
Setelah menempuh perjalanan selama 22 jam.
Pesawat yang Keno tumpangi kini telah sampai di bandara John.F Kennedy, New York
Ia berjalan menuju pintu keluar bandara. Matanya menelisik seperti sedang mencari seseorang.
Di ujung basement seseorang seusia Keno tengah melambaikan tangannya, Keno pun berjalan menghampiri pria itu.
“Hai Delon, apa kabar?” Tanya Keno pada pria yang menjemputnya, tak lain adalah Delon. Kakak Kiara.
Mereka bersahabat cukup lama sejak keduanya sama-sama duduk dibangku kuliah ketika menempuh pendidikan S2 nya.
“I’m okay lah, kau sendiri saja? Paman dan Bibi tidak ikut?” Tanya Delon
“Tidak, mereka ada acara menghadiri reuni bersama teman lama nya. Biasa orangtua memang menghabiskan waktu dengan hal-hal yang menurutku sangat tidak penting itu” tukas Keno pada Delon
“Ck. Kau ini” decak Delon.
Mereka berdua masuk kedalam mobil kemudian berlalu pergi meninggalkan bandara.
“Kau mau menginap dimana? Ke Mansion ku, Mansion nenekmu, atau ke apartment?” Tanya Delon beruntun
“Ck! Kau ini sudah seperti pemilik penginapan saja” tukas Keno
“Aku bertanya, apa salahnya? Kau mau aku titipkan ke panti jompo karena bingung mau kemana?” Timpal Delon dengan konyol.
“Sialan kau ini, pantas saja kau masih jomblo sampai sekarang. Menyebalkan sekali” kesal Keno
“Nih” ujar Delon seraya memberikan cermin berbentuk hello kitty, entah dapat darimana pria itu
“Apa?” Kernyit Keno bingung
“Sepertinya kau tak tahu caranya berkaca Keno, kau sendiri bagaimana? Kau saja masih berkelana tak tahu arah akibat gagal move on” ejek nya pada Keno
“Hei jangan sembarangan berbicara! Adikmu saja mulai luluh padaku, itu artinya sebentar lagi aku akan melepas gelar jomblo ku” ujar Keno yakin
__ADS_1
“Helehh, baru akan. Mana tahu Kiara menolakmu untuk kedua kalinya!” Serunya sambil tertawa terbahak-bahak. Keno pun memutar bola matanya malas. Memang semprul sahabatnya ini pikir Keno.
“Mana mungkin, lihat saja nanti” ucapnya yakin
“Ya kita lihat saja” sahut Delon menghentikan tawa nya.
Dalam hatinya ia sangat berharap adiknya bisa bersatu dengan Keno, sebab ia sendiri tahu betapa besar rasa cinta Keno pada adiknya. Ia sendiri yang menjadi saksi kisah cinta Keno yang malang itu, ditolak sebelum bertemu hingga menyimpan rasa selama tiga tahun lamanya tentunya hal yang tidak mudah dan tak sedikitpun hatinya berpaling dari Kiara, betapa setia nya pria itu batin Delon.
Lagi pula kalau pun Kiara belum mencintai Keno, tak apalah. Akan lebih baik dicintai daripada mencintai bukan? Dengan begitu tak ada yang namanya sakit hati, seperti yang di alami Kiara saat ini.
“Ke apartment ku saja Del, lagipula grandma tidak tau kedatanganku kemari. Aku ingin istirahat dulu” ujar Keno memberitahu.
“Dal del dal del, memang adel?!” Seru Delon tidak terima dengan sebutan itu.
“Lalu kau mau aku memanggilmu apa? Lon? Galon kali!” Balas Keno tak semakin menyebalkan
“Bro kek, apa kek. Ck! Akan terdengar feminim sekali dengan sebutan itu!” Protes Delon
“Hahahaha.. sepertinya cocok” seru Keno meledakkan tawanya.
Sepanjang perjalanan menuju apartemen Keno, mereka masih terus saling mengejek satu sama lain. Mereka jika sudah bertemu memang akan menyajikan pertunjukan lawak paling top mengalahkan Sule hahaha🤣
Tiga puluh menit menempuh perjalanan akhirnya mereka sampai di gedung apartemen Keno.
