Ku Persunting Istrimu

Ku Persunting Istrimu
Eps 84


__ADS_3

Keesokan paginya Sylvi terbangun lebih dulu, tangannya meraba samping ranjangnya yang di tempati oleh Kiara.


Wanita itu masih belum sadar, tangannya menyentuh perut Kiara lalu mencubitnya gemas. Ia pikir itu adalah Morgan.


“Sayang..” panggil Sylvi yang masih dengan posisi memunggungi.


“Bangun dong, udah pagi ini” ucap Sylvi menggoyang-goyangkan tubuh Kiara.


“Kok kamu kebo banget sih, tumben” ucap Sylvi lalu membalikkan badan. Betapa terkejutnya ia melihat seorang wanita berperut buncit tengah bergelung di bawah selimut, hanya saja mukanya tertutup guling.


“Aaaaa!!!!! Ya tuhan! Makhluk apa itu?!!!” Teriak Sylvi terpekik kaget menjauhi ranjangnya.


Ceklek!


“Sayang kenapa???” Tanya Morgan tiba-tiba masuk karena mendengar teriakan heboh berasal dari kamarnya.


Anehnya Kiara justru semakin mendengkur nyaring tak terusik dengan teriakan Sylvi. Ckckck, dasar Kiara.. tidak tau apa dia sedang berada dimana.


“Ada apa?!” Keno pun ikut masuk karena panik.


Morgan pun menggeleng tak mengerti.


Sementara Sylvi masih menetralkan degub jantungnya serasa mau copot.


“Huhh.. huhh.. i-itu.. itu ada mbak kunti!” Pekik Sylvi menunjuk ke atas ranjang sembari menutup wajah dengan kedua tangannya.


“Hah?!” Beo Keno


“Baby itu Kiara, bukan kunti.. astaga!” Keluh Morgan menepuk jidatnya.


“Kiara??” Ucap Sylvi menganga.


Morgan dan Keno pun mengangguk bersamaan.


“Tapi kenapa bisa ada dikamar ini?” Tanya Sylvi penasaran. Morgan langsung menatap Keno menyuruh pria itu menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi.


“Ehm.. sorry, semalam kami menginap disini karena istriku merengek ingin tidur bersama mu” ucap Keno menjelaskan.


“Hah? Benarkah? Kenapa tidak membangunkan ku Morgan?” Cecar Sylvi penuh tanya.


“Kau baru saja tertidur baby, mana mungkin aku tega membangunkan mu sementara kau baru saja memiliki waktu untuk beristirahat” jelasnya.


Sylvi tampak terdiam sejenak, kemarin memang dia kelelahan karena seharian berkeliling mansion.


“Ohh.. begitu, ya sudah. Kalian keluarlah! Biar aku yang menemani Kiara disini” ucapnya melangkah mendekati ranjang dimana Kiara tertidur pulas.


Morgan mengangguk paham.


“Ayo kita keluar, biar istrimu jadi urusan istriku” ajak Morgan.


Keno pun menurut saja mengikuti langkah Morgan.


Kedua pria itupun melangkah meninggalkan dua wanita hamil itu.


“Jangan lupa suruh pelayan siapkan sarapan spesial!” Teriak Sylvi dari dalam kamar.


“Oke baby!” Sahut Morgan perlahan menjauh keluar menuju lantai bawah.


“Hooaammm..” terdengar suara menguap dari bibir Kiara.


“Upss! Sorry Kiara, suaraku terlalu keras ya” ucap Sylvi menutup mulutnya.


“Hmm.. jam berapa ini? Dimana suamiku Vi, kenapa kau ada disini?” Cecar Kiara membuka kedua matanya.


“Hah? Seharusnya aku yang bertanya itu padamu Ra, kau tidur di kamarku semalam” sahut Sylvi menggeleng pelan.


“Benarkah??”


“Astaga! Aku hampir melupakan hal itu hehehe” ucap Kiara cengengesan.


Sylvi pun menepuk jidatnya pelan.


