KITA Hanya MENIKAH

KITA Hanya MENIKAH
Badai di Mata Coklat yang Indah


__ADS_3

Gema terperanjat dari tidurnya, ketika kilat petir menembus dinding kaca apartemen Bella, " astaga ", pekiknya terkejut. Ia terduduk di atas tempat tidur, " astaga ", ulangnya, setelah menyadari tempatnya saat ini dan menyadari ada Bella di sampingnya.


" Kau sudah bangun ? ", ucap serak suara perempuan itu, yang kemudian ikut bangun dari pembaringannya.


" Jam berapa ini ? ", tanya Gema panik. Bella menoleh pada jam weker di samping tempat tidurnya, " hampir jam tiga pagi ", katanya memberitahu. Kemudian ia beranjak dari tempatnya, tak menghiraukan Gema yang kini tertegun, " jam tiga ", ulang pria itu, dengan bola mata yang membesar, " kenapa kau tidak membangunkan aku Bella ", titahnya.


Bella menoleh dengan dahi yang berkerut, " kenapa harus membangunkanmu. Kau sudah sering tidur disini ! ", sahutnya. Matanya melempar tatapan kesal pada Gema, " tapi sekarang aku tidak bisa lagi seperti itu... ".


" Kenapa ? ", potong Bella," Karena Rea. Karena kau sudah menikah ", cercahnya.


" Kenapa sekarang aku merasa kau lebih mementingkan Rea dari pada aku huh. Aku kekasihmu Gema. Kau tidak lupa seperti apa janjimu sebelum kalian menikah. Kau jangan lupa kalau pernikahan kalian hanya kontrak ", cecarnya tanpa ampun. Ia menjadi meradang ketika menyadari lelaki di hadapannya telah berubah. Sementara Gema terdiam, dengan semakin prustasi, " bukan seperti itu.. ", katanya menjeda.


" Lantas seperti apa ? ", Bella berteriak, " Maksudmu aku harus terus mengalah huh. Aku disini korban dari perjanjian kalian. Kenapa jadi aku yang harus mengalah ", pekiknya tanpa ampun. Nada bicaranya semakin meninggi, dan dia keluar dari ruang tidurnya.


Gema menghela nafas. Dia cukup merasa bersalah setelah mendengar ucapan perempuan itu. Namun, juga saat itu dia memikirkan Rea.


Kemudian dia ikut beranjak dari ruang itu, menyusul Bella yang kini sudah duduk di kursi meja makan," bukan seperti itu maksudku Bella. Kau harus mengerti.. ".


" Jadi disini aku yang harus mengerti ", kata Bella memotong, " jadi disini aku yang harus mengerti dengan kalian ", katanya mengulang. Matanya kembali menatap tajam pada Gema, " aku bukan selingkuhanmu. Kenapa aku yang harus mengerti ", tambahnya membentak.


" Harusnya kalian yang harus mengertikan aku. Aku tidak pernah menginginkan pernikahan kalian. Bukan aku yang mengusulkan kalian menikah Gema... ".


" Tapi ini demi kita Bella ", potong Gema membentak, " aku melakukan ini demi hubungan kita ", katanya lagi, dan Bella terdiam saat itu, " aku tidak akan memiliki apapun, jika tidak menikahi Rea. Sekarang aku tanya padamu, apa kau masih mau padaku jika aku tidak memiliki apa-apa ? ", tanyanya semakin lantang. Dan Rea masih terdiam.


" Harusnya kau juga tidak boleh egois ", sambungnya, dengan nada yang kembali normal.


" Egois ?", ulang Bella, " aku egois dalam hal apa Gema ?, aku tidak pernah meminta waktumu berlebih padaku. Kalau hari ini aku ingin bertemu, apa itu tidak wajar huh ?".


" Selama kalian pergi honeymoon, apa aku pernah mengganggumu. Dan apa kau pernah berpikir bagaimana jadi aku disini huh. Memikirkan bagaimana aku harus tetap tenang, sementara kekasihku tidur bersama perempuan lain. Apa kau masih mengatakan aku egois, setelah semua media, surat kabar menampilkan gambar pernikahan kalian, sementara aku harus menerimanya saat melihat itu. Apa kau masih bilang aku egois ",cecar Bella kembali meradang.


