KITA Hanya MENIKAH

KITA Hanya MENIKAH
Ruang Pribadi


__ADS_3

Kris berdiri tegak, memandangi sebuah bingkai foto yang dia letakkan di dinding ruang pribadinya. Ruang yang tidak bisa di masuki semua orang, kecuali Laem. Dan pelayan yang datang membersihkan. Dan sesekali Laena. Tapi hanya sesekali, jika perempuan itu, tengah mencari keberadaannya.


Disana, di ruang pribadinya itu. Dia meletakkan foto pernikahan putri pertamanya. Foto yang pertama ia miliki. Dan disana tempat satu-satu yang aman untuk meletakkannya dan memandanginya lebih lama. Dua hari terakhir. Kris lebih sering berada di ruang itu. Dia menghilang lebih dari setengah hari, untuk berada disana. Memandangi wajah putrinya dalam balutan gaun pernikahan, di sebuah bingkai indah yang ia beli khusus untuk membingkai gambar wajah cantik putri pertamanya itu. Wajah yang sama persis dengannya. Wajah yang tidak pernah sanggup, ia tatap lebih lama, karena setelahnya air matanya akan mengalir tanpa henti. Tapi kali ini, itu tidak terjadi. Bukan tidak menangis. Hanya saja tidak tersendat seperti biasanya.


Dia ingin menatap wajah putrinya dengan memandang jelas, tanpa tertutup bulir air mata yang selalu membumbung setiap kali melihat wajah perempuan itu. Yang tidak satu pun orang ketahui. Bahwa, dia memiliki ribuan, bahkan ratus ribuan lembaran foto Rea. Yang selalu di ambil secara diam-diam. Oleh orang kepercayaannya. Dan setiap lembar foto itu, selalu ia pandangi dengan air mata yang berderai, mengalir deras tanpa henti. Ia sungguh tak pernah membiarkan putrinya sendiri. Meski, Rea tak pernah tahu. Tapi, sesungguhnya dia selalu ada.


Frans Antonio, orang yang sungguh berbaik hati padanya. Dan karena lelaki paruh baya itu. Gambar wajah cantik putri sulungnya kini terpampang di dinding ruang pribadinya. Gambar yang tidak di ambil secara diam-diam, seperti gambar-gambar yang dia simpan selama ini. Dan berkat lelaki itu, dia bisa memiliki foto bersama dengan Rea. Meski ia sendiri tahu, perempuan itu, begitu terpaksa berdiri di sampingnya ketika itu. Tapi kini dia memiliki gambar mereka bersama, dan selalu juga dia pandangi bergantian dengan gambar sendiri perempuan itu, dan dia bahagia. Senyumnya mengembang, karena memiliki dua bingkai foto itu. Tak jarang dia berangan-angan ketika memandanginya. Seandainya saja hubungan mereka begitu baik, mungkin saat itu dia akan memiliki lebih banyak foto dari yang ia miliki saat ini. Dan dia memiliki foto berdua bersama putrinya itu, bahkan, bertiga dengan Laena. Foto yang selalu menjadi impiannya. Gambar yang selalu menjadi keinginannya untuk di miliki. Berfoto dengan dua putrinya.


Tapi keinginan itu, seperti ingin menggapai bintang di langit. Dia melihat keberadaannya, tapi tak bisa menyentuhnya, bahkan sangat mustahil membawanya kepangkuan. Tepat seperti hubungannya dengan Rea. Tak pernah terlampau, dia mengetahui tentang perempuan itu. Apa pun yang terjadi pada Rea, tak satu pun yang tak ia ketahui. Tapi ia tak bisa menemuinya sesering yang dia inginkan. Keadaan tak mengijinkan untuk berada dekat dengan putrinya itu. Dan dia mengorbankan kerinduannya. Mengorbankan keinginan terbesarnya untuk memeluk erat perempuan itu. Hanya demi satu hal. Demi perempuan itu hidup tenang. Tanpa ada satu pun yang menganggunya, tanpa ada satu pun yang menyakitinya. Tidak berita media, tidak juga keluarga Brookstein. Dan dia harus menanggung kesakitannya sendiri. Bahwa, akhirnya, putrinya justru membencinya. Membenci pengorbanannya yang tidak pernah perempuan itu ketahui. Tapi memang dirinya tak ingin perempuan itu tahu. Biar semuanya ia simpan sendiri. Masuk ke dalam keluarga Brookstein ada pilihannya, dan itu berarti, dia lah yang harus menanggung semuanya, termasuk di benci oleh putrinya sendiri.