“Aku lapar sekali Vi, kau ada makanan tidak? Bayiku minta asupan paginya sekarang” ucap Kiara bangkit dari tempat tidur.


“Eumm.. pelayan sedang menyiapkan sarapan untuk kita Ra, bagaimana kalau kau makan biscuit atau roti tawar dulu untuk mengganjal perut mu” usul Sylvi.


Kiara tampak terdiam mengelus perutnya.


“Hmm.. tak apalah, daripada tidak ada sama sekali” ucap Kiara menyetujui saran sahabatnya itu.


Wanita hamil itu sering kali terbangun tengah malam hanya untuk makan, itulah sebabnya ketika bangun ia langsung mencari makanan karena semalam ia tak terbangun sama sekali. Mungkin rasa rindu nya pada Sylvi sudah terobati.


Berbeda dengan Sylvi yang merasa lapar ketika habis melakukan aktifitas, wanita itu akan mengumpulkan semua makanan atau cemilan untuk mengisi perutnya.

__ADS_1


Keduanya kini turun menuju dapur untuk mengambil roti dan biscuit.


“Dimana suami kita Vi?” Tanya Kiara mengedarkan pandangannya.


“Mungkin mereka sedang bersiap pergi ke kantor Ra, sebab aku lihat Morgan membawa handuk ketika masuk kamar ku tadi.”


“Ohh.. yah aku jadi libur sehari menyiapkan pakaian kantor suamiku” ucap Kiara terkekeh.


“Hahaha.. ya kau benar Ra. Setiap pagi aku selalu memasangkan dasi untuknya, seperti pasutri beneran aja” ujar Sylvi ikut terkekeh. Ia mengambilkan setumpuk roti tawar beserta selai dan beberapa toples biscuit untuk Kiara.


“Apa yang kau katakan Vi, kalian memang pasutri sungguhan.. ck! Dasar aneh!” Decak Kiara tak habis pikir dengan ucapan nyeleneh sahabatnya itu.


Sylvi tersenyum simpul mendengar ucapan Kiara.


Andai saja jika kenyataan nya begitu, batinnya.


“Apa kau masih belum mencintai Morgan hingga detik ini Vi?” Tanya Kiara mencoba menggali isi hati Sylvi.


“Aku tidak tahu Ra, aku rasa hubungan ku begini-begini saja. Tapi aku bahagia dengan semua perhatian yang dia berikan padaku selama kehamilan ini” ucap Sylvi mengusap perut buncitnya.


Kiara menganggukkan kepalanya.


“Tapi aku tidak tahu apakah sikapnya masih sama ketika aku melahirkan nanti, mungkin saja dia hanya mencurahkan kasih sayangnya pada anakku” ucap Sylvi tersenyum getir.


“Aku rasa tidak mungkin, Morgan terlihat begitu tulus menyayangi mu bahkan sebelum dia tahu bahwa kau hamil Vi. Kau berkata seperti itu dan itu artinya kau mulai mengharapkan Morgan kan?” Ucap Kiara menggoda sahabatnya itu. Mungkin saja Sylvi sudah mulai mencintai Morgan, hanya saja dia masih belum sadar dengan perasaannya.


“Mana mungkin Ra, wajar saja ibu hamil membutuhkan perhatian dan kasih sayang ekstra, bukankah kau juga begitu?” Tanya Sylvi membalas ucapan Kiara.


“Itu benar, tapi bedanya kita saling mencintai Vi. Dan kita hanya bisa berharap kasih sayang pada orang yang kita cintai, mana mungkin kita tidak mencintai tapi bisa mengharapkan perhatian, bukankah rasanya akan hambar?” Balas Kiara menohok hati Sylvi.


Ia tersadar dengan ucapan Kiara, apakah mungkin dia sudah mencintai suaminya itu?


“Ya Tuhan, jika benar aku sudah mencintai suamiku maka tunjukkanlah seluas-luasnya cinta ini untuknya” doa nya dalam hati.


