Lady Of The Mafia

Lady Of The Mafia
Chapter 76 - Wedding Day Hans and Chelsea*


__ADS_3

Setelah itu hari-hari mereka kembali seperti biasa. Kini Vera juga sudah mulai bisa menerima Naomi di mansion nya. Semakin hari mansion Vera semakin ramai dengan para pekerja nya. Semua pelayan di mansion Vera pun dilatih cara kenggunakan senjata untuk melindungi diri saat tiba-tiba mansion di serang.


Marco juga di berikan kesempatan kedua dari Vera, walau ada sedikit peraturan yang khusus di terapkan pada Marco.


"Udah siap?" Tanya Vera.


"Ya!" Jawab mereka kompak.


"Ansel, tolong jaga mansion. Terutama Arthur, sampai ia lecet sedikit ku balas 100 kali lipat. Paham?" Ucap vera dengan nada dingin dan tatapan keji nya.


"Tenang saja, akan aku jaga dia sebaik mungkin" Jawab Ansel.


"Satu lagi Ansel, nanti jika urusan ku sudah selesai aku akan ke Rusia. Kau tunggu informasi dari ku saja" Tambah Vera.


"Hem! Aku paham!" Jawab Ansel.


Vera mengambil Arthur dari gendongan Grace. Vera terlihat sangat leluasa menggendong Baby Arthur, terlihat sudah sangat cocok menjadi seorang Young Mommy.


"Sayang, Mommy akan pergi sebentar. Jangan nakal saat Mommy pergi. Muach!" Ucap Vera sambil mengecup pipi baby Arthur.


Vera dkk langsung keluar dari mansion untuk menuju bandara. Kali ini para wanita juga membawa pasangan mereka, kacuali Darrel. Darrel tidak bisa ikut ke Swiss karena pekerjaan nya tidak bisa di tinggal. Mereka ke bandara dengan sebuah mobil panjang. Sambil menunggu sampai bandara mereka meminum whisky di mobil. Mobil Vera kali ini di lengkapi dengan mini bar dan sebuah tempat senjata rahasia dalam mobil. 30 menit kemudian mobil Vera berhenti tepat di hangar pesawat.


Dengan segera mereka turun dan beralih masuk ke dalam pesawat. 10 menit kemudian pesawat lepas landas terbang menuju Swiss.


"Vera" Panggil Lucas. Vera hanya melirik Lucas sekilas. Lucas duduk di samping Vera.


"Kau benar-benar ingin ke Rusia dan menemui anggota dewan?" Tanya Lucas.


"Ya, aku masih tidak percaya ucapan Joel waktu itu. Aku juga ingin menjadi lebih kuat dan disegani" Jawab Vera.


"Tapi kau serius? Kita yang belum masuk jajaran anggota saja di buru polisi dan pemerintah apalagi jika kau masuk jajaran dewan" Ucap Lucas.


"Kenapa? Kau takut sayang? Jika para polisi itu berani mengusik ku hancurkan saja. Mudah bukan" Ucap Vera.


"Tapi.." Ucap Lucas yang belum selesai terpotong ucapan Vera.


"Lucas, sebenarnya aku juga tidak ingin masuk dalam dunia mafia. Dulu aku tidak suka dengan segala urusan yang berbau kejahatan dan polisi. Tapi pada akhirnya pun aku masuk ke dalam nya dan sulit untuk keluar" Ucap Vera memandang keluar jendela. "Saat pintu balas dendam terbuka, tidak ada jalan untuk keluar dari sana, satu-satunya jalan adalah terus maju"


"Karena malam itu?" Tanya Lucas.


"Ya! Malam berdarah itu" Jawab Vera yang kini terlihat dingin dan terdapat dendam di matanya.


"Vera, jika suatu saat nanti aku pergi jauh dari mu. Akankah kamu akan melupakan ku?" Tanya Lucas ragu. Vera yang merasa pertanyaan ini sedikit aneh menatap Lucas penuh tanda tanya.


"Apa maksud mu dengan 'pergi jauh?" Tanya Vera.


"Ehk... Tidak, lupakanlah" Ucap Lucas sembari memalingkan wajah nya. Vera merasa ada yang Lucas sembunyikan dari nya.

__ADS_1


"Apa yang kau sembunyikan Lucas?" Tanya Vera dalam hati.


"Aku tidak bisa memberitahu kan pada mu. Maaf" Ucap Lucas dalam hati.


Perjalanan yang hanya memakan waktu 1 jam itu akhirnya berakhir. Mereka sampai di Bandar Udara Internasional Zürich. Karena Swiss bukan salah satu tempat mafia TDB berada, maka tidak ada yang menjemput mereka di sana. Mereka terpaksa memanggil taksi untuk menuju hostel terdekat.


-Kamar 3096, Kamar Vera dan Jessy-


"Apa yang kalian sembunyikan?" Tanya Vera to the point pada Jessy. Jessy yang merebahkan dirinya di kasur bingung untuk menjawab.


"Aku tidak menyembunyikan apapun" Jawab Jessy santai agar tidak di curigai Vera.


"Benarkah?" Tanya Vera memastikan.


"Ya! Untuk apa aku berbohong" Ucap Jessy.


2 Hari Kemudian•••


Jam dinding menunjukkan pukul 5 sore. Di sebuah ruangan seorang gadis dengan gaun pengantin sedang di rias wajahnya. Wanita berambut emas dengan kulit putih dan badan yang sexsi terlihat gugup. Hari ini ia akan menikah dengan teman lama nya sekaligus cinta pertamanya saat bersekolah di Indonesia. Wanita itu terlihat berbincang dengan salah satu make-up artist.


