
Malam ini semua keluarga besar berkumpul di mansion keluarga besar Bimantara termasuk Delon dan juga Daniel. Jangan lupakan si nenek tua bawel yang paling excited untuk menyambut cicit barunya, nenek tua itu sampai-sampai membuatkan sweater rajut yang ia buat dua minggu sebelum kelahiran cicitnya di New York.
“Dimana Kiara? Kenapa belum turun juga?” Tanya Merry pada bibi Mun.
“Sebentar saya panggilkan Tuan Muda terlebih dahulu Nyonya, tadi saya sempat naik ke atas ternyata Tuan Muda berpesan nanti saja. Mungkin Tuan Kecil sedang menyusu” jawab Bibi Mun.
“Oh begitu, ya sudah tolong panggilkan sekarang” titah Merry
“Baik Nyonya”
Bibi Mun menaiki tangga menuju lantai atas kamar Keno dan Kiara.
Sesampainya di depan ruang kerja Keno, Bibi Mun melihat pintu ruang kerja itu sedikit terbuka, wanita paruh baya itu berniat menutup rapat pintu tersebut namun betapa terkejutnya ia melihat Ayumi sedang duduk di kursi kebesaran milik Keno. Entah apa yang dilakukan gadis itu sampai melamun tersenyum sendiri.
'Apa dia gila?’ Gumam bibi Mun menaikkan sebelah alisnya.
“Ayumi!” Tegur Bibi Mun membuat gadis cantik itu terlonjak kaget.
“Bibi?!” Ucapnya kaget.
“Sudah berapa kali aku peringatkan padamu Ayumi! Jangan pernah bertindak di luar batas mu! Kau hanya pelayan disini, jangan lancang menyentuh barang-barang milik Tuan Muda!” Ucap Bibi Mun marah.
“Aku tidak bermaksud begitu, aku hanya istirahat sebentar saja karena ruangan ini baru saja aku bersih kan” kilah Ayumi.
“Untuk apa kau beberes di tempat ini? Sementara di bawah banyak sekali kerjaan yang bisa kau kerjakan seperti yang lainnya Ayumi! Dan apa katamu? Istirahat? Disini bukan tempat mu! Tempat mu di asrama bawah bersama pelayan yang lainnya, jangan lupakan posisi mu disini dan jangan belagak bertingkah seperti Tuan Putri di mansion ini!” Ucap Bibi Mun dengan nada naik satu oktaf.
“Bibi kenapa sih, dari sekian banyak pelayan di mansion ini kenapa harus aku yang bibi tegur?! Aku tidak membuat masalah dengan Bibi, jadi berhenti mengganggu ku!” Sentak Ayumi tak terima.
“Kau memang tak mencari masalah dengan ku! Tapi tingkah mu yang akan menimbulkan masalah besar di mansion ini Ayumi, kau dengar itu!” Tekan Bibi Mun dengan sorot mata tajam.
“Cih! Apa peduliku? Tuan Muda saja santai kenapa bibi yang repot?” Ucap gadis itu.
“Lancang sekali bicaramu..”
Plakk!
“Aawsshh!!” Pekik Ayumi merasakan perih di pipi nya akibat tamparan keras dari bibi Mun.
“Ada apa ini?!” Suara bariton mengagetkan keduanya.
“T-tuan Muda?!” Seru keduanya membeku di tempat.
“Apa yang kalian lakukan di ruangan ku?!” Tanya Keno penuh tatapan intimidasi.
“I-ini Tuan, pelayan ini lancang memasuki ruang kerja Tuan” terang Bibi Mun menunduk ketakutan.
“Bohong Tuan! Saya sedang membersihkan ruangan anda, namun bibi Mun melarang saya membersihkan ruangan ini” ucap Gadis itu berbohong membuat Bibi Mun naik darah seketika.
“Kau pandai bersilat lidah ya rupanya?! Jangan percaya gadis kecil ini Tuan, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri bahwa dia dengan lancang menduduki kursi kebesaran milik Tuan. Untuk itulah saya masuk dan menegur nya” ucap Bibi Mun menjelaskan.
“Hiks.. hiks.. dia bohong Tuan, dia memfitnah saya..”
“Diam!!!” Bentak Keno tak tahan dengan drama di hadapannya ini.
“Kalian di gaji untuk bekerja di rumah ini! Bukan untuk menciptakan drama murahan seperti ini! Sekarang kalian keluar dari ruangan ku!” Titah Keno dengan sorot mata tajam.
“B-baik Tuan” ucap Ayumi melangkahkan kakinya keluar.
