Lady Of The Mafia

Lady Of The Mafia
Chapter 55


__ADS_3

Mobil Vera berhenti di sebuah toko bunga. Vera turun dan membeli 1 buket buket bunga mawar merah, tulip dan aster. Setelah membayar Vera melajukan nobinya ke sebuah pemakaman.


Kini Vera berdiri di antara 3 gundukan tanah dengan batu nisan bertuliskan nama orang tua nya dan adik tercinta nya. Vera membersihkan makam orang tercinta nya dan menaruh buket bunga itu. Vera berdoa untuk mereka.


"Dek, maaf 'in kak Vera ya telat kesini. Oh iya, selamat ulang tahun sayang! Tenang di sana ya, jangan lupa jagain mana sama papa. Kak Vera sayang banget sama Risa. Happy birthday Risa!" Ucap Vera dengan penuh ke hangatan sambil mengelus batu nisan yang bertuliskan Risa Fransiska William.


Tak terasa air matanya tumpah membasahi pipi Vera. Walaupun dari luar Vera terlihat sangat kuat, tapi di dalam Vera rapuh sangat rapuh. Kehilangan keluarga membuat Vera sangat depresi dan tertekan.


-----------


Vera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju ke sebuah butik pakaian. Vera turun dari mobil dengan memakai kacamata hitam dan masuk ke butik itu yang tak lain adalah butik milik mama Vera.


Ting!


Denting lonceng terdengar saat Vera membuka pintu butik. Vera masuk dan berjalan-jalan di sekitar butik itu melihat baju-baju yang di tawarkan di sana. Saat itu butik mama Vera sedang ramai pembeli. Tak lama datang 2 karyawan wanita mendekati Vera.


"Selamat datang nona, ada yang bisa kami bantu?" Tanya salah satu karyawan bernama Risma.


"Tidak perlu, aku akan melihat-lihat lebih dulu" Jawab Vera tanpa melepas kaca mata nya.


"Suara ini sangat familiar, tapi siapa?" Batin karyawan lain nya Sinta.


"Baiklah, nona bisa melihat-lihat pakaiannya. Tapi butik ini menawarkan pakaian bermerk terbaik dengan harga yang fantastis" Ucap Risma dengan nada mengejek Vera.


"Benarkah?" Tanya dingin Vera.


"Tunggu! Suara ini.. Jangan-jangan nona Muda?!" Batin Sinta yang merupakan karyawan lama, Sinta sudah bekerja di butik ini jauh sebelum pembantaian keluarga Vera.


Butik mama Vera tidak hanya menawarkan baju-baju atau dress pesta tapi ada juga sebuah tempat yang di dalam nya khusus untuk gaun pengantin dan jas pengantin.


"Dia mengejekku? Lihat saja, ini hari terakhir mu bekerja" Batin Vera dengan menampilkan senyum devil nya.


Vera melihat-lihat isi butik mama nya, mata Vera tertuju pada satu gaun pendek dengan warna merah. Vera ingat bahwa siang ini ada acara keluarga dan pasti akan di lanjutkan dengan dinner dengan keluarga besar Vera.


"Sepertinya ini cocok" Gumam Vera sambil mengambil gaun itu dari tempatnya.


"Hati-hati nona, anda bisa mengotori gaun itu! Gaji anda punya belum tentu bisa membelinya" Ketus Risma pada Vera membuat para pembeli itu menatap mereka.


Sedangkan Vera menatap tajam nan dingin Risma dari baik kaca mata hitam nya.


"Benarkah?" Tanya Vera.


"Nona, tolong kembalikan gaun itu. Jika anda merusaknya anda akan terkena masalah" Ucap Risma dengan nada agak keras.


"Apa hak mu memerintah ku?" Tanya Vera dingin penuh penekanan.


Sinta yang mendengar ada keributan segera menuju tempat kejadian. Terkejut bukan main Sinta saat melihat teman kerja nya sedang menceramahi nona muda, Vera. Jantung nya berdetak sangat kecang seperti mau copot, tubuh nya gemetar dan berkeringat dingin. Sinta dengan memberanikan diri menghampiri nona muda dan teman nya.


"Maaf menyela, tapi apa yang nona ributkan?" Tanya Sinta menahan takut nya.


"Mbak, lihat wanita ini. Dia hampir mengotori gaun itu, mbak tau sendiri gaun itu mahal" Ucap Risma.

__ADS_1


"Dia karyawan baru?" Tanya Vera dingin membuat bulu kuduk Sinta berdiri.


"I-iya nona, maaf kan teman saya karena kurang sopan. Dia baru bekerja 2 bulan" Ucap Sinta menunduk tidak berani menatap Vera.


"Mbak Sinta! Mbak kenapa bela wanita ini? Nanti bisa-bisa kita dimarahin Nyonya besar Rosa" Pekik Risma.


"Hei! Kau sangat tidak tau sopan santun" Ucap Vera membalas Risma.


"Kau tau siapa aku?" Tanya Vera yang kini sudah muak dengan Risma.


Vera melepas kaca mata hitam nya di depan umum. Risma kaget melihat siapa sebenarnya nona itu, Sinta hanya bisa menunduk takut mendapat imbasnya. Sedangkan para pelanggan pria yang hendak memilih jas pernikahan terpesona dengan kecantikan Vera.


"Nona muda! Tolong maaf kan teman saya" Pinta Sinta.


"No-nona muda?" Ucap Risma kaget dengan tubuh yang sudah gemetar mendapat tatapan mata Vera.


"Iya, aku nona muda kalian, pemilik butik ini, Xaviera Saffanya Beryn William" Jawab Vera dingin.


