Lady Of The Mafia

Lady Of The Mafia
Chapter 1 [REVISI]


__ADS_3

***Flashback 2 tahun lalu**


Aku Xaviera Saffanya Beryn William. Dalam hidupku aku sudah banyak kali mengalami peristiwa yang tidak menyenangkan. Hanya ada 1 peristiwa dalam hidupku yang membuat diriku sendiri menjadi seorang yang gila akan balas dendam. Peristiwa itu adalah dimana saat malam tiba seluruh keluargaku dibantai oleh seorang. Orang yang membantai keluargaku tak lain adalah teman Papaku sendiri. Papaku adalah seorang direktur utama perusahaan Luxury Innovation Group atau LIG.


Pembantaian itu terjadi pada hari ulang tahun ku sendiri. Saat pembantaian itu umurku genap 15 tahun. Orangtua ku punya 3 orang anak, aku, kakak laki-laki ku, dan adik perempuan ku. Tak ada satu pun dari keluarga ku yang selamat pada malam itu. Hanya aku, hanya aku yang dari peristiwa tersebut. Saat keluar dari tempat persembunyian ku, seluruh ruang rumahku dipenuhi merahnya darah, mayat-mayat berserakan di setiap ruangan. Hati ku hancur saat melihat papa, mama, kakak, dan adikku sudah tergeletak tak bernyawa di ruang tengah dengan tubuh penuh darah. Bau darah bercium di mana-mana.


"Mama.. Papa.. Kak Dion.. Risa.." Ucap Vera berjalan mendekati mama, papa, Dion, dan Risa, yang bersimbah darah itu.


Vera berjalan terhuyung mendekati mereka. Tangis Vera pecah melihat keluarga yang ia cintai sekarang tergeletak tak bernyawa di hadapannya. Vera jatuh di depan mayat keluarga nya, Vera angkat kepala mamanya dan Vera letakkan di pahanya. Air mata Vera mengalir deras membasahi pipi putihnya dan ada yang jatuh di muka mama.


"Mama...!!!" Teriak Vera keras, suara itu menggelegar ke seluruh ruangan bahkan sampai terdengar sampai di luar rumah.


"Ma.. Bangun ma.. Bangun.. Jangan tinggalin Vera sendirian"


"Ma.. Bangun dong.. Ma"


Vera beranjak mendekati Papa dan kakaknya. Lagi-lagi Vera melakukan hal yang sama.


"Pa.. Bangun Pa.. Buka matanya. Pa kok papa diem aja sih?"


"Kak Dion.. Risa.."


"Aaaarrrggghh!!!!!!"


"Ga boleh. Ga bolah tinggalin Vera!!"


Vera berteriak histeris tak menyangka bahwa di hari ulang tahun nya akan berakhir seperti ini. Vera terus berteriak sekencang-kencangnya. Mungkin sampai pita suara nya putus. Hati Vera di penuhi dendam mendalam atas pembantaian ini. Salah satu sisi bibir Vera terangkat, senyum Devil nya ia perlihatkan. Dengan mata yang dingin, hati yang penuh dendam, mulutnya mulai mengucapkan kata-kata yang penuh dengan dendam.

__ADS_1


"Aku Xaviera Saffanya Beryn William bersumpah atas mana keluarga William akan membalaskan dendam atas kematian seluruh keluarga William!!!" Ucap Vera bersumpah.


"Aku menuntut balas kalian!! Darah di bayar darah!! Nyawa di bayar nyawa!! Aku bersumpah!!!"


Wiuw.. Wiuw.. Wiuw...


Suara sirine terdengar di depan rumah Vera. Banyak polisi masuk kerumah Vera. Sahabat seorang polisi dan beberapa para medis mendekati Vera.


"Kenapa? Kenapa?! Kenapa kalian selalu saja datang saat semuanya sudah berakhir!" Tanya Vera dengan nada kasar. Polisi dan para medis itu tidak menjawab Vera.


"Kalo kalian datang lebih awal, kejadiannya ga akan jadi seperti ini! Kenapa kalian suka banget datang saat semuanya selesai!"


"Kenapa diem! Jawab! Punya mulut kan?!"


"Nona Vera.. Kami minta maaf" jawab Pak polisi itu.


Polisi dan staf medis tidak bisa berbuat apa-apa untuk menenangkan Vera. Terdengar suara langkah kaki cepat ke arah Vera. Tante Ana dan Om Rio menghampiri Vera. Tente Ana terlihat menangis di samping Vera melihat Papa sudah tak bernyawa. Papa adalah kakak Tante Ana.


"Vera.. kita keluar dulu. Ada Nenek sayang.." Ajak Tente Ana.


"Vera ga mau Tan.." Ucap Vera menolak untuk pergi.