Bibi Mun pun hendak keluar namun suara Keno menghentikan langkahnya.
“Selesai acara ini, temui aku di ruangan ini” ucap Keno pada Bibi Mun.
“Baik Tuan, dan saya ingin menyampaikan pesan dari Nyonya Besar, beliau berpesan agar Nona dan Tuan segera turun karena acara sudah di mulai” ucap Bibi Mun membungkuk hormat.
__ADS_1
“Ya, pergilah. Lima menit lagi aku akan turun” ucap Keno datar.
“Baik Tuan, saya permisi” pamit Bibi Mun meninggalkan majikannya itu.
“Haisshh ada-ada saja!” Gerutu nya keluar dari ruang kerjanya menuju kamar pribadinya.
“Honey..” ucap Keno membuka pintu kamarnya.
Terlihatlah pemandangan cantik, istrinya itu memakai longdress menjuntai ke bawah dengan aksen mawar di pundaknya. Jangan lupakan bayi mungil yang berada di gendongannya, bayi tampan itu mengenakan outfit ala prince kerajaan.
“Ya tuhan.. cantik sekali istri ku” puji Keno mendekati istrinya lalu merengkuh pinggang sexy Kiara.
“Wow! Putra Daddy tampan sekali! Kenapa kau menyaingi ku boy!” Celetuk Keno menoel pipi gembul baby Ken.
“Kau darimana saja hubby? Aku menunggu mu sejak tadi” tanya Kiara. Pasalnya ia sudah bersiap sejak sepuluh menit yang lalu atas perintah suaminya, namun tiba-tiba saja pria itu menghilang.
“Dari ruang kerja, ada masalah sedikit” jawab Keno mendaratkan kecupan singkat di pelipis istrinya.
“Masalah? Masalah apa?” Tanya Kiara mengernyit.
“Hanya sepele, sudahlah. Ayo kita turun, aku akan memberikan kejutan untukmu” ucap Keno tersenyum lembut menatap istrinya.
“Kejutan seperti apa sih, kenapa juga kita harus memakai kostum ribet seperti ini” keluh Kiara.
“Ssstt.. lihat saja nanti. Ayo!” Ucap Keno menarik tubuh Kiara mengikuti langkahnya keluar dari kamar.
Sesampainya di bawah banyak sekali lampu-lampu dan juga hiasan serta dekorasi meriah bertuliskan Hello! Welcome to the world Baby Boy!
Hanya ucapan itu yang terpampang di dekorasi pesta penyambutan Tuan Kecil mereka.
Sebab Keluarga besar sepakat tidak ingin menyebutkan nama putra dari penguasa bisnis itu di muka publik dengan tujuan untuk keamanan pribadi.
Tiba-tiba saja semua orang keluar dari persembunyiannya.
“Astaga?!! Apa ini?? Kenapa seramai ini?!” Ucap Kiara shock.
“This is for you and my boy honey.. congratulations you are the best Mommy, cup!” Keno mengucapkan kalimat pujian untuk istri tercintanya dan mendaratkan kecupan di dahi Kiara dan baby Ken bergantian.
“Wuhuuuuiiiiii!” Terdengar sorak ramai dari semua keluarga besar dan kerabat dekat mereka yang hadir di acara itu.
“Thank you hubby, aku tidak menyangka dengan kejutan ini. Ku pikir kau ingin mengajak ku keluar” ucap Kiara tersenyum bahagia menatap suaminya.
“No, aku tidak ingin menimbulkan ancaman untuk putra kita jika kita berada diluar terlalu lama. Ini semua ide Mommy dan Daddy” ucap Keno tersenyum manis.
“Oh ya? Kalau begitu aku akan berterimakasih pada mereka.. rasa rindu ku pada Papa dan Kak Delon terobati berkat rencana mereka” ucap Kiara senang.
“Ya.. lakukan apapun yang membuat mu senang, malam ini milikmu dan si kecil, cup cup cup!” Keno menghujani kecupan di wajah istrinya hingga muka Kiara memerah seperti kepiting rebus.
“Hei! Mantap-mantap nya nanti saja! Kau tidak lihat kami semua menunggu tuan rumah sejak tadi” seru Delon si tukang onar menyadarkan keromantisan kedua pasangan suami istri itu.
“Iya dasar cucu nakal! Jangan serang bestie ku!” Teriak Grandma Thea menimpali ucapan Delon.
“Ck! Baru sehari disini sudah kumat saja penyakitnya!” Decak Keno melepaskan rengkuhannya pada pinggang Kiara.
“Hubby, aku ke sana dulu” ucap Kiara di angguki oleh Keno.
