KITA Hanya MENIKAH

KITA Hanya MENIKAH
Selamat Datang Kembali Nona


__ADS_3

Dahi Maria sedikit berkerut, ketika masuk ke dalam rumah Rea. Matanya mengintari setiap sudut rumah besar itu dan slalu menemukan bunga disana, " apa akan ada pernikahan lagi disini " katanya tersenyum, dan terus berjalan melewati ruang keluarga, lalu lorong yang terhubung ke meja makan besar. Dan ia lanjut untuk menuju satu tempat dimana ia akan menemukan seseorang yang memiliki wewenang penuh untuk mengatur Mansion milik pengusaha muda kota London itu.


" apa akan ada pesta ? " tanya Maria. Beberapa pelayan yang ada di dapur menoleh padanya, dan menyapa.


" Kau sudah datang " tegur seseorang. Wajahnya berseri, meski kedua pipinya di kotori oleh tepung.


Maria mengangguk, dan tersenyum, menyaksikan beberapa orang yang terlihat begitu sibuk, sebagian orang memotong, dan sebagiannya lagi memasak, dan beberapa orang lainnya terlihat sedang membuat kue, termasuk seseorang yang tadi menyapanya, " kau membuat pesta penyambutan Rose ? " tanyanya, wanita paruh baya itu hanya tersenyum, " hanya makanan kesukaan Nona dan beberapa makanan kesukaan tuan " katanya.


" Kau sudah mempelajari makanan kesukaan Tuan Gema ? ".


" Bukankah itu harus. Tuan akan tinggal disini " sahut Rose. Tanpa kembali berkata-kata Maria hanya mengangguk, dan mendekat pada seloyang pie yang baru saja matang, " Sepertinya kau benar-benar sedang membuat pesta ".


" Kau mau mencobanya ? " tanya Rose, dengan muka berseri, Maria mengangguk.


" Enak ? " kata Rose kembali bertanya, saat satu gigitan pie masuk ke dalam mulut Maria, " sangat lezat Rose ", jawabnya. Ia sungguh terlihat menikmati setiap gigitan yang masuk ke dalam mulutnya.


" Apa akan ada banyak orang yang datang kemari ? " kata Maria, ia masih penasaran, kenap ada begitu banyak makanan yang di siapkan, dan Rose membuat lebih dari lima loyang pie sore ini.


" Kedua mertua Nona akan datang kemari, dan juga Nona Devita dan suaminya " Rose menjelaskan.


" Pantas saja " sahut Maria, " kau pasti sudah merencanakannya " sambungnya sambil terus mengunyah potongan terakhir pie di dalam mulutnya


Rose hanya tersenyum, " jangan katakan pada Nona ", katanya memperingati dan Maria tentu tidak akan ingkar, " aku melihat ada banyak bunga di depan. Apa itu juga untuk menyambut Nona ? "


" Hemmm.. " Rose mengangguk, sembari berjalan menuju open, dan mengeluarkan beberapa loyang pie yang sudah matang," Nona menyukai bunga " sambungnya.


Langit sudah mulai gelap. Devita dan Real, serta Rania putri mereka, kini sudah tiba di rumah Rea dan beberapa saat kemudian Frans dan Elba juga datang.


" Paman " sapa Real, ketika menyambut Frans masuk ke dalam rumah Rea. Ia memeluk erat ayah dari sahabatnya itu, " kita tidak sempat mengobrol saat itu ", ucap Frans tertawa, dan mengingatkan saat mereka bertemu di hari pernikahan putranya bersama Rea.


Real mengangguk, lalu melepas pelukannya, " anda pasti sangat sibuk hari itu ", balasnya. Ia kemudian berlanjut menyapa Elba, wanita yang terlihat sangat bersahaja dengan dress berwarna hijau tosca, serta kalung mutiara yang mengikat lehernya dengan indah. Rambut coklatnya yang bergelombang, terurai kebelakang, " kalian sudah lama datang ? " tanya Elba padanya.


" Baru saja Bibi "


" Apa ini ? " tanya Real, ketika seorang pelayan membawa masuk koper berukuran besar.


" Pakaian Gema " kata Elba memberitahu.


Real tertawa, " dia tidak sedang di usir dari rumahnya sendiri kan ? " ujarnya dan Elba ikut tertawa mendengar itu.


