Lady Of The Mafia

Lady Of The Mafia
Chapter 81 - VERA'S OBSESSION


__ADS_3

Vera yang sempat histeris saat mendengar kabar bahwa nenek Lucy meninggal langsung terbang ke Indonesia, walau Vera sempat pingsan mengingat tubuh Vera yang kurang sehat dan stress serta syok karena kabar itu. Kini Vera dan kelompoknya berasa satu pesawat dengan Master Xiao.


Ya! Para anggota Dewan juga ikut terbang ke Indonesia, mengingat nenek Lucy juga merupakan anggota Dewan menggantikan sementara posisi suaminya, kakek Caius setelah meninggal. Walaupun Vera tau, ia akan sangat terlambat untuk sampai di Indonesia tepat waktu, mengingat lamanya perjalanan mereka.


Sampai di bandara, Vera buru-buru turun dari pesawat dan berlari menuju luar bandara, kelompok Vera ikut mengejar Vera yang sudah berlari kencang ke luar bandara. Di liar bandara, 12 mobil berwarna hitam 1 merek berjejer rapi. TDB yang mendapatkan kabar bahwa Vera pulang ke Indonesia beserta 8 anggota Dewan langsung membuat jemputan. Bagi mereka menjemput 8 anggota Dewan adalah kesempatan emas yang tidak datang setiap saat.


>>Sedikit pemberitahuan, kenapa cuma ada 8 dewan? Bukan nya ada 11? Oke author jawab. Pertama karena Vera dan Lucas masih CALON belum RESMI jadi anggota dewan. Nah kan harus nya yang hadir ada 9, kenapa cuma 8? Jawaban nya karena ada 1 anggota dewan yang gak dateng, anggota dewan perwakilan mafia dari INDONESIA.


-------


back to story..


"Minggir!" Bentak Vera pada mafioso nya yang bertugas menjadi sopir.


"Lady?" Panggil nya bingung.


"MINGGIR!" Teriak Vera dengan sort mata dipenuhi kilatan kemarahan dan kebencian. Mafioso nya kalang kabut keluar dari posisi. Vera mengcengkram baju anak buahnya lalu di seret keluar karena menurut Vera I terlalu lamban.


BAM!


Vera menutup pintu mobil kuat dan langsung tancap gas meninggalkan teman-temannya dan 8 anggota Dewan.


"Apa-apaan dia! Sangat tidak sopan meninggalkan kita!" Ucap William berdecak pinggang.


"Biarkan dia, 17 tahun, itu wajar" Ucap Axcel berjalan masuk ke dalam mobil.


"Berarti dia resmi saat umur 18 tahun?" Tanya Kang Dong Won.


"Tapi kekuatan nya juga tidak bisa di anggap remeh" Tukas Genzo. "Mungkin kelompok mu akan tunduk di bawah naungan nya satu saat"


"Itu tidak akan terjadi" Jawab sombong Dong Won.


"Tuan-tuan silahkan masuk ke mobil" Ucap mafioso Vera mempersilahkan anggota dewan masuk ke mobil.

__ADS_1


Anggota dewan dan kelompok Vera yang tertinggal segera masuk ke mobil. Dengan teratur satu persatu mobil mulai meninggalkan bandara.


"Jika ramalan Renesmee benar bahwa Vera bukan asli keturunan Marquez dan William, melainkan ada campuran dari 'dia' maka.. dia.. adalah penguasa sesungguhnya.." Ucap Charles dalam hati.


Di mobil lain Genzo memandangi jalanan dengan raut wajah sulit di tebak. Seperti tersirat kehawatiran, penasaran dan takut, semua bercampur jadi satu.


"Di lihat dari sikap dan tenprament memang sangat mirip, hanya waktu yang bisa membuktikan" Batin Genzo.


"Genzo-sama, anda baik-baik saja?" Tanya Hamura dalam hahaha Japang. Hamura adalah tangan kanan kepercayaan Genzo sekaligus pengawal pribadi nya.


"Ya! Hanya sedikit berpikir" Jawab Genzo.


"Tentang Vera-chan?" Tanya Hamura.


"Lain kali jangan panggil dia 'Chan' tapi 'Sama' insting ku mengatakan bahwa ia akan menjadi penguasa seluruh Dark World" Ucap Genzo memperingati.


"はい、わかりました >>Ya, Saya mengerti"


"Apa yang mereka sembunyikan?" Tanya nya dalam hati.


Beberapa meter dari mansion keluarga Marquez, berjejer papan bunga yang isinya adalah 'Turut berduka cita atas wafatnya Nyonya Lucy Marquen'. Sampai di rumah duka, Vera keluar dari mobil dan berlari masuk ke mansion utama keluarga Marquez.


