Lady Of The Mafia

Lady Of The Mafia
Chapter 80 - Berita Duka


__ADS_3


"Apa persyaratan selanjutnya?" Tanya Vera.


"Hanya ada 3 syarat saja. Pertama, pemberitahuan jumlah keseluruhan anggota mafia mu. Ke-dua, melakukan uji pembuktian calon pewaris yang tertulis di surat waris Nyonya Marquen. Dan yang ke-tiga adalah ujian seleksi ketangkasan selama 6 bulan di camp pelatihan Korut milik Kang Dong Won" Ucap Charles. "Dan ada beberapa ketentuan saat kau sudah di terima di dalam jajaran anggota dewan, salah satunya adalah sesama anggota di larang keras untuk saling berperang atau membunuh, jika ketahuan melanggar akan di kenakan sanksi tegas, yaitu di buang di pulau mati dan siapapun bisa membunuh mu" Jelas Charles panjang kali lebar plus tinggi.


"Hem.. It's Easy" Jawab Vera.


"Cih! Dia belum tau seperti apa latihan 6 bulan itu" Ucap Axcel berdecak sebat dengan sikap Vera. Tiba-tiba Vera merasa ada yang bergetar di bagian paha nya.


Vera merogoh kantong celana nya dan melihat ada apa dengan handphonenya, Nenek Lucy Call itukah tulisan yang tertera di layar handphonenya. Segera Vera menggeser tombol hijau dan mendekatkan ke telinga nya. Vera menghembuskan nafasnya sebelum mulai berbicara dengan nenek nya. Dan anggota dewan kembali di buat tercengang dengan sikap dan gaya bicara Vera yang berbeda 360 darajat.


"Helloww~!! Good Morning, day, efternoon, evening and good night my lovely honey bunny sweety grandma! Vera yang unyu, imut, baek hati dan cantik bagai mimiperi hadir..!! Apa gerangan yang membuat nenek yang cantik, awet muda dan cerewet ini menelfon?" Ucap Vera dengan gaya bicara yang lenjeh, manja, centil dan penuh drama membuat anggota dewan kembali heran dan penasaran dengan sifat asli Vera.


"Jangan banyak drama, kamu ngapain ada di kastil dobrok milik Joel playboy itu?" Tanya Nenek Lucy. Tawa Vera pecah saat mendengar neneknya menyebut kastil Joel yang megah itu dengan sebutan 'kastil bobrok', bahkan Vera sampai Vera mengeluarkan air mata dan memukul-mukul meja yang tak bersalah. Anggota dewan hanya saling lirik tak mengerti dengan apa yang di tertawakan Vera.


"Cukup! Kau menghadiri pertemuan 11 Anggota Dewan Mafia?" Tanya nenek Lucy.


"Jika kau tau, buat apa bertanya?" Tanya balik Vera.


"Dasar cucu sialan! Sifatmu persis sama seperti mendiang Ibu mu. Sudahlah hidupkam speaker mu dan taruh ponselmu di tengah meja" Perintah nenek Lucy yang langsung Vera kerjakan. Vera menaruh handphonenya di tangan meja setelah mengaktifkan tombol speaker.


"Charles! Apa maksudmu dengan menyuruh cucuku ikut ujian ketangkasan?! Kau tidak percaya dengan pilihan Vina?!" Tanya Nenek Lucy dengan suara sedikit tinggi. Charles mendadak kalang kabut untuk menjawab pertanyaan nenek Lucy.


"Tidak! Bukan begitu.." Jawab Charles.


"Halah! Kau terlalu banyak asalan. Cucu ku tidak butuh latihan fisik dan ujian ketangkasan" Ucap Nenek Lucy.


"Baik, baik, tidak ada ujian ketangkasan untuk cucu mu dan anak Tuan Vanderbilt" Jawab Charles.


"Good!" Ucap nenek Lucy sebelum mematikan telfon. Vera kembali mengambil handphonenya dan menaruhnya di satu celana.


"Jadi kapan aku dan Lucas akan diresmikan?" Tanya Vera.


"Kau belum memenuhi syarat ke-dua dan ke-tiga. Kami masih harus membuktikan" Jawab Genzo.

__ADS_1


"Terserah! Lebih cepat lebih baik" Ucap Vera. Tiba-tiba wajah Vera berubah pucat. Kepalanya sahat sakit, dan lagi-lagi ia melihat potongan gambar-gambar yang Vera yakinin adalah memori nya yang hilang.


"Ugh! Ada apa dengan ku? Kepalaku sangat sakit dan perasaan tidak enak apa ini?" Ucap Vera dalam hati sabuk memegangi keningnya.


"Gambar sialan ini!"


