
" Aku ke toilet sebentar " ucap Gema sembari beranjak dari tempat duduknya, dan Rea hanya mengangguk sesaat lalu kembali menyantap makanan di hadapannya, " hanya nasi goreng tapi kenapa begitu enak " ucapnya tersenyum, matanya berbinar menatap pada hidangan di hadapannya.
" Ternyata benar, kalau makanan di negera ini benar-benar enak " sambungnya.
Hanya butuh beberapa menit untuk Rea menyapu bersih makanan di hadapannya, " aku sangsi, makanan ini benar-benar enak, atau aku yang begitu lapar " katanya tersenyum. dan beberapa saat kemudian ia tersentak oleh suara handphone yang berdering di mejanya.
Rea terdiam sejenak menatap layar handphone milik Gema yang menyala. Dari tempatnya ia bisa membaca nama kontak yang berada di dalam layar benda itu, " Bella " gumamnya pelan.
Suasana hatinya tiba-tiba saja berubah ketika nama Bella hadir, " ada apa Rea, bukankah hal yang wajah di menelpon suamimu " cercahnya pada diri sendiri.
Ia mengidahkan benda pipih itu terus berdering dengan nafas yang di tarik begitu dalam.
Di gapainya sepiring spahgetti yang berada di hadapannya dan tanpa menunggu ia melahap makanan itu. Namun rambut yang terurai membuat geraknya menjadi terganggu. berulang kali ia mengibas rambutnya dengan begitu kasar, " ada apa dengan rambut ini " pekiknya.
" Menyebalkan " sambungnya, dengan wajah kesal yang nampak terlihat begitu jelas.
Dan tiba-tiba ia terperanjat ketika sepasang tangan mengibas rambutnya yang terurai ke depan, " apa yang kau laku.... " pekiknya menatap pada memilik tangan. Namun kata-katanya terhenti ketika ia mendapati siapa yang berada di hadapannya, " apa yang kau lakukan Gema ? " katanya melanjutkan. Namun tak menghentikan gerak laki-laki itu yang kini tengah menguncir rambutnya.
" Aku bisa melakukannya sendiri " ucapnya ketus, dan itu membuat dahi Gema sedikit berkerut, " kalau bisa kau sudah melakukannya sedari tadi " balas Gema tersenyum lalu duduk di hadapannya.
Bibir lelaki itu kini semakin melengkung ketika melihat sebuah piring kosong di hadapannya, " ternyata istriku begitu lapar " ujarnya tertawa kecil, tapi Rea tidak mengidahkan gurauannya dengan terus menyantap spahgetti yang sebenarnya tidak begitu ia nikmati.
" Apa spahgetti itu begitu enak ? " tanya Gema.
" Hemmm.. " Sahutnya tanpa melihat, lalu kemudian ia mendadak beranjak dari duduknya.
" Mau kemana ? " tanya Gema cepat.
" Ke toilet "
" Biar aku antar " kata Gema yang kini ikut beranjak dari tempat duduknya.
" Tidak aku bisa sendiri Gema, lanjutkan saja makanmu " balas Rea tanpa ingin di bantah, sambil bergerak menjauh dengan langkah yang tertatih.
" Rea.. " panggil Gema, mencoba sekali lagi membujuk wanita itu, namun nyatanya Rea semakin menjauh tanpa menghiraukan panggilannya.
" Ada apa dengannya ? " gumam Gema tak mengerti, lalu kembali duduk.
Gema tak lagi menikmati makanannya dengan benar, selama Rea belum kembali ke hadapannya.
Sambil menunggu ia membuka benda pipih di hadapannya.
Ia terpaku sejenak, saat melihat sebuah pemberitahuan panggilan tak terjawab di dalam layar handphonenya, " apa karena ini dia begitu " gumamnya menebak.
Ting
Bersamaan sebuah pesan masuk, " kau baik-baik saja ?. Aku merindukanmu Gema " isi pesan masuk, yang bisa ia baca dari jendela handphonenya.
