KITA Hanya MENIKAH

KITA Hanya MENIKAH
Pasangan


__ADS_3

Rea memilih menggunakan mini dress warna putih sesuai warna dresscode yang tertulis dalam undangan , rambut panjangnya yang ikal ia biarkan tergerai untuk menutupi sedikit bagian punggung yang memang ia biarkan terbuka karena demikian model dress yang ia gunakan, dan untuk mempermanis penampilannya ia gunakan anting berbentuk bunga tulip di telinganya.


" Perfect " puji Maria pada Nona besarnya.


" Cepat ganti pakaianmu Maria dan ingatkan aku nanti untuk memberi ucapan pada mempelai " ujar Rea dan Maria mengangguk mengerti.


Drrrtttt


Drrrrtt " handphone yang di letakan di atas nakas tiba-tiba berbunyi , " tolong ambilkan handphoneku Maria " pinta Rea karena ia sibuk mengoreksi penampilannya di hadapan cermin.


" Nyonya Kris " kata Maria menyebutkan nama kontak yang sedang berada di layar handphone lalu memberikan benda pipih itu pada pemiliknya.


mendengar itu seketika Rea menghentikan gerakannya dan menatap lamat-lamat pada layar handphone yang baru saja berada di tangannya itu , " ada apa dia menghubungiku " gumamnya dengan terus menatap layar handphonenya hingga panggilan telepon itu berakhir tanpa ia jawab.


Drrrttt


drrttt " benda pipih itu kembali bergetar dengan suka atau tidak suka kini Rea harus menjawab panggilan itu , " Hallo " jawabnya pelan dan jantung yang berdetak tak menentu , telapak tangannya mulai berkeringat dan itu selalu terjadi setiap kali ia akan berbicara pada wanita yang kini tengah menghubunginya , andai saja disana ada Devita mungkin ia sudah menggenggam tangan perempuan itu dengan begitu erat.


Dan tiba-tiba saja Maria mengulurkan tangannya ke hadapan Rea dengan senyum teduh yang memberi ijin kepada perempuan itu untuk menggenggam tangannya seperti yang biasa dia lakukan pada Devita dan tanpa menolak Rea segera menggenggam tangan Maria bahkan sedikit mencengkramnya untuk mengurangi sedikit ke gelisahannya saat ini , " Ada apa anda menghubungiku Nyonya ? " tanyanya dengan suara yang sedikit bergetar.


" Apa aku harus mempunyai alasan untuk menghubungimu ? " tanya dari balik telepon membuat Rea terdiam sesaat , " Ya kau tentu tahu Nyonya Kriss aku memang begitu sibuk untuk sekedar berbasa-basi "


" Ceh , Nyonya Kriss " ulang dari seberang telepon.


" Aku sedang menghadiri acara pernikahan jadi tolong cepat katakan apa yang anda inginkan Nyonya ".


" Ya ya aku tahu kau wanita yang sibuk tapi setidaknya luangkan waktumu sebentar ketika aku menghubungimu "


" Ceh , kenapa harus begitu ? "


" Karena aku tidak akan sering menghubungimu jadi bersyukurlah ketika aku melakukan itu "

__ADS_1


" Justru aku lebih senang jika anda tidak menghubungiku sama sekali nyonya "


" Kau begitu sombong Rea bagaimana pun aku ibumu "


" Ibu " ulang Rea , " ya ya ya kau benar , ibu yang sudah membuangku tolong jangan lupakan tentang hal itu Nyonya Kris " sambungnya.


" Aku rasa tidak ada hal yang begitu penting yang ingin anda sampaikan , jadi mohon maaf aku harus mengakhiri panggilan ini dan selamat sore Nyonya Kris " pamitnya sebelum menutup panggilan telepon tanpa sempat membiarkan Kris berbicara.


" Terimakasih Maria " ucapnya sambil melepas tangan wanita itu dari genggamannya ,


telepon singkat itu benar-benar berhasil mengubah suasana hatinya saat ini , wajahnya yang tadi berseri kini memadam berganti dengan kemurungan serta helaan nafas yang begitu dalam , " mungkin beliau merindukan anda " ucap Maria mencoba menenangkan.


Bibir Rea tersungging " itu tidak mungkin " balasnya tersenyum hambar lalu berjalan menuju balkon hotel , " cepatlah ganti pakaianmu aku akan menunggu disini" pintanya dari balkon.


" Baik Nona " balas Maria tanpa membantah atau mengajaknya bergurau karena ia tahu suasana hati perempuan itu pasti sedang begitu tidak baik saat ini.


Rea kembali menghela nafas berusaha untuk memperbaiki sedikit suasana hatinya saat ini , perasaannya selalu tidak bisa baik-baik saja setelah berbicara dengan Kris walau kadang pembicaraan mereka hanya begitu singkat , namun mampu mengangkat kembali luka lama di dalam hatinya , " Ceh , kenapa aku harus lahir dari seorang ibu seperti dia " gumamnya bersama hidung yang terasa mulai perih oleh emosi yang tertahan.


Air mata jatuh tanpa pamit di wajah cantik Rea dan ia biarkan begitu saja terus mengalir tanpa ingin mencegahnya , karena hanya dengan begitu sesak di dadanya akan berkurang , " Tuhan ini masih begitu menyakitkan " gumamnya dalam tangisan yang semakin terdengar pilu.


