
Setelah menghabis sisa hari-hari nya di Swiss, kini saat nya mereka kembali ke negara Inggris, kecuali Vera. Mereka berangkat menuju bandara di antara dengan pengantin baru, Hans dan Chelsea.
"Udah mau pulang aja kalian" Ucap Chelsea.
"Iya kak, kita semua tidak bisa terlalu lama di sini" Ucap Refa.
"Iya kakak ngerti kok" Ucap Chelsea.
Tapi di balik raut wajah bahagia mereka, ada satu raut wajah yang di penuhi kegundahan yang melanda hati nya. Tapi tidak hanya itu, hati nya juga masih punya pertanyaan dari maksud ucapan Lucas saat di perjalanan ke Swiss dan kebenaran yang hans berikan pada nya. Sungguh kepalanya serasa akan meledak saat itu juga.
Karena terlalu bayak fikiran, 3 hari yang lalu Vera sampai harus di rawat di rumah sakit karena kelelahan yang berlebihan. Tapi karena banyak urusan mendesaknya membuat Vera harus menjadi sosok wanita yang harus sangat kendel menghadapi lika-liku perjalanan hidup nya.
-Flashback On-
2 hari setelah Hans resmi mencabut masa lajang nya, Vera meminta bertemu Hans secara pribadi. Hans pun menyetujui permintaan sangat adik tercinta. Mereka bertemu di sebuah cafe yang sudah di booking khusus untuk pertemuan tertutup dengan Hans.
"Kak, aku butuh jawaban mu yang paling jujur" Ucap Vera to the point.
"Ya! Katakan saja, aku akan menjawab sejujur-jujur nya" Jawab Hans.
"Apa kau sudah tau tentang 11 Anggota Dewan Mafia?" Tanya Vera membuat Hans tersentak dan langsung menatap Vera.
"Vera, Jangab buat dirimu terlibat lebih jauh" Ucap Hans.
"Jawab kak" Ucap Vera tidak sabar. Hans hanya menghela nafas berat nya.
"Ya, aku tau 11 Anggota Dewan Mafia tapi tidak dengan ke-11 anggota nya. Tapi intinya mereka adalah sekelompok mafia kelas atas yang sudah di cap buronan internasional. Mereka mafia yang terkenal sangat keji" Jawab Hans sambil menyeruput kopi.
"Lalu apa kau tau jika ibu adalah mantan mafia?" Tanya Vera membuat Hans terkejut karena Vera menemukan kebenarannya.
"Baiklah, aku tidak akan merahasiakan nya lagi dari mu. Ibu memang seorang mantan mafia, aku mengetahuinya. Tapi bukan itu saja rahasia yang di miliki Ibu" Ucap Hans.
"Jelaskan kak" Pinta Vera. Lagi-lagi Hans menghela nafas nya berkali-kali menutupi rasa gugup nya, entah harus mulai dari mana ia harus bercerita.
"Vera, sebenarnya sejarah 11 Mafia Besar sangat rumit. Tapi semua permulaan nya di mulai dari puluhan tahun lalu, aku tidak kau kapan pastinya. Hanya saja 11 Dewan Mafia Besar ini di bentuk pertama kali oleh buyut keluarga Marquen, Buyut Aro Marquez. Beliau lah pencetus pertama kelompok ini" Jelas Hans membuat Vera terbelalak tidak percaya. Hans tau lebih banyak dari nya? Apa benar itu yang sebenarnya?
"Aku tidak tau apa alasan dibalik terbentuknya kelompok ini, tapi kelompok ini adalah perhimpunan 11 mafia dari negara berbeda yang kekuatan nya di akui. Bahkan semua Mafia yang ada di dunia pun berlomba-lomba untuk bisa. asuk dalam jajaran Dewan tapi hanya 0.2% untuk tingkat keberhasilan" Ucap Hans.
__ADS_1
"Jadi maksud mu, keluarga Marquen adalah otak dari organisasi itu?" Tanya Vera.
"Ya!" Jawab Hans. "Jika kau ingin kau tau siapa saja anggota keluarga Marquen yang pernah duduk di kursi dewan akan aku sebutkan. Generasi pertama adalah buyut Aro, Generasi ke-dua Kakek Caius, Generasi ketiga adalah Ibu, dan Generasi keempat adalah dirimu" Ucap Hans. Dada Vera pun terasa sesak mendengar penjelasan Hans tentang anggota dewan.
-Flashback Of-
"Vera, kau baik-baik saja?" Tanya Hans cemas dengan kondisi Vera yang baru saja pulih tapi wajahnya masih terlihat lesu dan pucat.
"Ehk! Ya, aku tidak papa" Elak Vera.
"Adik ipar, apa tidak sebaiknya kau pulihka dulu tubuh mu? Kau baru saja pulih, aku takut terjadi sesuatu pada mu" Ucap Chelsea khawatir. Vera hanya tersenyum sekilas saat melihat Chelsea menghawatirkan nya.
