KITA Hanya MENIKAH

KITA Hanya MENIKAH
Masih tidak Menyangka


__ADS_3

Gadis kecil Rania tidak berhenti bergerak. Ia terus kesana kemari menelusuri setiap sudut ruang toko kue, dimana saat ini kedua orang tuanya tengah berbelanja disana, seraya bersantai menikmati matahari sore dan menikmati alunan musik jazz kesukaan Real.


Devita memilih duduk di pojok ruangan, menemukan tempat itu mempunyai ruang yang cukup luas untuk putrinya bermain, dan tentunya itu tidak akan membuat Real bisa menikmati irama musik Jazz sore ini, karena putri mereka pasti tidak akan berhenti bergerak. Namun sejenak gadis kecil itu seolah mengerti, ia duduk dengan tenang di pangkuan ibunya sambil menikmati donat caramel yang di berikan.


" Apa Rea sudah memberi kabar padamu ? " tanya Real sambil menyesap coffee late ke mulutnya.


" Aaah, aku hampir saja lupa " seru Devita tersadar, " aku memang ingin mengubunginya tadi pagi, tapi tersadar disana masih tengah malam jadi aku urungkan " sambungnya, sambil bergerak mencari benda pipihnya di dalam tas.


" Dia tidak pernah menghubungimu ? " tanya Real tercengang, dan dengan santai Devita menggelengkan kepala, " sepertinya mereka benar-benar menikmati honeymoon mereka ".


" Mungkin " sambung Real dengan tersenyum.


" Kenapa kau tersenyum ? "


" Tidak, aku hanya sedikit geli membayangkan mereka benar-benar menikah" sahut Real yang akhirnya benar-benar tertawa, " hemmm.., aku juga masih di menyangka, dan kau tahu ?, rencana Honeymoon ini bukan mereka yang merencanakan tapi paman Frans. Mereka benar-benar tidak di beritahu dan langsung di terbangkan ke Bali " sambung Devita tertawa.


" Aku jadi benar-benar penasaran, bagaimana kabar mereka saat ini ? " katanya dengan kembali berkutat dengan hanphonenya. Di carinya dengan cepat kontak Rea disana dan tanpa menunggu ia melayangkan panggilan Video Call pada perempuan itu.


Dering sambungan telepon telah berbunyi beberapa kali. Namun belum ada jawaban dan Devita seperti tak ingin menyerah untuk begitu saja mengakhiri panggilannya.


Di sambungnya kembali teleponnya, berharap kali ini Rea menjawab.


" Emmm... " sahut serak dari seberang telepon. " Kau masih tidur ? " tanyanya sambil menyenderkan benda pipihnya ke sisi gelas.


" Ya.. " jawab Rea, memperlihatkan matanya yang sembab ke camera.


" Bukannya sekarang sudah siang disana ? "


" Emmm... "


" Astaga, bisa-bisanya kau hanya tidur di kamar hotel. Pergi jalan-jalan Rea. Nikmati liburanmu " cercah Devita gemas.


" Kau hanya ingin tidur hari ini Dev, aku benar-benar lelah " jawabnya tidak sadar.


" Lelah ? " ulang Devita tersenyum nakal, " haaaaa, aku mengerti " sambungnya, " Maaf aku lupa kalau kalian sepasang pengantin baru " katanya lagi, yang sengaja ingin menggoda Rea.


Mata ngantuk Rea kini terbuka lebar, dengan pipih yang sedikit memerah oleh rasa malu, " apa yang kau katakan huh "

__ADS_1


" Santai saja Rea, aku sangat mengerti " sahut Devita yang masih terus tersenyum nakal ke arahnya, lalu perempuan itu mendekatkan wajahnya ke arah layar handphone, " sepanjang malam kau pasti di buat tidak bisa tidur kan " bisiknya, membuat wajah Rea yang berada di seberang telepon semakin memerah.


" Dasar gila, aku tidak mengerti apa yang kau katakan " pekik Rea begitu malu.


" Kapan jadi pertama kalinya ?, malam kemarin atau tadi malam ? " lanjut Devita tanpa henti, membuat Rea hanya bisa menghela panjang nafasnya, " aku tahu saat ini kau pasti tidak pakai apapun kan ? " katanya lagi, yang tidak puas-puas menggoda Rea.


" Dev, sekali lagi kau bicara yang tidak-tidak, aku matikan teleponnya " pekik Rea yang semakin kesal.


" Buktikan kalau omongan ku salah !, mana coba sibak selimutmu " pekik Devita tak mau kalah.


" Sayaaang " tegur Real pada istrinya, bahkan ia sendiri ikut tersenyum mendengar pembicaraan kedua wanita itu.


Sementara Rea kini tidak lagi berkutik. Dan jika Devita berada di dekatnya saat ini, perempuan itu pasti bisa melihat wajahnya yang kini sudah memerah seperti udang rebus.