“Kapan kau ada waktu luang? Aku ingin membahas sesuatu,ini penting” ucap Keno
“Kita bicarakan nanti malam, aku harus segera kembali ke kantor” ucap Delon pada Keno
“Ya, jangan lupa menjemputku, mobilku masih berada di mansion grandma” terang Keno
“Kenapa kau tak naik ojek saja?” Tukas Delon
“Ini di New york! Mana ada ojek dodol!” Seru Keno. Ia pun menggelengkan kepala, bagaimana bisa ia menjadi seorang presdir jika otaknya setengah konslet begini,pikirnya.
“Iya juga ya, hehehe” sahut Delon cengengesan
__ADS_1
“Aku turun dulu,bye” pamit Keno yang tak tahan dengan kekonyolan Delon. Semoga saja Kiara tidak sama sengklek nya dengan Delon doa nya dalam hati.
Delon mengacungkan kedua jempolnya pada Keno, lalu menginjak pesal gas meninggalkan lobi apartemen Keno.
Sementara di New York siang, berbeda dengan Indonesia saat ini hari sudah malam. Selisih waktu Indonesia 12 jam lebih cepat dari New York.
Kiara tengah membaca majalah sambil duduk di sofa yang berada dikamarnya, kini menjadi rutinitas Kiara selain menonton drakor. Ia membolak-balikkan majalah tanpa fokus pada isi majalah, pikirannya melanglang buana memikirkan Keno yang sampai sekarang belum memberi kabar dirinya. Ah memangnya dia siapa sampai berani berharap Keno akan memberi kabar padanya? Sungguh konyol pemikiran Kiara. Tapi ia tak dapat menepis ada rasa ingin menghubungi nomor Keno tapi dia tak cukup memiliki nyali.
Ia mengurungkan niatnya tersebut. Toh dua hari lagi ia akan ke Amerika, untuk apa menghubungi Keno pikirnya.
Ia tidak ingin terlalu menggantungkan dirinya pada Keno, akan sangat sulit jika terjebak pada dua situasi rumit ini pikirnya. Biarlah ia menghadapi permasalahannya sendiri.
Pintu kamar pun terbuka, menampilkan sosok Ryan yang berjalan masuk sambil menenteng tas kerjanya, mungkinkah laki-laki itu lembur lagi? Entahlah Kiara sudah tidak peduli lagi dengan apa yang dilakukan oleh Ryan. Jika dia bisa bertingkah sesuka hatinya mengapa dia tidak?
“Aku sudah booking tiket pesawat ke Amerika. Lusa kita berangkat” ucap Ryan sambil melepaskan ikatan dasinya.
“Ya,terimakasih” ucap Kiara singkat. Ia kembali memfokuskan pandangannya ke majalah.
“Satu lagi, jangan pernah berani mengatakan apapun soal rumahtangga kita, aku tidak ingin Papa mu tau yang sebenarnya” tegas Ryan
“Memangnya rumahtangga kita kenapa?” Sahut Kiara santai
“Sudahlah ingat baik-baik ucapanku. Aku tidak pernah bermain-main Kiara” icapnya sedikit mengancam
Kiara diam saja tak menyahuti perkataan Ryan, ia begitu malas meladeni suaminya itu.
‘Cihh.. kau pikir aku takut dengan ancamanmu itu, aku bukan wanita lemah seperti yang ada di pikiranmu mas. Gertakan mu hanya ku anggap seperti angin lalu” Kiara berdecih, dalam hatinya ia sangat muak berada satu atap bahkan satu ranjang dengan laki-laki penghianat itu. Rasanya ingin sekali Kiara pergi dari rumah itu, namun ia harus bersabar untuk sementara waktu.
‘Akan aku pastikan kehancuranmu bersama wanita itu, dan aku tidak sabar menunggu hari itu tiba!’
Lanjutnya dalam hati seraya pergi dari kamar itu menuju kamar tamu disebelah kanan kamar Kiara.
Ryan yang baru saja selesai membersihkan diri ia pun keluar dari walk in closet mengenakan pakaian tidur. Ia berjalan menuju tempat tidur namun Kiara tak ada ditempatnya.
Entahlah mungkin saja dia sedang berada dibawah untuk minum,mengingat kebiasaan Kiara yang setiap malam terbangun karena haus. Ia hanya cuek mengendikkan bahu nya seraya merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tak lama Ryan pun tertidur.
__ADS_1