
Sesampainya di rumah sakit, Keno tengah di tangani beberapa dokter di ruangan Instalasi Emergency.
Delon dan Will saat ini tengah menunggu di luar ruangan dengan raut wajah penuh khawatir.
“Bagaimana ini Will? Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu pada Keno” ucap Delon lirih.
“Kita berdoa saja Tuan, saya yakin Tuan Muda tidak akan kenapa-kenapa. Dia orang yang kuat” ucap Will menenangkan. Dalam hatinya juga harap-harap cemas namun ia harus memberikan energi positif untuk Delon.
Andai saja ia dengan sigap menarik pelatuknya tadi mungkin pembunuh itu tidak akan sempat melayangkan pisau ke perut Keno. ‘Maafkan saya karena gagal melindungimu Tuan’ ucap Will dalam hati.
Ceklek..
Pintu ruangan Keno pun terbuka.
“Keluarga pasien?” Tanya dokter laki-laki itu.
“Ya, saya dok” ucap Delon.
“Kondisi Tuan Keno masih lemah biarkan beliau istirahat dulu, besok pagi baru boleh di jenguk dan kami berhasil menutup luka tusukan itu dengan beberapa jahitan. Lukanya tidak terlalu dalam,hanya saja pasien dilarang beraktifitas terlalu ekstrim untuk sementara waktu agar luka nya segera berangsur pulih” jelas dokter itu.
“Syukurlah, baik dok.. terimakasih banyak” ucap Delon
Dokter itu mengangguk tersenyum lalu pergi meninggalkan ruangan itu.
“Tuan, Apa sebaiknya kita kabari Tuan Besar saja mengenai kondisi Tuan Muda?” Tanya Will
“Ya Will.. mereka harus tau hal ini. Tapi jangan sampai Kiara tau dulu. Anak itu pasti shock jika tau Keno terluka” ucap Delon
“Baiklah Tuan, saya akan menghubungi Tuan Besar terlebih dahulu. Permisi” pamit Will meninggalkan Delon
Di mansion Keluarga Bimantara saat ini sudah pagi, hanya selisih waktu satu jam lebih saja.
Namun Adrian dan Merry masih terlelap.
Dering ponsel pun membangunkan dua insan paruh baya itu.
“Dad.. sepertinya ada telfon” ucap Merry membangunkan Adrian.
“Hmmm” ucapnya membuka mata dan meraih ponselnya di atas nakas.
“Hallo..”
“Hallo Tuan, maaf mengganggu waktu tidur anda” ucap Will.
“Oh, kau Will. Ada apa? Bagaimana perkembangan penyerangan nya?” Tanya Adrian
“Markas sudah berhasil kami ledakkan Tuan, dan pembunuh itu juga sudah tewas bersama ledakan itu. Hanya saja..” ucap Will menggantung
“Hanya apa Will? Lanjutkan jangan membuat aku penasaran” tanya Adrian mengernyitkan dahi.
“Hanya saja Tuan Keno terluka akibat tusukan dari pembunuh itu sebelum akhirnya tewas Tuan” jawab Will dengan suara berat.
“Apa?! Bagaimana bisa Will?” Tanya Adrian kaget.
“Kenapa Dad??” Tanya Merry.
Adrian mengankat salah satu tangan nya mengisyaratkan agar diam dulu.
“Maafkan saya gagal melindungi Tuan Muda, semua itu terjadi begitu cepat Tuan. Beliau berniat melindungi Tuan Delon yang sebenarnya jadi sasaran oleh pembunuh itu” ujar Will menjelaskan
“Lalu bagaimana keadaan nya sekarang. Dan Delon?” Tanya Adrian.
“Tuan Delon baik-baik saja dan Tuan Muda saat ini sedang beristirahat, dokter bilang luka tusukan nya tidak terlalu dalam Tuan. Hanya beberapa jahitan saja untuk menutup luka tusukan itu” jelas Will.
“Sekali lagi maafkan saya Tuan Besar, saya siap menerima hukuman apapun dari Tuan Besar” imbuhnya dengan penuh sesal.
“No, ini bukan salahmu Will. Ini murni insiden. Jangan menyalahkan dirimu. Baiklah aku akan terbang ke sana hari ini juga, kirimkan lokasi mu nanti” ucap Adrian.
“Tapi Tuan Delon berpesan jangan memberitahu pada Nona Kiara dulu Tuan besar” sela Will.
Adrian menghembuskan nafasnya berat.
“Tanpa di beritahu pun anak itu sudah merasakan kejanggalan dari semalam Will, Keno tidak mungkin mengaktifkan ponselnya bukan? Dan jika dia tahu aku pergi dalam waktu yang cukup lama pasti anak itu akan curiga. Mau tidak mau aku harus memberitahunya” ujar Adrian berat.
