Lady Of The Mafia

Lady Of The Mafia
Chapter 41


__ADS_3

.


.


"Walaupun kita berjauhan seperti langit dan bumi, gua janji akan selalu ada saat lu butuhin"


-Justin Nicolas Laprovittola-


.


.


Hari berganti hari, kini sudah 3 minggu Vera masih belum ada tanda-tanda bahwa Vera sadar dari koma nya.


"Vera.. Lu kapan bangun? Gua kangen lu.. Lu gak sayang gua makanya lu gak bangun-bangun?" Tanya Lucas sambil menggenggam tangan kanan Vera yang tidak di infus itu.


"Lucas, buruan nanti telat.." Ucap Farah sambil menepuk pundak Lucas.


"Iya" Jawab Lucas.


"Ver, gua otw sekolah dulu. Nanti siang gua kesini lagi temenin lu. Love you Vera" Ucap Lucas sambil mengecup tangan Vera.


Lucas pun berdiri dari duduk nya dan mengambil tas nya di lantai.


"Vera, cepet bangun ya.. Kita semua kangen lu.." Ucap lirih Farah.


Mereka pun keluar dari ruangan Vera untuk berangkat ke sekolah. Di depan ruangan Vera sudah ada 2 mafioso Vera yang beetugaa menjaga Vera dari luar.


"Gua titip Vera, jaga dia baik-baik. Kalo gak.. Kalian tau konsekuensi nya" Ucap Lucas dingin dan penuh penekanan.


"Baik" Jawab kedua mafioso itu.


Lucas dan Farah berjalan menuju lift untuk ke lantai dasar. Sampai di sana Jessy dan Refa sudah menunggu mereka. Mereka masuk ke mobil masing-masing, Lucas pun masuk ke mobil Vera. Mereka berangkat ke sekolah.


-oOo-


"Gua dimana? Kenapa ini putih semua? Gua udah mati?" Tanya Vera.


"Cangkem mu! Kamu belum mati Vera, kamu masih idup" Jawab seorang cowok yang tiba-tiba muncul di depan Vera.


"Lu...." Ucap Vera gagap melihat orang itu.


"Iya! Hai! How are you?" Tanya cowok itu.


"Ini beneran?" Tanya Vera.


"Yoik! Gua abang kesayangan lu. Gimana kaget?" Tanya Dion sambil tersenyum memperlihatkan susunan gigi rapih nan putih itu.


BUGH!


Vera malah memberikan bogemam mentah ke perut Dion. Sontak Dion pun meringis kesakitan mendapat bogemam dari adik nya, ralat Vera.


"Kok malah di bogem? lu mau gua mati?" Tanya Dion pada Vera sambil memegangi perutnya.


GREB!!

__ADS_1


Vera langsung memeluk Dion dengan erat, seperti memberi pesan untuk jagan pergi jauh dari diri nya. Dion pun membalas pelukan itu. Tak di sadar Vera meneteskan air matanya. Jika ini hanya mimpi Vera ingin untuk total tertidur supaya bisa lebih lam dengan abang kesayangan nya.


"Bang lu masih idup?" Tanya Vera.


"Hem..." Jawab Dion pertanda 'iya'


"Sekarang abang dimana?" Tanya Vera yang masih memeluk Dion.


"Nanti lu juga tau sendiri" Jawab Dion.


"kok gitu? Gua cuma mau abang tetep di samping gua. Gua gak mau abang pergi jauh" Ucap Vera mempererat pelukan nya.


"Vera.. se. sek.. gob*lok..bisa.. mat.. ti.. gua.. congek.." Ucap Dion terbata-bata.


"Upss! Sorry!" Jawab Vera.


Vera pun melepaskan pelukan nya. Vera menatap dalam wajah Dion.


"Bisa mundur gak bang?" Tanya Vera.


"Boleh, tapi kenapa?" Tanya balik Dion.


"Ganteng nya over limit!" Jawab Vera.


"Abang lu ini emang dari lahir udah ganteng sayang. Malah udah dari zaman megalitihikum udah ganteng" Ucap Dion yang melebih-lebih kan diri nya sendiri.


"Emang lu udah di buat di zaman batu? Kalo iya, pantes aja badan lu keras semua kek batu beneran!" Ucap Vera.


"Lu tuh ya... Mending gua dari pada lu, badan kek kerupuk kenapa aer sidikit melempem. Hahaha!!" Jawab Dion mengejek Vera.


Vera yang mendengar pun berdengus sebal. Tapi sedetik kemudian Vera ikut tertular virus tawa dari abang nya. Tak lama kemudian badan Dion bercahaya, perlahan tubuhnya menjadi tembus pandang alias transparan.


"Bang..." Lirih Vera melihat cahaya menghiasi tubuh Dion.


"Kaya nya waktu kita udah abis nih, sorry abang gak bisa lebih lama lagi bareng lu" Ucap Dion melemparkan senyum nya.


"Tapi bang, gua pingin bareng abang. gua ikut ya?" Pinta Vera.