“Papa!” Sapa Kiara mendekati Daniel yang duduk di kursi bersama rombongan Merry,Adrian, Delon dan juga Grandma Thea.
“Bagaimana keadaanmu?” Tanya Daniel menatap putrinya.
“Jauh lebih baik Pa, Papa sehat kan?” Tanya Kiara
“Seperti yang kau lihat, Papa mu semakin energik setelah mendengar cucu pertamanya lahir” sahut Adrian di tertawai mereka.
__ADS_1
“Kau ini” seru Daniel pada Adrian.
“Ohh cucu ku yang tampan.. Opa sudah sangat merindukan mu” ucap Daniel gemas melihat cucu nya.
“Ishh.. Papa tidak rindu denganku?” Ucap Kiara mengerucutkan bibirnya.
“Rindu juga, tapi Papa boleh kan lebih merindukan cucu Papa yang tampan ini?” Tanya Daniel menatap baby Ken penuh haru.
“Tentu saja boleh, Papa mau menggendongnya?” Tawar Kiara pada Daniel.
Daniel pun tersenyum mengangguk lalu merentangkan kedua tangannya meraih baby Ken.
“Cucu Opa ternyata lebih tampan dari Daddy nya, hahaha!” Seru Daniel tertawa.
Membuat semua orang yang ada di situ ikut tertawa.
“Papa benar, aura ketampanan nya seratus persen lebih pekat dariku” ucap Keno membenarkan perkataan mertuanya.
“Haha, ternyata seorang Keno bisa terkalahkan dengan putranya sendiri” celetuk Delon mengejek adik iparnya.
“Diam kau, bukannya memberi selamat atau hadiah kau malah memberiku ejekan” sahut Keno kesal.
“Hei bestie, lihat ini. Kau pasti suka dengan hadiah yang ku bawa” seru Grandma Thea mengeluarkan kotak merah berbalut pita di atasnya.
“Wahh.. apa itu Grandma? Sepertinya isi di dalamnya menarik!” Ucap Kiara berbinar.
“Tentu saja! Ini hasil karya ku sendiri. Kau baru boleh membuka nya nanti setelah acaranya selesai” ucap Grandma Thea menyerahkan kado yang di bawanya.
“Euummm terimakasih Grandma!” Ucap Kiara menerima kado itu lalu memeluk Grandma Thea.
“Sama-sama” ucap Grandma Thea mengusap lembut bahu Kiara.
“Selamat malam semuanya!” Sapa Sylvi dan Morgan bersamaan.
“Loh! Kalian?? Bukannya kau masih di rumah sakit Vi?” Tanya Kiara kaget.
“Hehe, sebenarnya aku sudah pulang sejak kemarin setelah kepulangan mu. Tapi aku sengaja ingin memberikan kejutan untukmu juga!” Ucap Sylvi memeluk Kiara.
“Astaga! Lalu dimana putramu? Kenapa tidak kau ajak?” Tanya Kiara tak melihat baby Theo.
“Dia ku titipkan pada pelayan mu Ra, aku habis menyusui nya dan dia tertidur. Tidak mungkin aku ajak ke tempat ramai seperti ini” ucap Sylvi tersenyum lebar menampakkan deretan giginya.
“Ishh.. dasar! Tega sekali kalian” ucap Kiara mendelik.
“Wahh.. kau satu komplotan dengan istrimu rupanya” ucap Keno yang juga baru mengetahui hal itu.
“Tentu saja, kita kan pasangan serasi. Bukan begitu baby?” Tanya Morgan menaik turunkan sebelah alisnya.
“Ishh! Malu” desis Sylvi mencubit bahu Morgan membuat pria itu meringis kesakitan.
“Sudah sudah! Cepat kalian duduk dan bergabung bersama kami, sebentar lagi hidangan datang” lerai Merry
Morgan dan Sylvi pun ikut duduk di tengah-tengah keluarga besar itu.
Canda tawa mewarnai acara meriah di malam itu.
Sedangkan di tempat nya, Ayumi menatap penuh kebencian pada Kiara, entah setan apa yang merasuki gadis itu sehingga timbul rasa iri menggerogoti jiwanya.
“Sial! Aku yang menantikan semua ini sejak lama tapi kau dengan mudahnya menghancurkan impian ku! Kita lihat sejauh mana kau akan merasakan kebahagiaan sesaat ini!” Ucap Gadis itu mengepalkan tangannya.
“Hei! Fokus lah pada pekerjaan mu jangan melamun saja!” Tegur teman sesama pelayan.
“Ck! Iya iya!” Decak Ayumi menatap malas nampan di hadapannya.
__ADS_1