
Vera dengan mobil BMW melaju sangat kencang menuju rumah William. Tak lupa juga Vera menelfon Hans untuk segera berangkat. 10 menit kemudian Vera sampai di depan gerbang berpapasan dengan mobil Hans. Mereka masuk bersama. Vera turun dari mobil nya dan menghampiri mobil Hans yang ada di belakang nya.
Tok tok tok!
Vera mengetuk kaca mobil Hans, Hans menurunkan kaca mobil nya dan menatap Vera.
"Ingat tetap di sini dan tunggu aku" Ucap Vera.
"Iya, cerewet" Umpat kesal Hans.
Dengan cepat Vera melangkah kan kaki nya masuk ke dalam mansion besar itu. Di dalam ternyata keluarga Marquen sudah datang. Vera yang mendapat tatapan tajam dari nenek nya tetap acuh dan menghampiri mereka.
"Halo nenek, halo semua" Sapa Vera yang berpura-pura lembut.
"Cucu nenek sayang" Jawab nenek Lucy.
"Vera, apa apaan baju mu itu?" Tanya nenek Rosa melihat pakaian Vera.
[Bayangin aja ini baju yang Vera pake guys!. Happy Reading semua!]
"Ayolah nek, aku tidak ada waktu untuk bahas pakaian. Masih untung aku pake baju, kalo gak?" Jawab Vera.
"Terserah! Kamu sama seperti ayah mu, susah di atur" Ucap nenek Rosa.
"Hehe.. Kan anak nya" Jawab Vera.
"Sudah-sudah, ayo sekarang kita ke inti pembicaraan saja" Ucap om Rudi Marquen.
"Baiklah. Rudi serahkan kertas itu pada Vera" Perintah nenek Lucy.
Om Rudi menyodorkan sebuah kertas yang berjudul Surat Perpindahan Ahli Waris. Vera memang sudah menduga ini akan terjadi, dan benar saja ini terjadi. Vera seketika mengusap wajahnya kasar dan di perhatian semua keluarga nya.
"Vera ada apa?" Tanya Om Rio.
"Nenek, om dan tante, tidak kah kalian merasa ini berlebihan?" Tanya Vera.
"Apa maksud mu Vera?" Tanya Nenek Lucy.
__ADS_1
"Nek, seperti ini.. Vera tau maksud kalian ke sini. Kalian ingin mewariskan Marquen Guenia pada Vera kan? Vera tidak keberatan, tapi Vera merasa ini berlebihan. Vera sudah mendapat semua perusahaan papa, anak cabang pun sekarang ada di genggaman Vera. Ditambah sekarang Vera sekarang sudah mengurus 2 perusahaan sekaligus serta butik mama. X'W Group, itu perusahaan Vera sendiri, perusahaan yang ver bagun dengan hasil Vera sendiri" Jelas Vera membuat semua orang tercengang.
"Perusahaan? Jangan ngawur kamu Ver!" Ucap nenek Rosa.
"Kenapa nenek tidak percaya? Tapi benar Vera mengurusi 2 perusahaan, LIG dan X'W Group. Di tambah Vera juga sudah punya banyak anak cabang. Baik jadi LIG ataupun X'W Group. Vera tidak bisa serakah harus memiliki semua nya. Vera sekarang juga sudah mulai kewalahan dengan banyak pekerjaan juga butik mama. Setidaknya beri gak ini pada yang lain" Ucap Vera.
"Tidak bisa Vera, tidak akan ada yang bisa menggantikan kamu pada posisi ini, kecuali jika abang mu masih hidup. Tapi karena abang mu sedah mati semua aset atas nama Vina di serahkan pada mu" Jelas Om Rico mewakili nenek Lucy berbicara.
"Ah! Kalian membuat ku semakin tertekan! Aku bawa hadiah untuk kalian" Ucap Vera.
"Hadiah? Hadiah apa?" Tanya om Rio.
"Tapi ajak Farel juga, ini kejutan besar. Ingat jangan ada yang pingsan" Ucap Vera.
Vera keluar dari rumah dengan sedikit berlari. Sampai di samping mobil Hans Vera memberi kode untuk keluar dari mobil itu. Hans keluar dengan pakaian casual namun rapi. Vera berjalan kembali ke dalam dengan Hans di belakang nya. Sampai di dalam, Hans masih di belakang Vera. Semua orang penasaran dengn hadiah Vera, begitu juga Farel.
