KITA Hanya MENIKAH

KITA Hanya MENIKAH
Apa Kau sedang Menyesal ?


__ADS_3

Dahi Gema sedikit berkerut, " biar aku yang menyusulnya " pamitnya pada semua orang, sambil berjalan pergi menyusul langkah Rea.


" Gem biar aku yang menyusulnya " ujar Devita menghambat langkah kakinya, " kau tetap disini. Tamu akan kebingungan kalau kalian berdua menghilang ".


Mendengar itu Gema terdiam sesaat dengan kebingungan. Langkahnya terhenti.Namun matanya tak berhenti menatap pada punggung yang semakin menjauh, " baiklah " jawabnya lemah.


" Jangan khawatir dia hanya sedikit emosional hari ini " kata Devita sedikit tersenyum, lalu berjalan menyusul sahabatnya.


Sementara Kris, kini terdiam dengan rasa bersalah. Seharusnya memang dia tak mendekat dan seharusnya memang dia lebih tahu diri, begitu perasaannya saat ini.


Matanya berkaca-kaca menatap tubuh yang semakin menjauh, " maafkan ibu, yang telah merusak hari bahagiamu " gumamnya menahan isak.


" Dia hanya butuh waktu Nyonya Brookstein " ucap Frans dengan tenang.


Dahi Elba sedikit berkerut mendengar itu. Kini ia menjadi semakin bingung apa yang sebenarnya sedang terjadi, " ada apa dengan Rea ayah ? " tanyanya dalam suasana yang semakin dingin, di tengah hiruk pikuk suasana para tamu.


Frans hanya memejamkan matanya sesaat. Memberi pertanda, kalau belum saatnya ia menjelaskan keadaan itu sekarang.


Gema kembali mendekat dengan wajah yang senduh. Ia sungguh tidak bisa berbohong bahwa saat ini perasaannya begitu gundah memikirkan istrinya yang tiba tiba pergi.


Yang ada di pikirannya, mungkin Rea tengah menyesali apa yang baru saja terjadi antara mereka. Menyesali pernikahan yang hanya di landasi oleh sebuah perjanjian. Begitu pikirnya dan itu sungguh membuatnya tidak tenang.


" Maaf Nyonya Brookstein. Mungkin saat ini, istri saya sedikit tidak enak badan. Aku harap kau mengerti " ucapnya lemah dan berusaha untuk tetap tenang, di tengah pikiran yang tidak bersamanya.


Kris terdiam, menatap laki laki yang kini resmi menjadi menantunya, meski lelaki itu sendiri tidak mengetahui.


Hatinya semakin merasa bersalah  menatap pada wajah sendu Gema, seharusnya bukan lelaki itu yang meminta maaf, tapi dirinyalah. Karena ia yang menyebabkan mempelai wanita pergi dari sana.


" Jangan khawatir, istrimu pasti kembali " ucap Frans pada putranya.


Lelaki muda itu mengangguk lemah dengan mata yang terus menatap pada punggung yang sudah menghilang.


" Sebaiknya aku pergi " ucap Kris tiba-tiba.


Semua orang menatap padanya, terlebih Frans, " tetaplah disini nyonya " pintanya, lalu terdiam sesaat, " dia hanya butuh waktu " sambungnnya begitu lemah. Namun, perkataannya masih terdengar di telinga Gema.


Membuat lelaki itu memandang heran dengan dahi yang sedikit berkerut.


" Tidak. Aku harus pergi. Aku yakin selama aku disini dia tidak akan kembali " ucap Kris lemah, " maafkan aku " sambungnya. Seraya menghela nafas, ia meningglakan semua orang yang kini semakin menatap heran padanya.


" Yah... " panggil lemah Gema pada Frans dan menatap dengan dahi yang masih bekerut.


Kini Frans hanya tersenyum kaku, tanpa berani menjelaskan situasi yang baru saja terjadi, " sapa semua tamumu. Katakan istrimu sedang berada di ruang make up " pintanya pada putranya dan mencoba untuk mengalihkan rasa penasaran dari lelaki mudah itu.


~


" Rea " panggil Devita di dalam ruangan dengan suaranya yang bergema.

__ADS_1


" Rea... " panggilnya begitu pelan, saat matanya menemukan wanita itu tertunduk di hadapan cermin.


Dari tempatnya, Devita dapat melihat jelas bayangan dari cermin.