"No-nona muda, mohon maafkan saya. Saya berjahi tidak akan mengulangi nya lagi" Mohon Risma sambil membungkuk.


"Baiklah kamu aku maafkan. Tapi sebagai gantinya kamu sekarang juga saya pecat" Jawab Vera.


"Apa?! Nona muda tolong..." Pinta Risma sambil menangis.


"Aku tidak suka mengulangi ucapan ku" Ucap Vera.


Vera mengeluarkan handphone nya dan mendekatkan ke telinganya.


"Adam, aku ingin 10 orang wanita dari Wonder Women untuk bekerja di Xavier Butik. Wanita yang tau sopan santun, tidak membedakan, tidak meremehkan, tau diri dan menghargai. Sekarang" Ucap Vera penuh penekanan pada Adam.


Vera mematikan telfon nya dan mengantongi kembali. Terlihat wahai Risma sudah pucat. 5 menit kemudian butik Vera di kejutkan dengan kehadiran 10 bidadari yang tak lain adalah anggota Wonder Woman. 10 orang itu menuju ke arah Vera.


"Mulai sekarang kalian beralih frofesi, mulai detik ini kalian bekerja di sini. Jangan mengecewakan ku. Understand?" Ucap Vera.


"Understand Lady!" Jawab 10 wanita itu.


"Saya Vera, mohon maaf untuk kejadian yang tidak sopan tadi. Sebagai gantinya saya yang akan membayar semua belanjaan kalian. Anggap ini sebagai permintaan maaf. Terimakasih" Ucap Vera pada para pelanggan nya.


"Mulai bekerja" Perintah Vera.


Mereka tidak menjawab dan langsung berhamburan melayani para pelanggan butik Xavier. Sedangkan Risma sudah pergi sedari tadi.


"Aku beli 2 gaun ini. Dan bayar semua belanjaan mereka dengan kartu ku" Ucap Vera sambil memberikan Black Card.


---------


Jam tangan menunjukkan pukul 11.15, Vera sudah sampai di parkiran. Vera berjalan masuk dengan elegant dan berkharisma. Saat masuk ada beberapa karyawan membungkuk hormat karena tau siapa yang saat itu datang tanpa kacamata nya. Vera mendekati meja resepsionis.


Vera mengeluarkan handphone nya dan menyodorkan tepat di depan wajah Afifah. Afifah melihat wallpaper handphone Vera langsung membungkuk hormat.


"Selamat datang kembali nona Presdir, maaf atas keteledoran saya" Ucap Afifah.

__ADS_1


Vera tidak menjawab langsung berjalan memasuki lift khusus Presdir. Tapi di depan pintu lift Vera di cegat oleh seorang karyawan wanita.


"Nona ini lift Presdir, amda tidak bisa menaikinya" Ucap karyawan itu bername tage Gina.


"Apa ada masalah?" Tanya Vera.


"Tentu, anda hanya orang biasa yang berlagak sombong memasuki lift Presdir" Ejek Gina membuat Vera naik darah.


"Definisi mana kamu?" Tanya Vera.


"Definisi bagian bursa saham, manager bursa saham" Ucap sombong Gina.


"Ck! Hanya manager bursa saham sangat sombong" Ucap Vera.


Tidak peduli dengan manusia tak kasat mata itu, Vera langsung nyelonong masuk ke lift karyawan dan menuju ke lantai paling atas 58.


Ting!!


Pintu lift terbuka lebar, Vera melangkah keluar dari lift dan masuk menuju kantor Presdir. Saat membuka pintu Vera melihat ada Pak Tarno dan Mbak Dian masih meng-handle perusahaan karena om Rio hari ini tidak masuk. Mereka berdua tempat kewalahan dengan tumpukan berkas dan dokumen itu.


"Selamat datang kembali nona Presdir!" Sapa Pak Terno dan mbak Dian sopan.


"Selamat siang Pak Tarno, mbak Dian" Jawab Vera sambil duduk di kursi kerja nya.


"Kalian boleh keluar dan beristirahat, biar aku mengurus nya" Ucap Vera.


"Baik nona" Jawab mereka.


Saat pak Tarno dan mbak Dian akan pergi Vera mencegah mereka.


"Mbak Dian, suruh manager bursa saham ke ruangan ku" Ucap Vera.


"Baik nona" Jawab mbak Dian kemudian pamit undur diri.


Setelah kepergian 2 asisten itu, Vera memulai kerja nya dengan perusahaan papa Hendrick. Tumpukan berkas-berkas dan dokumen menumpuk menunggu seorang Presdir membacanya. Vera jenuh mengambil handphonenya dan menelfon sahabat nya, Leo.


"Halo bro! Lu dimana nih? Berbulan-bulan gak nongol. Lu jadi liat proyek lu kagak?" Tanya Leo yang langsung menyambut Vera sedan tentetan pertanyaan. [Kalo kalian lupa bisa baca di episode 19.]


"Besok gua kesana" Ucap Vera.


"Oke! Di tunggu loh"


"Iya iya ba*ot!"


Panggilan itu berakhir karena ada yang masuk ke ruang Presdir. Vera langsng memutar kursi kerja nya menghadap ke luar gedung.


"Ada apa Presdir mencari saya?" Tanya sopan Gina.


Vera berputar, Gina terkejut melihat yang duduk di kursi Presdir adalah Vera.


"Kamu saya pecat" Ucap dingin Vera.

__ADS_1


"Apa?!" Pekik Gina kaget.


"Hitungan ke 3 kamu tidak pergi, aku lempar kamu dari sini" Ancam Vera.


__ADS_2