"Lihat Nona, anda sangat cantik. Tuan Hans memang tak salah pilih istri" Ucap Opic, salah satu make-up artist itu.


"Haha... Terimakasih" Ucap Chelsea.


Tak berselang lama, Chelsea sudah selesai. Ia keluar dari ruang rias. Di luar ruangan sudah ada Papa Chelsea dan 3 bridesmaid menunggu nya. Pintu terbuka memperlihatkan gadis cantik itu.


"Chelsea. Astaga, lihat dirimu Chelsea, kau sangat cantik. Cantik seperti Ibu mu" Ucap Papa Chelsea dengan mata berbinar.


"Terimakasih Papa" Jawab Chelsea.


"Aduhh!!! Cantik banget lo Chel" Ucap satu bridesmaid yang tak lain adalah sahabat nya, Jessica.


"Thanks Jess" Jawab Chelsea.


"Udah yuk, buruan, calon suami lu udah nunggu" Ucap JJ.


Chelsea mengangguk mantap. Chelsea menggandeng tangan sang Papa. Perlahan ia berjalan anggun masuk kedalam gedung.


"Sayang, jangan gugup ya" Ucap Papa Chelsea.


"Semoga Pa.." Jawab Chelsea.


Di dalam gedung, Hans sudah siap dengan tuxedo wedding biru gelap. Berkali-kali Hans menghela nafas agar sedikit meredakan rasa gugup nya. Sedangkan Vera hanya tersenyum melihat kakak nya yang gugup itu.


"Ma, Pa, Risa, lihat kan, hari ini bang Hans nikah. Andai kalian masih ada, mungkin kak Hans akan semakin senang" Ucap Vera dalam hati.


KREKK.....

__ADS_1


Pintu terbuka lebar, semua pasang mata berdiri dan melihat ke belakang, tak terkecuali Hans. Chelsea yang cantik dengan balutan gaun putih berjalan anggun di gandengan sang Papa. Hans yang melihat nya sangat bahagia, karena sebentar lagi gadis itu resmi menjadi istri nya.


Chelsea berjalan melewati ribuan kelopak bunga mawar merah yang tersebar di lantai. Raut wajahnya sangat bahagia dan tak henti-hentinya tersenyum, rasa gugup nya seakan hilang seketika. Saat sampai di depan pendeta, Papa Chelsea melepaskan gandengan nya dan menggenggam tangan Chelsea.


"Hans, mulai sekarang akan aku serahkan putriku yang nakal ini pada mu, tolong jaga dia dengan baik" Ucap Papa Chelsea sambil menyerahkan tangan Chelsea kepada Hans.


"Tentu Pa, Hans akan menjaga Chelsea sepenuh hati" Jawab Hans.


Setelah itu Papa Chelsea turun. Chelsea dan Hans menghadapi ke pendeta. Setelah mengucapkan janji suci dan pendeta mengumumkan bahwa sekarang mereka resmi menjadi suami istri. Hans pun mencium bibir Chelsea lembut. Bahkan Papa Chelsea sampai menangis.


Acara demi acara sudah di lakukan. Puncak acara adalah dinner together. Dinner together ini di peruntukan untuk semua tamu undangan. Dinner ini di lakukan di ruang terbuka, outdoor.



Mereka menyantap makanan yang di sediakan. Vera yang saat itu memakai dress hitam panjang dengan model V-neck dan belahan dress sampai atas lutut. Angin malam yang berhembus membuat Vera sedikit kedinginan. Lucas membuka kancing jas nya dan melepaskan jas biru nya.


"Malam ini udara nya dingin, jaga kesehatan mu, kau masih harus ke Rusia" Ucap Lucas sambil memakaikan jas nya pada Vera.


"Hem! Terimakasih" Ucap Vera dengan senyum nya.


"Vera, kapan kau akan menikah?" Tanya Hans yang satu meja dengan nya.


"Ya! Kalian terlihat sangat cocok satu sama lain" Ucap Chelsea juga degan senyum nya.


"Hem.. entahlah, masih ada beberapa tahun untuk ku menjadi dewasa dan siap menikah" Jawab Vera.


"Pernikahan adalah acara yang sakral" Ucap Farah yang ikut bersuara.


"Begitu ya.. tapi kau terlihat sudah cukup dewasa adik ipar ku" Ucap Chelsea.


"Begitu kah kak?" Tanya Vera. Chelsea hanya mengangguk pelan.


"Vera, kira-kira kau akan menikah di usia berapa?" Tanya Justin.


"Aku tidak tau, mungkin 23, 24, 25?" Ucap Vera.


"25 saja. Saat umur ku 25 dan kau 24" Jawab Lucas.


"Tidak terdengar buruk" Ucap Hans. "Kalau kau bagaimna Farel?"


"Kalau itu terserah wanita ku" Jawab Farel.


"Haha.. kau memang persis mirip seperti paman Rio" Ucap Hans.


"Eh, itu, wanita cantik itu dia tidak membawa pasangan?" Tanya Chelsea yang merujuk ke Refa.


"Hai aku Refa, pacar ku sibuk bekerja" Jawab Refa tersenyum.

__ADS_1


Makan malam mereka semua berjalan tanpa kendala. Akhirnya pada pukul sembilan malam acara selesai. Semua tamu undangan pamit undur diri untuk pulang, tak terkecuali Vera dan teman-temannya.


__ADS_2