
Nafas kini saling memburu di bibir yang semakin ******* dengan mesra. Seolah sama-sama tidak ada yang ingin berakhir, meski kini tersengal karena ruang udara yang sedikit masuk.
Tanpa sadar kini kedua tangan Rea telah mengait di leher Gema, dengan lidah yang semakin bertaut. Dan tanpa ia sadari tubuhnya telah merebah di atas tempat tidur.
Sementara Gema seolah saat kini lupa diri, tak sedikit pun ia memberi peluang pada Rea, walau hanya untuk menarik nafas.
Mata Rea terpejam menikmati hangat cumbuan yang kini berpindah pada leher jenjangnya, dan saat itu suara nafas penuh resahan mulai terdengar. Ia seperti tak lagi peduli pada rompi baju tidurnya yang tipis, yang kini tergeletak di lantai oleh ulah Gema.
Dengan nafas yang semakin memburu Gema menjelajahi tubuh mulus itu, tak membiarkan setiap inci terlewatkan. Ia seperti begitu rakus untuk tak menyia-nyiakan tubuh indah itu di hadapannya. di cumbunya tak berhenti hingga suara lenguhan dari Rea juga tak berhenti terdengar.
Deg
Jantungnya berdebar cepat ketika menyadari apa yang baru saja ia lakukan. Ia menahan diri sesaat, dengan tertegun menatap ke dua tubuh mereka yang kini hampir tidak lagi tertutup apapun.
" Jangan berhenti.. " ucap suara parau perempuan di hadapannya, dengan mata yang menatap sayu padanya.
" Kau yakin ? "
" Hemmm..., lakukan sepuasmu " balas wanita itu.
Gairah yang memang sudah berada di ujung kepala Gema, kini seolah semakin membara oleh ucapannya. Seperti orang kelaparan, ia kembali mengecup bibir ranum Rea, melanjutkan apa yang telah tertahan.
Suara Lenguhan yang saling beradu kini bergema di dalam ruangan. Disana keduanya saling menumpahkan segalanya, hasrat, Gairah yang selama ini tertahan, bahkan perasaan yang tidak saling mengungkapkan semua beradu menjadi satu di dalam cumbuan yang panas, dan Gema seolah tidak akan membiarkan Rea tidur nyenyak malam ini.
__ADS_1
****
" Apa semua berjalan dengan baik ? " tanya Frans pada sekretaris menantunya.
Maria tersenyum, bahkan hampir tertawa, " pastikan anda akan memperkerjakan saya jika nanti, saya di pecat Nona Rea " ucapnya dan kini Frans yang tertawa, " itu tidak akan terjadi, mungkin dia akan sedikit marah. Namun selebihnya dia akan bersyukur " katanya begitu gamblang. Lalu kemudian bibirnya mengatup, " aku begitu penasaran, apa itu sudah terjadi ? " ujarnya dengan pikiran yang menerawang.
Maria kembali tertawa, " itu pasti terjadi, tidak mungkin mereka akan berdiam diri sepanjang malam. Setidaknya itu pasti terjadi saat mereka menikmati segelas anggur merah yang di sajikan oleh pihak hotel "
" Maksudmu ? " tanya Frans tak mengerti. Namun alih-alih setelah itu ia memahami bahwa ada sesuatu yang perempuan itu perintahkan pada pihak hotel" kau benar-benar brilian " ucapnya tersenyum senang.
" Hanya dua butir obat perangsang " kata Maria tertawa, lalu bergerak lebih dekat pada Frans, " anda harus memberikan saya hadiah untuk ini " katanya berbisik pada lelaki paruh baya itu.
" Tentu kirimkan nomor rekeningmu padaku " kata Frans tak menyangkal.
" Tidak apa-apa, kau sudah bekerja keras dalam hal ini "
" Baiklah, aku tidak akan menolak " kata Maria tertawa.
" Kau sedikit licik Nona, tapi aku suka cara kerjamu " ujar Frans tertawa, " aku akan menambahkanya lagi jika tidak lama lagi aku mendengar kabar baik dari mereka " sambungnya, sementara Maria kini terdiam membaca sebuah pemberitahuan di dalam handphonennya, " Tuan aa.. apa iii..ni tidak terlalu banyak " katanya terbata-bata, mendatapi ratusan ribu dolar masuk ke dalam rekeningnya.
" Tidak, itu tidak ada apa-apanya dari apa yang sudah kau lakukan " balas Frans, " bahkan aku akan menambahkannya lagi jika secepatnya aku mendengar kabar baik dari mereka".