Tepat dugaan, saat Vera sampai peti mati nenek nya sudah ada di dalam tanah. Semua anggota keluarga berkumpul di ruang keluarga, tak terkecuali Hans dan Chelsea seeta keluarga William juga Farel.


"Vera...." Lirih tante Luna yang matanya sudah terlihat membengkak, hidung memerah dan masih menangis.


"Tante! Mana nenek!" Teriak Vera berusaha untuk tidak menangis.


"Vera.. sabar, nenek sudah damai" Ucap om Rudi mendekati Vera. Saat hendak menyentuh pundak Vera, dengan Vera menepisnya.


"Tidak lucu! Dia belum melihat ku! Dan aku belum melihat nya until terakhir kali! BAGAIMANA DIA BISA TENANG!!" Ucap Vera yang menggema di seluruh ruangan. Saat itu juga Lucas beserta rombongan anggota dewan sampai. Semua anggota keluarga Marquez yang berkumpul kaget karena kedatangan 8 anggota dewan.


"Jackpot!"

__ADS_1


"Vera, kami mengerti perasaan mu. Tapi kecelakaan itu berakibat fatal. Tidak hanya nenek Lucy yang meninggal, tapi pak Djarot" Jelas tante Anna yang memelui tante Luna.


"TIDAK ADIL! SEMUA YANG KU PUNYA HARUS HILANG!! AKU HANYA PEMBAWA SIAL BAGI KALIAN!!"


PLAK!!


Vera tertegun seketika, ia mendapatkan tamparan keras dari nenek Rosa. Pipi kanan nya pun menjadi merah dan terdapat bekas cap 5 jari. Chelsea menutup matanya tidak sanggup melihat Vera yang seperti itu.


"Jika benar kau pembawa sial dari dulu kami akan membuang mu! Tapi lihat sekarang, buka mata mu lebar-lebar, kau masih ada di keluarga ini, kau masih bersama kami, Vera, bersama kami!" Ucap nenek Rosa tegas.


"Kau tau, tidak hanya kamu yang merasa kehilangan, semua orang, seorang orang kehilangan. Sadar Vera! Sadar! Lucy akan sedih melihat mu seperti ini!"


Ucapan itu membuat Vera tersadar, dia egois, Vera hanya memikirkan diri nya sendiri, tidak dengan orang lain. Bukan hanya Vera yang kehilangan, nenek Rosa, tante Luna, om Rudi, semua orang.


"Bersihkan diri mu dan temui Lucy di rumah nya" Ucap nenek Rosa melangkah duduk kembali. "Lisa, temani kakak mu"


"Baik, nek.." Jawab Lisa Marquen, anak tante Luna. Lisa mendekat ke Vera dan merangkul nya. "Ayo kak"


Vera dengan langkah gontai mulai melangkah pergi ke sebuah kamar. Suasana tiba-tiba hening saat Vera pergi.


"Ada yang dingin aku bicarakan pada anggota dewan, Lucas, Hans, dan teman-teman cucu ku" Ucap nenek Rosa. "Aku tunggu di Could 9 pukul 7 malam"


Kini Vera yang mengenakan baju serba hitam dan membawa bunga lily, bunga kesukaan nenek Lucy. Memandang kosong ke batu nisan yang bertuliskan 'Emma Lucy Marquen'. Para anggota dewan pun ikut ke peristirahatan terakhir nenek Lucy. Vera menaruh bucket bunga itu di depan nisan yang sudah di penuhi gudukan bunga berwarna warni.


"I'm coming, maaf aku terlambat. Aku bawa bunga kesukaan mu, lily. Aku tau, aku bersalah pada mu, aku minta maaf. Jika kau bertemu dengan orang tua ku dan Risa, katakan pada mereka aku baik-baik saja, aku sudah punya teman. Kecelakaan ini, aku tau siapa pelaku nya, jadi aku bersumpah akan membalaskan nya" Ucap Vera dan di akhiri dengan kengecup nisan nenek Lucy.


"Kalian bisa kembali lebih dulu, aku akan tinggal lebih lama" Ucap Vera. Para anggota dewan dan Lisa meninggalkan Vera sendiri di pemakaman sesuai keinginan nya.


Kini hanya Vera sendiri di sebelah malam nenek Lucy. Dendam kebencian nya makin bertambah. Obsesi nya semakin menggila untuk menghancurkan orang yang sudah membuat hidup nya hancur.


"Tunggu sampai aku menguasai semua nya, akan aku balaskan semua yang kau sudah lakukan, Frans Hooper" Ucap Vera dingin dengan tangan mengepal.


"My wish and my obsession is to kill you"

__ADS_1


__ADS_2