Kris, mendekat ke dinding. Di usapnya wajah Rea yang tersenyum begitu manis, dengan bunga Baby Breath di tangannya. Tak terhitung berapa sering dia melalukan itu, sepanjang dua hari ini, dia terus melakukannya. " semoga suatu hari, kau memaafkan Ibu ", gumamnya lirih. Hidungnya memerah menahan tangis. Dan saat itu, tangannya masih tergantung di permukaan bingkai gambar perempuan itu. Dadanya menjadi sesak. Ia begitu merindukan putri pertamanya.


Dan bersamaan pintu ruang pribadinya di ketuk.


Kris, dengan cepat mengusap air matanya yang membumbung di matanya. Membuat dirinya senormal mungkin, lalu berjalan ke arah pintu, yang kembali di ketuk. Dan ia menemukan seorang pelayan di baliknya.

__ADS_1


" Sudah waktunya makan malam Nyonya ", ucap pelayan membungkuk. " Nona Muda Laena, sudah menunggu di meja makan ", katanya lagi. Kris hanya mengangguk. Dan dia menyadari, ternyata sudah cukup lama dia berada di hadapan gambar putri sulungnya. Padahal ia baru merasa beberapa menit berlalu, ketika Laem menghubunginya, memberitahu bahwa dia akan pulang terlambat malam ini. Bahkan, handphonenya masih berada di tangannya saat itu. " katakan pada Laena. Saya akan segera datang ", pintanya pada pelayan. Perempuan muda itu mengangguk, lalu kemudian pergi dari hadapannya.


Kris, memandang sesaat pada gambar yang ia pandangi sepanjang hari. Sebelum ia pergi dari ruang pribadinya itu. Satu-satunya ruang yang ia miliki tanpa ada satu orang pun yang akan mengusiknya. Satu ruangan yang membuatnya nyaman untuk berdiam diri. Dan satu-satunya ruang yang bisa ia kendalikan sesuai keinginannya. Dia seorang Nyonya besar di Mansion yang ia tinggali, tapi dia tidak memiliki wewenang untuk mengatur segala isi dalam istananya sendiri. Dia seorang ratu, yang hidup di bawa kendali. Kendali seseorang yang paling berkuasa di keluarga Brookstein.


Ia menutup rapat ruangannya. Tak lupa menguncinya sebelum dia pergi, meski itu hanya sebentar. Tapi ia sungguh tak ingin ada satu orang pun masuk ke dalam sana, tanpa sepengetahuannya. Dan saat itu, handphone di tangannya berdering. Nama Frans Antonio tertera dalam layar benda itu. Matanya terkesiap. Ini pertama kalinya, lelaki paruh baya itu menghubunginya setelah matahari terbenam.


Kris tak ingin menunda untuk menjawab panggilan itu, meski ia sadar, putrinya kini menantinya di meja makan. Tapi lelaki paruh baya itu, juga pasti ingin memberi kabar penting tentang putrinya juga. Itu pasti. Tak mungkin lelaki terhormat itu, akan menghubunginya di waktu seperti ini, jika saja itu bukan karena putrinya. Dan yang ia khawatirkan, itu kabar yang tidak baik. Jantungnya berdebar, seiring mengarahkan benda pipihnya ke sisi telinga kanannya. Sulit untuk menyakin diri, bahwa dia akan mendengar kabar baik dari besannya itu.