“Sudahlah, makan lah agar rasa lapar mu sedikit berkurang” ucap Sylvi menyodorkan toples dan roti tawar ke arah Kiara.


“Oke, kau memang yang terbaik” ucap Kiara berbinar.


Sylvi tersenyum mendengar antusias Kiara.


“Honey, aku akan pulang ke mansion mengambil keperluan kantor. Kau mau ikut aku ke kantor atau masih ingin disini?” Tanya Keno yang datang tiba-tiba.


Tak lama Morgan pun menyusul.


“Kau tidak menginginkan nya juga baby?” Bisik Morgan di telinga Sylvi.


“Ishh! Jangan mulai” ucap Sylvi. Morgan pun terkekeh pelan.


“Sepertinya aku disini saja hubby, aku ingin me time bersama Sylvi nanti. Boleh ya?” Tanya Kiara meminta persetujuan Keno.


“Kemana? Ingat kalian sedang hamil besar honey, jangan terlalu jauh, aku tidak setuju” ucap Keno.


“Enggak jauh, cuma cuci mata di mall aja kok. Boleh ya?” Tanya Kiara lagi.


Keno tampak menatap Morgan sejenak.


Morgan pun mengangguk pelan.


“Baiklah, tidak lama. Hanya satu jam, dan jangan pergi singgah ke lain tempat. Bodyguard akan selalu mengawasi kalian berdua” ucap Keno mutlak tak terbantahkan.


“Huhhh.. oke, hanya satu jam” ucap Kiara menghembuskan nafasnya pasrah, daripada tidak sama sekali? Pikirnya.


“Ya sudah, aku berangkat sekarang.. jaga dirimu baik-baik” pamit Keno.


“Aku juga baby, jangan terlalu lelah” ucap Morgan mengacak rambut Sylvi membuat hati wanita itu berdegup kencang tak karuan.


“Kalian tidak ingin sarapan dulu?” Tanya Sylvi kemudian.


“Iya, setidaknya isi perut dulu” timpal Kiara.


“Tidak usah honey, aku akan sarapan di kantor saja nanti. Waktu ku tidak cukup” ucap Keno mengecup puncak kepala istrinya.


“Aku juga baby, kalian sarapanlah. Bayi kita membutuhkan nutrisi yang lebih” ucap Morgan lalu menyusul langkah Keno.


Kiara dan Sylvi saling pandang.


“Bagaimana kalau kita berangkat sekarang?” Usul Kiara berbinar.


“Tapi kita belum sarapan Ra” ucap Sylvi


“Gampang, kan kita bisa makan di food court. Kita bisa memilih menu sepuasnya” ucapnya penuh binar.


“Kau benar, ayo kita bersiap. Tidak mungkin kita keluar dengan penampilan seperti ini” ucap Sylvi memandang tubuhnya sendiri.

__ADS_1


“Oke, jangan lama-lama. Aku pinjam pakaian mu satu stel saja” ucap Kiara di angguki oleh Sylvi.


Kedua ibu hamil nakal itupun berlalu meninggalkan ruang makan menuju kamarnya.


Tiga luluh menit kemudian mereka keluar dengan setelan matching nya ala ibu hamil keren.


“Let’s Go!” Ucap Keduanya penuh semangat.


“Sarapannya Nyonya?” Ucap pelayan menghadang kepergian keduanya.


“Ah, kalian makan saja tidak apa-apa.. kita mau sarapan di luar” ucap Sylvi menggandeng tangan Kiara lalu melanjutkan langkahnya.


“Pak, tolong antarkan kami ke mall pusat kota ya” ucap Sylvi pada driver nya.


“Baik Nyonya” ucap Supir itu membukakan pintu mobil untuk majikannya.


Mobil melaju meninggalkan area mansion.


Lima belas menit perjalanan akhirnya mereka berdua telah sampai di pusat perbelanjaan terbesar di kota itu.


“Kita langsung ke food court saja Vi, setelah itu baru kita cuci mata” ucap Kiara.


“Iya, ayo” sahut Sylvi tak kalah excited.


