Ku Persunting Istrimu

Ku Persunting Istrimu
Eps 24


__ADS_3

Sementara di gedung perusahaan Wijaya Group.


Ryan yang sedang fokus di layar laptop sejenak perhatiannya teralihkan dengan kedatangan Dio assisten nya.


“Maaf Tuan saya lancang, ini gawat Tuan.. perusahaan kita sedang terancam” ujar Dio dengan ekspresi panik di wajahnya.


“Apa yang kau katakan Dio? Bicara yang jelas! Terancam bagaimana?!” Tanya Ryan penasaran.


“Nilai saham perusahaan kita merosot drastis Tuan, saya tidak tau apa penyebabnya. Tiba-tiba saja banyak email masuk dari para investor yang komplain dan mengancam akan mencabut investasi mereka jika tidak segera mengembalikan nilai saham kita” terang Dio


“Apa?! Bagaimana bisa Dio?!! Sejauh ini perusahaan tidak melakukan kesalahan apapun!” Sentak Ryan penuh emosi.


“Entahlah Tuan, saya rasa ada pengaruh orang dalam dibalik kejadian ini” pikir Dio.


“Kurang ajar!! Siapa yang berani bermain-main di belakang ku?!” Geramnya seraya mengatupkan rahanya dengan keras.


“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang Tuan?” Tanya Dio kemudian.


“Cegah dulu para investor untuk mencabut investasinya, bujuk mereka Dio. Bilang saja ini hanya kesalahan kecil, yakinkan mereka bahwa nilai saham secepatnya kembali normal. Aku akan memikirkan solusinya dulu” tukas Ryan


“Baik Tuan” ucap Dio


“Ya,pergilah dan lakukan tugasmu” titah Ryan pada assistennya itu.


Sepeninggal Dio, Ryan mengusap wajahnya dengan kasar. Lalu..


Brakk !!


Ryan yang di ujung emosi itupun menggebrak mejanya dengan keras.


Belum selesai perkara nya dengan Kiara, kini di tambah lagi dengan masalah kantor.


Ia menjambak rambutnya dengan kuat, rasanya kepalanya mau pecah memikirkan semua permasalahan nya kali ini.


“Aargghhhh!!! Siapa sebenarnya yang berani bermain di belakang ku?!! Lihat saja, akan ku patahkan kepalanya!” Geram Ryan penuh emosi.


Sejenak ia menetralkan nafasnya, dalam benaknya terus bertanya-tanya. (Kamu anyeaa?? Iyeaaa? Kmu bertanyea tanyeaa?) wkwkwk 😮‍💨


‘Kalau hanya orang dalam perusahaan ini tidak mungkin bertindak secepat ini kan? Pasti ada campur tangan orang yang berpengaruh besar dalam hal ini. Tapi siapa? Seingatnya ia tidak pernah mencari masalah dengan perusahaan manapun’ tanya Ryan dalam hati.


Tak lama ia mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.


Tut.. tut.. tut..


“Ya, halo?” Ucap seorang laki-laki di sambungan telpon


“Aku butuh bantuanmu sekarang” ucap Ryan pada orang tersebut


“Bantuan apa?” Tanya nya


“Tolong selidiki siapa yang telah bermain-main dengan perusahaanku! Saat ini nilai saham di perusahaan ku turun drastis. Ini kasus terparah kedua kalinya selama aku memimpin perusahaan ini setelah kasus Ayahku dulu” ujar Ryan


“Benarkah? Wah.. wah.. sepertinya kau pernah menyenggol seseorang hingga tiba-tiba perusahaanmu kacau seperti ini” tebak laki-laki itu.


“Jangan bercanda! Mana mungkin seperti itu, aku tidak pernah melakukan kesalahan sengan perusahaan manapun” sanggah Ryan yakin.


“Ya ya.. aku percaya. Baiklah aku akan segera menyelidiki nya. Tapi sebelum itu transfer dulu ke rekening ku” pinta laki-laki di seberang telpon itu.


“Ck! Bekerja saja belum kau sudah meminta bayaran!” Decak Ryan sebal.


“Hahaha.. kau tahu bagaimana aku kan” ucapnya terkekeh.


“Ya! Akan aku transfer!” Ketus Ryan lalu mematikan panggilannya sepihak.


“Awas saja jika dia tidak berhasil menyelidiki nya, akan ku beri perhitungan!” Ancamnya dalam hati.

__ADS_1


Ryan yang sudah kepalang pusing akhirnya memilih pulang ke rumah. Otak nya sudah mendidih tidak bisa diajak berpikir.


Di dalam kamarnya, Kiara sudah selesai mem-packing barang-barangnya berkat bantuan Rere. Ia memasukkan semua barangnya kedalam koper kecil supaya lebih mudah menentengnya.


