
Mobil Vera melaju menuju mansion dengan di kawal 2 mobil yang di dalam nya ada mafia Vera. Sedangkan Refa dan Farah mereka membawa pulang Blacy Vera.
"Vera mereka siapa?" Tanya Hans.
"Em.. mereka.. nanti aja gua cerita nya, kalo udah sampe mansion" Jawab Vera.
15 menit kemudian mereka sampai di mansion. Vera dkk tanpa Farel masuk ke mansion Vera, sedangkan para mafioso kembali ke mansion satu nya, alias markas TDB. Hans kaget bukan main melihat mansion Vera yang begitulah besar bak sebuah kastil. Bahkan mansion Vera 2 kali lebih besar dari mansion Hans. Belum lagi halaman rumah yang seperti lapangan golf.
"Njirr! Gua kalah sama adek gua? Ini rumah apa kastil? Gede amat. Udah halaman nya kel lapangan golf, terus dia beli rumah ini pake apa?" Tanya Hans dalam hati.
Tanpa di sadari Hans masih berada di luar memandangi mansion Vera yang berdiri kokoh. Sedangkan Vera dkk udah masuk duluan.
"Lu ngapain di situ?" Tanya Refa ketus pada Hans.
"Gua?" Tanya bodoh Hans sambil menunjuk diri nya sendiri dengan telunjuknya.
"Setan!" Jawab Refa kesal dengan Hans.
"Ganteng kok gubluk!" Gumam Refa sambil berjalan masuk.
"Bang*at! Gua bisa denger njirr!" Umpat kesal Hans dalam hati nya.
Hans pun mengikuti Refa masuk ke dalam. Lebih terkejut Hans melihat bagian dalam mansion Vera. Tak habis pikir, berapa banyak duit yang dikeluar kan Vera untuk mansion sebesar ini. Hans dipersilahkan duduk oleh Farah. Tak lama Vera turun dengan pakaian santai nya menghampiri Hans yang Jessy dkk serta Lucas di sana.
"Bi, tolong buatin minum" Ucap Vera.
"Iya non.." Ucap bi Diah lalu kembali ke dapur.
"Jessy, Farah, Refa, Lucas kalian tau siapa dia?" Tanya Vera pada mereka.
"Gak" Jawab mereka kompak.
"Dia abang gua, Hansen Alexander William, direktur perhusahaan J5" Jawab Vera.
**!!!**
Sontak mereka kaget bukan main. Bukan nya abang nya Vera udah mati? Kok bisa ada di sini? Begitulah pikiran teman-temannya.
"Ha-halo.." Sapa Hans.
Teman-temannya Vera masih diam mematung tidak percaya. Malam itu semua di penuhi tanda tanya.
"Bang, kok lu masih idup?" Tanya Vera.
__ADS_1
"Lu mau tau?" Tanya Hans balik.
"Iya!" Jawab mereka kompak.
"Jadi gini..."
Flashback 2 tahun lalu..
Setelah ambulance datang dan membawa anggota keluarga Vera di rumah sakit, mereka langsung memasukkan Risa ke ruang IGD karena organ vital Risa masih terasa walau lemah. Sedangkan Mama, Papa dan Dion sedang menuju ruang mayat.
"Ahh!! Hantu!!!" Teriak salah perawat pria yang mendorong brankar Dion.
Para perawat itu langsung lari terbirit-birit setelah melihat kejadian yang membuat mereka jantungan sekaligus ketakutan. Bagaimana tidak? Tiba-tiba Dion membuka matanya dan mencoba duduk di brankar yang sedang di dorong itu. Alhasil para perawat itu menjadi kaget dan takut lalu pergi meninggalkan Dion beserta kedua orang tua Dion yang sudah tiada.
Dengan tubuh yang penuh luka, Dion mencoba turun dari brankar dan berjalan mendekati orang tua nya.
"Ma.. Pa.." Ucap lirih Dion sambil mengoyang-goyangkan tubuh orang tua nya.
Air matanya menetes membasahi pipi nya. Udah tidak bisa menahan sakit di sekujur tubuhnya dan syok Dion akhirnya pingsan tepat di samping brankar mama nya.
