KITA Hanya MENIKAH

KITA Hanya MENIKAH
Terlalu Cepat ?


__ADS_3

" Terimakasih Rose makananmu sungguh sangat enak " ucap Gema sambil beranjak dari meja makan.


" Terimakasih Tuan , tapi yang memasak bukan aku tapi koki di rumah ini " jelas Rose menahan senyuman , " kau menyukai makanan mereka ? " tanya Rea menimpali dan Gema mengangguk.


" Baguslah kalau begitu jadi aku tidak perlu repot-repot mencari koki baru " tambah Rea.


" Kenapa anda harus mencari koki baru Nona " timpal Rose yang tidak mengerti.


" Tidak itu tidak perlu , selera makanku begitu buruk jadi aku bisa makan apa saja selama makanan itu masih mempunyai cita rasa " ucap Gema , sementara Rose masih terdiam dengan mengamati situasi apa yang sedang di bicarakan di hadapannya , " baguslah kau membuatnya sangat mudah Gema " kata Rea sedikit tersenyum.


" Tentu , aku sungguh tidak akan menjadi suami yang merepotkanmu nanti " balasnya dengan tertawa , dan mereka tidak menyadari jika kini ada sepasang bola mata yang membesar oleh kata Suami yang baru terlontar dari mulut Gema.


" Baiklah aku harus pergi " pamitnya dan Rea mengangguk sambil ikut berjalan mengiringi langkah Gema menuju pintu utama rumahnya , " telepon aku jika ada yang ingin kau bicarakan tentang pernikahan ini " katanya lagi dan Rea kembali mengangguk.


" Berhati-hatilah " ucap Rea.


" Ya , sampai bertemu lagi " balas Gema sebelum masuk ke dalam mobil miliknya , " tapi tunggu Rea " panggilnya , membuat wanita itu membatalkan langkah kakinya yang baru saja akan beranjak masuk ke dalam rumah , " ada apa ? "


" Kita belum bicara tentang kapan pernikahan ini akan terjadi "


Rea terdiam sejenak , " Apa minggu depan terlalu cepat " katanya kemudian membuat Gema sedikit terkejut , " apa kau ingin secepat itu , sebenarnya aku tidak masalah tapi waktunya begitu singkat , apa kau yakin kita bisa mengurusnya secepat ini ? "


" Itu hanya hal yang mudah Gema "


" Jadi kau yakin kita akan menikah minggu depan "


" Tentu , jika kau sendiri juga tidak keberatan "


" ceh , bahkan esok pun aku sudah siap " balas Gema tertawa.


" Kau terdengar paling tidak sabar " kata Rea dan lelaki itu semakin tertawa lebih keras , " emmm , kalau begitu pulang nanti aku akan langsung mengatakan rencana ini pada ayah dan ibuku "


" Kau sendiri yang mengatakannya ? "


" Tentu Rea , memang siapa lagi yang akan mengatakannya selain aku "


" Maksudku apa kita tidak perlu mengatakan itu bersama "


" Tidak , biar ini menjadi urusanku sementara kau cukup mengurus apa saja yang kau butuhkan untuk hari itu "


" Ya baiklah kalau begitu aku percayakan urusan paman padamu "


" Tentu, lalu kapan kita akan mencoba gaun pernikahan kita nanti "


" Gema kau benar-benar terlihat tidak sabar "


" Hemmm.. sepertinya memang begitu , ntah kenapa tiba-tiba saja aku merasa begitu bersemangat untuk berada di altar pernikahan " katanya tertawa.

__ADS_1


" Ceh , padahal kau tahu hari itu kau sedang melakukan dosa besar "


" Dosa besar ? "


" Hemm.. apa kau lupa bahwa hari itu kita akan membuat janji di hadapan pendeta di dalam sebuah pernikahan kontrak " jelas Rea ikut tertawa sementara Gema terlihat sedikit terkejut , " apa itu tidak masalah ? " tanyanya begitu polos.


" Ntahlah , berdoa saja dan meminta ampun supaya Tuhan tidak menghukum kita nanti " kata Rea dengan terus tertawa , " itu tidak lucu Rea " tukas Gema , membuat Rea semakin tertawa begitu keras.


" Masuklah "


" Ya "


" Setelah ini apa yang akan kau lakukan ? " tanya Gema sebelum kembali ingin pergi.


Rea mengangkat kedua bahunya , " ntahlah , mungkin aku akan melanjutkan pekerjaanku , emm atau mungkin aku akan pergi kerumah Devita untuk menjelaskan semuanya "


" Ada apa ? "


" Tidak , tidak apa-apa " balas Gema sambil menggelengkan kepalanya , " apa kau ingin kita pergi bersama ke rumah Devita "


" Emm.. tidak tidak Devita biar menjadi urusanku sementara kau selesaikan urusannya bersama paman , ini terlihat adil bukan "


" Baiklah .. " kata Gema sedikit ragu dan Rea menyadari itu.