Mereka berdua memesan banyak menu makanan yang ada di resto itu.


“Kau yakin menghabiskan semua ini Ra?” Tanya Sylvi melihat porsi makan Kiara.


Wanita itu menganggukkan kepalanya.


“Okelah, aku juga tidak sabar mencicipi menu-menu ini” ucap Sylvi melahap makanan yang ada di depannya.


Kini keduanya selesai dengan makan paginya, mereka melanjutkan perjalanan nya mengelilingi pusat perbelanjaan itu. Hal pertama yang di incarnya adalah fashion tentunya.


“Aku ke sebelah sana dulu Vi,” ucap Kiara meninggalkan Sylvi seorang diri.


“Baiklah, jangan jauh-jauh Ra!” Teriak Sylvi.


Kiara mengacungkan jempolnya.


Di tengah langkahnya, tubuh Kiara tiba-tiba di tarik oleh seseorang menuju koridor cukup sepi di mall itu. Mulutnya di bekap hingga Kiara tak sadarkan diri. Nampaknya sapu tangan milik orang itu mengandung obat bius.


“Nyonya, dimana Nona kami?” Tanya bodyguard itu mengawasi kegiatan Sylvi sejak tadi tak melihat Kiara sama sekali.


“Kiara? Dia ada di sana..” ucapnya menggantung menunjuk ke arah dimana Kiara tadi pergi, namun nihil tak ada siapapun kecuali pelayan toko itu.


“Dimana dia? Apa dia berpindah tempat lagi? Tapi kenapa tidak bilang padaku?” Ucap Sylvi heran.


Bodyguard itu langsung menyusuri tempat dimana Kiara pergi. Sylvi yang khawatir pun menyusul langkah bodyguard itu.


“Gawat! Nona Kiara menghilang! Laporkan pada Tuan Muda sekarang juga!” Titah bodyguard itu menyuruh anak buahnya yang baru tiba.


“Apa?!! Ya Tuhan Kiara.. kemana dia?!” Ucap Sylvi shock. Pikirannya kacau saat ini, andai saja dia tadi mengikuti Kiara mungkin wanita itu tidak akan kehilangan jejaknya.


“Ini salah kami juga Nona, kami telah lalai mengawasi Nona Kiara. Sekarang Nona kembali saja ke dalam mobil, biar kami yang mencari keberadaan Nona Kiara” Ucap Bodyguard itu


“Aku juga akan menghubungi suamiku sekarang!” Ucap Sylvi panik.


Ia menjauhi para bodyguard itu dan menelpon Morgan.


“Halo Morgan, Kiara menghilang!” Ucap Sylvi menangis khawatir.


“Apa?!!” Kenapa bisa baby? Kalian ada dimana?” Cecar Morgan


“Kita baru saja sampai di mall, dan..” panggilan terputus tiba-tiba tubuh Sylvi di gendong segerombolan pria berpakaian hitam dengan topeng di wajahnya.


Sylvi terus meronta hebat di gendongan pria itu.


Sementara Morgan semakin kalut dibuatnya.


“Halo!! Baby?!! Kau dengar aku?? Haloo! Haloo..!!”


“Aaargghh!!! Sial!! Apa yang terjadi sebenarnya?!! Aku harus menyusul Keno sekarang” ucapnya panik meninggalkan ruangannya.


Sementara Keno saat ini tengah menerima laporan hilangnya Kiara.


“Kalaian lacak posisinya melalui liontin yang istriku pakai! Aku akan mengirimkan kode nya sekarang!” Ucap Keno memutuskan panggilannya sepihak.


“Kurang ajar! Siapapun kalian! Aku tidak akan mengampuni orang yang berani mengusik ketenangan istriku!!” Ucapnya menggeram marah mengetatkan rahangnya.


***


Selamat menunaikan ibadah puasa Readers🙏🏻🥰

__ADS_1


Jangan lupa kasih vote dan dukungan nya ya.. biar author semangat update nya🫶🏻


__ADS_2