"Kakak, aku baik-baik saja. Aku tidak bisa tinggal lebih lama, aku punya banyak urusan menumpuk di perusahaan, aku harus segera membereskan nya sebelum menjadi gunungan kertas" Ucap Vera yang sedikit panjang kali lebar itu.
"Vera, jangan paksakan dirimu" Ucap Hans yang tak kalah khawatir.
"Sayang.. dengarlah ucapan kakak dan kakak ipar mu, istirahat sebentar lagi agar tubuh ku benar-benar pulih sepenuhnya" Ucap Lucas.
"Berapa kali harus aku bilang? Aku baik-baik saja!" Ucap Vera yang mengebu-ngebu, sontak mereka terkejut dengan perubahan sikap Vera yang signifikan itu.
"Tapi.." Ucap Farah yang terpotong.
"Yaudah, kalo gitu kita semua pamit ya kak" Ucap Jessy.
"Iya, hati-hati di perjalanan" Ucap Chelsea.
Vera dan yang lain hanya tersenyum sambil melambaikan tangan mereka. Tapi rencana tetap berjalan walau kendala menghadang. Vera yang sudah memberi tiket penerbangan Swiss-Rusia kelas atas itu menunggu di kursi keberangkatan. Vera memfasilitasi pesawat pribadinya untuk kepulangan teman-teman nya yang lain, karena Vera tidak ingin teman-teman nya harus terbang dengan pesawat komersil. Bagi Vera, teman adalah nomor 2 setelah keluarga nya.
Setelah menunggu 3 jam, pesawat yang membawa Vera menuju Rusia take-off. Vera menghabiskan hampir seluruh waktu di pesawat untuk tidur. Karena perjalanan ini membuang waktunya selama 15 jam.
------
Sementara Ansel yang baru sampai di bandara harus berlari mengejar pesawat. Ternyata Ansel ketiduran karena menjaga Arthur, untungnya bi Diah mengingatkan nya tentang jadwal penerbangan ke Rusia. Dengan cepat tanpa mengemasi bajunya hanya menggunakan baju yang sudah melekat di badan Ansel melakukan balapan dengan polisi di jalanan.
Sampai di pesawat Ansel merasa lega karena tidak ketinggalan pesawat. Jika ia masih ada di sofa mansion dan tidak ikut penerbangan, apa yang akan terjadi dngan nasip nya? Entahlah hanya author yang tau nasip nya🤣.
-Flashback On-
__ADS_1
Hari-hari melelahkan bagi Ansel semenjak Vera pergi ke Swiss. Karena sehari kemudian Baby Arthur demam dan rewel, tidak kenal waktu baik pagi, siang, sore, malam, sampai pagi buta Arthur terus-terusan menangis membuat tidur Kate, Meghan, Grace, Ansel dan Marco tidak tenang. Bahkan mereka harus bergantian menjaga Arthur yang retak supaya semua bisa tidur.
Di sofa tepat di depan tv dengan layar lebar itu, sosok pria tertidur dengan dengkuran halus membuktikan berapa lelahnya Ansel. Tapi tidur malam nya itu tiba-tiba sirna saat suara tangisan bayi terdengar melengking.
Ooeekk..!! Ooeekk..!! Ooeekk...!
Seketika mata Ansel yang terpejam itu terbuka lebar.
"Ahk! Baji*gan kecil sialan itu" Geram Ansel sambil mengusap wajahnya kasar. Dengan langkah gontai Ansel menuju kamar bayi.
"Sial! Jika kau bukan anak angkat Vera dan anak kandung Marco, dari dulu sudah ku celupkan kau Sungai Thames!" Geram Ansel dalam hati.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 09.10 sedangkan Ansel masih tertidur di sofa dengan Arthur yang tidur di atas nya. Ansel belum juga bangun padahal jam penerbangan nya akan segera tiba, mungkin hanya tinggal 10 menit lagi.
"Tuan... Tuan.. Bangun tuan" Ugak bu Diah sambil mengundang pelan tubuh Ansel.
"Ban*sat! Jangan ganggu" Ucap Ansel yang kemudian kembali tidur.
"Tuan bagun.. Udah siang, nanti gak sempet" Ucap bi Diah lagi.
"Issh! Gua bilang gak usah ganggu" Ucap Ansel yang mulai jengkel karena tidurnya terus-terusan di ganggu.
"Tuan Ansel ini sudah lewat jam 9, anda bisa ketinggalan pesawat" Ucap bi Diah.
"Oh.." Ucap Ansel yang hanya beroh ria.
1 detik..
2 detik..
3 detik..
!!!
"Ba*i ngepet! Gua ketinggalan pesawat!" Pekik Ansel mengagetkan Arthur yang tertidur.
Ooeekk..!! Ooeekk..!! Ooeekk...!!
__ADS_1
Dengan segera bi Diah menggendong Arthur dan menimang nya.
"Agh! Diem lu bang*at!" Ucap Ansel yang kalang kabut lari ke wastafel untk cuci muka. Setelah cuci muka Ansel langsung menyambar kunci mobil dan pergi secepat angin ke bandara. Di dalam mobil Ansel tak henti-hentinya menggeturu karena ia kesiangan.