
Rea terus berjalan mengikuti langkah Gema yang terus membawanya pergi dengan tangan yang saling bergenggaman , dirinya terasa keberatan dengan keadaan mereka seperti ini tapi di dalam hatinya ia sungguh tidak berniat untuk melepas genggaman tangan itu.
" Duduklah dengan tenang " ucap Gema sambil membukakan pintu mobil untuknya.
sementara Rea hanya menurut tanpa mengangguk atau mengiyakan keinginan lelaki itu.
Mobil sudah berjalan membawa dua manusia itu ntah kemana , dan selama itu tidak ada yang berani memulai pembicaraan termasuk Rea yang begitu penasaran akan di bawa kemana ia pergi saat ini.
Drrrtt drrrtt " sebuah deringan telepon kembali memecahkan keheningan di antara dua insan itu , yang berbeda kini asal suara itu berasal dari dalam tas yang di bawa Rea.
" Siapa yang menelponmu ? " tanya Gema bersuara , membuat dahi Rea sedikit berkerut dengan sikap ingin tahu dari lelaki itu.
" Bagaimana aku tahu siapa yang menelponku , kalau aku sendiri belum melihatnya " balasnya ketus lalu mencari benda yang masih berdering.
" Devita " ucapnya dengan mata yang langsung membesar dan melihat pada Gema yang kini terlihat bingung dengan reaksinya saat ini , " kenapa kau begitu terkejut saat tahu Devita yang menelepon ? "
" Apa kau bodoh Gema , dia pasti sudah melihat berita tadi pagi "
" Terus ? "
" Terus katamu ? , lalu apa yang akan aku katakan padanya huh "
" Ya katakan saja yang sebenarnya kalau kita memang akan menikah "
" Menikah dengan sebuah surat perjanjian maksudmu " balas Rea sedikit berteriak dan itu membuat Gema akhirnya sedikit tersadar , " ya kau benar , tidak mungkin kita mengatakan yang sebenarnya pada mereka "
" Ceh " decih Rea dengan mata yang berdelik.
"Kau lihat dia kembali menelpon " ucap Rea dengan handphone di tangannya yang kembali berdering.
" Aku benar-benar lebih gila memikirkan apa yang harus aku katakan padanya " gumam Rea prustasi , " katakan saja kita memang benar akan menikah tanpa memberitahu semuanya Rea "
" Bukankah itu memang benar akan terjadi "
" Dia tidak bodoh Gema , bukankah itu akan membuat dia bingung kenapa tiba-tiba kita akan menikah sementara dia tahu kau masih bersama Bella saat ini "
" Dia pasti akan bertanya begitu detail padaku nanti, apa yang harus aku jelaskan padanya " ucap Rea yang semakin prustasi dengan mimik wajah yang semakin setres.
" Katakan saja kalau semua itu terjadi karena ayah yang memaksa kita menikah , bukankah dia juga tahu kalau malam itu aku tertidur di rumahmu "
" Aku rasa dia akan langsung paham dan kita juga tidak berbohong bukan , karena memang itu faktor utama mengapa ada rencana pernikahan saat ini " jelas Gema yang membuat kepanikan Rea sedikit meredah saat ini , " ya kau benar , aku hanya perlu mengatakan itu padanya "
" Ceh , untuk menghadapi temanmu saja kau sudah menjadi begitu bodoh " ucap Gema dengan sedikit tertawa dan kalimat itu berhasil membuat Rea kembali berdelik padanya , " tapi aku bukan pengecut sepertimu Gema " balasnya tidak mau kalah.
" Siapa bilang aku pengecut , aku sudah berbicara pada Bella dan aku mengatakan pernikahan ini akan tetap terjadi meski nanti dia tetap tidak menerimanya "
Deg
Jantung Rea tiba-tiba saja berdebar oleh ucapan Gema dan lidahnya sedikit tercekat untuk kembali berbicara , " a..apa.. itu benar , apa kau sunggguh menga..takan itu Gema " katanya terbata-bata dan Gema dengan cepat mengangguk , " aku bukan lelaki pengecut seperti yang kamu katakan "
" Tapi Gema... "
" Sebaiknya sekarang kau angkat telepon sahabatmu itu Rea , kupingku sudah mulai terasa pekak oleh suara dering handphonemu " protes Gema dan Rea dengan cepat segera kembali melihat pada handphone untuk menjawab panggilan telepon yang terus mendesaknya.
" Hallo Dev " jawabnya pada telepon yang baru saja tersambung.
" Reaaaaa....... " teriak Devita dari seberang telepon membuat Rea harus sedikit menjauhkan hapenya dari telinga , " Apa sekarang aku bukan lagi sahabatmu huh " cercah semakin menjadi-jadi.
__ADS_1
" Rea apa kau mendengarku ? "
" Aku mendengar dan kau tidak perlu berteriak-teriak Devita "
" Aku sedang kecewa padamu " ucap Devita dan Rea terdiam sesaat karena ia tahu ke arah mana maksud perkataan sahabatnya itu , " aku hanya belum punya waktu untuk mengatakannya padamu Dev " katanya dengan begitu pelan.