" Aku perempuan yang tidak bisa berbuat apa-apa saat kekasihnya menikahi perempuan lain. Apa kau masih bilang aku tidak berkorban untuk hubungan kita. Bicara Gema... ", katanya kembali berteriak, " katakan dimana keegoisanku ", sambungnya semakin menjadi-jadi.


Gema tidak lagi bisa bersuara. Lidahnya menjadi keluh, saat menatap mata Bella yang mulai berair. Perempuan itu membenamkan wajahnya di atas meja makan dengan suara tangis yang mulai terdengar. Dan saat itu Gema mengusap kasar wajahnya sendiri, " maafkan aku ", ucapnya, seraya melangkah mendekat pada meja makan. Ia membuka kursi yang berada di samping perempuan itu, " maafkan aku", ulangnya dengan tangan yang bergerak mengusap lembut rambut Bella yang teruai.

__ADS_1


" Saat ini kondisinya tidak sama Bella ", katanya kembali bicara dan sedikit lebih hati-hati, " kau harus banyak mengerti selama aku masih menjadi suami Rea ", sambungnya, dan tangis Bella semakin pecah saat itu, " maafkan aku, karena semuanya harus seperti ini. Tapi ini demi kita, demi hubungan kita ", ucapnya, mencoba membuat tenang kekasihnya. Tapi Bella masih tidak mengangkat wajahnya saat itu. Dan petir kembali muncul dari dinding kaca.


Dan saat itu, selintas wajah Rea muncul dalam pikiran Gema, " semoga Rose menemaninya ", katanya membatin.


" Sebaiknya kita kembali tidur ", ajaknya lembut. Bella mengangkat wajahnya, mengusap sisa air mata yang mengalir, " baru beberapa hari saja aku sudah hampir menyerah Gema ", ucapnya serak.


" Kau janji akan bertahan Bella ", kata Gema langsung membantah, " Kau terlalu memikirkan hal ini. Kau harus tenang.. ". katanya lagi.


" Semua akan seperti semula setelah aku berpisah dengan Rea ", sambungnya, " sekarang ayo kita tidur lagi ", ajaknya, menarik tangan Bella, untuk kembali ke ruang tidur perempuan itu. Tapi Bella justru menarik tangannya kembali, " aku lapar Gema ", ucapnya.


" Lapar ? ", kata Gema mengulang dan sedikit terkejut mendengar hal itu. Sementara Bella sudah berjalan menuju lemari pendingin, mengambil susu cair dan sebungkus sereal, yang selalu menemaninya di setiap penghujung malam, " kau lapar ? ", ulang Gema menatap heran.


" Sudah seminggu ini, aku selalu bangun pukul tiga pagi untuk makan sereal ".


Gema masih berpikir hal itu sangat tidak mungkin untuk perempuan itu, seseorang yang selalu menjaga makannya, bahkan tak pernah menyentuh makanan apapun setelah jam delapan malam," ada yang berbeda denganmu Bella. Besok pagi kita harus memeriksanya ".


Bella mendongak dari hadapan lemari pendingin, " apa yang berbeda, aku hanya setres karena ulahmu ", sahutnya sambil berjalan membawa sebungkus sereal dan sekotak susu cair ke meja makan, " kau juga mau ? ", katanya menawarkan pada Gema. Lelaki itu hanya menggeleng dengan dahi yang berkerut. Ada ketakutan di pikirannya saat itu.


" Cepat habiskan serealmu dan kembali tidur setelah itu ", titahnya.


" Aku, aku akan pulang setelah kau tidur ", sahut Gema sedikit ragu saat mengatakannya, tapi perempuan di hadapannya, hanya bereaksi dengan menghela nafas, " aku benar-benar seperti seorang selingkuhan", gumamnya pelan.


" Bukan seperti itu Bella ! ",


" Tidak, tidak. Aku tidak sedang mencegahmu, karena kau sendiri tidak akan bisa pulang malam ini " kata Bella, sambil memandang pada dinding kaca. Cahaya petir, seperti cahaya camera saat itu, " di luar badai, jalan pasti di tutup ", katanya memperjelas, sementara Gema masih memandang pada kaca yang di penuhi percikan air hujan.