Trauma dan masalalu yang begitu menyakitkan selalu melintas di pikirannya setiap ia mendengar suara Kris ,


tangisan yang di abaikan dan kasih sayang yang tidak pernah ia rasakan saat dulu benar-benar berhasil membuat trauma dalam dirinya hingga saat ini dan membuatnya percaya satu hal bahwa tidak ada satu pun orang di dunia yang benar-benar menyayanginya kecuali Devita sahabat yang terus bersamanya sampai saat ini.


Perlahan ia akhiri tangisannya saat sesak di dadanya sudah jauh lebih berkurang , matanya kini menatap pada kerumunan orang-orang yang berada di dalam sebuah pesta yang akan ia hadiri sebentar lagi.


Langit sore begitu cerah hari ini seolah berpihak pada sang pemilik acara yang sedang berada dalam ke bahagiaan dan begitu kontras dengan keadaan dirinya yang terpojok sendiri di sebuah balkon dengan tangisan pilu , bibir Rea tersenyum hambar dan menyadari memang seperti itu kehidupan akan selalu tidak adil untuk seseorang yang merasa hidupnya begitu menyedihkan seperti dirinya , " kenapa orang lain bisa terlihat begitu bahagia " gumamnya sambil terus melihat pada kerumunan orang-orang yang terus berbicara dengan tertawa.


Tok tok tok


Rea tersentak dari lamunannya saat pintu kamarnya terdengar bunyi ketukan dan segera ia beranjak untuk melihat siapa yang datang ke kamarnya saat ini karena Maria tentu akan langsung masuk.

__ADS_1


Tok tok tok " ketukan pintu itu kembali terdengar bahkan kali ini terdengar sedikit tidak sabar untuk segera di buka ,


" Rea " panggil seseorang dari balik pintu.


Langkah Rea terhenti tiba-tiba dan menyadari siapa yang kini berada di balik pintu kamarnya , " Gema , ada apa dia kemari " gumamnya bingung dan menunda langkahnya menuju pintu dengan beralih menuju cermin yang tidak jauh darinya , " astaga riasanku " ujarnya terkejut saat melihat eyeliner yang sedikit meleber di bagian bawa matanya.


" Menyebalkan " geramnya sambil mengambil tissue dan membetulkan kembali make up di wajannya , " Rea apa kau di dalam ? " tanya dari balik pintu.


" Ya tunggu sebentar Gema " balasnya dan setelah merasa penampilannya sudah kembali cukup baik ia segera berjalan menuju pintu , " ada apa Gema ? " tanyanya sedikit gugup.


" Apa kau sudah selesai ? " tanya laki-laki itu.


" Ya " balas Rea dengan mengangguk ragu.


" Ayo acaranya sebentar lagi akan di mulai " ajak Gema tanpa menunggu , " emm pergilah lebih dulu Gema , aku harus menunggu asistenku " .


" Dia tidak akan pergi "


" Maksudmu ? "


" Ya asistenmu sendiri yang mengatakan padaku kalau dirinya tiba-tiba sakit perut dan memintaku untuk menemanimu di pesta " jelas Gema , Rea menarik pelan nafasnya dan mengetahui dengan jelas kalau itu hanya rencana cerdik Maria untuk membuat dirinya pergi bersama Gema.


" Maaf aku begitu merepotkanmu "


" Tidak Rea aku juga tidak mungkin berada disana sendiri , sebelum asistenmu datang aku sudah berencana untuk mengajakmu pergi bersama "


Mendengar itu tanpa sadar wajah Rea memanas dan bersemu merah , namun masih tertutupi oleh warna blass on merah mudah yang menghiasi pipih halusnya saat ini , " tunggu sebentar " pinta Rea yang kembali masuk ke dalam kamar untuk mengambil handbag dan memasangkan heels di kakinya.


" Ayo " ajaknya setelah siap dan Gema tentu menyetujui walau sebelum itu ia sempat menatap begitu lama pada wajah cantik Rea dengan mata yang sedikit memerah.


" Kau begitu cantik Rea " ucapnya dan tidak bisa menahan untuk memuji wanita yang sedang berjalan beriringan dengannya saat ini , " kau juga tampan Gema " balas Rea tertawa dan tiba-tiba tawa itu pudar dengan mata yang menatap sedikit terkejut saat tiba-tiba Gema menarik tangannya lalu menyelipkan tangan itu di lengannya , " dengan begini kita jauh terlihat lebih serasi " ucap Gema tersenyum dengan Rea yang masih terdiam dan tidak berhenti melihat pada tangan yang sedang berpegang pada lengan laki-laki itu , " apa ini tidak berlebihan Gema ? , orang lain akan mengira kita sebagai pasangan jika datang dengan seperti ini ".

__ADS_1


" Ya biarkan saja jika memang itu yang ada di pikiran mereka " jawab Gema begitu santai bahkan tangan yang tadi berada di lengannya kini di pindahkan ke arah telapak tangannya , " sepertinya ini lebih sempurna untuk membuat orang lain mengira kalau kita adalah pasangan " ujarnya sambil mengangkat kedua tangan yang saling bergenggaman , bukan bukan saling bergenggeman tapi lebih tepatnya tangan Rea yang di genggam begitu erat oleh tangan Gema.


__ADS_2