Mata yang kini memerah dengan tangan yang terus bergerak untuk menyeka air matanya.


" Rea... " panggilnya lagi. Langkahnya kini semakin dengan tubuh sahabatnya, " tinggalkan aku Dev. Aku sungguh ingin sendiri saat ini " pinta Rea serak.


" Tidak Rea. Aku tidak akan meninggalkanmu " balasnya cepat.


" Bahkan itu tidak mungkin " sambungnya lagi.


Suasana kemudian menghening. Dan kini tidak ada lagi terlihat air mata jatuh dari mata wanita yang hari ini menjadi mempelai wanita. Namun, mata sembab dan heleaan nafas yang terus berulang. Tidak mampu menutupi bahwa saat ini suasana hatinya masih belum membaik.


Devita mendekat, lalu di dekapnya tubuh Rea, " jangan menangis lagi. Jangan rusak wajah cantikmu dengan air mata " ucapnya penuh emosional. Padahal saat ini, ia sendiri menahan setengah mati untuk tidak menangis di hadapan wanita itu.


" Jika semua orang melihatmu seperti ini. Mereka pasti akan mengira, kau tidak menginginkan pernikahan ini " sambungnya, " dan besok pagi. Aku pastikan beritamu akan ada di Media " lanjutnya dengan sedikit tertawa. Dan ia sengaja melakukan itu demi mencairkan suasana hati yang begitu kacau.


Kemudian ia bergerak, mengangkat kain bajunya menuju wajah Rea dan Tanpa meminta izin ia merapikan riasan wajah yang kini terlihat sedikit berantakan, " tidak ada tissue " ucapnya saat melihat sang pemilik wajah yang ingin protes dengan ulahnya.


" Kau begitu jorok " umpat Rea dengan perlahan ujung bibir yang melengkung.


" Bukan jorok. Ini namanya usaha Rea " balas Devita, " Perfect " ucapnya lagi, setelah melihat riasan wajah Rea kembali sempurna berkat tangannya.


" Ceh " decih Rea dan kali ini ia benar tertawa.


" kau pikir aku badut huh "


" Hei.. " potongnya, " seorang mempelai di larang protes. Memang seperti itu yang harus di lakukan oleh seorang mempelai. Kau harus memperlihatkan wajah bahagia, di hari kebahagiaanmu ".


" Kenapa terdengar begitu miris "


" Bukan miris. Tapi itu hal yang masuk akal Rea. Karena sepatutnya memang begitu " jelas Devita, " aku yakin kau juga akan merasa heran, saat melihat seorang mempelai menangis di hari pernikahannya. Kau juga akan berpikir yang tidak tidak, bukan ? " sambungnya dengan serius. Namun, dirinya menjadi kesal saat melihat wanita di hadapannya menggelengkan kepala, " tidak, aku rasa aku tidak pernah repot-repot untuk memikirkan urusan orang lain " tepis Rea.


Devita menghela nafas, " tidak semua orang sepertimu Rea. hanya tiga persen populasi manusia di dunia ini yang tidak memiliki empaty sepertimu " ucapnya ketus dan itu justru membuat Rea tertawa begitu keras, " kenapa kau menjadi marah " serunya seraya mendekap mulutnya.


" Kau menyebalkan " umpat Devita. Namun, kemudian ia ikut tersenyum, setelah menyadari sahabatnya kini sudah tertawa, " jangan menangis lagi Rea " ucapnya lemah, dengan mata yang menatap serius pada sorot mata coklat sahabatnya, " kau harus bahagia hari ini " sambungnya lagi. Ia terdiam sejenak,ada banyak kata yang ingin ia bicarakan dan itu menyangkut seseorang yang mungkin akan membuat suasana wanita di hadapannya kembali tidak baik. dan ia memilih mengurungkannya.


" Semua orang merasa heran karena kau mendadak pergi " ucapnya lagi. Sementara Rea terdiam, " Dan kau membuat suamimu panik " katanya lagi.


Mendengar itu mata Rea mengercap, " suami " ulangnya di dalam batin. Ia masih merasa begitu asing dengan sebuah kata yang kini akan menjadi hal yang sering ia dengar dan ia seperti belum siap akan hal itu.


Bagaimana tidak. Pernikahan yang baru saja terjadi benar-benar tidak bisa membuatnya percaya, bahwa kini ia sudah menjadi seorang istri. Ini terjadi begitu cepat untuk merubah kehidupan wanita yang semula tidak pernah ingin menikah.


