
Pagi ini Kiara bersama baby Ken sedang menikmati suasana resort di balkon kamarnya, sementara Keno masih bergelung di bawah selimut akibat pertempuran panas semalam.
Pria itu seperti tak ada puasnya menggarap istrinya meskipun Kiara sering meminta berhenti dengan alasan agar baby Ken tak teganggu tidurnya, namun sia-sia. Keno selalu menjawab dengan kata-kata “hitung-hitung bulan madu” membuat Kiara tepuk jidat.
“Mamamamom..” celoteh bayi gembul itu merangkak pada kursi Mommy nya.
“Ya sayang? Apa yang kau inginkan?” Tanya Kiara lembut meraih jemari mungil putranya.
“Mmomomam.. mmmm daddad aaa” pekik girang bocah lucu itu menyentak-nyentak tangan Mommy nya.
“Apa? Mommy tidak mengerti sayang” ucap Kiara berusaha mengartikan kalimat yang keluar dari mulut putranya.
“Dad!” Celetuk bocah gembul itu menarik tangan sang Mommy sementara tangan satunya menunjuk ke arah dimana Daddy nya sedang tertidur pulas.
“Ohh.. kau ingin bermain bersama Daddy ya? Baiklah, ayo kita bangunkan Daddy mu. Let’s go!” ajak Kiara memegangi kedua tangan kecil itu lalu menuntun putranya yang mulai belajar berjalan.
“Goo!” Teriak baby Ken bersemangat menjawab ucapan sang Mommy, membuat Kiara terdiam shock.
“Kau bisa meniru ucapan Mommy sayang? Oh Tuhan kejutan apalagi ini?” Ucap Kiara bahagia.
Langkah keduanya kini terhenti di samping ranjang dimana Keno berada.
Kiara menaikkan tubuh gembul baby Ken ke atas ranjang, bocah itu seketika langsung merangkak secepat kilat menaiki tubuh Keno.
“Ddadd goo!” Teriak bocah itu menggoyangkan lengan Daddy nya. Kiara terus mengamati tingkah lucu putranya itu sampai terkikik geli.
Tak ada respon dari sang empu, bocah itupun tak kehabisan akal melompat-lompat hebat di atas tubuh Daddy nya dengan penuh kekuatan.
Kiara memelototkan bola matanya kaget, sedetik kemudian ia memijat pelipisnya pusing. Suaminya itu seperti kebo jika sudah begini.
“Daddy bangun” ucap Kiara membangunkan suaminya.
“Ddad anuunnn!!” Tiru bocah kecil itu berteriak di tepat di telinga Daddynya.
“Hahaha.. astaga, bayi seribu akal rupanya” ucap Kiara tak habis pikir.
Mendengar teriakan melengking putranya pria itupun membuka kedua matanya,
“Astaga honey! Ada gempaa! Cepat selamatkan diri! Dimana putra kita kenapa kau santai sekali!” Ucap Keno panik menyibakkan selimut dan bangun dari posisinya membuat baby Ken ambruk tertimbun selimut.
__ADS_1
Kiara pun kaget dengan apa yang dilihatnya, bisa-bisanya suaminya itu tak melihat keberadaan putranya sendiri.
“Boy! Dimana kamu?” Panggil Keno panik mencari-cari di segala sudut ruangan.
Kiara hanya menggeleng dan terus memperhatikan gerak gerik konyol suaminya seraya melipatkan kedua tangannya di atas dada.
“Boy!! Ini Daddy boy! Honey.. dimana Ken?? Kau tidak mencari putramu??” Ucap Keno heran.
“Dadddiyy..” beo kecil baby Ken yang masih tertimbun selimut itu bergerak-gerak di bawahnya.
“Suara Ken? Tapi dimana?” Ucap Keno mengedarkan pandangannya.
Terlihat di atas ranjang ada sesuatu yang bergerak Keno pun segera menghampirinya.
Pria itu menyibakkan selimutnya dan menyembul lah kepala mungil si bontot dari balik selimut.
“Ddaddiiyy!” Panggil baby Ken girang.
“Astagaa!!! Daddy sampai panik mencari mu sedangkan kau main petak umpet disini boy?!!” Pekik Keno terkejut meraih baby Ken dalam gendongannya.
“Petak umpet gundul mu! Kau yang membuat dia tergelinding dan tertimbun selimut!” Tukas Kiara yang sejak tadi bungkam.
Kiara hanya melengos merapikan tempat tidur yang seperti kapal pecah itu.