"Agh!" Erang Vera membuat Lucas, Ansel, Jessy, Farah dan anak buahnya khawatir. Anggota Dewan pun ikut terkejut dengan Vera yang terlihat kesakitan itu.


"Vera, kau kenapa?" Tanya Lucas khawatir sambil memegangi pundak Vera. Dan Vera masih saja merasa sakit di kepala nya, memori itu juga masih berjalan di otak nya.


"Vera! Vera! Ada apa dengan mu?" Tanya Jessy yang ikut khawatir. Tiba-tiba saja sakit itu hilang membuat Vera lega, tapi rasa tidak nyaman nya masih ada di hati.


"Memory, aku melihat anak laki-laki yang menangis di bangku taman. Dia.. Dia.. Sangat mirip dengan Lucas" Ucap Vera perlahan. Sedangkan Lucas kaget bukan main. Ansel, Jessy dan Farah sontak menoleh ke Lucas.


"Ayolah! Banyak orang yang mirip dengan ku" Elak Lucas yang terlihat tenang-tenang saja, padahal jantung berdegup kencang.


"Masuk akal juga" Ucap Jessy.


"Ya, tapi.." Ucap Vera yang berhenti membuat penasaran.


"Tapi apa? Kau melihat bagian lain?" Tanya Lucas.


"Tidak nyaman bagaimana?" Tanya Ansel.


"Aku tidak tau, perasaan ini sangat tidak nyaman!" Ucap Vera. Tiba-tiba handphone Vera kembali bergetar, Ansel mengambil handphone Vera.


"Telfon untuk mu" Ucap Ansel sabil menyodorkan handphone Vera.


Aunty Luna Maya Call itulah yang tertera di layar handphone. Cepat Vera menerimanya dan mendekatkan handphone ke telinga. Dan mereka mulai berbicara.


"Hallo! Aunty? Are you cry? What's happened?" Tanya Vera yang khawatir dan heran.


"Nenek.." Lirih tante Luna dengan suara bergetar dan segukan. Vera mendadak panik dan khawatir level dewa, ada apa dengan nenek nya?


"Nenek? Ada apa dengan nenek Lucy? Apa nenek sakit lagi? Apa nenek rindu pada ku?" Tanya Vera yang mencoba untuk tetap positive thinking, walaupun sebenarnya ia sangat takut terjadi sesuatu pada nenek nya. Tapi Vera tak kunjung dapat jawaban, yang ada malah tangis yang semakin menjadi. Anggota Dewan juga penasaran apa yang terjadi pada nenek Lucy

__ADS_1


BRAK!


"ANSWER ME!!" Pekik Vera yang sudah hilang batas kesabaran.


"Nenek Lucy meninggal! Dia meninggal!! Meninggal!!" Jawab tante Luna yang ikut berteriak.


"Hah?" Kaget Vera. Matanya langsung berkaca-kaca, wajah tidak bercaya dan bibir bergetar sulit untuk berucap.


"Are you kidding me? Dia baru saja menelfon ku! Itu tidak mungkin!" Ucap Vera yang masih tidak percaya.


"Vera.. pulang.. ikuti pemakaman nenek" Pinta Tante Luna.


"Vera pulang sekarang! Pulang sekarang!" Pekik Vera yang langsung menutup telfon nya. Air matanya menetes keluar.


"Vera kenapa? Apa yang tante mu bicarakan dan kenapa kau menangis?" Tanya Ansel.


"Pulang sekarang! Pulang ke Indonesia! Ke Indonesia!" Pekik Vera menggila dengan air mata yang masih mengalir.


"Ada apa? Kenapa?" Tanya Lucas.


"Ayo pulang! Ayo, Lucas ayo pulang.." Ucap Vera yang mulai memelan tapi masih menangis.


"Nona Vera, tenang lah. Ada apa? Katakan pada kami" Ucap Axton yang penasaran.


"Nenek.. Nenek Lucy.." Ucap Vera yang tak bisa menyelesaikan kalimat nya, lidah nya kelu untuk berbicara.


"Ada apa dengan Nyonya Lucy?" Tanya Master Xiao perlahan.


".. Dia- dia meninggal" Jawab Vera membuat semua orang kaget.


--------------


**05 Agustus 2020


Happy birthday to me! Happy birthday to me! Happy birthday! Happy birthday! Happy birthday to me!

__ADS_1


Hai readers tercinta! Gimana ceritanya? bagus? Udah lah! Kita lewati dulu! Tau gak hari ini hari apa? HARI INI, TANGGAL 5 AGUSTUS, TANGGAL HARI AUTHOR BROJOL! THANK'S GOD FOR 13 YEAR'S OLD. HOPEFULLY IT CAN BECOME A BETTER PERSON.


Thank's buat kalian yang terus setia nunggu novel ini up! Itu hadiah ulang tahun yang indah**!


__ADS_2