" Kau tidak berani kan ? " seru Devita tertawa, " baiklah lanjutkan tidurmu, kau pasti benar-benar lelah " katanya kembali menggoda Rea.


" Kabari aku nanti jika kau sudah tidak lelah " lanjutnya lagi, lalu tanpa pamit pada Rea , ia mengakhiri panggilannya.


" Ah, aku tiba-tiba menjadi merindukan waktu honeymoon kit dulu " ujarnya dengan wajah yang memelas.


" Hampir tiap hari kita honeymoon sayang " sambung Real tertawa.


Hampir dua jam sudah berlalu. Langit, kini sudah gelap dan gadis kecil Raina juga sudah tertidur di dalam dekapan Real, " Ayo kita pulang " ajaknya pada Devita, dan perempuan itu setuju, sambil segera beranjak dari duduknya.


" Tunggu sayang, aku harus membeli beberapa roti dulu " ujar Devita sambil kembali bergerak masuk ke dalam toko kue.


" Aku tunggu di mobil " ucap Real dan perempuan itu mengangguk setuju.


" Dua puluh tiga dolar " ucap pelayan kasir sambil memberikan roti belanjaan Devita, " Terimakasih dan ini kembalian uang anda " ucapnya lagi setelah Devita memberinya selembar uang Lima Puluh Dollar padanya, " ambil saja untukmu " kata Devita begitu lembut, lalu segera pergi dari meja kasir, tanpa menunggu pelayan perempuan itu berkata apapun.


Hanya kata Terimakasih yang terdengar, dan ia tersenyum sambil terus berlalu.


Brukk


" Maaf, maaf " ucap Devita sambil mengambil potongan roti yang berhamburan di lantai.


" Maaf, aku tidak meli.... " katanya lagi dengan menggantung, " Bella... " pekiknya sedikit terkejut.

__ADS_1


Perempuan itu tersenyum padanya, " kau juga disini ? " sambungnya lagi.


" Ya, aku baru saja tiba " sahut perempuan itu.


Devita kini tertegun, menatap wajah perempuan di hadapannya. Yang nampak pucat, bahkan mata sembabnya terlihat begitu jelas, " kau baik-baik saja ?, emm tidak maksudku apa kau sakit Bella ? " katanya membenahi perkataannya.


Perempuan itu tersenyum, " kau pasti tahu, aku tidak akan baik-baik saja saat ini "ucapnya.


" Ya mengerti, tapi mau bagaimana lagi. Aku juga tidak bisa menyalahkan sahabatku disini " sahut Devita ikut tersenyum, ntah mengapa tiba-tiba perasaanya sedikit panas oleh ucapan perempuan itu tadi. Bahkan ia langsung menebak arah bicaranya, " kau harus baik-baik saja Bella. Mereka baik-baik saja disana, berarti kau juga harus begitu disini " sambungnya.


Bola mata perempuan itu membesar.


" Aku baru saja menghubungi Rea " tambahnya lagi, " Gema masih tertidur, padahal disana sudah sangat siang. Mungkin dia sangat lelah " kata Devita dengan tertawa. Ia seperti dengan sengaja mengucapkan kalimat itu, untuk menyakiti hati perempuan di hadapannya ini.


" Baiklah Bella aku pergi dulu. Sepertinya kau harus istirahat dengan benar. Jangan terlalu di pikirkan, seharusnya kau bersenang-senang disini, karena mereka juga begitu disana " lanjutnya seraya ingin berpamitan, " jaga dirimu baik-baik " sambungnya sebelum benar-benar pergi dari hadapan Bella.


" Emmm.. ya "


" Bye "


" Tunggu " seru Bella tiba-tiba.


" Ya.. "


" Jika kau menghubungi mereka lagi, katakan pada Gema aku baik-baik saja "


Devita menarik nafas sejenak untuk menahan rasa emosi yang menjadi muncul oleh perkataan perempuan itu, " kenapa tak kau sendiri yang mengatakannya "


" Aku tidak ingin hari-hari mereka disana terganggu karena aku, jadi aku tidak mengaktifkan ponselku. Biar saja Gema langsung menghampiriku setelah mereka pulang nanti ".


Deg


Rahang Devita mengeras seketika, " kau benar-benar seperti seorang simpanan yang pengertian " ucapnya dengan tertawa kecil, " baiklah akan ku sampaikan nanti, jaga dirimu baik-baik... "


" agar tidak gila " sambungnya begitu pelan.


" Apa.. ? "

__ADS_1


" Tidak, sampai bertemu lagi Bella " katanya lebih keras, lalu dengan berjalan cepat ia keluar dari dalam tokoh, " rasanya aku ingin melemparkan potongan roti ini ke dalam mulutnya " cercahnya begitu kesal.


" Awas saja kalau kau berani menyakiti sahabatku " sambungnya lagi, sambil menghela kasar nafasnya untuk meredahkan rasa emosi yang terasa hampir meledak dari kepalanya.


__ADS_2