
Di gedung perusahaan Wijaya Group
Ryan tengah disibukkan dengan dokumen-dokumen rapat para pemegang saham yang akan membahas turun nya harga saham di perusahaan Ryan.
“Arghh!! Siall! Sebenarnya siapa dalang dari kekacauan ini? Kenapa begitu sulit mencari jejaknya?! Sangat rapi. Seperti perbuatan orang kalangan atas saja!” Frustasinya.
Sampai saat ini belum diketahui siapa dalang dibalik semua ini. Kalau pun ulah Delon,mana mungkin dia bisa begitu mudahnya menembus para investor sementara perusahaannya berbeda bidang dengan perusahaan Ryan, lagipula mereka juga sama sekali tidak terlibat hubungan kerjasama.
Orang suruhan Ryan yang dimintanya mencari informasi itupun sampai sekarang belum memberi kabar apapun.
“Tuan, rapat akan segera dimulai” ucap Dio ketika masuk keruangan Ryan.
“Ya, kita kesana sekarang” titah Ryan.
Sesampainya di ruang rapat
Ryan selaku Presiden Direktur duduk di kursi kebesaran nya di dampingi Assisten Dio di sebelahnya.
Lalu di sebelah kiri Ryan ada Assisten Will mewakili Bimantara Group selaku pemegang saham tertinggi mengingat Keno belum kembali dari Amerika jadi dialah yang meng-handle tugas Keno sementara.
“Selamat pagi semua! Terimakasih atas kehadiran Tuan-Tuan para investor pemegang saham di perusahaan Wijaya Group. Semoga dengan pembahasan rapat ini memperoleh hasil dan keputusan yang baik bagi kelangsungan Perusahaan Tuan-Tuan sekalian.” Ucap Ryan selaku Presdir
Akhirnya rapat pun sampai pada inti pembahasan.
“Sebelum nya saya memohon maaf kepada Para Pemegang saham sekalian atas kekacauan yang terjadi beberapa hari terakhir ini. Ini semua diluar dugaan kami, kami harap para investor sekalian tidak mencabut fasilitas dan investasi di perusahaan ini. Kami sedang melakukan upaya semaksimal mungkin” ucap Ryan panjang lebar.
“Tapi sampai kapan hal ini akan berlangsung? Kami para investor juga tidak ingin merugi, biaya yang kami keluarkan cukup besar. Apa perusahaan ini sanggup membayar penalti jika terjadi kerugian dengan melibatkan beberapa perusahaan kami?” Protes salah satu investor.
“Ya benar, selama ini kami selalu memfasilitasi segala proyek yang anda kerjakan, dan itu bukan nominal yang sedikit. Lalu tiba-tiba saja saham nya merosot,ini sangat merugikan kami Tuan. Jika tidak segera ditangani maka kami akan mencabut saham kami dari perusahaan ini. Masih banyak perusahaan lain diluar sana yang lebih kompeten dari perusahaan ini!” Ucap investor lain nya.
Ryan yang mendengar itupun kalut.
“Saya harap Tuan Tuan sekalian bersabar dulu untuk sementara waktu, beri kami waktu untuk mengatasi permasalahan ini. Minimal satu bulan. Jika dalam waktu satu bulan kami masih belum bisa mengatasi nya, maka keputusan saya kembalikan ke tangan Tuan Tuan” ucap Ryan
“Untuk itu silahkan diskusi kan dulu keputusan ini” timpal Ryan kemudian.
Para pemegang saham itupun tampak saling berdiskusi menimbang-nimbang tawaran Ryan.
“Baiklah, kami setuju. Hanya satu bulan. Jika dalam satu bulan belum ada kemajuan maka kami akan mencabut investasi kami di perusahaan ini” kata mereka.
“Baik Para Investor sekalian, terimakasih atas kebesaran hati para Tuan sekalian. Kami akan berusaha semaksimal mungkin demi menjaga kepercayaan Tuan Tuan semuanya. Terimakasih atas partisipasinya.. Rapat ini saya tutup” ucap Ryan sedikit lega.
Setidaknya masih ada waktu satu bulan untuknya meminta bantuan kolega-kolega nya.
Akhirnya mereka semua bubar dari ruangan itu. Hanya tersisa Will yang sejak tadi diam menyimak.
“Selamat berjuang Tuan Ryan, bekerja keraslah lebih giat kali ini. Semoga usaha anda tidak sia-sia” ucap Will seperti memberikan sindiran bagi Ryan.
“Ah Terimakasih Tuan Will atas dukungannya, ngomong-ngomong dimana Tuan Keno? Anda kenapa datang sendiri?” Tanya Ryan yang sejak tadi tidak melihat kehadiran Keno.
__ADS_1
“Tuan saya sedang ada perjalanan bisnis di Amerika, beliau berhalangan hadir dan meminta saya mewakilkan rapat kecil ini” ucap Will seraya menekankan kalimat ‘kecil’ nya.
“Ya Tuan Will, pasti Tuan Keno itu orang yang sibuk sekali” jawab Ryan.
“Dan satu hal yang ingin saya sampaikan kepada anda, dua minggu lagi Bimantara Group akan mengadakan pesta makan malam sederhana di ballroom Hotel Santika dalam rangka memperebutkan sebuah tender besar,saya harap kehadiran Tuan Ryan selaku Presdir Wijaya Group. Tuan Keno sendiri yang menitipkan pesan kepada saya untuk mengundang anda Tuan, mohon diterima” ucap Will seraya menyodorkan sebuah undangan mewah ber-aksen pita emas.