" Kirim pesan padanya, katakan kau tidak bisa pulang karena badai ", ucap Bella dingin, tangannya bergetar saat menyuap sereal ke dalam mulutnya.


~


Rea terperanjat dari tidurnya ketika suara ketukan pintu berulang kali membuatnya terbangun.


" Nona ", panggil khawatir dari seberang pintu.

__ADS_1


" Nona ", suara itu mengulang, yang tidak lain adalah Rose.


Rea menghela nafas, berusaha menyadarkan dirinya, dan kemudian, ia tertegun ketika menatap dirinya masih sendiri di atas tempat tidur, " dia tidak pulang ", gumamnya lemah. Dan Rose tidak henti memanggil dari balik pintu.


Ia terpaksa harus beranjak dari tempatnya, sebelum wanita paruh baya itu, meminta pelayan di rumahnya untuk mendobrak pintu kamarnya sendiri, " ya Rose ", katanya setelah membuka pintu kamar. Ia tak berani menampakan wajahnya di hadapan wanita itu.


" Ah syukurlah ", ucap Rose setelah melihat dirinya, " saya khawatir Nona ", katanya cemas.


Dan Rea hanya menoleh sesaat padanya, " aku baik-baik saja Rose ", balasnya.


" Hemm ya. Apa anda tidak terlambat. Sebentar lagi Maria akan datang ".


" Ya, katakan padanya untuk menunggu ", katanya singkat, lalu tanpa kembali bicara, ia berlalu menuju kamar mandi. Sementara Rose masih terdiam memandang padanya. Wanita itu menghela, Dirinya cukup paham untuk mengetahui saat suasana hati perempuan itu tidak baik.


" Anda pasti tidak sempat untuk sarapan. Saya akan menyiapkan Sandwish untuk anda makan di perjalanan nanti ", pekiknya memberitahu Rea. Ia sempat memandang ke arah tempat tidur sebelum kakinya beranjak, " ternyata Tuan memang tidak pulang ", gumamnya.


Di rumah besar itu, Rose adalah orang pertama yang bangun di pagi hari. Dan setiap pagi, ia selalu memeriksa kesekeliling rumah, untuk mengontrol apa saja yang harus di kerjakan oleh anak buahnya nanti. Dan pagi ini, ia menemukan mobil Gema belum kembali ke tempatnya.


" Apa Tuan pulang tadi malam ? " tanyanya pada penjaga depan. Lelaki bertubuh gagah di hadapannya menggeleng, " tidak ada siapapun yang datang tadi malam ".


" Sepanjang badai aku tetap disini ", sambungnya. Rose hanya menghela ketika mendengar itu dan langsung pergi tanpa kembali bertanya.


" Nanti di perjalanan, berikan ini pada Nona ", kata Rose pada Maria, seraya menyodorkan paperbag yang di isi kotak makanan dan sebotol susu kedelai. Maria memandang heran padanya, " Nona terlambat bangun ", kata Rose yang langsung menjelaskan tanpa menunggu perempuan itu bertanya, " dan ini untukmu ", katanya lagi, dengan kembali memberikan paperbag. Senyum Maria langsung mengembang, " Terimakasih Rose ", ucapnya senang.


Suasana di antara mereka sempat menghening, sebelum akhirnya Maria memberanikan diri untuk mengutarakan rasa penasarannya, " Rose ", panggilannya pelan dan wanita paruh baya itu langsung menoleh.


" Aku tidak melihat mobil tuan ", katanya melanjutkan. Rose hanya tersenyum hambar tanpa menjawab. Dan bersamaan langkah kaki Rea menuruni anak tangga mulai terdengar.


Maria langsung beranjak dari tempat duduknya saat itu juga.


" Kami pergi Bibi ", pamit Rea pada Rose, dan dia bicara tanpa berani memperlihatkan wajahnya.


Maria sempat memandang pada Rose, setelah melihat keadaan Rea pagi ini. Mata coklatnya menyipit, sinarnya redup tanpa cahaya. Seolah badai tadi malam terjadi di mata coklat indah milik perempuan itu. Dan Rose hanya membalasnya dengan memandang prihatin.

__ADS_1


" Jangan lupakan sarapan Nona ", pesannya pada Maria. Sebelum perempuan itu menyusul langkah Rea yang sudah berjalan menuju pintu utama.


__ADS_2