KITA Hanya MENIKAH

KITA Hanya MENIKAH
Dimana Aku ( Cerita Rea Kecil )


__ADS_3

" Apa kau tidak mengambil uangmu hari ini ? " tanya Emma pada perempuan yang kini sedang bersiap untuk pulang.


" Tidak Emma. Aku masih punya sisa dari uang kemarin ".


" Kau yakin ? "


" Hemmm.. " sahut Kris lemah. Kemudian ia duduk terdiam.


" Kris apa yang kau pikirkan ? " tanya Emma menjadi cemas. Wanita itu hanya menggelengkan kepala dengan tersenyum hambar, " ntahlah Emma. Aku sendiri tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan " katanya dengan helaan nafas kecil.


Emma ikut terdiam sambil mengamati wajah yang terlihat begitu gundah, " Kris kau wanita yang hebat. Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan tapi percayalah semua akan baik baik saja " ucapnya seraya mengusap lembut punggung wanita itu.


" Terimakasih Emma "


" Aku pulang dulu " pamit Kris sambil beranjak dari duduknya.


" Kau yakin tidak ingin mengambil uangmu ? " tanya kembali Emma, lalu Kris terdiam sejenak, " berikan aku beberapa lembar Emma. Mungkin aku akan membutuhkannya malam ini "


Mendengar itu Emma kembali terdiam, bersama kedua alis yang saling bertaut. Walau hatinya kini menjadi tidak tenang tapi ia memilih untuk tidak mencampuri, " tunggu sebentar " ucapnya lalu pergi beberapa saat dan kembali dengan beberapa lembar uang di tangannya.


" Terimakasih Emma. Aku pulang " pamit Kris kembali.


" Hemm.., berhati-hatilah ".


Kris telah berada di bus yang akan membawanya pulang malam ini. Di sepanjang perjalanannya ia tak berhenti menghela nafas. Perasaannya begitu gundah saat ini, di tatapnya lampu lampu kota London dan langit malam yang gelap.


Kepalanya mengadah, " sepertinya akan hujan lagi malam ini " gumamnya lemah saat matanya tidak menemukan satu bintang pun di langit.


Bus yang ia tumpangi tak terasa telah berhenti di tempat pemberhentian. Tubuh Kris semakin melemah saat menyadari ia akan pulang ke tempat tinggalnya yang kecil, bukan tentang kecilnya tapi tempat itu sungguh bukan sebuah rumah yang ada dalam bayangan semua orang, tidak ada kehangatan disana.


Ia kembali marah ketika membayangkan, dirinya akan kembali melihat wajah seseorang yang begitu ia benci sepanjang hari. Namun, ia harus tetap kembali. Putri kecilnya disana dan ia begitu merindukannya.


Kris kembali membeli beberapa makanan untuk Rea kecil. Ia yakin putri kecilnya saat ini, Pasti sedang menunggu kepulangannya.


Sebelum menginjakan kaki ke anak tangga yang menghubung ke flat kecilnya, Kris masih sempat untuk menarik nafas begitu dalam, lalu perlahan melangkah.


Sambil membuka pintu ia memanggil putri kecilnya, " Rea ibu pulang " serunya pelan. Namun, ruang kecil itu menghening dan begitu gelap.


Dengan hati hati Kris berjalan menuju tempat dimana ia bisa menghidupkan lampu penerang di dalam tempat tinggalnya.


Deg


Dadanya berdebar saat melihat tidak ada siapa pun disana, tidak ada Robbi dan tidak ada juga putri kecilnya, " Reaaa.. Nak. Kamu dimana ? " panggilnya panik.

__ADS_1


Ia melihat ke dalam kamar mandi. Namun, juga tidak menemukan siapa pun disana.


Kembali ia keluar dari flat kecilnya dengan terus memanggil-manggil nama putrinya, " Rea nak kamu dimana ? " teriak Kris. Bahkan ia tidak lagi peduli pada kaki telanjangnya saat ini. Ia tidak lagi peduli kalau ada sesuatu yang akan melukai telapak kakinya.


Kris terus berjalan menyusuri sisi jalan dengan terus memanggil nama putrinya. Namun tidak ada satu pun petunjuk yang menunjuka dimana keberadaan Rea kecil saat ini, " Rob kemana kau bawa putriku " teriaknya prutasi.


Air hujan sudah turun dan membasahi tubuhnya. Namun itu tidak membuatnya menyerah untuk mencari keberadaan putrinya.


Kris menghampiri beberapa tetangganya yang ia temui tapi mereka juga tidak memberikan berita baik untuknya, " Ya Tuhan dimana putriku " erangnya dengan tangisan.


Tubuh Kris kini menggigil oleh dinginnya air hujan yang terus membasahi tubuhnya, tapi Kris tidak peduli dengan hal itu. yang ia tahu, ia harus bertemu putrinya malam ini dan membawanya kembali.


Ia berlari kesana kemari. Menghampiri beberapa tempat yang sering menjadi tempat persinggahan suaminya. Namun, tetap ia tidak menemukan apa apa. Tidak ada yang tahu dimana keberadaan Robbi.


" Rea dimana nak " erangnya putus asa. Tubuh mengigilnya tiba tiba terjatuh di sisi jalan yang basah dan setelah itu ia tidak lagi tahu apa yang sudah terjadi, sampai matanya terbuka dan mendapati dirinya di dalam ruang yang asing.


" Dimana aku " gumamnya lemah, sementara matanya mengamati setiap sudut di dalam ruangan. Tidak ada sesuatu yang sederhana disana. Lampu Kristal menghiasi langit langit. Pilar kokoh yang menjulang, serta kain sutera lembut yang kini tengah menutupi tubuhnya.


