Lady Of The Mafia

Lady Of The Mafia
Chapter 72


__ADS_3

Setelah dari sekolah, Vera bergegas kembali ke kantor untuk membagikan pizza. Karena junlah pizza yang di beli Vera kurang, terpaksa Vera memesan puluhan box lagi. Tak terasa jam dinding menunjukan pukul setengah 2 siang.


"Jessy, berikan aku berkas fakta Eiji Dylan. Aku akan menemui Naomi" Ucap Vera.


"Sebentar aku ambil kan" Jawab Jessy sambil menuju meja kerja nya untuk mengambil berkas yang Vera minta. Setelah mengambil kan nya Jessy langsung memberikan pada Vera.


"Ini berkas nya. Semua sudah siap, semoga orang itu bisa di ajak bekerja sama" Ucap Jessy menyodorkan berkas yang di minta Vera.


"Semoga saja!" Jawab Vera. "Jessy, tolong buatkan janji temu dengan direktur Cop Company yang baru"


"Maksud mu 'si BinBin' itu?" Tanya Jessy.


"Menurut mu siapa lagi? Tidak mungkin orang tua nya bukan? Oh Jessy! Ayolah" Ucap Vera.


"Oke oke! Akan ku buatkan janji nanti, tunggu kabar baik dari ku saja" Ucap Jessy di selingi kekehan pelan.


"Of course!" Jawab Vera.


"Tentang senjata yang kita pesan baru cabang Rusia, China dan Korea yang mendapatkan lebih dulu" Ucap Jessy.


"Tidak masalah, selagi berjalan lancar" Jawab Vera.


"Baik lah aku tidak bisa menunggu lagi. Sampai jumpa!" Ucap Vera sambil berlalu pergi untuk menemui Naomi. Jessy tersenyum merenspon ucapan Vera. Diri nya merasa beruntung bisa bertemu dengan dengan sosok wanita tangguh seperti Vera.


"Aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan mu, Vera. Mungkin tanpa mu aku tidak akan menjadi Jessy yang sekarang. Jessy yang kuat, tangguh dan tidak bisa di tindas" Ucap Jessy dalam hati.


Vera bergegas kembali ke summer spring caffe untuk memenuhi janji dengan Naomi. Vera adalah tipe orang yang tidak suka melanggar janji. Jika bisa berbicara kenapa tidak bisa membuktikan?

__ADS_1


Sampai di caffe Vera masuk dan mendari Naomi. Saat pandangan nya di tajam kan akhirnya ia melihat sosok wanita berambut orange sedang menikmati orange juice nya. Vera dengan segera menghampiri wanita itu.


"Maaf kau menunggu lama" Ucao Vera sambari duduk.


"Tidak apa" Jawab Naomi. "Kau tidak pesan? Biar aku pesan kan"


"Aku tidak punya banyak waktu Naomi" Ucao Vera yang sudah berubah menjadi nada dingin.


"Baik lah, aku tidak akan membuang waktu mu" Ucap Naomi. "Aku ingin kau membuktikan bahwa memang bukan kau yang membunuh orang tua ku"


"Hehehe.. Ternyata kau masih tidak percaya. Baik lah! Ini, kau bisa lihat sendiri!" Ucap Vera sambil menyerahkan berkas pada Naomi. Naomi membuka berkas itu satu per satu dan membacanya dengan teliti


"Saat kematian orang tua mu, umur ku baru 7 tahun. Mustahil untuk membuat kelompok mafia. Aku tau bahwa Eiji Dylan adalah salah satu jajaran orang pemegang saham perusahan walau hanya 3% di LIG. Keluarga mu di pindahkan ke Jermain atas perintah ayah ku. Kau tau alasan nya?! Karena ayah ku tidak ingin Eiji Dylan di fitnah karena membocorkan informasi rahasia perusahan!" Ucap Vera dengan suara yang mulai naik.


"Tapi kenapa Tuan Hendrick malah menyuruh kelompok mafia untuk membunuh orang tua ku?!" Tanya Naomi yang terlihat menahan amarah nya. "Jika benar memindahkan kami karena takut di fitnah, kenapa Hendrick tidak berkunjung saat orang tua ku dimakan kan?!"