“Lalu tadi ada gempa apa kau tidak merasakannya honey? Cukup keras sekali goncangannya sampai aku terbangun” ucap Keno masih shock.
“Itu ulah putramu!” Sahut Kiara.
“What??! Benarkah itu boy?” Tanya Keno menatap pongah putranya.
Bocah gembul itupun menampakkan senyum tengilnya pada sang Daddy.
Keno yang gemas pun melempar pelan tubuh bocah itu ke atas ranjang dan menggelitiki perut buncit putranya.
Baby Ken yang tidak tahan akhirnya tertawa keras sambil meneriaki Mommy nya dengan maksud minta tolong.
“Mmommommaa.. ahahahaahhh!!” Pekik bocah itu sambil terus memberontak.
“No! Biarkan saja Mommy, sekarang rasakan pembalasan Daddy!” Ucap Keno terus menjahili putranya membuat Kiara geleng kepala.
__ADS_1
“Jika begini kenapa mereka terlihat seumuran?” Beo Kiara menatap kedua lelaki berbeda umur itu.
Sementara di mansion keluarga Morgan, Sylvi tengah memandikan baby Theo yang kini aktif berkali-lipat dari sebelumnya. Perkembangan bayi itu juga tak kalah pesatnya dengan baby Ken, bahkan baby Theo sering kali terjatuh akibat mencoba turun dari tempat tidurnya sendiri tanpa bantuan dari Mommy atau Daddy nya.
Sylvi cukup kewalahan bahkan tak jarang ia sampai jatuh sakit karena ke aktifan putra semata wayangnya.
“Baby, bagaimana kalau malam ini kita berkunjung ke mansion Keno?” Tanya Morgan menatap istrinya tengah menyuapi putranya yang sedang me-reog itu.
“Not bad, ide mu cukup bagus. Aku juga pusing menghadapi bayi akrobat ini, sepertinya dia hanya akan terlihat pendiam di hadapan Keno dan Kiara” ucap Sylvi menyetujui usul Suaminya.
Bukan tanpa alasan Morgan mengatakan itu, sebab dirinya tau istrinya akhir-akhir ini sangat minim waktu istirahat. Bahkan untuk sekedar me-time saja Sylvi tak mampu karena kesibukkannya mengurus baby Theo.
“Ya.. mungkin juga dia butuh teman bermain, biar dia nanti bisa bermain dengan Ken disana” ucap Morgan.
“Kau benar sayang, Theo sering kali merengek minta di temani bermain jika kau sedang berada di kantor. Mungkin benar dia merasa kesepian” jawab Sylvi mengelus kepala botak baby Theo.
“Kau tenang saja baby, kita buatkan adik untuk Theo agar dia tak lagi merasa kesepian di rumah” ucap Morgan dengan genitnya.
“Ishh! Selalu itu saja yang ada di pikiran mu” gerutu Sylvi mendelik.
Sebenarnya dia juga ingin menambah momongan lagi, namun mengingat usia putra pertama nya masih sangat kecil dan butuh perhatian ekstra membuat ia tak yakin ingin menambah anak dalam waktu dekat.
Apalagi dirinya tak ada bantuan baby sister, sebab prinsip nya sama dengan Kiara. Mereka sama-sama tidak mau putranya dalam asuhan orang lain, mereka berdua ingin mencurahkan segala perhatian dan kasih sayang penuh untuk putranya.
“Hai boy, setelah ini kita akan mengunjungi sahabat dan mommy daddy sambungmu, kau senang??” Tanya Morgan menatap putranya.
“Yyeiiiyy!” Celoteh bocah tampan itu tersenyum menatap Daddy nya penuh binar seraya mengangkat kedua tangannya ke udara.
“Good boy! Selesaikan makan mu dengan baik setelah itu kita pergi” ucap Morgan mendaratkan kecupan di pipi putranya dan kening Sylvi bergantian.
“Aku ke atas dulu baby” pamit Morgan mengacak surai istrinya. Pria itupun melangkahkan kakinya menaiki tangga.
Sylvi tersenyum dengan raut wajah bahagia. Wanita itu seringkali meleleh dengan perlakuan suaminya yang baru saja dicintainya itu.
Pasangan suami istri itu rupanya sudah saling mengungkapkan isi hatinya masing-masing. Sekarang keluarga nya menjadi harmonis dan tidak ada lagi kata menikah paksa antara keduanya.
“Cepat habiskan sayang, setelah itu kita susul Daddy ke atas” ucap Sylvi menyuapi baby Theo.
Bayi itu tertawa girang merespon sang Mommy seraya menepuk-nepuk baby chair nya.
__ADS_1