KITA Hanya MENIKAH

KITA Hanya MENIKAH
Rea Ambruk di Lantai


__ADS_3

Rea, menarik nafas sebelum menekan knop pintu kamarnya. Dan yang ia khawatirkan terjadi. Wajah Gema, pertama kali di temukan di dalam ruang itu. Lelaki itu menatap dirinya.


Rea menelan ludah. Langkahnya sedikit ragu, untuk masuk ke dalam kamar tidur. Tapi jika seperti itu, Ia terlihat jelas, seperti menghindar. Dan ia memilih melanjutkan. Meski jantungnya berdebur tak karuan. Dan tubuh yang terasa semakin melemah.


Ia meletakkan tas jinjingnya ke atas nakas. Saat itu, ia masih menyadari Gema masih menatapnya. Dengan cepat ia berjalan menuju kamar mandi, menghindari tatapan itu, jauh lebih baik. Dan ia berharap, tak menemukannya lagi ketika sudah selesai.


Rea menopang tubuhnya, berpegang pada gagang pintu kamar mandi. Ia tak cukup kuat untuk merendam tubuhnya yang lemah, dan tak cukup tahan untuk berada di bawah guyuran air. Tak seperti biasanya, saat dia lelah. Air lah yang menjadi pelariannya. Merendam tubuhnya lebih lama dan setelah itu, keadaanya jauh lebih baik. Tapi kali ini, tidak. Tubuhnya lemah tanpa sebab. Dan Rea, mulai merasakan pandangannya berkunang-kunang.


" aku kenapa sih ", gumamnya kesal. Dia benci, ketika dirinya tak berdaya dan ini bukan dirinya.


Dan ia semakin tersentak. Ketika membuka kembali pintu kamar mandi, menemukan Gema masih di tempatnya, tak ada yang berbeda. Dia tidak bergerak dan kini kembali memandanginya lekat. Dan Rea, tak punya pilihan lain, selain bergegas keluar dari ruang itu. Ia harus menghindar. Menghindari tatapan Gema, dan juga menghindari menatap pria itu. Dia takut, di takut semakin jatuh cinta jika terus menatap pria itu.


Ia berusaha untuk senormal mungkin. Tidak memperlihatkan kondisinya yang lemah. Ia tak ingin lelaki itu menjadi khawatir, dan tak ingin di khawatirkan lelaki itu. " kau ingin pergi ? ", sebuah tanya yang membuat langkahnya terhenti. Dan ketika itu, hidungnya menghirup sebuah aroma. Aroma yang membuat hatinya menghangat. Sekejap, ia lupa ada sebuah pertanyaan yang di layangkan untuknya. Aroma yang baru saja hirup, jauh membuatnya lebih tertarik. Dan saat ia menoleh, Gema tepat berdiri di hadapannya. " kau ingin menghindariku lagi ? ", kata lelaki itu. Sekejap, Rea terkesiap dari fokusnya pada aroma yang membuatnya terasa tenang. Setenang saat dia berada di kebun bunganya setiap fajar. Memandangi setiap kuntuman mawar yang di basahi oleh embun.


Ia menyadari, aroma itu semakin menyengat di rongga hidungnya. Dan saat itu, ia semakin terlena.


" Apa kau menghindari aku karena teman lelakimu itu ? ", ucap Gema. Yang membuat Rea benci dari kalimat itu. Lelaki itu, menyeringai setelah mengatakannya.


" Kau melanggar perjanjian Rea. Kau sendiri yang menulis di surat perjanjian itu, bahwa kau tidak akan bersama lelaki mana pun, sampai kontrak pernikahan kita selesai ", katanya lagi. Rea menghela, ia menahan setengah mati untuk tidak berteriak dan memaki lelaki itu. Semua begitu tidak adil. Lelaki itu mengungkit kepergiannya bersama Darrel, sementara dia bermalam di tempat kekasihnya. Tapi, lelaki itu juga tidak salah.Yang dia katakan memang tertulis di kontrak perjanjian mereka, dan dia sendiri yang menulisnya. Untuk menyebut hal itu cukup adil, karena lelaki itu sendiri, biasa berada di tempat perempuan lain. Itu juga tidak bisa. Dia sendiri yang mengijinkan Gema tetap menjalin hubungan bersama Bella, meski mereka masih berada dalam kontrak pernikahan.Dan sekarang dia lah yang harus menerima semuanya. Menerima perjanjian yang dia tulis sendiri, lalu dirinya sendiri yang melanggarnya. " dia temanku ", jawabnya singkat. dan berusaha untuk tetap tenang.

__ADS_1


" Teman ? ", ulang Gema.


" Ya, kau tahu itu. Bukankah aku sudah memperkenalkannya dulu ".


" Aku tidak tahu selanjutnya Rea. Aku tidak tahu kenapa sebabnya, kau tiba-tiba pergi mabuk bersama pria lain. Lalu besoknya kau mengabaikan aku ".