" Apa lagi ? "


Rea terdiam sesaat , " tidak Gema jangan repot-repot seperti itu "


" Bukan repot-repot tapi aku sedang berusaha menjadi suami yang baik untukmu nanti "


" Kau terlalu berlebihan Gema , kau sungguh tidak perlu sampai melakukan hal seperti itu "


" Terserah padamu tapi aku akan melakukannya jadi kau harus menelponku jika nanti kau sudah ingin pulang dari rumah Devita " ucapnya tanpa ingin kembali ada bantahan , " aku pergi dulu " pamitnya lagi lalu benar-benar membawa mobilnya pergi meninggalkan perkarangan rumah Rea.


" Kenapa dia menjadi berlagak seperti calon suami sungguhan " gumam Rea yang masih terdiam di hadapan pintu lalu kembali ke dalam rumah setelah menyadari tidak ada lagi alasan untuk dia berada disana.


~


Rea menyadari saat mata Rose terus melihat padanya , ia tahu pasti ada sesuatu yang wanita paruh baya itu ingin tanyakan tapi ia menahannya karena takut hal itu begitu lancang , " ada apa Rose ? " tanyanya dengan sedikit tersenyum.


" Tidak Nona.. " jawab Rose gugup dan dengan cepat mengalihkan pandangannya dari perempuan itu.


" Aku akan menikah dengan Gema " ucap Rea tiba-tiba dan itu berhasil membuat bola mata Rose nyaris keluar dari tempatnya , " kau pasti penasaran dengan hal itu kan Rose " tandas Rea dengan kembali tersenyum.


" Apa ini benar Nona ? " tanya Rose tidak percaya.


" Hemm.. aku tidak mungkin berbohong padamu Rose " balasnya begitu lembut , " duduklah " pintanya kemudian , dan Rose langsung menurut dengan duduk di sisi sofa yang sama dengannya , " minggu depan pernikahan itu akan terjadi " lanjutnya lagi.

__ADS_1


" Nona aku masih terkejut dengan adanya kabar rencana pernikahan ini dan ada kembali menambahkannya dengan berita itu lagi " protes Rose membuat Rea kembali tertawa , " maafkan aku tapi sungguh pernikahan itu akan terjadi minggu depan "


" Maaf aku begitu lancang bertanya tentang ini , tapi nona... "


" Kenapa pernikahan ini begitu cepat , itu kan pertanyaanmu " potong Rea dan Rose mengangguk pelan.


" Tidak kenapa-kenapa Rose , kami hanya ingin pernikahan ini cepat terjadi dan tidak ada alasan untuk menundanya lagi " kata Rea menjelaskan.


" Ya anda benar , tapi ini sungguh mengejutkan aku nona "


" Aku sendiri pun masih tidak percaya Rose " balas Rea tersenyum.


" Lalu apa yang harus aku lakukan untuk persiapan pernikahan anda nanti nona "


" Tidak , kau tidak perlu melakukan apapun , kau hanya perlu menyiapkan pakaian yang bagus untuk kau gunakan pada hari itu "


" Ceh , anda bercanda nona tentu hari itu akan tetap menggunakan pakaian ini " kata Rose sambil melihat kembali pada seragam kerja yang ia gunakan sebagai kepala pelayan di rumah itu , " tidak Rose , aku tidak ingin hari itu kau menggunakan pakaian ini ,kau bukan datang sebagai pelayanku tapi kau datang sebagai kerabat dekatku" kata Rea tersenyum teduh.


" Tapi Nona .. "


" Tidak ada tapi-tapian Rose , ini perintah apa kau ingin menentangnya hemm "


" Tidak nona " jawab Rose menunduk.


" Kalau begitu dari mulai besok carilah baju yang bagus untuk hari itu , aku akan mengirimkan uang untuk membelinya ke rekeningmu "


" Itu tidak perlu nona , aku bisa mem... "


" Rose.... Apa kau masih ingin menentang keinginanku .. "


" Tidak Nona " jawab Rose cepat.


" Kalau begitu menurutlah "


" Baik Nona "


" Nona... " panggil Rose pelan.


" Hemm.. "


" Apa aku boleh memeluk anda ? " pinta Rose dengan begitu hati-hati , sementara Rea kembali terdiam sesaat , " sejak kapan aku pernah menolak pelukanmu ,kemarilah " kata Rea kembali tersenyum dan Rose segera mendekap tubuhnya dengan begitu erat , " aku sungguh bahagia mendengar kabar ini nona " kata Rose dengan begitu tulus.


" Selama ini aku begitu menanti hari ini dan aku sangat senang saat mengetahui bahwa lelaki itu adalah Tuan Gema " lanjutnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


" Semoga pernikahanmu nanti di limpahkan kebahagian Nona , sungguh hanya itu yang selalu aku harapkan " kata Rose yang kini sudah menangis karena begitu terharu.


" Terimakasih Rose , aku tahu kalau kau sangat menyayangiku " ucap Rea tersenyum dengan tangan yang mengusap lembut punggung Rose yang masih memeluk erat tubuhnya , ntah kenapa kini perasaannya tiba-tiba menjadi gundah seiring doa yang di lontarkan oleh kepala pelayan di rumahnya itu dan rasanya doa itu begitu tulus untuk sebuah pernikahan yang nanti akan di akhiri.

__ADS_1


__ADS_2