" Dimana aku " ulangnya dengan kedua alis yang bertaut.


Seorang wanita dengan pakaian rapi tiba tiba masuk ke dalam ruangan, " anda sudah bangun Nona? " tanyanya sedikit tersentak.


Kris hanya mengangguk, " tunggu, aku harus memberitahu Tuan " pintanya dengan kembali bergegas menuju pintu.


" Boleh aku tahu dimana aku saat ini ? " tanyanya kebingungan, Sementara wanita itu kini menatapnya dengan heran, " saya tidak bisa mengatakan apapun. Mungkin nanti tuan yang akan memberitahu anda " jelasnya, lalu kembali melanjutkan langkahnya.


Kris semakin kebingungan. Ia tidak mengenali tempat itu, bahkan ia tidak pernah terbayang akan berada di ruang seperti itu, " Apa yang terjadi, kenapa aku bisa disini ? " gumamnya sambil mengingat kembali apa yang sudah terjadi pada dirinya.


Deg


Jantungnya kembali berdebar, saat ia teringat bahwa terakhir kali ia menyusuri jalanan untuk mencari putrinya.


" Rea " panggilnya sambil turun tergesa gesa dari tempat tidur, " awwww " teriaknya tiba tiba dengan tubuh yang ambruk di lantai. Kepanikannya membuat ia tidak menyadari ada banyak luka memenuhi telapak kakinya yang kini mulai membengkak, " kenapa bisa seperti ini " ucapnya sambil terus meringis oleh rasa perih yang sekarang mulai ia rasakan.


Tiba tiba sepasang tangan memegang pada kedua kakinya, " apa begitu sakit ? " sebuah tanya khawatir pada Kris.


" Tolong panggilkan dokter " seru seseorang di hadapannya pada wanita yang tadi masuk ke dalam ruangan.


" Baik Tuan " jawab wanita itu.


Kris mengamati wajah yang kini tengah menunduk melihat pada kedua kakinya, " aku sungguh tidak apa-apa " katanya sambil menarik pelan kedua kakinya.


" Bagaimana bisa kau mengatakan tidak apa-apa dengan kakimu yang sudah seperti ini huh " teriak laki laki itu. Namun sorot matanya menatap cepat pada Kris.

__ADS_1


Deg


Seketika saja jantung Kris berdebar dengan mata yang membulat sempurna, "Laem " panggilnya lemah. Ia tidak bisa menutupi keterkejutannya saat ini.


Lelaki itu seperti tidak peduli, di angkatnya tubuh Kris kembali ke tempat tidur, " jangan kemana-kemana sampai kakimu sembuh" pinta lelaki itu dengan begitu tegas. Sementara Kris masih terdiam dengan lidah yang tercekat untuk kembali bicara.


" Ada apa Tuan ? " tanya laki laki dengan jas berwarna putih yang bergegas masuk kedalam ruangan, " dia terjatuh, kau harus memeriksa luka luka di kakinya ".


" Aku sungguh tidak apa apa " ucap Kris bersuara, lalu menyembunyikan kedua kakinya di bawah selimut.


" Jangan berbohong " bentak Laem. Saat ini ia terlihat sedikit marah. Namun, juga begitu khawatir, " berikan sesuatu yang akan mengurangi rasa perihnya " pintanya pada laki laki berpakaian warna putih.


" Baik Tuan " sahut lelaki itu, lalu Laem keluar dari dalam ruangan tanpa pamit dan bicara pada Kris.


" Nona tolong bekerja sama. Jangan turun dari tempat tidurmu sampai kau benar benar sembuh ".


" Tapi aku sungguh tidak apa-apa "


" itu kata anda tapi tidak untuk Tuan. Dia pasti akan memecatku kalau lukamu tidak kunjung sembuh.Jadi aku mohon tolong bekerja samanya " pinta laki laki berbaju putih, yang terlihat jelas bahwa dia seorang dokter.


" Maafkan aku " ucap Kris lirih.


" Jangan meminta maaf. Tapi cukup untuk tidak melakukan hal yang membuat luka anda semakin parah " sahut Dokter begitu serius dan Kris mengangguk.


" Anda bisa menekan tombol itu jika membutuhkan sesuatu Nona " tunjuk wanita yang tadi masuk ke dalam ruangan pada satu tombol yang di letakan di sisi tempat tidur, " nama saya Zeya, anda bisa memanggilku dengan seperti itu ".


" ya Zeya, terimakasih " ucap Kris dan perempuan itu mengangguk.


" Dokter kapan luka luka ini akan sembuh ? "


" Mungkin butuh waktu dua sampai tiga hari untuk dia mengering "


Mendengar itu mata Kris membesar, " kau tidak bisa berada disini selama itu dokter, aku harus pulang dan aku harus bekerja ".


" Tapi Nona kami juga tidak bisa melakukan apapun. Atau tuan akan memecat kami semua karena pekerjaan kami yang tidak becus menjaga anda".


Kris Kini terdiam. Ia juga tidak bisa memaksa untuk pergi dengan keadaan seperti ini. Namun untuk tetap berada disana juga tidak membuatnya tenang.


Ia harus cepat pergi dari sana dan kembali mencari keberadaan putri kecilnya.


" Tolong katakan pada Tuanmu kalau aku ingin bicara " pinta Kris pada Zeya.


" Akan aku sampaikan. Tapi anda harus menunggu karena saat ini tuan sedang menemui tamunya " jelas Zeya dan dengan berat hati Kris mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2