Saat Dion membuka matanya, ia sudah berada di atas kasur empuk. Ia berada di sebuah kamar dengan warna abu-abu yang mendominasi. Dion mencoba duduk dan mengambil segelas air di atas meja kecil sebelah kasur nya.
PRANG!!
"Kamu udah bangun? Gimana masih sakit?" Tanya istri pria itu.
"Kalian siapa?" Tanya Dion linglung.
"Aku Manda, dia suami ku Antonio" Jawab Manda memperkenal kan diri.
"Aku ada dimana?" Tanya Dion.
"Las Vegas" Jawab Manda.
"Las Vegas? Dimana adik ku?" Tanya Dion lagi sambil menggengam tangan Manda.
"Maaf, kami menemukan mu di depan ruang mayat. Kamu sudah pingsan di samping brankar yang mungkin itu orang tua mu. Tapi kami tidak melihat orang lain sekali kamu" Jelas Manda perlahan karena tau Dion pasti masih syok dan sedikit trauma.
"Vera.. Risa.." Lirih Dion dengan air mata yang kembali mengalir.
Manda pun merasa iba pada Dion. Manda memeluk Dion dan membiarkan Dion menangis di pelukan nya. Antonio pun sedikit tersenyum.
"Siapa nama mu?" Tanya Antonio.
__ADS_1
"Dion, Dion Alexander William, tuan" Jawab Dion sambil menyeka air matanya.
"Panggil aku ayah Dion, mulai sekarang kamu menjadi anak kami. Dan juga nama mu akan berubah menjadi Hansen Grilled" Ucap Antonio.
"Itu pun jika kau tidak keberatan" Tambah Antonio.
"A-ayah.." Ucap Dion sedikit gugup.
"Good boy" Jawab Antonio sambil tersenyum.
"Ayah, aku ingin mana keluarga ku tidak hilang. Hansen Alexander William bagaimana?" Tawar Hans.
"Baik lah. Asal kau suka Hans" Jawab Antonio.
Sejak saat itu Hans mendapatkan keluarga, nama dan lingkungan baru. Hans juga menghormati Manda dan Antonio meskipun mereka bukan orang tua kandung Hans.
Flashback Off...
-oOo-
"Begitu cerita nya.." Ucap Hans.
"Lalu kenapa lu disini?" Tanya Vera.
"Aku mengurusi usaha ayah" Jawab Hans.
"Ayah? Maksud mu Antonio?" Tanya Refa.
"Siapa lagi?" Tanya balik Hans.
"Sudah, kalian pergi tidur. Bang, lu bisa nginep disini, kamar nya pilih sendiri. Inget yang di pintu nya udah ada nama jangan masuk" Ucap Vera.
"Iya. Cerewet!" Jawab Dion.
Mereka pun bubar ke kamar masing-masing. Di kamar, Hans merasa sadikit sedih dan bersalah karena kejadian itu. Saat itu Hans masih di tolong oleh seseorang dan di angkat menjadi anak mereka. Hans pun mendapatkan keluarga baru. Sedangkan Vera? Sejak malam itu Vera hidup sendiri. Walau 2 tahun tinggal bersama om Rio, tapi Vera tetap sudah tidak merasakan hangat nya keluarga. Itu juga yang membuat Vera berubah.
Di sisi lain kamar Lucas, terlihat Lucas berdiri di balkon kamar nya dengan bertelanjang dada menatap langit malam yang cerah. Pikiran nya melayang bagai burung yang terbang bebas, memutarbalik kan memori saat ia pertama kalian bertemu Vera dan akhirnya menjadi bagian Second Family in London**.
"Apa gua kasih tau aja perasaan gua ke Vera?" Gumam Lucas.
"Tapi kalo ditolak gimana? Tapi kalo gua gak gercep nanti keduluan"
"Iya, enggak, iya, enggak, iya, enggak, iya, enggak.."
__ADS_1
"Oke fiks! Besok Lucas Vanderbilt Ananta bakal uangkapin perasaan nya ke Xaviera Saffanya Beryn William!"