
"Eh! Lu tuli?! Angel nyuruh lu pergi!" Bentak salah teman Angel.
Vera menatap sekelilingnya dengan tajam. Vera meletakkan sendok makannya dengan kasar, raut wajahnya pun seketika berubah. Vera berdiri dari duduknya dan menatap Angel dingin.
"Apa urusan lu?" Tanya Vera dingin.
"Bang*e! Kayanya lu bener-bener tuli nih. Angel nyuruh ku pergi dari sini, udah sana cari tampat lain" Suruh Donita teman Angel.
"Punya hak apa merintah gue?"
"Lu anak baru kan? Pantes ga tau apa-apa. Kita bad girl di sekolah ini dan ini Angel si bunga sekolah"
"Terus apa masalah nya?"
"An*ing lu mendingan minggir dari sini sebelum lu dapet masalah!"
"Oh ya?"
"Lu siapa gua? Songong amat"
"Kamp*et!"
Tangan Donita melayang ingin menampar Vera. Tapi belum mendarat mulus tangan Donita sudah lebih dulu di genggam Vera. Vera melepas tangan Donita dan..
Plakk..
Vera menampar kuat pipi Donita sampai memerah dan timbul cap tangan Vera di pipi Donita.
"Kalian berada dalam masalah karena menggangu ku" Kata Vera dingin sambil mengambil cup minumannya dan meminumnya.
Vera langsung pergi dari kantin. Seluruh manusia di kantin itu menatap Vera yang berlalu pergi itu. Vera berjalan menuju lokernya, Vera menaruh sesuatu dalam loker itu dan langsung pergi.
*****
Kelas selesai jam 2 siang. Vera keluar dari kelasnya hendak pulang. Tiba-tiba ia terhenti di lorong kelas 11-4. Vera melihat ada 3 orang cewek yang dibully oleh sekelompok cewek yang tak lain adalah bunga sekolah dan komplotan nya. Vera menghampiri mereka, Vera yang sudah tidak ingin meladeni mereka hanya membawa 3 cewek yang di-bully itu pergi. Vera pergi dengan 3 cewek itu sampai parkiran.
"Lu ga papa?" Tanya Vera dingin.
"Kita ga papa kok. Makasih tadi udah nolongin kita" Jawab salah satu perwakilan dari mereka.
"Boleh kenalan?"
"Ya"
"Aku Jessy Alvander Devara, Jessy" Ucap Jessy sambil mengulurkan tangannya hendak bersalaman.
"Vera" Jawab Vera sambil berjabat tangan dengan Jessy.
"Farah Debora Alexander" Ucap teman Jessy Farah.
"Refa Tania Quincy" Tambah Refa yang juga teman Farah dan Jessy.
"Ver, lu mau balik?"
"Iya"
"Oke. Makasih loh ya!"
"Iya"
__ADS_1
Vera masuk ke mobil BMW nya dan perlahan pergi meninggalkan Jessy, Refa dan Farah disana. Jessy ddk jalan keluar sekolah menuju halte bus. Mereka duduk di kursi halte menunggu bus nya datang.
Tin tin!!
Suara klakson mobil yang berhenti di depan halte itu. Ternyata dari tadi Vera terus memperhatikan mereka bertiga. Vera menurunkan kaca mobilnya.
"Masuk!" Suruh Vera.
"Loh Vera? Kok belum pulang lu?" Jwab Farah basa-basi.
"Mau sampe kapan lu semua nungguin bus? Masuk!"
"Tapi.."
"Ga ada penolakan!"
Jessy ddk pasrah dan akhirnya ikut masuk ke mobil Vera. Vera tancap gas menuju mansion nya. Di mobil suasana canggung amat terasa. Di tengah perjalanan Refa memutuskan untuk ngobrol dengan Vera dan yang lain.
"Ver, lu beneran mau nganterin kita?" Tanya Refa.
"Ya" Jawab Vera dingin.
"Lu tau rumah kita Ver?"
"Buat apa gua harus tau?"
"Lah terus kita kemana?"
"Lu tau sendiri nanti"
Vera menambah kecepatannya, 15 menit perjalanan Vera sampai di mansion besarnya itu. Vera memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu masuk mansion. Jessy ddk kaget dengan mansion Vera, mereka tidak percaya dengan yang mereka liat.
Mereka membuka sabuk pengaman dan turun dari mobil Vera. Vera melajukan mobilnya masuk ke dalam garasi lalu menghampiri Jessy ddk di depan pintu masuk.
"Masuk!" Suruh Vera.
Vera membuka pintu nya dan masuk ke mansion itu. Jessy kagum melihat isi mansion Vera yang penuh barang-barang mahal. Farah sampai melongo liat mansion Vera.
"Kalian semua sekarang tinggal disini" Kata Vera.
"Emang boleh sama ortu lu Ver?" Tanya Refa.