__ADS_1
Gema menghela nafas, rasa bersalah tiba-tiba saja muncul dalam hatinya, " seharusnya aku tidak mengabaikannya " gumamnya dengan jari yang bergerak membuka pesan yang baru saja masuk ke dalam benda pipih di tangannya, " aku baik-baik saja Bella, maaf karena tidak bisa begitu sering memberi kabar padamu, aku harap kau juga baik-baik saja. Sampai bertemu nanti " tulis Gema, lalu mengirim pesan itu pada Bella.
" Apa aku begitu kejam " gumamnya lagi.
Ting
Pesan kembali masuk.
" Syukurlah, jangan khawatir aku disini mengerti. Cukup nikmati waktumu disana. Aku mencintaimu Gema "
Gema kembali terhenyak saat membaca isi balasan pesan Bella padanya. Tatapannya tak bergerak dari layar, dan juga jari jemarinya yang tak kunjung kembali bergerak untuk membalas pesan perempuan itu. Sedikit terasa sulit untuk menulis kalimat, kalau ia juga mencintainya. Padahal beberapa hari yang lalu kalimat itu masih begitu sering ia katakan pada perempuan itu.
" Aku akan menghubungimu kembali, ketika aku sudah kembali nanti " gumamnya tanpa membalas pesan terakhir yang di kirim oleh Bella padanya.
Suara langkah kaki membuatnya terkesiap dari tatapannya pada layar handphone di hadapannya, " Kau sudah kembali ? " serunya sambil meletakkan benda pipih itu kembali ke atas meja.
" Hemm.. " sahut Rea kembali duduk, dengan raut wajahnya kembali terlihat normal, " Apa kau sudah selesai ? " tanyanya pada Gema.
Lelaki itu nampak bingung sesaat, lalu kemudian mengerti maksud dari perempuan itu, " emmm ya, apa kau sudah ingin kembali ? "
" Ya, sepertinya aku sedikit lelah " sahut Rea.
" Ya baiklah " ucap Gema setuju lalu beranjak dari duduknya dan berjalan kesisi Rea.
" Gem aku sungguh bisa berjalan sendiri " ucap Rea, sebelum sempat ia berjongkok di hadapan perempuan itu, " tapi Rea, kakimu ak.... "
Lelaki itu menghela nafas, suasana hatinya menjadi berubah seiring sikap dingin Rea padanya.
Dan perlahan ia ikut bergerak menyusul langkah kaki yang berjalan lebih dulu.
Di tengah langkahnya, matanya memandang pada tumpukan tangkai mawar merah yang di tata di atas meja resepsionis.
" Boleh aku mengambil satu tangkai ? " tanyanya pada perempuan yang bertugas di meja itu. Perempuan itu masih terdiam, " jangan khawatir aku akan membayarnya " sambungnya lagi.
" Tidak, bukan begitu " ucap perempuan itu terkesiap, " ambil saja " sambungnya tersenyum.
" Sungguh ? " tanya Gema tersenyum.
" Hemm tentu Tuan. tapi kalau boleh saya tahu untuk apa satu tangkai mawar ini ? " tanya perempuan itu sembari mengambil tangkai mawar yang masih terikat di dalam sebuah pas bunga.
" Emmm, ini untuk istriku. Ada sesuatu hal terjadi dan aku harus membujuknya. Jadi aku rasa setangkai mawar ini akan sedikit bekerja " kata Gema bercerita. Perempuan di meja resepsionis kembali terdiam sejenak lalu tersenyum dengan tangan yang terus bergerak pada tangkai mawar.
" Ini Tuan " ujarnya, sambil memberi apa yang di inginkan oleh Gema.
Namun justru kini Gema yang terdiam, " kenapa tiga ?, sungguh aku hanya ingin meminta satu saja " ucapnya pada perempuan itu, " anda tahu, kalau saja mawar-mawar ini milikku, aku pasti akan memberikan semuannya pada anda saat ini. Tapi maaf, saat ini aku tidak bisa melakukan itu karena aku takut managerku akan marah nanti " ucap perempuan itu tertawa, dan itu membuat Gema ikut tertawa.
" Ini sudah lebih dari cukup, terimakasih Nona " ucap Gema begitu senang.
