kini memandangnya dengan begitu kesal, " baguslah " ucapnya tiba-tiba lalu beranjak dari duduknya.


" Aku harus kembali ke kantor " ucapnya sambil merapikan jas di tubuhnya.


" Sampai bertemu lagi " pamitnya pada Rea yang kini diam tanpa melihat ke arahnya, " kabari aku jika kita sudah akan menemui perancang cincin pernikahan kita "lanjutnya.


" Hemm.. " balas Rea mengangguk. Namun tetap tanpa melihat ke arahnya.


" Aku pergi " pamitnya lagi dan Rea tetap seperti tingkahnya semula, hanya mengangguk tanpa melihat padanya.


Langkah kaki Gema hampir sampai di pintu ruang kerja Rea. Namun, sesaat ia menghentikan langkah kakinya lalu kembali berjalan ke arah meja kerja pemilik ruangan itu, " Rea apa kau marah padaku ? " tanyanya begitu pelan.


Rea yang semula menatap pada layar komputer di hadapannya kini tanpa sengaja melihat ke arahnya, " tidak " jawabnya ketus.


" Sekarang aku yakin kau marah ".


" Keyakinanmu salah ".


" Benarkah ? , tapi aku yakin kalau kau sedang marah padaku "


" Kenapa kau begitu yakin ? "


" Karena kau tidak tersenyum "


" Ceh " decih Rea dan tanpa sadar bibirnya telah melengkung.


" Good, kalau seperti ini aku jadi begitu tenang untuk pergi dari sini " kata Gema ikut tersenyum. Namun, Rea dengan cepat menarik kembali garis bibirnya.


Gema kembali berjalan menuju pintu, " bye Rea " pamitnya lagi.


" Yaa " balasnya sambil menahan untuk tidak kembali tersenyum sampai lelaki itu benar-benar pergi.

__ADS_1


" Ada apa dengannya ? " gumamnya dengan masih menatap pada pintu yang baru saja di tutup oleh Gema.


__ADS_2