" Kalau begitu aku akan menyuruh pihak hotel memberikan obat penyubur pada Nona " sahut Maria sekenanya, membuat Frans benar-benar tidak berhenti tertawa, " lakukan jika itu akan membuatku cepat mendapatkan cucu " balasnya dan Maria mengangguk dengan cepat, " serahkan saja padaku Tuan " ucapnya begitu yakin.
__ADS_1
" Kalau seperti ini, aku tidak perlu khawatir akan di pecat Nona " katanya tertawa, " kau memang pintar dalam bernegosiasi " ucap Frans sambil menggelengkan kepala.
" Itu memang keahlianku Tuan. Kalau begitu saya pamit, hubungi saya jika anda membutuhkan sesuatu " pamit Maria sambil membungkuknya tubuhnya pada Frans.
" Tentu " balas Frans tersenyum.
****
Angin berhembus kencang pagi ini , mengganggu tidur sepasang manusia yang masih terlelap dengan nyenyak di atas tempat tidur yang berantakan.
Rea menarik rapat selimutnya, " kenapa Rose sudah membuka jendela " gumamnya kesal dengan mata yang masih terpejam. Namun angin yang berhembus kencang seolah tak peduli.
Ia menarik nafas panjang sebelum akhirnya harus membuka paksa mata kantuknya. Lidahnya hampir saja ingin mengumpat, namun urung saat mengamati ruangan di hadapannya, " ternyata aku masih disini " gumamnya serak.
" Pantas saja " katanya saat menemukan pintu ke arah balkon yang terbuka lebar, " apa Gema lupa menutupnya tadi malam " katanya sambil ingin bergerak beranjak dari tempat tidur. Melepas selimut yang membalut tubuhnya. Namun setelah itu ia terperanga dengan memekik tertahan, saat menemukan dirinya kini tanpa terbalut sehelai benang pun.
" Oh my God " ucapnya dengan mata yang membesar sempurna. Lalu dengan pelan-pelan ia mengangkat bagian selimut yang menutupi setengah tubuh Gema. Ia perlu memastikan apa yang ada di dalam pikirannya kini, " astaga " pekiknya yang kembali tertahan, saat menemukan tubuh lelaki itu juga sama dengannya. Sama-sama tidak terbalut apapun selain selimut tebal.
" Ternyata benar sudah terjadi. Aku kira itu hanya mimpi " gumamnya, bahkan ia sangat malu mendapati pikirannya kembali mengulas apa yang sudah terjadi tadi malam, bahkan semuanya masih terasa begitu hangat, " dimana aku akan meletakan wajahku hari ini " sambungnya begitu prustasi. Dan saat itu angin kembali menderu begitu kencang.
Rea kini terdiam mengamati di mana baju tidur yang tidak lagi terlihat keberadaannya, " aku benar-benar sudah lupa diri " katanya merutuki dirinya sendiri, ia tidak punya keberanian untuk beranjak dari tempat tidur dengan tubuhnya yang telanjang, " ah aku benar-benar akan gila " pekiknya kesal, saat tak kunjung menemukan pakaiannya, bahkan tidak juga untuk pakaian dalamnya sendiri. Yang membuatnya semakin prustasi adalah pikirannya sendiri, yang seolah mengerjainya dengan tak berhenti melampirkan adegan demi adegan yang terjadi tadi malam.
Gema kini menggeliat, membuat Rea terdiam dari gerakannya. Menyadari lelaki itu akan bangun ,dengan cepat ia menenggelamkan dirinya kembali ke dalam selimut, memejamkan matanya dengan begitu rapat. Namun selama itu jantungnya tak berhenti berdegub kencang.
__ADS_1
Dirinya menelan ludah menyadari lelaki itu beranjak dari tempat tidur, bergerak menutup pintu, lalu tak lama kembali, " apa dia bangun dengan keadaan seperti itu " gumamnya dengan jantung yang semakin berdebar, dan semakin berdebar ketika sebuah tangan merengkuhnya dengan begitu erat, melayangkan kecupan pada punggung kepalanya, " mimpi indah istriku " ucap serak lelaki itu sambil membenahi selimut pada tubuhnya, lalu memeluknya semakin erat. Dan saat itu Rea seperti tidak lagi bisa bernafas, dengan tubuh yang tiba-tiba menjadi kaku, " sepertinya aku akan mati hari ini " gumamnya membatin, dan memaksakan untuk matanya tetap terpejam di tengah jantung yang semakin berdegub dengan kencang, bahkan seperti hampir ingin melompat dari tempatnya.