Hans berjalan ke samping Vera dan menatap 2 keluarga itu. Semua terkejut bukan main melihat orang semirip Dion di depan mereka.
"Ini hadiah ku untuk kalian semua. Kenal kan Hans Alexander William ralat Dion Alexander William" Ucap Vera memperkenalkan.
"Di.. Dion?" Lirih nenek Rosa dengan air mata yang berlinang.
"Bang Dion?! Gak ini cuma halu!" Ucap Farel sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tuk!
Tiba-tiba Hans mengetuk kening Farel dengan kuat, Farel hanya meringis kesakitan karena itu. Sedangkan yang lain masih tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
"Gak mungkin, Dion udah menginggal 2 tahun lalu" Ucap Om Rudi.
"Om, ini beneran Dion. Dion sebenernya belum mati" jawab Hans.
"Apa bukti kalo kamu bener-bener Dion?" Tanya nenek Rosa.
"Aku punya tatto tulisan 'William Brother' di punggung, tatto black rose di leher dan tatto kecil di tangan" Jawab Hans sambil melepaskan kemejanya dan memperlihatkan tatto di tubuh nya.
"Tidak.. ini tidak mungkin.." Ucap nenek Rosa.
Hans mendekati nenek Rosa yang menangis dan tidak percaya itu. Hans menarik nenek Rosa kedalam pelukan nya. Nenek Rosa menangis di dada bidang Hans.
__ADS_1
"Nek, ini beneran Dion. Din cuma ganti nama jadi Hans" Ucap Hans sambil mengelus punggung nenek Rosa.
Nenek Rosa melepaskan pelukan nya dan menatap Hans seksama. Tangan nenek meraba wajah tampan Hans, tatto yang ada di tubuhnya menjadi tanda bahwa Hans benar Dion.
"Dion.. Dion cucu nenek" Lirih nenek Rosa yang masih menangis itu.
"Aduh nek.. udah dong nangis nya, nanti malem Hans tidur di sini" Ucap Hans.
Hans bangkit dan mengambil kemejnya dan di pakai lagi ke tubuhnya. Tidak hanya nenek Rosa yang tidak percaya, semua orang pun merasa tidak percaya. Tapi saat melihat beberapa tatto di tubuh Hans, mereka jadi sangat percaya bahwa Hans benar-benar adalah Dion.
"Nenek Lucy apa kabar?" Tanya Hans sambil memeluk nenek Lucy.
"Dion.." Lirih nenek Lucy.
Vera tersenyum kecil melihat itu. Setelah semua nya kembali normal mereka msuk lagi ke topik pembahasan.
"Ekhem! Jadi Marquen Guenia di kasih siapa?" Tanya tante Gita, anak nenek Lucy.
"Marquen Guenia kasih bang Hans aja" Celetuk Vera tiba-tiba.
"Kamu yakin Vera?" Tanya nenek Lucy.
"Yakin nek" Jawab Vera.
"Jadi Hans, sekarang kamu tanda tangani kertas itu. Dan mulai besok kamu adalah Direktur Utama Marquen Guenia" Jelas om Rio.
"Dan besok kita adalah konferensi pers untuk mengumunkan kebenaran soal Hans" Ucap nenek Rosa.
"Baik nek" Jawab Hans.
Akhirnya itu selesai dengan baik, Marquen Guenia sekarang menjadi milik Hans. Malam nya keluarga William dan Marquen akan mengadakan makan malam keluarga di sebuah resto ternama di Indonesia. Pukul 4 sore nenek Lucy pulang kembali ke mansion nya sendiri.
Kini Vera tengah berada di halaman belakang, Vera merebahkan dirinya di bawah pohon besar nan rindang itu dengan rumput hijau sebagai kasur nya. Tiba-tiba handphone Vera bergetar, Vera mangambil handphone nya dan mendapati Ansel menelfon nya.
"5 menit" Ucap Vera setelah menerima panggilan itu.
"Ver, gua udah tau siapa penghianat itu. Walau gua baru dapet satu. Dia gua kurung di markas" Jawab Ansel perlahan.
"Siapa penghianat itu?" Tanya Vera.
__ADS_1
"Marco" Jawab Ansel perlahan.