Pertanyaan Refa membuat mimik wajah Vera berubah seketika. Vera menatap mereka dengan tatapan sinis seakan tidak suka jika mereka menyebut kata "Orang tua".
"Ortu gua udah ga ada" Jawab Vera.
"Upss.. Sorry Ver.."
"Lu sih ngapain coba ngomong gitu?" Bisik Farah pelan.
"Mana tau nasip dia sama dodol" Jawab Refa pelan.
"Udah selesai bisik-bisiknya?" Ucap Vera dingin menatap mereka tajam.
"Naik!" Suruh Vera.
Mereka merasa bersalah pada Vera, mereka menuruti ucapan Vera. Mengikuti Vera berjalan menaiki anak tangga memutar itu. Vera berhenti di salah satu kamar.
"Lu tidur bareng?" Tanya Vera.
__ADS_1
"Nggak" Jawab Jessy.
"Ini kamar Farah" Ucap Vera dengan jari yang menunjuk pintu kamar yang ada di depan mereka.
"Jessy" Tambahnya menunjuk pintu sebelah kanan kamar Farah.
"Refa" Dan kamar sebelah kiri buat Refa.
Mereka membuka kamar mereka. Terkejut bukan main mereka melihat isi kamar itu. Bahkan tempat tidur itu muat untuk 2 orang.
"Ver, ini serius buat kita?" Tanya Refa.
"Ya" Jawab Vera dingin dan langsung melangkah pergi menuju kamarnya sendiri.
"Apa ini? Vera baik banget ke kita tapi kita malah ga baik sama kita. Jadi malu nih.." Batin Refa.
******
Vera melemparkan tas nya ke kasur dan langsung menjatuhkan diri ke atas kasur empuk itu. Vera terdiam menatapi langit-langit kamarnya.
"Ma.. Mama baik disana? Papa gimana? Kalian semua bahagia kan disana? Ma.. Mama bisa liat Vera yang sekarang? Jalan yang Vera tempuh salah ga sih Ma? Vera cuma mau dalam dendam ke mereka" Batin Vera.
Pikiran Vera jadi tidak karuan karena memikirkan hal itu. Vera pergi ke kamar mandi untuk membasuh mukanya. Vera menatap dirinya di cermin bersih itu.
"Udah lama ya Vera ga pernah senyum lagi? Mama, Papa, Kak Dion, Sama Risa kangen ga? Mau liat Vera senyum lagi?"
Tanpa sadar Vera tersenyum di depan cermin itu karena Vera merindukan keluarganya. Sebelum kejadian itu Vera selalu tersenyum, senyum nya membuat orang-orang bisa merasakan kebahagiaan dan kehangatan dari diri Vera sekaligus kepribadiannya yang dulu hangat dan ceria perlahan sirnah, hilang entah kemana.
Vera keluar dari kamar mandi dan membuka laci meja di samping tempat tidurnya. Terlihat Vera mengambil sesuatu dari dalamnya, sebuah foto yang tidak asing baginya. Foto keluarga. Vera menatap foto itu sangat dalam.
**Flasback on***
"Ma.. Bi Ani ga kerja ya?" Tanya Vera pada Mama nya.
"Bi Ani lagi libur sayang.. Kemaren dapet kabar kalo anaknya melahirkan" Jawab Mama lembut.
"Kali gitu sini Vera bantuin masaknya"
"Serius Vera mau bantuin Mama masak?"
"Iya!"
"Oke! Ayo kita masak.."
*****
Vera dan Papa duduk di sofa depan TV menatap layar TV amat serius. Ya! Vera dan papanya sedang serius melihat pertandingan sepak bola. Mereka menyukai tim sepak bola Juventus dengan pemain favorit nya CR7 atau Cristiano Ronaldo.
Malam itu memang ada jadwal pertandingan Juventus vs Barcelona. Messi pemain andalan Barcelona itu memang rival Ronaldo. Bahkan Vera dan Papanya juga tidak menyukai Messi. Kalo Messi mencetak gol di gawang Juventus, Vera dan Papa nya pasti marah-marah dan ngamuk sendiri.
"Iss... Itu ngapain di Messi ngalangin Ronaldo terus? Males deh!" Gerutu Vera.
"Iya itu.. Minggir sana! Ga bisa kamu ngalahin Ronaldo!" Tambah Papa.
Suasana makin tegang saat Ronaldo bermain Solo run mendekat ke arah gawang Barcelona. Sampai di mulut gawang Ronaldo melepaskan tendangan maut nya dan...
"Gooolllll.....!!!" Teriak Vera kegirangan.
"Gol gol gol gol gol..!!" Teriak Papa nya juga.
__ADS_1
"Woii!! Bisa diem gak?! Jangan teriak keras-keras! Mama masih tidur!" Teriak Mama dari balik pintu kamar.