
Wajah Rea sudah memerah, saat ia menghabiskan minuman anggur di gelas pertamanya dari botol ke dua. Mata coklatnya memandang sendu pada pria di hadapannya, " sepertinya aku sudah pusing Gema " katanya, " aku juga merasa mual " sambungnya lagi.
Matanya berair menahan rasa mual yang luar biasa. Makanan yang masuk ke dalam perutnya beberapa menit yang lalu, seperti ingin di muntahkan saat itu juga.
Gema yang semula tertunduk di atas meja, dengan cepat menyadarkan diri, saat mendengar wanita di hadapannya meringis ingin muntah, " ayo kita ke kamar ", ajaknya, menarik tangan perempuan itu dan membopongnya. Ia tak cukup kuat untuk membawa perempuan itu berada di punggungnya.
Seorang pelayan pria mendekat, " biar saya bantu membawa Nyonya, Tuan " katanya menawarkan diri. Tapi yang dia dapatkan tatapan tajam mata Gema, " jangan sentuh istriku ", katanya membentak, menepis tangan terulur pria itu.
Sedangkan Rea sudah tidak sadar diri saat itu, meski telinganya masih mendengar suara Gema dan pelayan. Tapi ia tak punya tenaga, bahkan hanya untuk membuka matanya.
Butuh lebih dari sepuluh menit, untuk mereka sampai ke kamar hotel. Dan selama perjalanan itu, tidak ada satu pun yang tidak tertawa, jika bertemu dengan mereka. Pria mabuk yang sedang membopong wanita mabuk. tak terhitung berapa kali mereka berdua terjatuh di lantai, lalu bangun kembali di bantu oleh pelayan yang memang sengaja mengikuti mereka.
Kini mereka sudah terkapar di atas tempat tidur. Namun selang beberapa menit kemudian, Rea berhamburan menuju kamar mandi, karena rasa mual yang tidak bisa lagi tertahan.
Matanya terbuka setelah mengeluarkan semua isi dalam perutnya. Walau pandangannya tidak senormal ia melihat biasanya. Tapi ia sangat tahu, pada pria yang baru saja datang mendekatinya.
Pria itu menyentuh tengkuknya, dan memijatnya dengan lembut, " muntahkan saja " katanya.
" Aku sudah baik-baik saja Gema " sahutnya, yang kemudian bangun dari lantai kamar mandi.
Ia menggerutu, saat berulang kali tangannya tidak bisa menggapai pengait tali sepatunya sendiri, " menyebalkan ", umpatnya.
Gema yang saat itu baru saja membuka baju kemejanya, mendekat.
Berjongkok di hadapan Rea, untuk membantu wanita itu membuka sepatunya. Tapi hal yang tidak ia sadari saat itu, matanya tak berhenti beralih dari kaki jenjang dengan kulit yang mulus. Memandanginya hingga menyadari, belahan baju wanita itu tersibak. Kini bukan hanya kaki yang ia lihat, tapi hampir sampai pangkal paha perempuan itu juga ada di pandangannya.
Gema menelan ludah, dan memperbaiki pakaian Rea. Ia tak akan sanggup menahan diri jika terus mendapati pemandangan yang menggairahkan itu, terlebih karena kadar alkohol di dalam tubuhnya.
" tidurlah ", pintanya, mendongakkan kepala untuk melihat wajah Rea. Tapi ternyata perempuan itu juga tengah memandang ke arahnya. Mata coklatnya membalas sendu padanya.
Jantung Gema berdegub menatap mata itu. Ia tak bergeming, tapi kemudian pikirannya di buat semakin kacau saat menemukan bibir ranum di hadapannya. Tak menunggu, ia sudah menyergap bibir itu dan beruntungnya ia mendapat balasan.
Lama mereka berpagut, sebelum ke dua tubuh itu terbaring kembali di atas tempat tidur.
Rea melenguh setiap kali Gema mengecup kulit sensitifnya. Telinga, leher indahnya tak di lampaui sedikit pun, dan saat ini tepat di hadapan dadanya lelaki itu kini tinggal. Membenamkan wajahnya di sana, dengan bibir yang menyesap pucuk dada itu.
__ADS_1
Dress berwarna merah maroon tidak lagi menutup tubuh dengan baik. Kain itu tersibak kesana kemari. Bahkan tali yang tergantung di bahu, kini sudah terlepas.
Rea tak cukup sabar untuk membiarkan Gema berlama-lama di dadanya. Di angkatnya kepala lelaki itu, lalu di sergapnya bibir yang menganggur disana.
Kini ia merasa lebih berkuasa, setelah berhasil merubah posisi tubuh mereka.
Anggur dari Italia itu benar-benar telah berhasil membuatnya lupa diri. Menggugurkan rasa malunya, dan menampilkan tingkah binalnya di hadapan Gema. Terbukti kini, saat wajahnya tepat berada di tengah ************ pria itu. ******* benda hidup yang berada disana dan memandang nakal setiap kali bibir pria itu melenguh. Ini sungguh bukan seperti Rea yang memimpin di dalam ruang meeting.
Dan Gema beruntung, karena dia satu-satunya orang yang telah berhasil melihat hal itu.
Gema mengerang panjang setelah mencapai puncaknya, tapi belum sempat ia menarik nafas, Rea telah berhasil berada di atas tubuhnya. Dan kembali melenguh saat perempuan itu berhasil memasukan benda panjang dari tubuhnya ke tubuhnya sendiri.
Malam ini panas, sangat panas dari malam pertama kali mereka melakukannya. Tidak ada yang ingin mengakhiri, meski sudah ke tiga kalinya Rea melenguh panjang, tanda mencapai puncaknya. Dan baru berakhir di tiga jam sebelum pajar.