"Vera lu gak boleh ikut. Lu punya second family yang nungguin lu. Lu gak bisa tinggalin mereka gitu aja, apa lagi pacar lu" Ucap Dion sedikit menasehati.


"Tapi bang.." Ucap Vera tapi terpotong ucapan Dion.


"Vera dengerin abang, kita cuma sebentar pisah nya. Abang janji suatu hari nanti abang bakal dateng dan buat lu bahagia. Tapi sebelum itu, lu harus tetep sama mereka, gimana pun mereka sama kaya keluarga buat lu. Apa lu tega ninggalin mereka gitu aja?" Tanya Dion.


"Nggak bang.." Jawab lirih Vera.


"Nah gitu dong!" Jawab Dion.


"Abang pergi dulu, jaga diri baik-baik. Abang sayang lu" Ucap kembali Dion sambil mencium kening Vera dan memeluk nya erat, Vera pun membalas pelukan itu.


Cahaya itu semakin terang membuat Vera terpaksa menutup matanya karena tak sanggup menahan silau nya cahaya itu. Tak lama cahaya itu hilang, tangan Vera serasa memeluk angin. Vera membuka mata nya dan mendapati Dion yang sudah hilang dari hadapan nya. Vera berusaha mengontrol diri nya.


"Vera juga sayang lu bang.." Jawab Vera sembari tersenyum manis.


"Oh iya! Gua harus balik ke mereka!" Ucap Vera dengan semangat.

__ADS_1


Vera berbalik badan dan berlari meninggalkan tempat itu. Vera ingin segera kembali pada second family nya. Vera terus berlari tanpa rasa lelah mencari jalan keluar. Tiba-tiba dari kejauhan tampak sebuah kabut berwarna pink yang tebal. Vera began berani mendekati kaut itu dan masuk ke dalam nya.


-oOo-


Disisi lain teman-teman Vera sudah pulang dari sekolah. Mereka langsung pergi ke rumah sakit untuk menemani Vera. Kini mereka sudah ada di ruangan Vera. Jessy dkk, Mark dkk dan Farel asik duduk di sofa dan ada beberapa yang duduk di lantai runs sakit karena sofa nya gak muat:v


Sedangkan Lucas? Yup! Dia setia guys! Lucas duduk di kursi tepat di sebelah ranjang Vera sambil menggenggam tangan Vera. Lucas menatap dalam wajah Vera yang pucat seperti mayat itu.


"Vera, lu yang gimana pun tetep cantik di mata gua" Ucap Lucas.


"Eh.. ini..." Ucap Lucas saat mendapati jari jemari Vera bergerak pelan.


"Vera, Vera lu sadar?" Tanya Lucas dengan wajah bahagia nya.


"Guys Vera sadar!" Ucap Lucas sedikit keras.


"Ciusan?" Tanya Refa.


Farel, Jessy dkk dan Mark dkk yang mendengar itu langsung berdiri mendekati Lucas dan Vera. Mereka melihat jari-jari Vera bergerak di ikuti matanya yang perlahan terbuka. Dengan cepat Farel menekan tombol di atas kepala ranjang Vera.


"Lu.. cas?" Tanya Vera pelan.


"Vera, gua Lucas" Jawab Lucas tersenyum bahagia.


"Vera lu gak papa?" Tanya Farah yang menehan air matanya.


Vera hanya tersenyum tipis merenspon pertanyaan Farah. Farah langsung menangis dan secara spontan memeluk Justin yang ada di belakang nya. Orang-orang yang melihat itu hanya tersenyum.


KEREKK..


Pintu terbuka memperlihatkan Darrel yang menghampiri Vera ngos-ngosan. Saat Darrel akan melangkah tiba-tiba terhenti karena kedatangan Refa di depan nya yang tiba-tiba.


"Lu ngapain coba lari-lari? Kan cape" Ucap Refa sambil mengelap pelan wajah Darrel yang mengeluarkan keringat itu.


"Udah udah gak papa" Jawab Darrel.


"Lu tuh ya! Di perhatiin malah gitu" Ucap Refa sambil berdengus sebal.


"Sorry babe..." Jawab Darrel.


"Ekhem! Pasien nya coy! Pacaran melulu" Tegur Farel yang sebal.


Darrel dengan cepat langsung melesat menghampiri vera untuk di periksa. 10 menit kemudian selesai Vera di periksa Darrel.


"Vera gak papa, badan nya sembuh cepet walaupun koma 3 minggu" Ucap Darrel.


"Jadi kapan Vera pulang?" Tanya Jessy.


"2 hati lagi" Jawab Darrel.


"Gua mau sekarang.." Bantah Vera dengan suara serak nya itu.


"Astaga.. Angkat tangan dah gua, lu kalo udah buat keputuhan selalu gak bisa di ganggu gugat lagi. Serah lu deh" Jawab Darrel sabil memijat pelipis nya.


"Gua kasih lu bonus deh" Ucap Vera.

__ADS_1


"Nah gitu dong! Kan lumayan buat kencan. Ya gak Ref?" Ucap Darrel sambil menyenggol pundak Refa.


__ADS_2