
Rose, baru saja memutar tubuhnya dari memandang mobil yang membawa Rea pergi sampai menghilang. Dan saat itu mobil Gema tiba. Rose berbalik, ia menjadi cemas, takut mobil Rea yang kembali. Tapi kemudian ia terhenyak, ketika Gema yang datang. Wajah lelaki itu nampak kusut,dan tersenyum hambar saat Rose menundukan diri di hadapannya.
Lelaki itu langsung berlalu menuju lantai dua, rumah megah itu. Dan Rose kembali ke dapur.
" Madam ", panggil salah satu pelayan pada Rose. " Tuan, tuan berada di ruang makan ", sambungnya memberitahu. Rose yang baru saja ingin memeriksa stock makanan, segera bergegas keruangan itu. Dan setibanya, Rose mendapati Gema menatap pada mangkuk besar yang berada di meja makan, " oh Rose ", katanya terkesiap dengan kehadirannya.
Ia terlihat sedikit ragu, " emmm, Apa Rea sudah pergi ? ",katanya bertanya.
" Ya Tuan",sahut Rose singkat, " aku akan meminta pelayan untuk menyiapkan sarapan untuk Tuan ", katanya lagi, seraya ingin bergerak kembali menuju dapur.
" Emm, tidak perlu Rose ", ucap Gema dan Rose memutar tubuhnya, " aku sudah sarapan", katanya lagi.
Mendengar itu Rose hanya diam, ia tidak mengangguk, atau pun berbicara.
" Tuan ", panggil Rose tiba-tiba. Gema yang masih berdiri disisi meja makan memandang ke arahnya, " ini makanan yang Nona bawa untuk Tuan tadi malam ", katanya memberitahu keberadaan mangkuk besar di hadapan lelaki itu. Mata Gema ikut melihat ke arah pandangannya, " Saya sudah menghangatkannya tadi malam. Tapi sepertinya ini tidak bisa lagi di makan ", sambungnya, seraya mulai bergerak untuk membawa makanan itu. Gema tiba-tiba memegang tangannya, " biar aku mencobanya ". ucapnya menghentikan.
" Tapi tuan ".
Gema terlihat tidak ingin di cegah, dan Rose kembali meletakkan mangkuk besar itu ke atas meja, " anda akan sakit perut tuan ", ucapnya khawatir. Tapi Gema sudah bergerak menyendok isi di dalam mangkuk, " aku tidak menghargai istriku, kalau sama sekali tidak menyentuhnya ", ucapnya pada Rose. Dan Rose tidak lagi bisa membantah saat itu. Dan setelah beberapa kali menyendok makanan di hadapannya, Gema mulai beranjak. Sementara Rose masih menatap khawatir, takut lelaki itu akan sakit perut karena memakan, makanan kemarin.
Gema tiba-tiba berbalik, setelah kakinya hampir tiga meter melangkah, " apa Rea sudah lama pergi ? ", katanya bertanya. Rose yang baru saja ingin kembali membawa mangkuk, kembali menghentikan gerakannya, " beberapa menit sebelum tuan tiba ", jelasnya singkat. Gema masih tetap menghadap ke arahnya, dan seperti kembali ragu untuk bertanya, " Rose ", panggilnya kembali.
" Ya Tuan ",
" Emmm, kau menemaninya semalam ? " tanyanya sungkan. Rose menggeleng, " aku tidak tahu, kalau Tuan tidak ada ", ucapnya. Gema seperti tersindir oleh ucapan itu, dan hanya senyum hambar yang keluar dari mulutnya. Setelah menundukan diri padanya, Rose benar-benar kembali ke dapur.
Gema menghela, perasaan bersalah menyeruak di hatinya saat ini. Ia sedikit menyesal karena tidak pulang tadi malam, dan bahkan tak memberi kabar sama sekali.
Ia mengayuh langkah kakinya dengan perasaan hampa. Perasaan dilema menyudutkannya saat ini.
__ADS_1
Dan ia semakin merasa tak nyaman, ketika berada di ujung tangga, dan menghadap tepat pada foto pernikahannya, " Tapi mungkin, dia juga tidak menungguku ",katanya menerka-nerka. Di dalam pikirannya, bahwa perempuan yang berada di dalam gambar di hadapannya, memang tidak pernah menganggapnya spesial. Ia memang tidak perlu merasa bersalah, pernikahan mereka hanya kontrak, dan Rea pasti mengerti kenapa dia tidak kembali. Seperti itu yang ada dalam pikirannya.
Ia tidak tahu, bahwa badai tadi malam, bukan hanya terjadi di luar apartemen Bella, tetap juga di bawah atap rumah itu.
~
Gelembung sembab pada kelopak mata coklat indah Rea, masih terlihat sampai sore hari, sampai perempuan itu hampir selesai dengan pekerjaannya.
Ia menyandarkan tubuhnya di singgah sana ruang kerjanya, dengan Maria yang duduk di seberang meja, tepat di hadapannya. Sepanjang hari, perempuan itu tidak berhenti mengamati Rea.
Rea yang sepanjang hari hanya diam, dan hanya berbicara ketika berhadapan dengan kliennya. Rea yang sepanjang hari belum menyentuh makanan apapun, termasuk sandwish yang di siapkan oleh Rose tadi pagi. Dan Rea yang terus melamun sepanjang perjalanan mereka pergi.