__ADS_1
" Ya Tuan, cepatlah pergi sebelum istri anda pulang sendiri " kata perempuan itu kembali tertawa, mendengar itu Gema beranjak dengan cepat. Namun beberapa detik kemudian ia kembali, " Apa ada yang bisa saya bantu lagi Tuan ? " tanya perempuan itu dengan sedikit terkejut dengan kehadirannya kembali.
Gema tak bergeming, dengan tangan yang bergerak merogoh saku celananya.
" Tuan aku sungguh memberi mawar itu dengan gratis, aku tidak akan menerima uang anda "
Namun sepertinya Gema tak peduli, di ambilnya lembaran uang dolar yang berada di dalam dompetnya, " aku tidak memiliki rupiah saat ini " ucapnya tersenyum sambil meletakkan lembaran uang seratus dolar ke atas meja resepsionis.
" Tuan aku sungguh memberi anda gratis untuk mawar ini, sungguh tuan "
" Aku tidak membayar mawar ini, tapi aku memberi imbalan untuk kebaikan anda " ucapnya.
" Tapi tuan aku sungguh tidak mengharapkan apapun ".
" Terimalah Nona " pinta Gema sedikit memaksa, " sebuah kebaikan harus di bayar dengan kebaikan, jika anda tidak mampu membayarnya dengan kebaikan, maka anda harus membayarnya dengan uang "ucap Gema tersenyum, " saya mengingat kalimat itu dengan baik, karena saya yakin saya tidak akan mempunyai waktu untuk membalas kebaikan anda, jadi terimalah ini " sambungnya, membuat perempuan resepsionis terdiam, " ini terlalu banyak tuan " ucapnya.
" Itu rezeki anda hari ini " balas Gema tersenyum lalu benar-benar beranjak dari meja resepsionis.
" Terimakasih Tuan, semoga mawar itu berhasil meluluhkan hati istri anda " teriak perempuan itu dan Gema kembali tersenyum sambil berlari menyusul Rea yang kini sudah menghilang dari pandangannya.
***
Dahi Rea berkerut ketika mendapati dirinya tengah berjalan sendiri, " dimana dia ? " gumamnya yang kini tidak menemukan siapa pun di belakangnya.
" Ceh " decihnya dengan perasaan yang sedikit kecewa, namun tanpa ia sadari.
" Baiklah, kau memang tidak bisa berharap pada siapa pun " katanya dengan kembali berjalan, " ssssttttt " desisnya menahan rasa sakit pada telapak kakinya.
" Kenapa luka ini begitu manja huh " pekiknya kesal.
Deg
Tiba-tiba ia di buat terkejut oleh beberapa tangkai mawar merah di hadapannya. ia di buat terhenyak sesaat, sebelum melihat pada siapa yang menghadirkan mawar itu ke hadapannya, " ini untuk istriku yang cantik " ucap suara berat di sisinya.
" Dalam rangka apa ini ? " tanya Rea, dengan menahan ujung bibirnya untuk melengkung. Namun rona pada wajahnya tidak bisa berbohong.
" Bukankah hal yang wajar seorang suami memberi bunga pada istrinya " ucap Gema, Rea melipat bibirnya ketika menerima mawar itu, " Terimkasih " ucapnya.
" Kau suka ? "
" Hemmm... " balasnya dengan rasa kesal yang sudah meluluh tanpa ia sadari. Bahkan ia tidak bisa lagi menyembunyikan senyum manisnya, hingga membuat Gema yang melihat kini ikut tersenyum. Lalu kemudian lelaki itu berjongkok di hadapannya " ayo naik " pintanya.
Mengingat kakinya yang memang terasa sakit, tidak ada lagi alasan untuk Rea menolak tawaran itu saat ini, " Terimakasih suami " ucapnya, dan bergantian kini wajah Gema yang merona tanpa ia sadari, " berpegang dengan benar " pintanya dengan senyum yang tertahan.
" Sudah " sahut Rea, ketika ia sudah memeluk erat pundak Gema dengan beberapa kuntum mawar yang terus ia ciumi, " kau suka ? "tanya Gema.
" Tentu, perempuan mana yang tidak suka bunga mawar " sahut Rea tanpa sadar. Namun matanya membesar ketika menyadari ucapannya.
__ADS_1