"Ver.. Ga boleh gini. Ayok keluar dulu"


Vera merespon ucapan Tente Ana dengan diam tak berkata. Vera membalikkan badannya dan mendongakkan kepalanya melihat salah satu sisi dinding rumahnya, Vera melihat CCTV. Vera bangkit dari jatuhnya dan langsung berlari menuju ruang pantau CCTV. Om Rio, Tante Ana, dan Pak polisi ikut mengejar Vera. Vera masuk ke ruang pantau CCTV. Jari Vera bermain dengan keyboard dengan mata terfokus pada monitor. Ternyata Vera sedang melihat hasil tangkapan CCTV saat pembantaian itu terjadi.


"Aku tidak bodoh. Aku mungkin memang masih seorang gadis kecil yang tidak tau apa-apa. Tapi dengan IQ 200 ku, Semua rencanamu tak lain hanya sekumpulan sampah!" Ucap Vera dalam hati.

__ADS_1


5 menit kemudian hasil yang diinginkan Vera muncul. Vera berhasil mendapatkan beberapa foto wajah orang-orang yang membantai keluarga nya. Disusul dengan kedatangan Om Rio, Tante Ana, dan Pak polisi itu. Vera menyalin foto itu menjadi lembaran. Setidaknya ada 16 lembar foto orang berbeda. Vera kembali menunjukkan senyum Devil nya.


"Aku punya wajah kalian. Bersiaplah untuk mati ditangan ku" Tambah Vera.


Esok harinya bersama keluarga dan warga sekitar, Vera melakukan pemakaman keluarga nya. Saat semua orang sudah pulang kembali ke rumah masing-masing, Vera masih stay disana. Bahkan sampai hujan deras turun membasahi seluruh tubuh Vera. Tak lama Om Rio dan Tante Ana datang menyuruh Vera pulang. Vera pulang bersama Om Rio dan Tante Ana, Vera tidak pulang ke rumahnya melaikan ke rumah Om Rio.


Vera merasa badannya lengket langsung berlajan menuju kamar mandi di kamarnya. Selesai mandi Vera turun ke ruang tengah. Vera duduk di sofa dan menghidupkan TV.


Tayang yang pertama kali muncul di TV itu membuat Vera kembali teringat akan kejadian malam itu.


"Kemarin malam, 14 Januari telah terjadi peristiwa mengejutkan, dimana dalam semalam keluarga William, Hendrick William terjadi pembantaian. Pembantaian tersebut merenggut nyawa semua keluarga William serta seluruh orang yang bekerja dengan keluarga tersebut. Dan menurut informasi yang tersebar, hanya ada 1 orang yang selamat dari peristiwa mengerikan ini, dia tak lain adalah anak perempuan ke-dua keluarga William, Xaviera Saffa.." Belum selesai wartawan wanita itu memberitakan Vera sudah mematikan TV itu dan membanting remote dengan keras ke lantai sampai remote itu sempai hancur.


Bi Ani, pembantu yang bekerja di rumah Om Rio dan Tante Ana tidak sengaja melihat kejadian itu. Bi Ani ikut merasa sedih dengan yang dialami Vera. Vera langsung keluar menuju halaman depan rumah.


"Kasian non Vera, baru 15 tahun sudah dapat ujian seberat ini. Non Vera emang gadis kuat. Sabar non.." Ucap Bi Ani dalam hati.


***Flashback Off**


-oOo-


***2 tahun kemudian..**


Vera duduk di tepi tempat tidur menghadap jendela. Keadaan mental Vera sudah tentang untuk sedikit melupakan memori-memori yang tidak membahagiakan itu. Sejak saat itu pula Vera menjadi pribadi yang dingin sedingin puncak gunung Everest, acuh, dan sudah tidak pernah memperlihatkan senyumnya di hadapan orang lain. Terdengar suara pintu terbuka.


"Ver.. Ayo berangkat, nanti kamu bisa ketinggian pesawat" Ucap Tante Ana yang memegang gagang pintu.


Vera tidak menjawab, Vera berdiri dari duduknya dan mulai menarik koper besarnya keluar dari kamar. Vera turun bersama tante Ana dengan Mang Irul yang mengangkat koper Vera. Sampai di depan rumah, Mang Irul memasukkan koper Vera ke bagasi mobil. Vera, Om, dan Tante langsung berangkat mengantarkan Vera ke bandara. Tente dan Om Rio mengantarkan Vera sampai pesawat Vera lepas landas.

__ADS_1


Pesawat Vera lepas landas tujuan Indonesia-London. Berjam-jam perjalanan akhirnya pesawat yang ditumpangi Vera mendarat dengan selamat


__ADS_2