" Paman " seru Devita datang menyambut, memeluk tubuh Frans tak kalah erat dari suaminya, " mana putri cantikmu ? " tanya Frans.


" Dia bersama Maria " jelas Devita tersenyum.

__ADS_1


" Bibi " sapanya kembali pada Elba, memeluk Wanita paruh baya itu tak kalah erat, " anda sangat cantik bibi " katanya memuji.


" Kau lebih cantik, dan jelas lebih muda " balas Elba, dan mereka tertawa setelahnya.


Dua orang masuk, ketika Frans dan yang lain, sedang duduk di ruang keluarga.


" Tuan, dimana kami akan meletakkan ini ? " tanya dua pria, yang sedang membawa benda besar bebentuk persegi, dan di bungkus dengan kain halus berwarna putih.


Frans terlihat kebingungan. Dan semua orang juga menatap bingung pada benda besar itu, " Maria " panggilnya. Perempuan itu mendekat, " ya Tuan ".


" Dimana kira-kita foto ini akan di letakkan ? " tanyanya , sambil matanya mengintari dinding kokoh di sekelilingnya.


" Apa itu foto pernikahan Rea ? " tanya Devita menyeletuk dan frans mengangguk.


" Tunggu sebentar tuan. Aku akan memanggil Rose, dia yang paling tahu dimana foto ini harus di letakan " ujar Maria, yang segera ingin bergerak. Tapi orang yang di cari, tiba-tiba saja datang, bersama pelayan yang membawa satu nampan dengan beberapa cangkir teh di atasnya.


" itu Rose ", tunjuk Devita memberitahu.


" Rose ", panggil Frans bukan Maria, lelaki itu mendahului, sebelum sempat bibir Maria bergerak, " dimana harus meletakkan ini ? " tanyanya.


Rose yang baru saja mendekat dan tidak tahu, hanya menatap bingung, " ini foto pernikahan Nona dan Tuan " kata Maria menjelaskan, menunjuk benda besar yang masih terbungkus.


" Maaf Tuan, tapi biar Nona saja yang menentukan dimana ia ingin meletakkannya " jawab Rose, dan Frans langsung menyetujuinya.


" Duduklah Ayah. Mereka pasti akan tiba sebentar lagi " Titah Elba, sambil memangku putri Devita di pangkuannya, " dia sangat tidak sabar ingin bertemu menantunya " bisiknya pada Devita, dan perempuan itu tertawa.


Disaat semua orang menunggu dan asik pada obrolannya masing-masing. Rose tiba-tiba beranjak dari tempatnya.


" Ada apa Rose ? " tanya Devita heran, melihat perempuan itu bergegas menuju ruang depan dalam rumah itu, " Nona datang " serunya.


Semua orang langsung menghentikan obrolan mereka. Frans bahkan sudah berdiri tidak sabar. Kalau saja kehadiran mereka disana bukan kejutan, mungkin dia sudah berlari menyusul langkah Rose ke pintu depan.


" Nona " seru Rose ketika pintu terbuka oleh pelayan. Tepat, saat pintu mobil yang baru saja tiba, juga terbuka.


" Rose " seru Rea, ia berhambur menuju Rose, memeluk tubuh wanita paruh baya itu sangat erat, begitu pun Rose, " aku sangat merindukanmu Rose " katanya, matanya mulai berkaca-kaca.


" Saya juga Nona " balas Rose lirih.


" Lain kali, kemana pun aku pergi, aku akan membawamu Rose " kata Rea, dengan suara yang mulai serak. Rose hanya tersenyum.


Sedikit lama mereka berpelukan, sampai Rose baru menyadari kehadiran laki-laki yang berdiri tepat di belakang majikannya itu, " Tuan " panggilnya sambil melepas pelukannya bersama Rea.


" Kau sehat Rose ? " tanya Gema tersenyum, ia tak ragu untuk bergantian memeluk wanita paruh baya itu dengan istrinya. Bahkan Rea, cukup terkejut melihat itu.

__ADS_1


Rose terpaku sejenak, " tentu tuan " balasnya kaku. Ia masih begitu canggung untuk membalas pelukan suami dari tuannya.


" Baguslah, aku senang mendengarnya " kata Gema sembari melepas pelukannya, " selamat datang tuan " ucap Rose kemudian padanya.