Rea menelan ludah. Sungguh lelaki itu, salah menerka. Darrel bukan sebabnya. Dan ia tak ingin menjelaskan." Maaf Darrel ", ucapnya membatin. Sungguh ia merasa bersalah, karena menarik lelaki itu ke dalam permasalahan rumah tangganya.


" Aku ingin makan malam ", katanya, supaya Gema tidak lagi menghalangi langkahnya. Dan saat itu, ia belum cukup berani untuk menatap mata lelaki itu. " Bagaimana kalau nanti ada media yang menemukan kau bersama pria itu ", kata Gema kembali mencecarnya.


Rea kembali menghela. " aku rasa mereka cukup sering menemukan kami bersama. Dan belum ada media yang membuat berita, tentang kami memiliki hubungan. Jadi sekali pun nanti mereka kembali melihat kami bersama, itu tidak akan berpengaruh apa-ap... ".


" Sekarang berbeda ", sergah Gema memotong ucapannya. " Sekarang kau seorang istri. Apa kau pikir itu bukan berita yang hangat. Saat media menulis judul, Menantu Frans Antonio, terlihat bersama teman lelakinya di sebuah bar. Apa kau kira itu tidak akan membuat heboh satu kota ini ? ".


Ia sungguh tak bisa berlama-lama lagi, untuk berada di hadapan lelaki itu.


" Kau tidak tahu apa yang akan terjadi, jika kau terus bersama pria itu Rea ".


" Aku bisa mengaturnya Gema. Sebaiknya kau pikirkan saja, bagaimana hubunganmu bersama Bella tidak di ketahui dari media. Aku dan Darrel biar menjadi urusanku ".

__ADS_1


Tangan Gema mengepal saat itu. Dia tidak menyukai jawaban Rea. Bukan itu yang di harapkan. Tapi ia, tak cukup punya kuasa untuk mengatakan, Berhenti bertemu pria itu. Kalimat itu yang kini berada di ujung lidahnya. Namun, tertahan.


Bruuk


Tubuh Rea tiba-tiba ambruk di lantai. Dengan panik, Gema mengangkat tubuhnya. Kemarahannya menghilang dalam sekejap. Tidak ada yang lain dalam pikirannya, selain secepatnya membawa tubuh perempuan itu ke rumah sakit. ia bahkan tak sempat berpikir, kalau ambruknya tubuh Rea karena kelelahan. Dia terlalu khawatir.


Maria baru saja ingin beranjak dari rumah Rea. Ketika langkah tergesa-gesa Gema menuruni tangga, menggemparkan seisi penghuni dalam rumah itu.


Rose langsung berlari ke arah tangga, begitu pun dirinya


" Rose ikut denganku ", pinta Gema berseru dengan membawa tubuh pingsan Rea.


Rose tidak sempat bertanya, apa yang terjadi pada majikannya. Mata Rea tertutup, dan tangannya kini terkulai. Itu sudah cukup membuktikan bahwa kondisi perempuan itu sedang tidak baik-baik saja. Ia hanya bergegas, meminta satu pelayan mengambil dengan cepat jaket tebal milik perempuan itu, " aku ikut ", kata Maria ikut panik.


" Aku akan menelpon dokter pribadi nona sekarang ". katanya lagi.


" Terimakasih Maria. Tapi aku akan membawa di ke dokter keluarga kami ", ucap Gema tegas. Maria sempat menoleh pada Rose. Dan wanita itu menggelengkan kepala. Mereka tak punya kuasa untuk menentang keinginan Gema. Yang terpenting tubuh Rea, secepatnya berada di tangan dokter yang tepat. Hanya itu yang ada di pikiran Rose." Kau pergi dengan mobilmu. Aku bersama Tuan ", titahnya pada Maria. Dan tanpa menyela, perempuan itu menurutinya.


" Biar Nona bersamaku di belakang Tuan ", pintanya, ketika Gema ingin meletakkan tubuh Rea ke kursi penumpang bagian depan. Gema menurutinya, dengan kembali membawa tubuh Rea ke kursi belakang. Membaringkan tubuh tak sadar perempuan itu di sana. Rose, langsung menyanggah kepala Rea dengan pahanya. " ayo tuan ", pintanya, supaya Gema bergerak lebih cepat.

__ADS_1


Ia merengkuh tubuh Rea, dengan jaket yang sempat ia ambil dari tangan pelayan sebelum mereka pergi. Di saat itu, ia hampir menangis. Memandangi Rea tak berdaya adalah melemahannya. " lebih cepat tuan ", titahnya serak. Dan saat itu juga. Gema menekan lebih dalam pedal di bawa kaki kanannya. Ia khawatir, dan semakin khawatir saat mendengar Rose, memintanya dengan suara serak.


" Padahal soup jagung yang anda inginkan, baru saja selesai aku buat ", kata Rose bergumam, dan Gema mendengar kalimat itu.


__ADS_2