" Hallo Nyonya Brookstein. Maaf mengganggu waktu anda.. " ucap Frans, setelah panggilannya tersambung. Nada bicaranya, terdengar bergetar. Dan saat itu detak jantung Kris semakin berdetak tak menentu. Semakin tak menentu, ketika Frans mengatakan sebab dia menghubunginya di waktu saat ini. Nyaris benda pipih di tangannya terjatuh. Ia tak lagi memikirkan apa pun, selain secepat mungkin untuk sampai di rumah sakit yang di sebutkan oleh Frans. Ia panik, dan begitu cemas. Putrinya yang baru saja ia pandangi di balik bingkai foto, kini tengah terbaring di ranjang rumah sakit.


" Mam ", panggil Laena. Bahkan Kris tak menyadari, kapan kehadiran perempuan itu, yang kini sudah berada di hadapannya. " Maaf ibu harus meninggalkanmu makan malam sendiri. Ini mendesak Laena ", katanya memberitahu, dengan langkahnya yang tergesa-gesa.


" Ibu harus pergi Laena. Kakakmu berada di rumah.... " sahut Kris menggantung. Ia terlalu cepat menyadari ucapannya, dan saat itu, dia menemukan mata Laena yang menatap tak mengerti, dengan dahi yang berkerut. Kris menelan ludah, dan ia merutuki kesalahan lidahnya. " ibu harus pergi ", katanya melanjutkan.


" Kemana ? ".

__ADS_1


" Kau tidak perlu tahu ", sahut Kris singkat. Dan lagi-lagi ia menyadari kalimatnya yang tidak lembut pada Laena. " Ibu harus pergi ", katanya lagi, ia bergerak mengecup pipi kiri putrinya itu. " habiskan makan malammu. Dan sampai bertemu nanti ", ucapnya, lalu berjalan cepat, meninggalkan Laena yang masih berdiri terpaku di tempatnya. Tak ikut beranjak, juga tak lagi kembali mencecarnya dengan pertanyaan. Dia hanya terdiam, dan menatap punggung ibunya, yang berlalu bergitu cepat. " Kakak... " gumamnya.


~


" Apa yang terjadi ? ", tanya Frans membentak pada Gema. Saat itu, dia baru saja tiba, bersama Elba di lorong rumah sakit. Tepat di depan pintu kamar rawat Rea. dan Gema langsung berdiri dari duduknya ,ketika mereka datang. " apa yang terjadi Gema ? ", teriaknya.


Kekhawatiran pada menantunya, seperti membuatnya tak bisa berpikir. Ia terlalu takut. Takut kalau putranya lah, penyebab perempuan itu berada di sana. " Dia tiba-tiba pingsan Yah ", kata Gema mencoba menjelaskan.


" Apa yang kau lakukan padanya ? ", cecar Frans, matanya menatap penuh amarah saat itu.


Rose menyela." Tuan Gema, tidak melakukan apapun Tuan. Kondisi Nona memang sedang tidak baik beberapa hari ini... "


Saat itu, Gema ikut menoleh pada Rose. Ia sungguh baru mengetahui, hal itu disana.


" Mungkin sekarang Nona sedang kelelahan ", lanjut Rose. Frans menghela nafas. " dia pasti bekerja sangat keras ", katanya menggumam. Gema mendengar kalimat itu dan Ia mendapati wajah Frans yang begitu cemas. Dan kini dia merasakan yang sama. Ia cemas pada kondisi Rea yang baru ia ketahui. Sungguh, beberapa hari ini, ia tidak bisa mengamati keadaan perempuan itu dengan baik. Mereka hanya bertemu sesaat. Bahkan, pernah tak bertemu sama sekali sepanjang hari. Dan sekarang ia menyesali.

__ADS_1


" Lalu sekarang bagaimana ? ", kata Frans bertanya lagi.


" Dokter Calvin sedang memeriksanya ", balas Gema. Setelah itu suasana menghening. Semua orang duduk dengan gusar. Tak terkecuali Elba, yang duduk di antara Maria dan Rose. Dia begitu khawatir pada menantunya. hatinya cemas memikirkan apa yang terjadi, sampai menantunya berada di ruang rawat Dokter pribadi keluarga mereka. Dan saat itu, Frans beranjak dari duduknya. Berjalan menjauh dengan membawa handphonenya yang sedang tersambung pada panggilan telepon.


__ADS_2