
Kris termenung menatap jalanan di luar kafe. Pikirannya saling bertaut membayangkan bagaimana ia akan hidup saat ini. Kesabarannya terasa sudah habis untuk mempertahankan rumah tangga, tapi ia juga sulit untuk memutuskan pergi, jika memikirkan putri kecilnya akan kehilangan sosok seorang ayah. Namun, iya tak cukup hebat untuk bertahan.
Tanpa sadar air matanya menetes, dan dengan cepat ia menyekanya sebelum orang lain menyadari.
Tiba-tiba sebuah tangan menarik tubuhnya, hingga membuat dia tersentak, " ayo obati lukamu " ucap Emma dengan menatap sendu padanya.
Kris terdiam sejenak, " sungguh ini tidak apa apa Emma. Aku tidak apa-apa " ucapnya. Namun, matanya yang kembali berair seperti menjelaskan bahwa ucapannya hanyalah kebohongan.
Emma tak menggubris. Di bawanya terus tubuh Kris pergi menuju ruang beristirahat para karyawan, " duduk disana " pintanya pada ibu satu anak itu. Lalu ia kembali bergerak mengambil kotak obat.
Kris meringis saat tangan Emma mengoles obat salap pada bagian lukanya.
" Aku tahu ini sakit Kris. Tapi aku yakin hatimu lebih sakit lagi dari ini " ucap Emma. Hatinya ikut hancur saat melihat wajah cantik milik teman kerjanya itu kini telah melebam oleh sebuah pukulan. Sekali pun Kris tidak bercerita tapi ia sangat tahu siapa yang sudah melakukan itu padanya.
Kris kini tertunduk dan isak tangan mulai terdengar, " sepertinya aku tidak kuat lagi Emma. Aku sudah lelah " ucapnya lirih.
" Aku sudah tidak sanggup lagi untuk bertahan " sambungnya. Tangisnya kini terdengar semakin pilu dengan derai air mata yang tidak berhenti mengalir, meski dengan cepat ia mengibas setiap kali bulir kristal itu terjatuh.
Emma tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis, di rengkuhnya tubuh bergetar Kris," kau berhak bahagia Kris" ucapnya, " dan kau berhak di bahagiakan".
" Putuskan apa yang terbaik untukmu. Semua tidak punya hak atas hidupmu kecuali dirimu sendiri Kris. Dan aku orang yang akan selalu mendukung keputusanmu " lanjutnya.
Kris tidak lagi berkata-kata. Namun, isak tangisnya sudah memperlihatkan bagaimana hancur hatinya saat ini. Bagaimana sulit keadaannya saat ini.
" Percayalah kau hanya perlu kemutuskan saja Kris. Bertahan dengan lukamu atau kau pergi dan temukan kebahagiaanmu. Setidaknya jika kau sendiri hatimu tidak akan sesakit ini ".
" Lalu bagaimana putriku Emma ? "
" Bawa dia bersamamu "
" Bukan itu. Aku hanya takut dia kehilangan sosok ayahnya ".
" Aku rasa dia lebih memilih kehilangan ayahnya dari pada melihat kau terus di sakiti Kris ".
Di tengah tangisnya Kris menghela nafas begitu dalam, " Bukankah aku juga berhak bahagia Emma ? "
" Ya. Tentu Kris. Bahkan Tuhan membenci manusia yang menyakiti dirinya sendiri, padahal dia punya pilihan untuk bahagia "
" Putuskan yang terbaik untukmu Kris. Hatiku sungguh hancur melihat keadaanmu seperti ini " ucapnya penuh emosi.
Kris menyeka air matanya, " terimakasih telah peduli denganku Emma. Selain putri kecilku, hanya kau satu-satunya orang yang peduli padaku " ucapnya lemah.
__ADS_1
" Aku akan selalu ada untukmu Kris " kata Emma dengan bersungguh-sungguh, bahkan berulang kali ia menghela nafasnya oleh dada yang sesak karena melihat kondisi teman kerjanya itu, " kau pasti akan bahagia. Aku percaya itu " tambahnya.
Kini tubuh Emma telah beranjak, lalu mengulurkan tangannya pada Kris" Ayo. Sepertinya pangeranmu sebentar lagi akan datang " ucap Emma.
Mendengar itu garis bibir Kris melengkung, " orang orang, benar-benar akan menuduhku berselingkuh karena ucapanmu Emma ".
" Selama itu tidak terbukti, maka biarkan saja gosip itu mengalir " ucap perempuan itu begitu santai, " ayo " ajaknya lagi.
" keluarlah lebih dulu Emma. Aku ingin mencuci mukaku terlebih dahulu "
" Baiklah. Jangan lupa pasang pemerah bibirmu " sahut Emma menggodanya dengan tertawa. Sementara Kris mendengus kesal sambil berjalan menuju kamar mandi di dalam ruang istirahat.
~
Jam makan siang sudah lewat. Dan saat itu Kris menyadari jika ada sesuatu yang terasa aneh di dalam dirinya.
Ia seperti merasa kehilangan sesuatu dan otaknya seperti mencari sebab, kenapa seseorang itu tidak datang hari ini.
Tanpa ia sadari matanya terus melihat ke arah pintu dan itu tidak lepas dari padangan Emma.
" Sepertinya kau tengah menunggu seseorang ? " serunya menggoda wanita itu.
" Kau tidak pintar berdalih Kris " seru Emma tertawa, " tapi aku juga penasaran kenapa dia tidak datang hari ini ? " sambungnya dengan ikut melihat ke arah pintu.
