Lady Of The Mafia

Lady Of The Mafia
Chapter 2 [REVISI]


__ADS_3

Pesawat Vera lepas landas tujuan Indonesia-London. Berjam-jam perjalanan akhirnya pesawat yang ditumpangi Vera mendarat. Vera turun dari pesawat, tak lama muncul notifikasi dari tente Ana.


[Chat]


Tante: Udah sampe belum Ver?


Vera: Udah Tan..


Tente: Gimana, aman kan?


Vera: Aman


Tante: Bagus deh..


Pesan terakhir Tante hanya Vera read. Vera berjalan keluar bandara dan menghentikan sebuah taksi. Sopir taksi itu ramah, ia membantu Vera memasukkan kiper kembali ke bagasi.


"Pak, tolong anterin ke hotel"


"Ya nona"


15 menit perjalanan, taksi itu berhenti di sebuah hotel terbaik di London. Setelah membayar, Vera masuk ke hotel itu dan menemui resepsionis.


"Permisi" Sapa Vera dingin.


"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu nona?" Tanya resepsionis itu, Tina.


"Saya mau 1 kamar hotel"


"Baik"


"Kamar anda nomor 237 lantai 20, ini kartunya"


Vera tidak menjawab dan langsung masuk ke lift menuju lantai 20. Sampai di lantai 20, Vera mencari kamar dengan nomor 237. Vera masuk ke kamarnya dan beristirahat. Vera duduk di pinggir tempat tidur sambil memainkan handphone nya. Vera tiba-tiba ingat bahwa ia melupakan sesuatu. Vera langsung menelfon Om Rio.


[Telfon]


"Halo Om" Sapa Vera di telpon.


"Vera minta tolong sama Om Rio boleh kan?"


"...."


"Vera mau Om cari informasi seseorang"


"...."


"Jumlahnya 16 orang. Vera kirim fotonya lewat email"


"....."


"Ya"

__ADS_1


Vera memutuskan sambungan telfonnya. Vera merasa jenuh di kamar itu memutuskan untuk berjalan-jalan di luar sebentar. Keluar dari hotel Vera berjalan ke sebuah perusahaan yang menjual kendaraan. Setelah membeli mobil merk Lamborghini itu. Beralih Vera untuk berkeinginan membeli sebuah mansion, Vera menuju VON Marck Group, sebuah perusahaan yang menjual rumah, mansion dan gedung mewah terbaik di London.


"Siang nona, ada yang bisa saya bantu?" Tanya resepsionis, Megan.


"Aku ingin beli 2 mansion" Jawab Vera dingin. Mendengar permintaan Vera yang mengejutkan ditambah Vera baru berusia 15 tahun membuat resepsionis itu kaget.


"2 mansion?"


"Ya, apa kurang jelas?" Tanya balik Vera dingin disertai tatapan mata yang mengerikan. Megan menelan ludah karena takut.


"Ba-baik. Rumah yang diinginkan seperti apa?"


"1 mansion yang bisa menampung sekitar 100 orang dan rumah yang satunya harus bisa menampung lebih dari 10 ribu orang. Lengkap dengan properti"


"Mungkin ada, tapi untuk lebih lanjut anda bisa berbicara langsung dengan manager kami. Sebenarnya kami harus tau nama anda lebih dahulu, siapa.." Vera yang tidak tahan dengan ucap yang panjang kali lebar itu langsung memotong perkataan Megan.


"Xaviera Saffanya Beryn William"


"Maaf, bisa anda ulangi?" Tanya Megan yang sudah memegang sebuah bolpoin dan sebuah kertas.


Vera yang habis kesabaran langsung merebut bolpoin dan kertas itu dari Megan dan langsung menulis namanya sendiri di atas kertas. Megan tidak berani untuk merebut kembali. Selesai menulis Vera memberikan kertas itu kembali.


"Xaviera Saffanya Beryn William" Resepsionis membaca nama Vera yang tercantum di kertas.


"Vera" Jawab Vera memberi tau nama panggilan nya.


"Baik nona Vera. Mari saya antar ke ruang manager"


Vera tidak menjawab. Vera menuju ruang manager bersama Megan. Megan mengetuk pintu sebuah ruangan bertuliskan "Ruang Manager". Vera dan Megan masuk ke ruangan.


"Baik. Kamu boleh pergi" Jawab Pak Josua. Megan langsung pergi dari ruang manager.


"Nona Vera yang cantik ingin mansion seperti apa?" Tanya Pak Josua.


