
Keesokan paginya Kiara terbangun lebih dulu, pemandangan pertama kali yang ia lihat adalah suaminya tertidur dengan posisi duduk memeluk perut buncitnya.
Seketika senyum manis tercetak di bibir Kiara.
Tangannya terulur mengusap kepala Keno.
“Aku tidak salah memilih pendamping hidup kan? Rasanya seperti mimpi bisa memiliki mu hubby” ucap Kiara tersenyum bahagia.
Keno yang merasa terganggu dengan sentuhan Kiara langsung membuka kedua matanya lebar.
“Honey..” panggil Keno dengan suara serak khas bangun tidur.
“Maaf aku membangunkan mu, kenapa tidur disitu hubby.. badanmu pasti pegal-pegal kan” ucap Kiara tak enak hati.
“No, its okey honey.. sejak kapan kau sadar? Ada yang sakit?” Tanya Keno
Kiara menggeleng pelan.
“Baru saja. Tidak ada yang sakit hubby, hanya pusing saja” ucap Kiara.
“Syukurlah.. mau minum?” Tawar Keno
“Boleh” ucapnya.
Keno dengan sigap mengambilkan segelas air putih di atas nakas lalu membantu istrinya bangun.
“Thank you hubby, bagaimana keadaan Sylvi? Dia baik-baik saja kan?” Tanya Kiara yang tiba-tiba teringat dengan sahabatnya itu.
“Aku belum menanyakan lagi pada Morgan honey, semalam Morgan bilang Sylvi pendarahan dan harus melakukan operasi cesar untuk mengeluarkan bayinya” jelas Keno.
“Ya Tuhan.. separah itukah keadaannya hubby?” Ucap Kiara membekap mulutnya tak percaya.
“Jangan terlalu mengkhawatirkan seseorang berlebihan honey, doakan dia agar kuat. Fokus saja pada dirimu sendiri dulu. Setelah keadaan membaik baru kita menjenguknya nanti” ucap Keno.
“Tapi sekarang aku merasa baik-baik saja hubby” sanggah Kiara.
Keno menggelengkan kepalanya tanda menolak.
“Ini masih terlalu pagi, kita pun tidak tahu apakah pasien pasca operasi boleh langsung di jenguk atau tidak honey. Tunggu kabar dari mereka dulu” ucap Keno memberi pengertian pada istrinya itu.
“Hufhhh.. baiklah” ucap Kiara pasrah.
“Bagus.. aku suka wanita penurut” ucap Keno mengacak gemas surai panjang istrinya.
“Aku ingin mandi hubby, tubuhku rasanya lengket sekali” keluh Kiara merengek.
“Sebentar, biar aku minta bodyguard membawakan perlengkapan mandi mu” ucap Keno beranjak dari duduknya.
Kiara mengangguk pelan.
__ADS_1
“Tolong bawakan perlengkapan mandi untuk istriku, dan jangan lupa baju ganti ku” ucap Keno memberikan perintah pada bawahannya yang berjaga di luar ruangan.
“Siap laksanakan Tuan” jawab bodyguard itu.
Keno pun kembali masuk ke dalam ruangan Kiara membantu istrinya itu membersihkan diri.
Sementara di ruang tahanan tempat markas kebesaran Adrian. Ben dan para bawahannya saat ini tengah memberikan pelajaran pada dua manusia terkutuk itu, William dan Laura masih saja meronta minta di lepaskan.
“Seharusnya aku membunuh mu saat itu juga William, rupanya peringatan ku padamu tempo lalu tidak kau telaah dengan baik. Dan inilah balasanmu, nikmatilah sisa hidupmu disini!” Tekan Adrian dikuasai rasa amarah. Sebab disaat William pertama kali masuk ke negara Los Angeles saat itu juga Adrian bertemu dengannya, Adrian mengancam untuk tidak mengusik kehidupan keluarga besarnya lagi namun William ingkar janji dan malah menjadi dalang dari penculikan Kiara.
“Cih! Bunuh saja aku sekarang juga! Aku muak melihat keluarga mu yang sudah menghancurkan hidupku!” Ucap William.
“Apa kau pikir semudah itu setelah semua yang kau lakukan?! Jangan bermimpi kau bisa mati secepatnya! Kau dan wanita ja**** mu itu harus merasakan penderitaan melebihi apa yang menantuku rasakan!” Teriak Adrian.
“Biar aku saja yang memberikan hukuman pada dua orang itu Om!” Seru Morgan yang tiba-tiba datang.
Adrian menoleh, “Sejak kapan kau datang?” Tanya Adrian.
“Baru saja, aku harus memberi mereka pelajaran yang berharga karena sudah membuat anak dan istriku berjuang antara hidup dan mati!” Ucap Morgan dengan tatapan iblisnya.
“Baiklah, ku serahkan padamu. Sebenarnya aku cukup jijik berhadapan dengan manusia hina seperti mereka” ucap Adrian tersenyum menyeringai.
Laura hanya terdiam dan terus menangisi keadaannya, apalagi dia tengah mengandung saat ini. Ia memikirkan bagaimana nasibnya, masa bodoh dengan janin dalam kandungannya karena wanita itu memang tidak mengharapkan benih dari William. Yang ia harapkan hanyalah Keno, tapi pria itu sejak kemarin tak kunjung datang menampakkan batang hidungnya.
“Hei kau! Ku peringatkan sekali lagi padamu, jangan pernah berani mengharapkan cintamu padanya! Aku berbicara sebagai ayahnya, kau sangatlah jauh dan tidak pantas untuk putraku! Dengar itu wanita gila!” Gertak Adrian penuh penekanan.