“Sudah semua Nona” kata Rere


“Ah iya Mbak makasih udah bantuin Kiara” balas Kiara.


“Sama-sama Nona, saya senang bisa membantu Nona” ucap Rere dengan tulus.


“Ah Mbak Rere bisa aja, Kiara nanti pasti bakal kangen sama Mbak deh” sahut Kiara


“Memangnya Nona akan berapa lama disana?” Tanya Rere


“Entahlah mbak, Kiara bingung. Pengen nya sih selama nya disana” ucap Kiara


“Itu artinya hari ini hari terakhir Nona berada di sini dong?” Timpal Rere


‘Aku harap juga begitu’ batin Kiara dalam hati.


“Mungkin saja Mbak, lagian aku juga sudah muak sekali dengan drama yang ada di rumah ini” ujar Kiara setengah kesal.


“Benar Nona, lebih baik anda tidak usah bertahan. Percuma hanya akan menambah sakit hati Nona kedepan nya. Selingkuh itu kesalahan fatal Nona. Lantas apalagi yang harus dipertahankan?” Ucap Rere panjang lebar menyarankan Kiara supaya segera meninggalkan rumah ini. Ia tahu Nona nya ini akan terus berada dalam bahaya jika berlama-lama disini.


“Ya,kamu benar Mbak. Untuk apa aku bertahan disini, sementara perasaanku saja sudah berubah menjadi benci” ujar Kiara


“Mungkin saja benar, ini adalah hari terakhir aku disini” timpalnya lagi


Rere menganggukkan kepalanya mengerti.


“Ya Nona, keputusan yang Nona ambil sudah tepat. Saya sebagai pelayan dirumah ini juga ikut merasakan kesedihan Nona selama ini” ucap Rere pada Kiara.


“Aku juga tidak menyangka nasib rumah tanggaku akan berakhir seperti ini Mbak, tapi aku bersyukur. Setidaknya Tuhan menunjukkan lebih awal kebusukan suamiku selama ini, aku tidak bisa membayangkan jika aku sudah mempunyai anak bersamanya. Pasti akan sangat sulit untuk lepas darinya karena kehadiran seorang anak di antara kita semakin memperkuat pernikahan ini” ujar Kiara


Kiara mengangguk tersenyum ke arah Rere.


Rere yang melihat senyum Kiara pun merasa heran, di saat seperti ini, rumah tangganya sedang di ambang kehancuran Nona nya itu masih bisa tersenyum manis. Jika ia yang berada di posisi Kiara mungkin saja ia tak akan sanggup dan hampir putus asa. Sungguh wanita yang kuat pikirnya.


‘Semoga anda mendapatkan laki-laki yang jauh lebih dari segalanya di banding Tuan Ryan,Nona’ ucap Rere mendoakan Kiara dalam hati.


“Ya sudah Nona, saya tinggal ke bawah dulu ya” pamit Rere pada Kiara.


“Iya mbak, sekali lagi Kiara ucapin terimakasih” ucap Kiara.


“Santai saja Nona,itu sudah menjadi tugas saya” jawab Rere kemudian berlalu menghilang dibalik pintu.


Tak lama pintu kamar kembali terbuka, Kiara yang masih fokus dengan ponselnya tak menoleh ke arah pintu.


“Ada apa lagi Mbak?” Tanya Kiara tanpa menoleh,ia kira itu Rere.


“Kiara, aku mau bicara sebentar” suara bariton mengagetkan Kiara, ternyata bukan Rere melainkan Ryan,suaminya.


“Oh kamu, aku pikir Mbak Rere” sahut Kiara cuek.


“Ada apa?” Tanya nya kemudian tanpa menoleh ke arah Ryan.


“Besok kita batal pergi ke Amerika” ucap Ryan.


Sontak Kiara pun menatap kedua mata Ryan.


“Apa maksudmu? Kau berniat ingkar janji lagi padaku?!” Tanya Kiara menggebu-gebu.


“Aku terpaksa membatalkan ini, perusahaan sedang dalam masalah Kiara! Saham di perusahaanku turun drastis!” Ucap Ryan sedikit meninggi.


“Itu masalahmu, bukan urusanku! Kau sudah berjanji jauh-jauh hari dan sekarang kau membatalkan nya dengan alasan perusahaan mu lagi,begitu?! Lelucon macam apa ini?!” Emosi Kiara meluap-luap.

__ADS_1


“Aku berkata sungguh-sungguh Kiara! Kau pikir aku bercanda? Ada seseorang yang sedang bermain-main diperusahaan ku dan aku tidak mungkin tinggal diam begitu saja!” Sentaknya tak kalah emosi.


“Sudah ku bilang itu bukan urusanku! Oke kalaupun kau tidak bisa pergi tidak masalah! biarkan aku pergi sendiri, berikan tiketnya padaku sekarang juga!” Pinta Kiara dengan nada ketus.