"Maaf, kita belum saling kenal jadi jangan berbicara seenak jidat seolah kita akrab"


"Baiklah"


"Aku mambeli 2 mansion. Mansion pertama yang bisa menampung sekitar 100 orang dan yang satunya harus bisa menampung lebih dari 10 ribu orang lengkap dengan properti langsung"


"Waw, selera seorang gadis seperti anda bagus juga. Omong-omong rumah ini atas permintaan keluarga?"


"Ini permintaan pribadi. Lagi pula keluarga ku sudah meninggal 2 tahun lalu"


"Oh.. Maaf"


Vera tidak menjawab ucapan Pak Josua.


"Apa ada permintaan lain?" Tanya Josua.


"Ada. Mansion yang menampung 10 ribu orang ini harus punya banyak kamar. Dalam satu kamar punya lebih dari 2 tempat tidur" Jelas Vera.

__ADS_1


"Itu mudah kami penuhi. Haya saja harganya sangat mahal bisa lebih dari 50 Triliun"


Puk..


Vera melemparkan card gold miliknya sendiri. Dalam card itu terdapat uang yang tidak terhingga jumlahnya. Bahkan bisa membeli sebuah kota besar dan uangnya sangan lebih dari cukup. Pak Josua keget melihat card gold di depannya. Mana mungkin seorang gadis kecil di hadapannya memiliki card gold.


"Nona sangat peka ternyata" Ucap Josua.


"Baik aku tidak akan banyak bicara lagi. Mansion mu dalam proses"


Vera mengambil kunci rumahnya dan card gold miliknya lalu pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun. Vera menuju parkiran mengambil mobilnya untuk kembali ke hotel dulu. Di tengah perjalanan Vera melihat segerombolan preman yang sedang melancarkan aksi nya pada seorang wanita paruh baya dan anak laki-laki nya. Vera memarkirkan mobilnya di pinggir jalan lalu menyusul preman-preman itu.


"Lepaskan mereka!" Suruh Vera dingin.


"Siapa kamu? Beraninya memerintah kami" Bantah ketuanya, Javid.


"Siapa aku bukan urusan mu. Lepaskan mereka!"


"Nona cantik bagaimana jika kita bersenang-senang dulu" Sambil meletakkan tangan nya di pundak Vera.


Vera merasa risih dan jijik melihat tangan kotor itu menyentuhnya. Vera cepat menepis tangan itu dari tubuhnya.


"Singkirkan tangan kotor mu itu" Suruh Vera dingin disertai tatapan mata yang tajam.


"Hey.. Apa masalahmu?" Jawab Javid.


Tanpa basa-basi Vera langsung mencengangkan tangan Javid lalu memutarnya ke belakang sampai tangan Javid patah dan kesakitan. Anak buahnya trnyata tidak terima bos nya di perlakukan seperti itu ikut turun tangan. Pertarungan pun dimulai. Hanya butuh 5 menit untuk Vera menghabisi mereka semua.


"Pergi atau aku buat kalian mati disini" Suruh Vera kembali.


Mereka tidak ada yang berani melawan lagi, akhirnya mereka beri terbirit-birit meninggalkan Vera disana. Setelah mereka semua benar-benar pergi Vera mendekati wanita itu dan anaknya.


"Ikutlah denganku, kalian aan aman bersamaku" Suruh Vera dingin.


"Terimakasih terimakasih!" Jawab wanita paruh baya itu.


Mereka mengikuti Vera menuju mobilnya. Vera menyuruh mereka masuk ke dalam mobilnya dan membawa mereka pergi dari sana.


Vera menyuruh mereka masker ke dalam mobilnya. Vera tidak langsung membawa mereka ke mansion, tapi ke hotel lebih dulu untuk cek out. Suasana canggung menghiasi perjalanan mereka, wanita paruh baya itu memberanikan diri untuk ngobrol dengan Vera.


"Nak, makasih ya tadi udah nolongin ibu" Ucap wanita itu membuka topik pembicaraan.


"Ya" Jawab Vera singkat.


"Iya, nama ibu Dian, ini anak ibu Robert Alexander"


"Halo kak!" Sapa Alex.


"Hem.."


"Ngomong-ngomong nama kamu siapa nak?"

__ADS_1


"Vera"


Tak lama sampaikh mereka di sebuah hotel ternama di London tempat Vera tinggal. Vera menyuruh mereka masuk. Vera menaiki lift menuju kamarnya. Sampai di kamar Vera langsung mengemasi barangnya kembali dan begitu selesai Vera langsung turun untuk cek out. Selesai cek out Vera berangkat menuju mansion barunya.


__ADS_2