" Apa itu sebabnya dia memberikan begitu banyak uang untukmu kemarin ? "
" Mana aku tahu Emma "
" Ya mungkin begitu. Mungkin beberapa hari ini dia tidak akan datang makanya dia memberikan banyak uang kemarin ".
" Beberapa hari ? " ulang Kris.
" Mungkin. Tunggu apa kau sudah merindukannya huh " sergah Emma tertawa, " kau gila. Apa yang sedang kau katakan " kata Kris menepis ucapan temannya itu.
" Iya pun juga tidak apa apa Kris. Justru aku melihat kau cukup bersemangat akhir-akhir ini dan aku yakin itu karena tuan Laem "
" Emma hentikan. Aku sungguh akan di kira berselingkuh karena ucapanmu ".
" Kris ayolah. Itu tidak benar dan berhenti memikirkan omongan orang lain. Memikirkan orang lain tidak akan membuat kau bahagia bukan ?. Selama kau tidak menyakiti siapa pun, kau berhak memilih jalan hidupmu ".
" Jika tidak ingin di kira berselingkuh. Maka selesaikan saja hubungan tak bahagiamu itu. Mungkin aku terdengar begitu jahat. tapi sungguh, aku hanya ingin melihat kau bahagia Kris ".
__ADS_1
Kris tidak membenarkan atau pun juga membantah ucapan temannya itu. ia hanya tersenyum hambar, bersama otak yang terus berpikir tentang apa yang harus ia putuskan saat ini.
" Astaga, Tunggu " teriak Emma tiba tiba. Membuat Kris yang tengah sibuk bercengkrama dengan pikirannya menjadi tersentak, " kau mengejutkan aku Emma " serunya dengan jantung yang berpacu.
" Kau harus lihat ini " pinta Emma sambil menunjuk pada gambar di dalam sebuah koran.
" Apa kau juga melihat orang yang sama " sambungnya tak percaya.
Kris masih terdiam dengan mata yang menatap lamat pada gambar di hadapannya, " itu dia Kris. Laem Brookstein " ucap Emma, matanya membesar saat mendapati nama lengkap Laem tertulis dalam sampul surat kabar, " ternyata dia salah satu dari Brookstein bersaudara. Astaga aku tak percaya ini. Bagaimana bisa salah satu pangeran negara ini datang ke restoran sederhana kita. Ini seperti mustahil Kris " cercah Emma yang terus tidak menyangka dengan sesuatu yang baru ia ketahui.
Kris semakin terdiam, meski ia tak mengetahui secara detail seperti apa keluarga Brookstein. Namun, satu negara ini tahu bahwa mereka adalah keluarga terhormat negara ini. keluarga dengan pemilik saham terbesar di dalam negara mereka.
Sementara Laem terlahir sebagai putra kedua dalam keluarga terpandang itu dan menjadi anak laki-laki pertama yang harus meneruskan usaha keluarganya.
Sementara kakak pertamanya, Lenan Brookstein sudah memutuskan untuk mundur dari tempatnya sebagai ahli waris pertama sebagai penerus perusahaan. Ia memilih menjadi dokter bedah di salah satu rumah sakit ternama kota London yang ia dirikan, dan tentunya gedung itu bisa berdiri lewat campur tangan keluarganya.
Sementara putra ketiga keluarga Brookstein, Laezi Brookstein memilih menjadi seorang aktor dengan citra yang sangat baik. Meski di belakang camera ia terkenal sebagai casanova kota London.
Brookstein bersaudara adalah ketiga pangeran yang di gilai oleh perempuan-perempuan kota London. Namun, dari ketenaran itu hanya sedikit yang mengetahui tentang putra kedua keluarga Brookstein, yaitu Leam Brookstein.
Ia lelaki yang bekerja keras dan tertutup. Ia bahkan tidak pernah punya waktu untuk hadir di acara amal yang di selenggarakan setiap setengah tahun sekali oleh keluarga besarnya. Oleh sebab itu sangat jarang wajahnya terpampang dalam surat kabar. Hanya sesekali jika ia baru saja berhasil bekerja sama dengan inverstor besar dunia.
Seperti saat ini, wajahnya terpampang di surat kabar di hadapan Kris, karena ia berada di deretan terdepan untuk memotong pita peresmian sebuah waduk besar yang di bangun oleh kerja kerasnya.
" Laem Brookstein " ulang Emma.
" Ini gila. Ini benar benar gila Kris. Astaga bahkan jantungku tidak berhenti berdetak " lanjut Emma yang terus tidak percaya.
" Kau orang yang sangat beruntung Kris " ucapnya lagi.
Dahi Kris berkerut, " apa yang membuatku beruntung Emma " tanyanya tidak mengerti.
" Apa kau bodoh. Leam Brookstein itu menyukaimu Kriss. Aku bisa bertaruh untuk hal itu "
" Jangan gila itu baru hal mustahil. Dia hanya mengasihaniku bukan menyukai Emma "
" Kau tahu apa ?, aku melihat jelas bagaimana ia terus menatapmu Kris ".
Kris menarik nafas, " Berhenti berkhayal Emma" ucapnya, " seandainya pun dia suka. Dia hanya mengetahui aku sebagai wanita lajang, bukan sebagai wanita yang memiliki satu anak ".
" Bahkan aku yakin, setelah mengetahui semuanya dia akan sangat menyesal telah mengenalku " sambungnya dengan tertawa. bersama sebuah tarikan nafas yang sedikit lebih dalam.
__ADS_1