KITA Hanya MENIKAH

KITA Hanya MENIKAH
Mr & Mrs. Antonio


__ADS_3

" Selamat datang Mr dan Mrs. Antonio " ucap dua orang yang kini tengah menyambut kedatangan sepasang manusia di tempat mereka bekerja.


Lobby hotel mewah itu kini telah di penuhi beberapa orang yang berbaris dengan rapi untuk menabur bunga pada setiap langkah kaki Gema dan Rea bergerak.


" Ayah memang gila, sejak kapan ia merencanakan idenya ini " gumam Gema tak habis pikir. Sementara Rea tidak lagi banyak bicara, karena ia sendiri cukup kerepotan dengan gaun pengantin yang masih melekat di tubuhnya.


Gema mengulurkan tangannya ke hadapan Rea, dan menatap begitu lembut, untuk meminta wanita itu menyambut tangannya. Sedikit ragu Rea mengangkat tangannya, " kau pasti sangat lelah " ucap Gema, yang kini menatapnya dengan rasa bersalah.


Walau memang begitu tapi Rea tidak menunjukannya, bibirnya dengan cepat melengkung, " hanya sedikit di bagian pinggangku " balasnya dengan tertawa.


" Setelah ini istirahatlah " ucap Gema dan Rea mengangguk.


" Selamat datang Tuan dan Nyonya. Perkenalkan saya Dian dan saya akan menunjukan dimana letak kamar anda " ucap seorang wanita dengan begitu sopan, serta tubuh yang sedikit membungkuk, setelah Gema dan Rea mengangguk, ia mulai melangkah menuju letak ruangan yang akan menjadi tempat malam pertama untuk dua insan yang baru saja menikah.


Jantung Rea semakin berdetak tak menentu, seiring langkahnya menuju ruang yang menjadi tempat Honeymoonnya. Di tatapnya tangan yang masih terus bertaut pada laki-laki yang terlihat begitu tenang saat ini.


Berbeda jauh dengan dirinya, yang mungkin lelaki itu sendiri bisa merasakan telapak tangannya yang kini mulai membeku karena gugup.


" Silahkan Tuan dan Nyonya " ucap Dian di ambang pintu, dan mempersilahkan sepasang manusia yang masih saling bergandengan untuk masuk ke dalam kamar hotel mereka.


Deg


Mata Rea membesar, saat melihat ada tumpukan mawar merah di atas tempat tidur di hadapannya, serta beberapa kilauan cahaya lilin yang memenuhi ruangan.


" Kami juga sudah menyediakan air untuk kalian berendam malam ini Tuan dan Nyonya " ucap Dian, sambil menunjukan bath up yang berisi taburan mawar di atasnya, dan tempat mandi itu menjadi begitu romantis karena berada di luar ruangan, memperlihatkan panorama indahnya laut Bali.


Melihat itu jantung Rea semakin berdetak tak menentu. Bahkan rasanya ia hampir gila saat ini, memikirkan ia akan berendam di dalam bath up bersama Gema.


Ia menarik nafas, dan menarik tangannya yang masih bertaut bersama Gema. Lalu berjalan ke ujung balkon untuk melihat begitu jelas suasana malam tepian pantai.


" Kami juga sudah meletakan pakaian anda untuk malam ini di dalam toilet Tuan " ucap Dian pada Gema, " Emm.. ya. Terimakasih " balas Gema terkesiap dari pandangan matanya pada Rea.


" Kalau begitu saya pergi. Silahkan menghubungi pihak kami jika anda membutuhkan sesuatu Tuan " ucap Dian, seraya perlahan beranjak dari ruangan.


Suasana kini mengehening. Rea masih berkutat dengan pandangannya, sementara Gema kini terpaku menatap kearahnya. Namun, tatapannya berakhir seraya bergerak menuju tempat tidur.


Di benamkan tubuh lelahnya di atas tumpukan lembaran mawar, dengan mata yang perlahan di pejamkan.


dan Rea masih menikmati suasana deburan ombak dari tempatnya, serta menikmati hembusan angin yang terus bergantian menerpa wajahnya yang masih di hiasi riasan. Tubuhnya begitu lelah setelah perjalanan cukup lama, meski selama itu ia hanya duduk dan sesekali berbaring di dalam pesawat milik keluarga Antonio. Namun, itu cukup membuat otot tubuhnya merasakan penat dan ingin segera berbaring.


Tapi rasa lelah itu kini terkalahkan oleh rasa malu dan canggung untuk berada di dalam satu ruangan bersama seseorang yang masih asing untuknya. Meski kini lelaki itu telah resmi menjadi suaminya, bahkan berhak melihat dan menyentuh setiap bagian tubuhnya.

__ADS_1


" Oh Tuhan. bagaimana ini " racaunya begitu gelisah. Sambil sesekali mencuri pandang pada tubuh yang kini terbaring di atas tempat tidur.


" Apa dia tertidur ? " gumamnya, sambil meyakini bahwa mata laki-laki itu benar terpejam.


Hembusan angin malam membuat Rea kedinginan dan ia tidak punya pilihan selain masuk ke dalam ruangan.


Setengah ragu ia melangkah, " sebaiknya aku mandi " ujarnya sambil bergerak dan ia benar benar di buat kesusahan oleh gaun yang masih berada di tubuhnya.


" Oh God " keluhnya, saat tangan panjangnya tidak mampu menjangkau kancing yang bertaut di punggungnya " tidak mungkin aku mandi dengan pakaian ini " sambungnya putus asa. Namun, otak cerdasnya bergerak cepat.