“Ah ya, suatu kehormatan bagi saya mendapatkan undangan dari Tuan Keno. Sampaikan rasa terimakasih saya pada Tuan Keno, saya akan meluangkan waktu untuk menghadiri acara tersebut Tuan Will” ucap Ryan.
“Sama-sama Tuan Ryan, saya permisi, masih ada urusan lain setelah ini” pamit Will yang tidak ingin berlama-lama di dalam ruangan itu. ‘Berjuanglah lebih keras lagi Tuan Ryan, saya yakin anda akan memohon-mohon kepada Tuan Keno’
‘Tuan Keno memang hebat, cara dia melumpuhkan lawan adalah bermain jenius dalam hal ini. Aku bangga padamu Tuan’ ucap Will dalam hati.
“Baiklah, terimakasih. Hati-hati Tuan Will” ucap Ryan.
Setelah kepergian Will, dua insan atasan dan bawahan itu masih duduk di kursi rapat enggan meninggalkan ruangan itu.
“Menurutmu bagaimana kalau kita mengajukan permohonan memenangkan tender ini Dio?” Tanya nya meminta saran pada assisten nya.
Dio tampak berpikir,
“Menurut saya jangan Tuan, pegajuan Tender itu pasti akan didasari pertimbangan latar belakang perusahaan, sedangkan kondisi perusahaan kita sekarang masih di posisi yang mengkhawatirkan. Otomatis mereka akan meragukan perusahaan kita Tuan” saran Dio.
Ryan tampak mangut-mangut, ada benarnya yang dikatakan assistennya itu, kemungkinan nya memenangkan tender itu sangat kecil mengingat kacau nya perusahaan dan banyaknya saingan diluar sana.
Otaknya berpikir keras bagaimana agar perusahaan nya pulih kembali?
Tidak tahu saja maksud dari semua itu tak lain adalah siasat jebakan Keno, hahaha… kasian kamu Ryan.
“Boleh juga usulmu kali ini.. baiklah dua minggu lagi aku akan menghadiri pesta itu untuk meminta bantuan padanya” ucap Ryan mantap.
Dio menganggukkan kepalanya, ‘semoga perusahaan ini segera kembali normal’
Sedangkan di mansion Keluarga Davency,
Malam ini Keno berniat menginap di kediaman Om Daniel, dengan alasan dia masih ingin bersama Kiara. Meskipun harus berdebat sengit dengan Delon dulu, namun pada akhirnya Daniel menyetujui Keno.
Dia merasa sangat berterimakasih pada Keno yang telah berjasa menyelamatkan nyawa putrinya dari insiden penculikan itu. Ya, Delon menceritakan semua kejadian itu tanpa terkecuali.
Kali ini Keno tengah menemani Kiara menonton film action di ruang keluarga. Sedangkan Daniel dan Delon sudah masuk kedalam kamarnya masing masing karena kantuknya.
Hanya tinggal dua insan yang tengah dimabuk cinta itu yang masih stay on.
“Ahh! Nggak seru sekali petarung nya terlalu lemah” protes Kiara pada film yang tengah ditonton nya.
“Kau ini keliru Kiara, seharusnya kau protes pada sutradara nya, bukan pemain nya” seru Keno menanggapi Kiara.
“Aisshh! Diam! Jangan ikut-ikutan” timpal Kiara.
Keno pun mengatupkan mulutnya. Susah berdebat dengan Kiara ujung-ujungnya dia yang kalah.
__ADS_1
Kiara terus saja mendumel menonton film itu, Keno yang gemas pun diam-diam mendekat ke arah Kiara lalu..
‘Cupp’
Kecupan singkat mendarat ke pipi Kiara.
Sontak Kiara menoleh ke arah Keno.
“Isshh curi-curi kesempatan ihh” protesnya pada Keno.
“Dikit” ucap Keno.
“Tidur yuk , udah malem nih” ajak Keno sambil melihat jam tangan nya menunjukkan pukul 11 malam.
“Bentar lagi, tanggung nih bentar lagi selesai” tolaknya sambil terus memasukkan cemilan ke dalam mulutnya.
“Hmm..” Keno hanya berdehem saja, susah sekali membujuk wanita ini.
Kemudian Keno menyandarkan kepalanya Ke sofa sambil memfokuskan pandangan nya ke layar tv.
Lima menit kemudian terdengar suara dengkuran halus.
Di tengoknya ke samping, ternyata Kiara tertidur pulas sambil memeluk toples cemilan nya.
Keno menggeleng gemas.
“Sangat menggemaskan” ucapnya pelan.
Ia meraih remote tv di atas meja lalu mematikan nya.
Kemudian ia menggendong Kiara ala bridal style menuju kamar Kiara menggunakan lift, sebab tubuh Kiara cukup berat jika harus menaiki tangga. Wanita itu berbobot 57kg dengan tinggi 170 cm. Cukup ideal lah.
Sesampainya di dalam kamar Kiara, Keno merebahkan tubuh Kiara perlahan ke atas ranjang lalu menyelimuti tubuh Kiara separuh badan.
Di usapnya kepala Kiara dengan penuh kasih sayang, kemudian ia mencium kening Kiara cukup lama.
‘Cupp’
“Nice dream beautiful angel” ucapnya kemudian berlalu keluar dari kamar Kiara dan menutup pintunya kembali dengan perlahan agar tidsk menimbulkan suara.
Kecupan Keno membuat tidur Kiara semakin nyenyak saja, mungkin saja Kiara sudah masuk ke alam mimpi.
Hai readers ku.. dukung terus karya author ya..
Mohon maaf bila terdapat beberapa typo dalam bacaan..
Jangan lupa tinggalkan like & vote nya,
Salam sayang dari author🫰🏻🥰
__ADS_1