Isak tangis nya semakin keras membuat semua orang yang ada disana menutup telinga nya rapat-rapat.
“Ben!” Panggil Adrian kemudian.
”Ya Tuan” jawab Ben
“Seret wanita gila itu keluar dari sini! Masukkan dia ke rumah sakit jiwa sekarang juga dan utus beberapa anak buah untuk berjaga jangan pernah biarkan dia kabur dari sana!” Titah Adrian mutlak.
“Apa? Om mau membebaskan hukuman wanita sialan itu?! Apa Om tidak salah??” Cecar Morgan tak terima, belum juga dia memberi pelajaran pada wanita itu.
“Kau lupa dia sedang mengandung, tidak mungkin juga kita membunuh nya sementara anaknya tidak bersalah” jawab Adrian
“Tapi aku belum memberinya hukuman Om!” Protes Morgan tak terima.
“Sudah cukup hukuman nya selama dua hari ini, biarkan dia menjalani hukumannya di rumah sakit jiwa. Itu akan lebih membuatnya menderita batin dan mental, kau cukup urus pria sialan itu” terang Adrian.
Morgan mendengus kesal mendengarnya, apa-apaan ini?
“Cepat bawa dia!” Perintah Ben pada beberapa bodyguard.
“Tidak!!! Aku tidak mau berada di tempat menjijikkan itu!!!! Lepaskan akuuu!! William tolongggg!!!”
Laura terus berteriak meronta menyebut nama William sedangkan orang yang di sebut kini tengah kesakitan tak berdaya karena hukuman dari Morgan.
__ADS_1
“Cukup untuk hari ini, kenapa kau kesini? Siapa yang menjaga istrimu?” Tanya Adrian pada pria itu.
“Aku tidak bisa mengulur waktu lagi Om, istri dan anakku sudah di jaga oleh perawat. Dan juga Keno dan Kiara” ucap Morgan.
“Jadi menantuku sudah sadar? Bagaimana keadaannya??” Cecar Adrian penuh tanya. Ia hampir melupakan bahwa sejak pagi buta ponselnya terus berbunyi namun pria paruh baya itu tak menghiraukan karena terus di bayangi dengan dua manusia sampah itu.
Morgan mengangguk, “sepertinya Kiara baik-baik saja Om, tidak ada sesuatu yang serius. Mungkin dia hanya shock saja” terang Morgan.
“Baiklah, ayo kita kembali ke rumah sakit” ajak Adrian.
“Tapi aku belum selesai Om!”
“Ah sudahlah kau tega sekali meninggalkan anak dan istrimu terlalu lama!”
“Astaga aku baru saja datang!” Seru Morgan tak terima, tubuhnya terus di tarik paksa oleh Adrian keluar dari markas.
“Vi.. kapan kau akan bangun? Lihatlah malaikat kecil mu sudah hadir di dunia ini, kau tidak ingin mengucapkan selamat datang padanya?” Ucap Kiara lirih memegang tangan sahabatnya yang terbaring tak sadarkan diri pasca operasi pukul dua dini hari.
“Kau tau Vi, aku hampir saja frustasi mendengar kondisi mu yang seperti ini. Tapi aku harus kuat demi bayiku kan? Kau pun juga sama Vi, ayo bangun.. beri salam pada putramu” ucap Kiara meneteskan airmatanya pilu.
Sementara sang empu masih setia memejamkan rapat kedua matanya.
“Jangan menangis honey, kau bilang ingin menguatkannya lalu kenapa jadi kau yang bersedih sekarang?” Ucap Keno mengusap airmata istrinya.
“Ini semua juga gara-gara aku hubby” ucap Kiara tertunduk sedih.
“No, tidak seperti itu. Mereka mengincar kalian berdua bukan hanya kau saja” bantah Keno menepis rasa bersalah Kiara.
“Entahlah.. aku tidak ingin mengingatnya lagi” ucap Kiara.
“Itu lebih bagus” sahut Keno.
“Ayo kita jenguk baby boy” ajak Kiara berpindah di inkubator sudut ruang rawat Sylvi.
“Baiklah” ucap Keno mengekori istrinya.
Ia melangkahkan kakinya semakin mendekati inkubator itu dan tangannya menyentuh kaca.
“Hubby, aku tidak tega melihat malaikat kecil ini terbaring lemah hiks hiks..” isak tangis Kiara di pelukan sang suami menatap bayi mungil berada di dalam inkubator. Berat badannya sangat rendah sehingga bayi itu dikatakan prematur oleh sang dokter.
“Aku mengerti perasaan mu honey, aku membayangkan jika itu bayi kita akupun tak sanggup dan tak mungkin bisa sekuat Morgan” ucap Keno mengusap bahu Kiara dengan tatapan lurus menatap bayi mungil itu.
“Hiks.. hiks.. apa bayi kita akan baik-baik saja hubby?” Tanya Kiara mendongak.
“Tentu saja, dokter bilang bayi kita bayi yang kuat. Aku juga berharap jika dia lahir nanti tidak ada kurang satu apapun” ucap Keno tersenyum samar.
Pria itu kembali mengingat momen semalam dimana ia tengah berbicara dengan calon bayi nya yang masih di dalam perut Kiara.
“Kelak jika kalian tumbuh besar bersama, Daddy harap kalian saling menyayangi, saling menjaga dan melindungi boy” batin Keno dalam hati.
__ADS_1