" Jadi berita itu memang benar Rea , kau benar akan menikah dengan Gema huh ? "
Mata Rea melirik pada Gema yang terlihat sedikit tersenyum sambil terus menyetir mobilnya , " kenapa dia terlihat begitu senang ".
" Rea apa kau masih disana ? "
" Ya ya tentu Dev "
" Jawab aku , apa benar itu semua "
" Emmm.. ya "
" Ya apa ? "
" Ya kami akan menikah "
" Reaaa......... , kau benar tidak sedang bercandakan padaku "
" Tentu tidak Dev "
" Bagaimana bisa ini terjadi ? , astaga aku benar-benar menjadi gila memikirkan ini "
" Kalau begitu jangan di pikirkan "
" Dasar bodoh mana mungkin aku tidak memikirnya "
" Aku sendiri juga masih tidak percaya Dev "
" Kau harus menceritakan semuanya kenapa ini bisa terjadi , kenapa tiba-tiba kalian menjadi menikah "
" Hemm ya aku pasti akan menceritakannya padamu nanti tapi tidak sekarang , oke "
" Kenapa ? aku sudah tidak sabar ingin tahu semuanya "
" Saat ini aku sedang sibuk "
" Kalau begitu aku akan datang ke rumahmu nanti sore "
" Emmm jangan Dev ,hari ini aku benar-benar belum bisa untuk bercerita "
" Memangnya sesibuk apa kamu ,sampai menolak kedatangan aku dan Rania ke rumahmu huh "
" Maaf tapi hari ini aku benar-benar sangat sibuk "
" Apa sekarang kau di kantor ? "
" Tidak aku sedang berada di mobil "
" Mau pergi kemana dan bersama siapa kamu ? "
" Apa aku juga harus menjawab hal itu "
__ADS_1
" Tentu , aku harus tahu apa saja yang kau lakukan dan kemana kau akan pergi Rea , jangan membuatku khawatir "
" Aku sudah cukup kecewa karena aku bukan menjadi orang pertama yang mengetahui berita pernikahanmu " sambung Devita yang kini terdengar melemah , " maaf dev bukan begitu maksudku , hanya saja aku belum sempat mengatakannya padamu dan ini begitu mendadak " kata Rea mencoba menjelaskan.
" Ya ya baiklah , tapi kau harus berjanji nanti akan menceritakannya padaku "
" Itu pasti "
" Kau belum menjawab pertanyaanku Rea "
" Emm.. apa , oh saat ini aku sedang bersama Gema " jawabnya pelan dan begitu hati-hati , dan ia sudah menjauhkan sedikit hapenya sebelum perempuan di dalam telepon itu kembali berteriak.
" Kenapa kau tidak mengatakannya dari tadi huh "
" Kau tidak memberi kesempatan untuk aku mengatakannya Dev "
" Sekarang dimana Gema ? "
" Dia , dia di sampingku , ada apa ? "
" Berikan hapemu padanya " pinta Devita yang membuat Rea dengan berat hati mengarahkan benda pipih miliknya kepada Gema , " dia ingin bicara padamu "
" Ya Dev , ada apa ? " tanya Gema yang sudah mengambil Alih handphone Rea.
" Kalian berdua memang kelewatan " teriak Devita yang membuat gema tertawa sambil melirik pada Rea , " seperti kata Rea kami hanya belum sempat mengatakannya pada kalian , iya kan sayang ? " katanya menggoda Rea membuat wanita itu sedikit mengerenyitkan dahi dengan mata yang berdelik.
" Ceh , kalian benar-benar menggelikan " umpat Devita.
" Baiklah hati-hati di jalan dan sampai bertemu nanti "
" Baik Dev " balas Gema sebelum panggilan telepon itu berakhir.
" Ini " katanya sembari memberikan hape di tangannya pada Rea ,
dan sesaat suasana kembali menghening sampai akhirnya Rea tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya , " sebenarnya mau pergi kemana kita Gema ? " katanya bersuara.
" Ke rumahmu " jawab Gema santai dengan seutas senyum dari bibirnya.
" Rumahku ? " ulang Rea dengan mata yang sedikit membesar.
" Kenapa pergi ke rumahku ? "
" Lalu dimana lagi kita akan membicarakan kontrak pernikahan ini Rea , apa kau ingin di kantormu atau mungkin di rumahku hemm ?"
Deg
Jantung Rea kembali berdetak tak menentu dan sedikit menelan ludahnya , " kau yakin ingin membahas hal itu sekarang ? "
" Tentu , memang kapan lagi "
" Bukankah lebih cepat lebih baik " tambah Gema tertawa.
" Ceh , sekarang justru kau yang terlihat tidak sabar ingin menikah denganku Gema " kata Rea yang bergantian kini ia yang tertawa , " emmm mungkin , tapi itu supaya keinginanmu cepat terwujud "
" Keinginanku ? "
" Ya keinginanmu yang menginginkan anak dariku " jelasnya santai dengan pipi yang mengembung menahan tawa saat melihat pipi Rea yang kini telah bersemu merah.
__ADS_1
" Jadi apa sekarang kita akan ke rumahmu ?"
" Terserah " jawab Rea sedikit ketus dan tanpa berani memperlihatkan wajahnya pada Gema.