“Baiklah Tuan Besar. Saya pun tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah Nona” ucap Will pasrah.
__ADS_1
“Ya, aku tutup dulu telpon nya Will. Kabari aku mengenai kondisi perkembangan Keno” ucap Adrian.
“Baik Tuan” ujarnya
Lalu panggilan pun berakhir.
Sejak tadi firasat Merry buruk, entah apa yang terjadi pada putranya. Ia setia menunggu jawaban dari suaminya.
“Bagaimana Dad, apa yang terjadi?” Tanya Merry.
“Hufffhh.. Keno terluka Mom” jawabnya sedikit berat.
“A-apa? Bagaimana mungkin Dad?” Tanya Merry dengan mata berkaca-kaca
“Dia terkena luka tusukan karena melindungi Delon yang sebenarnya menjadi target dari pembunuh itu” ujar Adrian menjelaskan.
“Apaa??! Tidak mungkin!” Bukan Merry yang menjawab, tetapi Kiara yang tengah berdiri di ambang pintu. Dari tadi ia mengetuk pintu namun tidak ada sahutan. Ia ingin bertanya kepada Adrian mengenai kabar Keno yang sampai saat ini belum menghubungi nya sejak keberangkatan nya tadi malam. Tetapi ia malah mendapat kabar mengejutkan yang ia dengar di pagi buta ini.
“Kiara? Kau sedang apa sayang?” Tanya Merry mengusap airmata nya. Ia kaget dengan keberadaan Kiara tiba-tiba.
“Katakan pada Kiara bahwa itu tidak benar Mom,Dad??” Cecar Kiara dengan mata mengembun.
“Kabar itu benar sayang, Daddy baru saja dikabari oleh Will” jelas Adrian dengan nada berat.
Airmata Kiara seketika meluncur tanpa permisi. Kekhawatiran nya sejak semalam kini terjawab sudah.
“Itu tidak mungkin Dad! Keno sudah berjanji bahwa dia akan baik-baik saja!” Ucap Kiara histeris.
Merry berjalan menghampiri Kiara yang terduduk lemas dilantai. Disusul dengan Adrian dibelakangnya.
“Sssttt.. tenang sayang. Keno tidak apa-apa. Dia hanya terkena tusukan ringan. Dokter bilang bahwa luka Keno tidak terlalu dalam” ujar Adrian menenangkan.
Merry yang masih menangis pun memeluk Kiara, dia juga sedih pertama kalinya putranya itu terluka.
“Tapi dia janji akan pulang dengan keadaan baik-baik saja Dad, ini semua gara-gara Kiara kan?!” Ucapnya pilu.
“Stop menyalahkan dirimu Kiara, ini musibah. Keno akan marah jika mendengar hal ini. Lebih baik sekarang bersiap, kita akan terbang ke negara S sekarang juga” ujar Adrian.
“Ayo sayang Mommy temani berkemas” ajak Merry yang sudah tenang.
Kiara hanya pasrah saja.
‘Sebegitu besarnya rasa cintamu pada putraku Kiara? Daddy berjanji akan mempersatukan kalian berdua secepatnya’ Gumam Adrian
Satu jam kemudian mereka menyelesaikan sarapan nya.
“Kalian sudah bersiap?” Tanya Adrian pada Merry dan Kiara.
“Sudah Dad” jawab Kiara dan diangguki oleh Merry.
“Baiklah. Kita ke bandara sekarang” ucap Adrian berdiri di ikuti Kiara juga Merry.
Setelah sampai di bandara mereka turun dari mobil dan berjalan ke landasan jet pribadi milik Adrian.
“Dad, Kiara mau ke toilet dulu” ucapnya.
“Ya, biar ditemani bodyguard” ujar Adrian.
Kiara mengangguk saja dan berjalan ke arah toilet yang ada di bandara itu.
Bodyguard itu menunggu di luar.
Lima menit kemudian Kiara selesai dengan kegiatannya, bertepatan dengan ia keluar dari toilet itu ternyata Ryan juga berada di area bandara, nampaknya pria itu baru saja kembali dari New York setelah beberapa hari mencari Kiara namun nihil hasilnya, ia baru akan memasuki toilet tetapi wanita yang tengah di carinya tiba tiba muncul di hadapannya.
“Kiara” panggilnya.
Kiara sontak menoleh ke sumber suara.
Kedua matanya membelalak kaget. Bagaimana bisa ia bertemu dengan pria yang di bencinya itu.
Kiara berjalan keluar tak menggubris panggilan pria itu.
“Kiara tunggu!” Teriak Ryan berjalan cepat memegang pergelangan tangan Kiara.
“Lepas bre*****k!!!” Umpat Kiara menghempaskan tangan nya namun kalah kuat dengan cengkraman tangan Ryan.