" Hei.. " seru Devita sambil mengibas tangannya ke hadapan wajah yang kini termenung.


" Emm.. ya " sahut Rea sedikit tersentak.

__ADS_1


" Keluarga mertuamu juga mengkhawatirkanmu " lanjut Devita.


" Aku belum siap untuk kembali melihatnya Dev " ucap Rea lemah dan mata yang kembali menatap sendu, " Dia meminta maaf, dan aku benci mendengarnya " sambungnya. Matanya kini menyorotkan sedikit kemarahan.


Semula Devita terdiam dan sedikit menarik nafas, " mungkin saat ini dia tengah menyesal dengan apa yang sudah ia lakukan padamu Rea ".


" Apa itu terdengar tidak lucu Dev " potong Rea tertawa, " itu sungguh sangat konyol " sambungnya. Bibirnya melengkung. Namun, sorot tajam dari matanya tidak memudar.


" Aku melihat dia menangis .... " ucap Devita begitu pelan. " Saat ini mungkin dia memang sedang menyesali perbuatannya Rea.. ".


" Hentikan Dev.. " bentak Rea.


" Memang apa yang akan berubah jika saat ini ia menyesal " lanjutnya dengan sangat marah, " kehadirannya tidak lagi di butuhkan saat ini Dev. Dan kau...., Kau tidak tahu bagaimana menjadi aku selama ini ".


" Maafkan aku.. " ucap Devita. Saat ini hanya itu yang bisa ia katakan pada sahabatnya. menyadari jika ia mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya justru akan membuat suasana hati sahabatnya akan semakin kacau. Dan ia tidak mau itu terjadi, mengingat hari ini adalah hari bahagia perempuan itu.


" Maafkan aku " ulangnya bersungguh-sungguh.


" Kau cukup mengabaikannya Rea. Jangan merusak hari yang hanya terjadi sekali dalam hidupmu, hanya karena hal-hal yang masih dapat di singkirkan " sambungnya.


Rea menarik nafas, dengan emosi yang perlahan memudar.


" Setidaknya pikirkan, pikiran orang lain yang akan menilai tentang suamimu dan Paman Frans jika kau belum kembali. Kau mungkin bisa tidak peduli tapi aku rasa mereka tidak Rea " kata Devita kembali menjelaskan.


Dan tiba tiba terdengar suara langkah kaki yang mendekat, membuat dua wanita itu melihat bersamaan.


" Gema " seru Devita sedikit terkejut. Sementara Rea cukup tersentak dengan pupil mata yang membesar. " Istrimu baru saja akan kembali " jelas Devita, saat menemukan sorot mata yang menatap sendu pada mereka.


" Boleh tinggalkan kami Dev " ucap lelaki itu pelan dan Devita dengan cepat mengangguk, " tentu " jawabnya sambil beranjak dari hadapan Rea, meski sorot mata perempuan itu menolak kepergiannya.


" Cepat kembali. Atau semua orang akan mengira kalian sudah tidak sabar..." serunya tertawa setelah berhasil menggoda sepasang manusia yang baru saja menikah dengan kalimat ambigunya.


Langkah kaki Gema perlahan mendekat, setelah Devita benar-benar pergi. Dan Rea menyadari sorot mata yang menatap senduh padanya.


" Kenapa kau kemari. Aku baru saja ingin kembali " ucapnya dengan sedikit tertawa.


" Apa kau sedang menyesal ? " potong dari suara laki-laki di hadapannya.


Mendengar itu dahi Rea sedikit berkerut, " maksudmu ? " tanyanya tak mengerti.


Gema menghela nafas, " abaikan " ucapnya tersenyum hambar.


" Ayo. Semua orang menunggu waktu untuk melempar bunga " ajaknya, seraya mengulurkan tangannya ke hadapan Rea.


" Ceh, aku cukup geli membayangkannya " balas Devita tertawa. Namun, berbeda dengan lelaki di hadapannya, yang kini menatapnya dengan penuh arti dan tanpa seutas senyum, " kau harus melakukannya demi akting sempurna hari ini " katanya lemah.


Deg

__ADS_1


Tawa Rea memudar seketika oleh kalimat yang baru saja keluar dari mulut laki-laki yang baru saja resmi menjadi suaminya, " ya akting " ulangnya lemah, dan kembali tersenyum dengan ujung bibir yang sedikit melengkung


__ADS_2