Beberapa pelayan tengah bergantian membawa barang-barang Gema dan Rea masuk kedalam rumah, " hei tunggu " seru Rea pada satu pelayan.


" Ya nona "


" Berikan padaku " katanya, meminta pelayan memberikan benda yang sedang ia bawa.


" Bungaku " katanya, setelah memegang buket besar mawar merah di tangannya. Gema tersenyum melihat itu.


" Anda membawa ini dari Bali ? " tanya Rose, di sela langkah mereka berjalan masuk ke dalam rumah. Rea mengangguk, " suamiku yang memberikannya ", katanya tersenyum dan mungkin tanpa sadar mengatakannya.


Mendengar itu, Rose ikut tersenyum dan menoleh pada Gema yang berjalan di belakang mereka.Lelaki itu terlihat menahan senyumnya saat itu dan wajahnya jelas berseri.


Rose melipat bibirnya untuk tidak tersenyum geli.


" Kemarin aku bertemu koki tampan. Umurnya sama denganmu Rose " kata Rea bercerita, sambil terus berjalan masuk ke dalam rumahnya. Rose menyimak dengan tersenyum, " aku tanya padanya. Maukah anda menikah dengan bibiku " ujar Rea tertawa. Mata Rose langsung terbelalak, tapi kembali tersenyum ketika melihat Rea menceritakannya dengan begitu senang, " kau tahu " kata Rea dengan membesarkan matanya.


" Dia mau " lanjutnya berseru, dengan sebelah tangannya memeluk erat buket mawar.


" Nona, jangan gila " kata Rose.


" Kenapa ?, aku memperlihatkan fotomu dan dia mau. Dan aku juga bilang padanya, jika anda ingin menikah dengan bibiku, berarti anda harus berhenti bekerja disini dan bekerja denganku. Dia setuju Rose... " katanya, air mukanya membara menceritakan itu. Membuat Gema yang terus mengikutinya di belakang, ikut tertawa.


" Aku sudah menyimpan nomor teleponnya, dan dia bilang akan datang kemari bulan depan nan.... "


" Selamat datang Mr. Dan Mrs antonio " teriak semua orang di dalam ruang keluarga, Rea yang masih asik bercerita, tentu tersentak. Begitu pun Gema yang tidak tahu.


" Kalian disini ? " tanyanya begitu senang, matanya berbinar melihat semua orang terdekatnya berada disana, " paman " panggilnya pada Frans, " salah, maksudku ayah " katanya meralat, lalu memeluk lelaki paruh baya itu, dengan sebelah tubuhnya, " selamat datang nak " ucap Frans yang ingin membalasnya dengan memeluk erat, tapi terhalang oleh buket bunga di tangannya, " bisa kau singkirkan ini dulu " pinta Frans dan Rea langsung tertawa. Ia melepas pelukannya dan mendekat pada Rose yang masih berdiri di dekatnya, " tolong letakkan ini di kamarku Rose " pintanya memindahkan buket mawar di tangannya, " tolong jangan sampai rusak Rose " sambungnya memberitahu, bahkan ia terus memperhatikan sampai wanita paruh baya itu menghilang dari penglihatannya.


" Kau tidak merindukan aku ? " protes Devita menghampiri. Rea tertawa, lalu segera memeluk perempuan itu, " tentu aku merindukanmu bodoh " balasnya, dengan memeluk semakin erat.


" Mam " sapanya pada Elba, lalu memeluk tubuh perempuan itu. Bukan, justru Elba yang lebih dulu memeluk tubuhnya, " kau pasti sangat lelah " kata Elba di dalam pelukan mereka.


Frans memeluk tubuh putranya tanpa suara, pelukan itu menghening, hanya usapan tangan besarnya pada punggung Gema, lalu kemudian tangannya bergerak mengusap bagian matanya. Begitu pun Gema, ia tidak mengucapkan apapun, dan hanya membalas pelukan ayahnya dengan tak kalah erat.


" nona " sapa Maria.


Sejenak mata Rea menatap tajam ketika menemukanya, " kau.. " teriaknya begitu geram. Bukannya takut, justru Maria tertawa melihat mimik wajah itu.


" Selamat datang kembali Nona " ucapnya dengan kedua tangannya ia rentangkan.

__ADS_1


__ADS_2