" Ya benar. Pelayan hotel ini bisa membantuku " ucapnya saat matanya menemukan gagang telepon di sisi tempat tidur.


Dengan hati hati Rea melewati tubuh Gema yang masih terpejam di atas tempat tidur.


" kosong kosong satu " ucapnya menyebut nomor telepon yang harus ia hubungi untuk terhubung ke meja resepsionis.


" Apa yang ingin kau lakukan ? " tanya tubuh yang tiba tiba bangun dari pembaringannya.


Rea tersentak dari tempatnya dan menatap terkejut pada mata yang kini tengah memandang ke arahnya, " emmm..., aku butuh bantuan pelayan hotel ini " jelasnya begitu pelan.


" Apa ? " tanya Gema.


Gema menghela nafas, " kenapa harus menghubungi orang lain. Sementara aku ada disini " cercahnya. tersirat kekecewaan di sorot matanya.


" Emm..,aku pikir aku tidur " sahut Rea.


" Kau bisa membangunkannya Rea " ucap Gema lebih lantang. Rea tertegun sesaat, " ya maafkan aku. Aku hanya tidak ingin mengganggumu " katanya membela diri. Walau sebenarnya bukan itu alasan utamanya.


Gema perlahan mendekat, " kemarilah " pintanya seraya memutar tubuh Rea untuk membelakangi dirinya dan saat itu Rea menelan paksa ludahnya dengan tubuh yang begitu gugup saat satu persatu kancing pakaianya terlepas oleh tangan Gema.


Matanya terpejam saat membayangkan sebentar lagi Gema akan melihat punggung telanjangnya.


" Selesai " ucap Gema.


Rea membuka matanya, sembari menarik pelan nafasnya, " Terimakasih Gem " ucapnya bersama pipih yang kini merona tanpa ia sadari.


Dengan cepat ia melangkah menuju kamar mandi dan menutup rapat pintu ruangan itu.


Sementara di tempatnya, Gema kini tersenyum, " dia begitu gugup " gumamnya sambil menatap pada pintu yang tertutup.


Dan tiba tiba pikiran nakal masuk ke dalam otaknya. Ia kembali tersenyum dan bergerak menuju pintu, " Rea.. " panggilnya pelan.

__ADS_1


" Ya Gema. Ada apa ? " seru Rea dari dalam.


" Emmm.., aku kebelet pipis " ujarnya dengan menahan bibirnya untuk tidak tertawa.


" Huh ? " teriak panik dari dalam, " tunggu, tunggu sebentar Gem. Sebentar lagi aku selesai ".


" Aku tidak bisa menunggu lagi Rea "


" Astaga bagaimana ini " seru Rea semakin panik.


" Bagaimana ?, kau tinggal membuka pintu ini dan aku masuk " katanya dengan menahan diri untuk tidak tertawa.


" Huh ! , apa kau gila ?, mana mungkin kita berdua di dalam sini. tunggu aku hanya sebentar, emm.., atau aku keluar sekarang " racau Rea semakin panik.


" Kenapa gila dan kau tidak perlu keluar Rea. Cukup aku yang masuk ke dalam sana dan Kau lanjutkan saja mandimu "


Kini tidak ada lagi jawaban dari dalam dan tidak lama pintu itu terbuka, " masuklah " ucap Rea sambil keluar dari dalam kamar mandi dengan selembar handuk yang melilit pada tubuhnya.


" Masuklah Gem. Aku menunggu " ucapnya pada Gema. Namun saat ini Gema seperti membisu dari tempatnya berdiri serta menatap tak berkedip pada tubuh yang hanya terbalut oleh selembar handuk, dan Rea menyadari arah pandang mata itu, " Shitt " umpatnya saat menyadari kesalahannya.


Bagaimana ia bisa keluar dengan handuk yang hanya menutup sedikit bagian tubuhnya. Kepanikannya membuat ia tidak berpikir dengan benar.


" Padahal tadi aku tidak benar ingin pipis. Tapi kenapa sekarang rasanya itu begitu mendesak " Racau Gema yang langsung masuk dalam kamar mandi tanpa menutup kembali pintu yang terbuka.


" Gema tutup pintunya " teriak Rea histeris dengan tangan yang bergerak mendekap kedua matanya dan tanpa sadar gerakan itu meloloskan handuk yang tadi menutupi setengah tubuhnya.


" Oh my God " teriaknya semakin panik, saat menyadari handuknya sudah tergeletak di lantai, " Gema jangan melihat " teriaknya lagi.


Mendengar itu. Bukannya Gema menutup mata, justru ia menjadi semakin penasaran dengan apa yang tengah terjadi.


Deg


jantungnya berdebar begitu hebat, saat matanya melihat sesuatu yang belum saatnya, " oh my god " serunya tanpa sadar, dengan pipih yang kini menghangat.


" Gema tutup matamu " teriak Rea yang di tengah kerepotannya.


" Emm ya " balasnya sambil mendekap ke dua matanya, " padahal aku sudah melihat semuanya " gumamnya sambil melipat bibirnya menahan senyum.


" Astaga kenapa kepalaku tiba tiba menjadi begitu pusing " racaunya lagi, setelah merasakan sesuatu yang kembali mendesak dari dalam celananya.


" Bagaimana ini " racaunya prutasi, sambil perlahan jari jemari yang mendekap matanya perlahan merenggang. Dan bibirnya kembali melengkung saat melihat tubuh Rea yang kini berjongkok tidak jauh darinya sambil membenarkan handuk yang melilit di tubuhnya., " beruntung sekali aku " gumamnya begitu senang, saat melihat dengan jelas tubuh mulus milik wanita yang baru ia nikahi.

__ADS_1


__ADS_2