
" Apa calon suamimu cemburu ? " tanya Darrel dan Rea dengan cepat menggelengkan kepalanya, " itu tidak mungkin " ucapnya tersenyum hambar.
" Selamat atas pernikahanmu Rea " ucap Darrel sembari memeluk tubuh wanita di hadapannya, " terimakasih Darrel " sambut Rea tersenyum.
" Aku tidak menyangka kau akan menikah secepat ini ".
" Aku justru sudah terlambat Darrel " katanya terkekeh.
" Semoga pernikahanmu di penuhi kebahagiaan Rea "
" Terimakasih " sahut Rea dengan senyum yang hambar, " semoga kau juga cepat bertemu jodohmu " ucapnya pada Darrel, sembari melepas pelukannya.
" Baiklah sampai bertemu lagi Rea. Sebelum suamimu datang kembali untuk memukulku, sebaiknya aku pergi " kata Darrel terkekeh dengan mata yang melirik ke satu mobil dengan seseorang yang duduk di kursi kemudi.
" Calon suamiku tidak seperti itu "
" Ntahlah. Sikap laki laki akan berubah ketika dia cemburu Rea ... ".
" Tapi dia tidak akan cemburu " potong Rea cepat.
" Ceh. Kau kira hati calon suamimu dari baja huh, mana mungkin dia tidak cemburu ketika melihat calon istrinya berpelukan dengan lelaki lain "
" Aku pastikan itu tidak terjadi pada calon suamiku " sahut Rea sedikit tersenyum.
Dahi Darrel sedikit bekerut mendengar ucapan wanita di hadapannya. Sungguh sebuah jawaban yang aneh, tapi ia tidak ingin tahu lebih dalam. Meski saat ini di benaknya begitu penasaran.
__ADS_1
" Sekali lagi selamat atas pernikahanmu Rea " ucapnya sebelum benar benar beranjak dari hadapan Rea, " sampaikan maafku pada suamimu, karena telah memeluk calon istrinya " tambahnya lagi dengan tertawa.
Rea mengangguk dengan menyunggingkan ujung garis bibirnya, " sampai bertemu lagi Darrel " ucapnya sambil bergerak menuju mobil Gema.
Gema langsung menjalankan mobilnya ketika Rea sudah masuk ke dalam mobil. Dan selama kendaraan roda empat itu melaju tidak ada yang memulai pembicaraan. Suasana menghening dengan pikiran mereka masing-masing.
Kini mobil Gema telah tiba di pekarangan rumah Rea dan sampai saat itu masih tidak ada pembicaraan di antara mereka.
" Sampai bertemu di altar pernikahan " ucap Rea dingin dan Gema hanya mengangguk lalu kembali menyalakan mobilnya setelah wanita itu keluar dari dalam mobil.
Rea masih berdiri disisi pintu mobil yang belum di lajukan oleh pemiliknya. Lelaki yang berada di dalam mobil masih terdiam dengan ntah apa yang ada dalam pikirannya, " apa setelah ini kau langsung pulang ? " tanya Rea memecahkan keheningan.
" Tidak, aku harus ke tempat Bella. Dia memintaku menemuinya sebelum kita menikah besok " sahut Gema tanpa berani melihat ke arah lawan bicaranya.
Deg
" Oh ya kau tentu harus menemuinya. Sampaikan salamku pada kekasihmu " ucap Rea dengan rahang yang sedikit mengeras, lalu masuk ke dalam rumahnya, meninggalkan lelaki itu tanpa pamit.
Gema kini terdiam di dalam mobil, menatap pada punggung yang baru saja pergi dari hadapannya, " mana mungkin aku akan kesana. Sementara pikiranku disini " gumamnya dengan tarikan nafas. Lalu kembali melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Rea.
~
Rea berjalan cepat menuju kamar tidurrnya. Ntah mengapa malam ini ia merasakan begitu gerah sampai tidak sabar ingin berada di dalam bathup, merendam tubuh dan kepalanya yang terasa begitu panas.
" Nona, apa anda sudah makan malam. Aku akan segera menyiapkannya jika belum " ucap Rose di sela langkahnya
__ADS_1
Rea tak bergeming dan tetap melanjutkan langkahnya, " aku tidak lapar Rose. Tidurlah " ucapnya begitu dingin dengan kaki yang terus melaju menuju kamar tidurnya.
Rose mengangguk. Namun, matanya tak berhenti menatap pada tubuh Rea yang berjalan pergi, " apa yang terjadi padanya " gumamnya lemah.
Ia sangat tahu, bahwa saat ini telah terjadi sesuatu hingga membuat suasana hati majikannya itu tidak baik.
" Tenangkan hatinya Tuhan. Besok dia akan menjadi seorang mempelai di hari pernikahannya " ucapnya berdoa, lalu kembali ke kamar tidurnya setelah Rea menghilang.
~
Rea membanting tubuhnya di atas tempat tidur. Berusaha memejamkan matanya di tengah kegelisahan hatinya yang ia sendiri tidak mengerti.
" Kenapa tiba-tiba aku merasa menjadi begitu kesal " gumamnya dengan helaan nafas yang di hembus begitu kasar dan bersamaan benda pipih yang masih berada di dalam tasnya berdering.
Tanpa merubah posisinya tubuhnya, tangannya bergerak merogoh tas untuk mencari keberadaan benda pipih yang masih berbunyi.
Mata Rea menyipit oleh cahaya handphone dan dahinya sedikit berkerut saat melihat layar benda itu kini memperlihatkan deretan nomor telepon yang tidak ia ketahui, " nomor siapa ini ? " gumamnya heran.
" Siapa yang menelponku di jam segini " katanya lagi. Namun, rasa penasarannya membuat ia menjawab panggilan tidak di kenal pada handphonenya.
" Hallo " ucapnya perlahan.
" Ini Rea ? " tanya dari seberang telepon. Dahi Rea semakin mengerut saat mendengar suara yang berbicara padanya saat ini adalah seorang perempuan, " Ya saya Rea, Ini siapa ? " katanya kembali bertanya.
" Aku Bella Rea ".
__ADS_1
Deg
Mendengar itu mata Rea membesar dengan jatung yang kembali berdegub lebih cepat.