“Kau pikir aku akan membiarkan kau pergi begitu saja Kiara? Jangan mimpi! Kau harus pergi dengan ku!” Tegas Ryan


“Kau tidak bisa seenak jidat mu mengambil keputusan Ryan! Aku punya hak untuk menemui Papa ku! Suami macam apa kamu yang tega memisahkan anak dengan orang tuanya hah!!” Teriak Kiara dengan lantang.


“Jaga bicaramu! Aku ini suamimu, sudah sepantasnya kau mematuhi perintah ku!” Sentak Ryan


“Suami hobi selingkuh sepertimu tidak pantas di hormati! Aku saja jijik berada satu ruangan denganmu!” Sinis Kiara


“Kauu..!” Ryan pun mendorong tubuh Kiara ke atas ranjang lalu menindihnya.


“Lepaskan aku bre****k!! Aku jijik bersentuhan dengan mu! Lepaassss!!!” Umpat Kiara pada Ryan yang berusaha menci**m bi*** Kiara.


Ryan terus menindihnya berusaha melepaskan pakaian Kiara, sementara Kiara terus memberontak dibawah kungkungan Ryan.


Hingga tangan nya meraih gunting di atas nakas dengan susah payah. Dengan usaha nya sekuat tenaga, akhirnya Kiara berhasil meraih gunting itu lalu menodongkan di depan muka Ryan.


“Sekali lagi kau bergerak maka gunting ini akan menembus kedua bola mata mu! Menyingkir sekarang juga!” Ancam Kiara pada Ryan.


Ryan sontak membelalakkan matanya, ia tak menyangka Kiara akan se-nekat itu mengancamnya.


Ryan yang takut Kiara akan berbuat nekat akhirnya mengangkat kedua tangan nya seraya turun dari ranjang.


“Oke oke aku turun” jawab Ryan menuruti ucapan Kiara.


“Menjauh dariku!” Titah Kiara yang masih menodongkan gunting itu mendekati Ryan yang berdiri di sisi ranjang.


“Kiara aku suami mu, wajar jika aku ingin menyentuhmu” ucap Ryan yang masih berusaha menyentuh Kiara.


“Singkirkan tangan kotor mu itu! Aku jijik disentuh oleh pria bekas wanita itu!” Sentak Kiara


“Aku mohon jangan seperti ini Kiara, kita bisa membicarakan ini baik-baik. Kenapa kau jadi liar seperti ini?” Ucap Ryan


“Liar katamu?!! Lebih liar aku atau wanita itu!! Aku berubah seperti ini juga semua karena ulahmu dengan wanita itu!” Tunjuk Kiara pada Sylvi yang berdiri di ambang pintu dengan wajahnya yang shock.


“Akan ku tunjukkan siapa aku sebenarnya dihadapan kalian!” Ucap Kiara


Srekk!


Kiara menggores pergelangan tangan nya sendiri menggunakan gunting itu. Wajah nya tetap datar tanpa menunjukkan rasa sakit sedikitpun.


“Kiara!! Apa yang kau lakukan?!!” Bentak Ryan tak percaya dengan kelakuan Kiara kali ini.


Sedangkan Sylvi melongo membelalakkan matanya, ‘ternyata wanita itu ngeri sekali. Aku harus berhati-hati mulai sekarang’ ucapnya was was dalam hati.


“Kenapa? Ini kan yang katamu liar? Masih untung aku tidak bunuh diri dirumah ini. Akan jadi seperti apa jika aku mati di sini. Hidupmu pasti tak akan tenang karena aku akan terus menghantui kalian berdua seumur hidup kalian!” Ucap Kiara dengan nada menakutkan.


“Pergi kalian dari hadapanku! Sebelum aku bertindak lebih jauh dan berubah fikiran untuk melukai kalian berdua!” Usir Kiara pada dua orang itu seraya mengancam.


“Oke-oke.. baiklah aku pergi sekarang” ucap Ryan mengalah seraya menarik Sylvi keluar menjauh dari kamar Kiara.


Sepeninggal mereka berdua, Kiara membuang gunting itu lalu mengambil tisu untuk membersihkan sisa darah nya yang menetes.


“Hufftt.. demi menghindari sentuhan pria br*****k itu aku terpaksa melukai tanganku sendiri” gerutu nya sambil mengobati tangan nya.


Gimana? Semakin menarik bukan? Ini belum puncaknya.. nantikan terus sisi keganasan Kiara di bab-bab selanjutnya..


Terimakasih bagi yang sudah memberikan like, mohon dukungannya semua.. semoga kalian suka dengan alur nya..


jangan lupa like&vote nya


Salam sayang dari author🥰🫶🏻

__ADS_1


__ADS_2