__ADS_1
“Kau kemana saja aku pusing mencarimu” ucap Ryan.
“Bukan urusanmu! Lepaskan tangan kotor mu itu!” Sentak Kiara.
“Aku tidak akan melepaskan mu lagi Kiara! Sudah cukup kau menghindar beberapa minggu ini. Sekarang kita pulang!” Paksa Ryan menarik tangan Kiara.
“Aku tidak akan pulang bersamamu bre*****k lepas!” Teriak Kiara meronta.
Bodyguard yang mendengar keributan di pintu keluar toilet itupun segera menghampiri.
“Lepaskan Nona kami!” Bentak bodyguard itu pada Ryan.
“Siapa kau berani melarangku membawa istriku?!” Bentak Ryan.
“Aku bukan istrimu lagi semenjak hari perselingkuhan mu terbongkar!” Bentak Kiara.
“Sampai kapanpun kau tetap menjadi istriku,camkan itu!” Sahut Ryan tersulut emosi.
“Kau sudah berani menyentuh Nona Muda kami! Lepaskan Nona atau kau akan berakhir di ranjang rumah sakit?!” Ancam bodyguard itu.
“Cih! Aku tidak takut dengan ancaman mu bedebah!” Umpat Ryan.
Bughh!! bugh! bugh!
Bodyguard itu memukuli Ryan membabi buta. Ryan terpental ke lantai saking kuatnya pukulan bodyguard Adrian.
Tiba tiba kedatangan Adrian menghentikan keributan itu. Tadinya ia menyusul Kiara karena tak kunjung kembali, ternyata ada cecunguk yang tengah mengganggu calon mantu nya itu.
“Hentikan!” Suara bariton Adrian mengagetkan mereka bertiga.
“Tuan” ucap Bodyguard itu membungkukkan badan.
“Apa yang terjadi?” Tanya nya.
“Nona di tarik paksa oleh pria itu Tuan, dia menarik pergelangan tangan Nona hingga terluka” jawab bodyguard itu.
Adrian pun mengalihkan pandangan nya ke tangan Kiara. Dan benar saja, tangan mulus itu merah memar akibat tarikan Ryan yang terlalu kuat.
“Kurangajar kau!” Teriak Adrian marah.
“Berani-berani nya kau melukai calon mantu ku!!” Bentak nya.
Ryan pun melongo, apa maksud nya? Pikirnya.
“Siapa anda? Saya tidak mengenal anda sama sekali. Biarkan aku membawa pulang istriku” ucapnya.
“Perlu aku katakan siapa diriku? Aku adalah Adrian Bimantara. Dan kau bilang kau ingin membawa istrimu? Bermimpi lah! Sebentar lagi kau akan menerima surat perceraian dari pengadilan” sarkas Adrian.
“Ayo sayang kita kembali” ajak Adrian pada Kiara yang sejak tadi bersedekap melipat kedua tangan nya.
“Ya Dad” ucap Kiara mengikuti langkah kaki Adrian.
“Kau urus pria itu” titah Adrian pada anak buahnya.
“Baik Tuan” ucap bodyguard itu.
“Tunggu Kiara!! Kau tidak akan bisa menceraikan ku! Kiaraaa!!!” Teriak Ryan meronta di seret laksa oleh bodyguard Adrian.
“Sialan!! Lihat saja Kiara! Sejauh mana usahamu untuk bisa lepas dariku! Aku tidak akan mengabulkan permintaan mu!” Tekan Ryan ketika berada diluar bandara. Bodyguard itu melumpuhkan Ryan agar berhenti meronta dan mengejar Kiara.
Dalam hatinya terus memikirkan ucapan pria paruh baya tadi. Apa maksudnya mengatakan calon mantu? Batin nya.
Sesampainya di landasan jet pribadi, Adrian menyuruh Kiara masuk terlebih dahulu.
“Kamu masuk duluan sayang, Mommy sudah menunggu di dalam. Daddy akan menyusul” ucap Adrian.
“Baiklah Dad” ucap Kiara berjalan menaiki jet itu.
Adrian meraih ponsel di saku jas nya kemudian menghubungi seseorang.
“Halo Ben, kirimkan surat gugatan cerai nya sekarang!” Titah Adrian lalu mematikan ponselnya.
Dia menyuruh tangan kanan nya yang tak lain adalah paman dari Will yang sudah lama mengabdi sejak dia masih memimpin perusahaannya.
Kemudian Adrian naik ke jet pribadi menyusul Merry dan Kiara.
__ADS_1
Jet pribadi yang mereka naiki pun take off dari landasan itu menuju negara S.
Mohon maaf jika terdapat beberapa typo, jangan lupa like & vote nya.