"Jangan berbohong nona William, jelas-jelas Hopper memberitau ku orang yang telah membunuh orang tua ku adalah Tuan Hendrick William dan Nyonya Vina Marquen" Ucap Naomi.


"Jangan bawa-bawa nama orang tua ku.. Jangan memancing amarah ku Naomi" Peringatan Vera dengan suara dingin dan tangan yang sudah mengepal di atas meja.


"Kau tidak terima?! Ini kenyataan nona William! Jangan menyembunyikan sebuah fakta demi reputasi keluarga William. Jika memang Tuan Hendrick membenci ayah ku, tidak perlu sampai membunuh nya bukan?!" Ucap Naomi yang semakin naik.


BRAK!! PRANG!!


"Aku tidak pernah menyembunyikan fakta! Jelas-jelas itulah kenyataan yang sebenarnya. Si keparat Frans Hopper yang membodohi mu! Dia membuat mu menjadi pion dalam permainan nya! Frans Hopper killed your parents!" Pekik Vera dengan posisi berdiri


sambil menggebrak meja caffe dan memecahkan gelas yang berisi orange juice Naomi. Sontak pengunjung caffe melirik ke arah mereka.

__ADS_1


Akhirnya mereka tersadar jika mereka ada di tempat umum. Seketika jantung mereka berdetak lebih kencang dari biasanya. Terdengar orang-orang mulai berbisik satu sama lain. Vera menghela nafas dan memberanikan diri berbicara.


"Maaf semua nya karena telah mengganggu kenyamanan kalian. Tadi kami hanya sedang berlatih argument untuk acara theater, tapi kami lamah terlalu menghayati peran. Sekali lagi kami mohon maaf" Ucap Vera ramah dan tersenyum manis membungkuk meminta maaf.


"Iya dia benar, kami hanya berlatih argument. Mohon maaf!" Ucap Naomi ikut meminta maaf. Para pengunjung caffe saling bertukar pandangan. Tiba-tiba gemuruh tepuk tangan terdengar.


"Kita biasa! Itu sangat hebat"


"Terlihat seperti orang yang sudah sangat professional"


"Hanya theater, aku kita itu benar terjadi"


Vera tersenyum canggung dan kembali duduk. Begitu pula dengan Naomi. Vera menghela nafas karena para pengunjung itu sangat percaya pada perkataan Vera.


"Baik lah Naomi, semua keputusan ada di tangan mu, aku tidak lagi memaksa mu untuk percaya pada ku, aku sudah melakukan ada yang bisa aku lakukan" Ucap Vera yang sudah hendak pergi karena masih banyak urusan.


"Tapi ingat ayah mu punya 3% saham LIG. Itu bisa menjadi hal yang menguntungkan jika kau melakukan dengan baik. Nama ayah mu masih belum hilang dari jajaran 9 orang pemegang saham. Kau punya peluang untuk bisa hidup seperti dulu, tanpa adanya ancaman, kekangan, aturan atau apa pun. Pikir kan baik-baik" Ucap Vera pada Naomi.


Vera berjalan ke arah kasir untuk membanyaj kerusakan yang ia perbuat. Selesai membayar Vera langsung pergi meninggalkan caffe dan kembali ke perusahan. Naomi masih duduk diam di tempat mencerna ucapan Vera. Saat Naomi pertama kali bertemu Frans Hopper dan hidup dengan nya, Naomi seperti tahanan rumah. Ia tidak bisa melakukan sesuatu dengan bebas.


"Ayah, ibu.. Apa yang harus aku lakukan? Siapa yang akan aku percaya?" Ucap Naomi dalam hati dengan menatap sebuah halaman di berkas itu yang terdapay foto orang tua nya.


Vera sampai di perusahan dengan wajah kusut. Karyawan kantor nya sampai kenunduk takut, karena mereka sudah mengerti siapa 'Nona' mereka. Jika wajah 'Nona' mereka kusut, atau cara berjalan nya cepat, dan tatapan nya membunuh, berarti 'Nona' mereka marah pada seseorang.



ILUSTRASI: MIA / NAOMI

__ADS_1


SOURCE BY: PINTEREST


__ADS_2