Dengan nafas yang tersengal, dan keringat yang sudah membasahi masing-masing tubuh itu. Mereka saling memeluk dan Gema berulang kali mengecup puncak kepala Rea. Lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh tanpa busana mereka.
~
" Tuan " panggil Maria, ia berjalan cepat, menghampiri lelaki paruh baya yang memang datang untuk bertemu dengannya.
" Aku hanya kebetulan melewati gedung ini " kata Frans tersenyum, " kata resepsionis kau sedang meeting ? ".
Maria mengangguk, " sepuluh menit lagi " katanya, yang kemudian tertawa, " aku yakin anda pasti penasaran ? " sambungnya dan Frans langsung tertawa saat itu.
" Sepertinya semua berjalan lancar Tuan ", tambahnya.
Dengan masih tertawa, mata Frans membesar saat itu, " kau benar-benar melakukannya ? ".
" hmmm" balas Maria mengangguk, dan tergelak setelah itu. Kalau saja mereka tidak berada di dalam ruangan yang tertutup, mungkin semua orang akan memandang heran pada mereka berdua.
" Aku yakin ini lebih panas dari malam sebelumnya " sambung Maria. Frans menggeleng mendengar itu, tapi ia juga sangat senang.
" Mereka pulang hari ini ? ".
Maria kembali mengangguk, " jika dua jam lagi mereka terbangun, tapi jika tidak. Satu malam lagi mereka disana ", jelasnya dengan kembali tertawa.
__ADS_1
" Mereka masih tidur ? ", tanya Frans, sedikit tak percaya, ketika saat ini sudah memasuki jam makan siang di tempat Rea dan Gema berada.
" Ya Tuan, bukankah itu berarti rencanaku berjalan sangat lancar ", kata Maria yang terus tertawa.
Frans mengangguk puas, " bagaimana semua dengan pekerjaan disini ? " tanyanya lagi. Dan kali ini ia lebih serius. Begitu pun Maria, " Semua aman terkendali Tuan. Hanya beberapa berkas yang menunggu untuk di tanda tangani Nona. Selebihnya, semua berjalan baik " katanya menjelaskan dan tidak ada wajah bercanda saat itu.
" Bagaimana dengan rumahnya ? ".
" Rose pasti mengurusnya dengan sangat baik " kata Maria yang langsung menyahut, " setelah selesai dengan meeting ini, aku akan berkunjung disana ".
" Ya, pastikan rumah itu sangat nyaman untuk menantuku kembali " kata Frans dan sesaat mereka menghening. " aku akan meminta istriku mengirimkan pakaian Gema kesana " katanya lagi.
Maria cukup terkejut mendengar itu, " anda ingin mereka tetap tinggal disana ? ".
" Tidak juga. Tapi untuk saat ini tidak apa-apa begitu dulu " balas Frans menjeda, " Rea harus beradaptasi dulu dengan status barunya sebagai istri dan setelah itu, baru aku akan meminta mereka memberi waktu dari beberapa hari dalam satu minggu, untuk tinggal dirumahku ".
Maria mengangguk setuju, " Nona pasti tidak bisa meninggalkan rumahnya begitu saja " katanya pelan dan tersenyum sedikit hambar, saat Frans melihat kearahnya.
Lelaki paruh baya itu beranjak dari duduknya, " Sudah sepuluh menit, saatnya aku pergi " katanya Maria yang sudah menyusul untuk bangun dari tempat duduknya, " Terimakasih " ucapnya. Ia terlihat sangat berterimakasih saat mengucapkan itu.
" Nomor rekening yang sama bukan " katanya tertawa, tapi tidak Maria, " sungguh jangan mengirim uang lagi padaku tuan " katanya serius, " kemarin sudah sangat berlebihan ".
" Tapi kau patut mendapatkannya ".
Maria terdiam, dan menarik nafas, " aku sungguh melakukan ini karena demi Nona sendiri tuan ", katanya lemah. Namun nadanya sangat serius.
Frans tersenyum, lalu kemudian berlalu. Dan beberapa detik setelah kepergian lelaki paruh baya itu, handphone Maria berbunyi. Menampilkan pesan pemberitahuan dari salah satu rekening yang ia gunakan. Matanya terbelalak, kali ini Frans lebih gila dari sebelumnya. Nominal yang masuk ke dalam rekeningnya lebih fantastis dari yang pertama kali ia dapatkan. Dan tiba-tiba handphonenya berdering, " Tuan, aku akan mengembalikan uang ini. Aku sungguh tidak bisa menerimanya Tuan " cercahnya, setelah menjawab panggilan di handphonenya.
" Aku tidak melakukan ini atas dasar uang. Sungguh ", sambungnya
" Itu untuk kebaikanmu pada menantuku " balas Frans, lalu panggilan itu di akhiri sebelum sempat Maria kembali bicara.
Maria sungguh tidak senang, setelah jumlah uang di rekeningnya meningkat lima kali lipat dari sebelum Rea pergi berbulan madu. Ia sungguh tidak melakukan itu untuk uang, dan ia merasa bersalah pada Rea saat ini. Ia merasa seperti memanfaatkan wanita itu demi uang, tapi ia juga tak menyesali dengan apa yang telah ia lakukan.
Dirinya sungguh ingin Rea cepat memiliki keturunan, karena dia salah satu orang yang mengetahui bagaimana kesepiannya hidup perempuan itu, dan ia, satu-satunya orang mengetahui kontrak pernikahan itu.
__ADS_1