" Anda belum makan apapun Nona ! ", katanya memberanikan diri. Rea yang saat itu memejamkan matanya dengan tubuh yang bersandar, tidak bereaksi apapun, " anda akan sakit jika tidak makan nona", tambahnya lagi.
Rea terlihat menghela, " ya kau benar ", ucapnya tiba-tiba seraya membuka mata, dan menegakkan posisi duduknya, " Aku tidak boleh sakit ", katanya sedikit serak. Dahi Maria sedikit berkerut mendengar suara itu. Hal itu, bukan sesuatu yang biasa ia dengar. Tapi ia tak cukup berani untuk mengamati wajah perempuan di hadapannya.
" Ingat Rea, kau tetap sendiri ", gumam perempuan itu. Meski suaranya begitu kecil, tapi Maria masih bisa mendengarnya.
Rea hanya sanggup menyentuh seperempat bagian dari makanan di hadapannya. Perutnya seperti menolak, dan lidahnya seperti hilang rasa saat ini. Dan ia menjadi prustasi dengan keadaannya sendiri, ia bahkan membenci dirinya sendiri. Dirinya yang sudah kalah dengan prinsipnya sendiri. Prinsip yang ia bangun pada hatinya, bahwa ia tidak akan menerima siapa pun lagi disana. Dan kini, ia mengingkarinya.
Tapi kini, ia tak cukup kuat membayangkan apa yang sedang terjadi tadi malam, pada Seseorang yang baru ia sadari, kalau dirinya sudah jatuh cinta. Dan tadi malam, seseorang itu berada di pelukan kekasihnya.
Ia menghela dalam nafasnya, untuk menahan tangis di hadapan Maria. Perempuan itu tak perlu tahu dengan kerapuhannya saat ini, dengan kesedihan yang ia rasakan. Bahkan siapa pun tak boleh tahu.
" Bukan kah sudah waktunya lagi kita bertemu klien ", katanya setelah berusaha meredahkan rasa perih di hatinya.
Maria mengangguk, " anda yakin ini sudah cukup ", katanya menatap pada makanan di hadapan mereka dan Rea mengangguk, " aku sedang diet ", katanya berusaha tersenyum, berusaha membuat normal dirinya kembali.
" Apa anda ingin lebih kurus dari Bella Hadid ! ", sergah Maria sambil beranjak. Dan Rea berhasil tersenyum saat itu.
__ADS_1
~
Mata Rea terkesiap ketika bertemu dengan klien terakhirnya hari ini.
Ia berjalan dengan tersenyum, menghampiri salah satu orang yang sudah duduk di dalam ruang VIP di dalam restoran terkenal kota London, " Darrel", katanya memanggil. Ia tak peduli pada dua orang lainnya yang juga berada di dalam ruang itu.
" Rea ", seru lelaki itu sedikit terkejut. Ia tak menyangka kalau perempuan itu menjadi kliennya hari ini, begitu pun Rea.
Tanpa menunggu, Gema langsung beranjak dari duduknya. Menyambar tubuh Rea untuk di peluknya erat, " bagaimana kabar pengantin baru ini ", tanyanya.
" Kau lihat sendiri ", sahut Rea tersenyum, Namun bersamaan kalimat itu berhasil membuat rasa perih kembali muncul di hatinya, " kau benar-benar tidak datang hari itu ", katanya mengungkit pada hari pernikahannya.
Darrel tersenyum kecut, lelaki campuran Asia itu tak bisa memberi alasan kenapa tidak hadir pada hari itu.
" Kau yang memiliki proyek ini ? " tanya Rea, setelah duduk di salah satu kursi. Darrel mengangguk malu.
" Kalau begitu tak banyak yang harus kita bicarakan ", sambung Rea. Mendengar itu Darrel terkesiap, " aku percaya padamu ", katanya lagi.
" Kalau tahu seperti ini, aku tidak perlu membawa mereka ", ujar Darrel, menyebut manager dan penasehat hukum perusahaan yang ikut berada di ruangan itu.
" Tapi walau begitu, aku harus tetap mempelajari berkas-berkasmu lebih dulu. Tolong berikan filenya pada Maria " pintanya dan lelaki yang berprofesi sebagai manager lelaki itu, langsung memberikan yang ia minta.
" Pelajari Maria, dan berikan padaku setelahnya ", katanya lagi pada Maria.
" Beri waktu aku tiga hari ", kata Rea menentukan. Dan Darrel mengangguk, " jadi hanya seperti ini pertemuan kita ? ", tanyanya tak percaya dan Rea mengangguk seraya tersenyum.
" Jadi sungguh sudah selesai ? ", tanyanya lagi,
Bahkan ia membuat kedua rekan kerjanya menahan diri untuk tidak tertawa. Begitu pun Maria.
__ADS_1
" Tidak, kalau kau berniat untuk ikut denganku ke Bar di tengah kota malam ini ", ucap Rea. Sontak mata Maria membesar mendengar itu. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja perempuan itu katakan. Tapi Darrel dengan tersenyum, ia langsung mengangguk.
" Aku memang merindukan saat beradu gelas denganmu ", ucapnya dan Rea tertawa, " siapa takut ", balasnya. Ia tak mengidahkan Maria yang ia sadari kini tengah menatapnya heran.